x

Salah satu instalasi seni di ARTJOG MMXIX

Iklan

Muhammad Imaduddin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Desember 2019

Jumat, 13 Desember 2019 19:34 WIB

ARTJOG MMXIX : Pameran Seni Atau Studio Foto?

melakukan foto ataupun swafoto menjadi budaya, termasuk dalam pariwisata. Bermodalkan latar belakang yang bagus, foto maupun swafoto menjadi hal wajib untuk dilakukan. Namun, jika terlalu banyak melakukannya, apakah hal tersebut menguntungkan?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pameran seni di Kota Yogakarta. Kota yang dikenal dengan sebutan Kota Pelajar, juga terkenal dengan masyarakatnya yang sangat kreatif. Berbagai seniman telah tercetak di kota ini. Salah satu output dari banyaknya seniman adalah Pagelaran seni kontemporer dengan skala Internasional yang bernama ARTJOG. Acara yang awalnya merupakan rangakaian acara dari Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) ini, pertama kali digelar tahun 2008 yang bernama Jogja Art Fair, hingga tahun 2010, ARTJOG menjadi festival sendiri. Bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (2010-2015), dan sekarang di Jogja National Museum (JNM) (2016-...).

ARTJOG selalu mengangkat tema yang berbeda pada setiap tahunnya. Tahun 2018 lalu, ARTJOG mengangkat tema Enlightment dengan menampilkan ratusan karya dari 54 seniman. Salah satu karya yang menarik adalah Sea Reemembers karya seniman Mulyana.

Untuk tahun 2019, ARTJOG mengangkat tema Art In Common. Tema tersebut rencananya digunakan selama 3 kali pagelaran ARTJOG dari tahun 2019 hingga 2021. ARTJOG diprakasai oleh Heri Parmad, Art Manager lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bersama temannya yang menjadi kurator.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Awalnya ARTJOG digelar secara gratis, hingga tahun 2014, dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp10.000,00. Harga tersebut terus naik hingga tahun 2019, dengan tarif Rp50.000,00.

Tahun 2019 menjadi pengalaman pertama saya pergi ke ARTJOG. Saya sangat ingin pergi ke ARTJOG sejak 3 tahun lalu, namun tidak dibolehkan oleh orang tua mengingat domisili saya di luar Jogja. Setelah kuliah di UGM, saya memiliki kebebasan untuk pergi kemanapun termasuk ke ARTJOG.

Saya pergi bersama teman saya, saat itu jalanan menuju JNM cukup padat; Kami berangkat pukul 16.25, tiba di JNM pukul 17.00, dikenakan biaya parkir Rp5000,00 untuk setiap kendaraan roda empat. Tidak perlu berlama-lama dalam antre membeli tiket, sekitar dua menit, saya dan kakak tingkat saya sudah bisa masuk ke dalam Venue ARTJOG.

Sebelum masuk ke dalam, terdapat pegawai yang berdiri di depan pintu masuk dan memberi arahan mengenai larangan, dan jalur yang dilewati selama berada di dalam ARTJOG. Dugaan saya yang berpikir bahwa akan ramai, ternyata benar adanya, ramai memang menjadi khas-nya ARTJOG, muda-mudi, ibu-anak, hingga bapak-bapak berlomba-lomba menjadi yang paling unik diacara tersebut. 

Instalasi seni yang keren serta pencahayaan yang baik menjadi dua faktor mengapa banyak sekali orang-orang yang datang ke ARTJOG hanya untuk berfoto-foto. Saya sendiri menikmati keduanya, menikmati karya seni (walaupun banyak yang tidak saya mengerti), juga berfoto-foto untuk kebutuhan sosial media.

Selama di sana, saya hanya mengabadikan arsitektur dari JNM, khusus nya bagian langit-langit, bentuk nya yang sangat unik ditambah pemberian cat putih pada langit-langit memberi kesan luas. Kembali ke pembahasan, seni yang dipajang bermacam-macam bentuknya. Tidak hanya lukisan, terdapat instalasi seni seperti dari proyektor yang menampilkan animasi bawah laut yang memberi pesan bahwa kita harus menjaga laut dari kerusakan. Uniknya pengunjung dapat berdonasi melalui Scan dari QRCode yang tersedia di luar pameran seni tersebut. Terdapat instalasi seni berupa bambu-bambu yang ditanam di sebuah ruangan, dengan latar belakang tembok berwarna hitam.

Kesimpulan dari kunjungan saya ke ARTJOG kali ini adalah, pameran seni kontemporer ini menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta dengan menghadirkan seni dari para seniman lokal maupun internasional. Harga tiket masuk yang terbilang mahal, tidak menjadi penghalang bagi pengunjung untuk pergi ke sana. Seni yang ditampilkan sangat variatif dan berkelas.

Penataan karya seni yang baik membuat pengunjung tidak begitu merasa kesempitan walaupun kondisi di tempat sangat ramai. Alur pengunjung yang diatur oleh panitia sudah baik, walaupun masih terdapat penumpukkan pengunjung dalam beberapa instalasi seni.

Namun, pengunjung lebih banyak yang berfoto-foto ketimbang menikmati karya seni yang ada. Hal tersebut menjadi budaya dalam pariwisata menimbang dari kebutuhan akan foto yang bagus serta unik yang bisa dipajang di sosial media yang ada. Saya harap, semakin banyak pengunjung yang hadir untuk menikmati seni, juga untuk berfoto-foto, karena, menghargai seniman tidak harus dengan berfoto di depan karya mereka, namun memahami maknanya, dan bisa mengamalkan nya untuk hari esok kiranya menjadi hal yang lebih baik.

Ikuti tulisan menarik Muhammad Imaduddin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan