x

Candi Borobudur di sela acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2018, 24 November 2018. TEMPO | Pito Agustin Rudiana

Iklan

Muhammad Imaduddin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Desember 2019

Sabtu, 14 Desember 2019 07:41 WIB

CANDI BOROBUDUR : SEBUAH DILEMA DALAM PARIWISATA

Candi yang Harus Bertahan dalam Gempuran Turis

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Abad ke-21, merupakan abad yang mengedepankan teknologi dan pikiran serta nalar manusia dalam setiap hal yang dilakukan. Teknologi berpadu dengan akal pikiran modern manusia, menghasilkan gagasan, pemikiran, hingga benda-benda canggih yang dijadikan alat untuk memudahkan aktivitas manusia. 

Dalam sisi pemikiran, orientasi ke depan semakin dihadirkan dengan munculnya ide-ide yang kreatif dalam rangka mencari dan mengisi hal-hal yang dirasa masih belum praktis untuk kehidupan masyarakat, buah dari pemikiran tersebut diantaranya alat pembayaran berbasis dompet elektronik dan aplikasi memesan barang dari supermarket. 

Pariwisata abad ke-21 menghadirkan inovasi dalam rangka memudahkan wisatawan untuk menuju suatu destinasi seperti aplikasi memesan tiket pesawat, tiket kereta, dan kamar hotel, Inovasi dalam atraksi wisata contohnya adalah Uni Emirat Arab, dengan membuat Pulau Buatan untuk dibangun hotel, maupun hotel di bawah laut. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pariwisata di Indonesia telah berkembang sejak abad ke-20, Presiden Ir. Soekarno yang membangun hotel-hotel di sejumlah wilayah dan membangun infrastruktur seperti kompleks olahraga Gelora Bung Karno dan Bunderan Hotel Indonesia dengan dana hasil dari rampasan perang Jepang. Bertahun-tahun kemudian, Pariwisata di Indonesia dikembangkan dengan branding “Visit Indonesia Year” yang dimulai sejak tahun 1991 yang mengedepankan SAPTA PESONA (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tambah, dan Kenangan).  Pemberian Branding tersebut menambah jumlah wisatawan khususnya mancanegara ke Indonesia, dengan sedikit turun pada tahun 1998 setelah insiden kerusuhan akibat krisis moneter Asia tahun 1997. 

Beralih ke tahun 2019, Pariwisata di Indonesia berkembang pesat dengan Jumlah kunjungan Wisatawan Mancanegara selama bulan Januari-September 2019 sejumlah 12,27 Juta Wisatawan. Kunjungan Wisatawan ini didukung oleh pemerataan Infrastruktur seperti pembangunan jalan bebas hambatan (tol), penambahan bandara, pelabuhan, dan perbaikan stasiun kereta api, mengintergrasikan berbagai moda transportasi, promosi secara masif melalui media Online maupun offline, dan penambahan atraksi wisata. Mendukung upaya Pariwisata, pemerintah telah membentuk program “10 Bali Baru” yakni membuat prioritas kepada sepuluh tempat wisata yang tersebar di Indonesia, salah satunya adalah Candi Borobudur.

Candi Borobudur merupakan salah satu candi Buddha yang ada di Indonesia, berlokasi di Daerah Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur memiliki sejarah yang tidak lepas dari dinasti Syailendra ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles. Candi Borobudur memiliki dimensi dengan panjang 121,66 Meter, Lebar 121,38, tinggi 35,40 Meter terdiri dari sembilan bangunan teras berundak. Candi yang menurut legenda nya dirancang oleh Gunadharma tersebut masih digunakan untuk upacara Hari Raya Waisak yang dilakukan oleh pemeluk agama Buddha. Profil candi yang menarik membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Candi Borobudur, dari domestik hingga internasional, datang berduyun-duyun untuk menjadi saksi kemegahan candi. 

Candi Borobudur mempengaruhi daerah sekitar candi. Pembangunan hotel, Resort, dan fasilitas penunjang dibangun oleh masyarakat dan pemerintah dalam rangka meraup keuntungan dari wisatawan yang datang ke Candi Borobudur. Data yang diambil dari Badan Pusat Statistik Magelang, menunjukkan pengunjung Candi Borobudur selama tahun 2017 sebesar 3.775.799 wisatawan, dengan rincian 3.551.326 wisatawan domestik, dan 224,473 wisatawan mancanegara, jumlah yang banyak untuk sebuah destinasi wisata. Hal tersebut tidak terlepas dari peran PT. Taman Wisata Candi (TWC) sebagai pengelola Candi. 

Kegiatan yang dilakukan PT. TWC sukses meraup keuntungan dan kenaikan jumlah pengunjung, menurut Atun Yulianto (2015) dalam jurnal media wisata volume 13, kegiatan yang dimaksud antara lain meningkatkan penetrasi pasar berupa menjadi tuan rumah dalam konferensi internasional yang diadakan di Candi Borobudur. Strategi kedua adalah perluasan ke pasar mancanegara, dengan mempromosikan nya pada saat konferensi internasional. Strategi ketiga adalah promosi gabungan, seperti menerbitkan artikel promosi pada majalah penerbangan, majalah travel internasional. Strategi terakhir adalah peningkatan kesadaran untuk berwisata ke tempat bersejarah oleh siswa sekolah atau mahasiswa yang di dukung oleh pemerintah daerah setempat.

Strategi yang telah disebutkan, mendulang sukses dan menaikkan jumlah kunjungan, namun, dibalik kemegahan Candi Borobudur, tersimpan sebuah realita yang tidak bisa terelakkan: usia.  hal tersebut berbenturan dengan usia candi yang semakin tua. 

Jumlah Kunjungan berbanding lurus dengan kerusakan berupa batu yang mulai aus pada struktur candi, terutama pada bagian tangga tempat pengunjung berpijak dan sebagai jalur untuk naik ke atas candi. Jika melihat jangka panjangnya, Candi Borobudur terancam akan mengalami kerusakan secara permanen akibat volume pengunjung yang kian meningkat dan tidak diimbangi oleh aksi dari pihak pengelola. Berbagai usul telah dicetuskan, seperti pembatasan jumlah kunjungan, solusi lain seperti menghadirkan tiket terusan untuk dapat naik ke atas candi dan menaikkan tarif tiket yang telah ada.

Candi Borobudur masih menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, menghadirkan pemandangan stupa-stupa besar dan kemegahan candi, Candi Borobudur menjadi atraksi wisata yang masih dan akan terus menarik perhatian pengunjung, namun, faktor usia tidak dapat dicegah, usia candi yang semakin tua dan belum adanya aksi dari pihak pengelola dalam rangka melestarikan bangunan candi mengancam eksistensi candi. Penulis berharap, terdapat solusi yang (semoga saja) menguntungkan kedua belah pihak.

Ikuti tulisan menarik Muhammad Imaduddin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini