Tradisi di Berau, Potensi Pariwisata di Masa Mendatang - Travel - www.indonesiana.id
x

Mentari Pagi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Januari 2020

Rabu, 29 Januari 2020 16:26 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Tradisi di Berau, Potensi Pariwisata di Masa Mendatang

    Dibaca : 628 kali

    Kabupaten Berau di Kalimantan Timur memiliki jejak historis yang cukup panjang. Ditarik mundur pada abad ke-14, sudah ada pemerintahan berbentuk Kesultanan Berau yang dipimpin oleh Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kusuma. Kesultanan ini terus berlanjut hingga sempat terpecah menjadi dua, Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

    Pada 1959, UU no 27 tahun 1959 diterbitkan oleh Pemerintah Pusat, mengubah status Daerah Istimewa Berau menjadi Kabupaten Dati II Berau dengan tiga belas kecamatan yakni Batu Putih, Biatan, Biduk-Biduk, Gunung Tabur, Kelay, Maratua, Pulau Derawan, Sambaliung, Segah, Tabalar, Talisayan, Tanjung Redeb dan Teluk Bayur.

    Senada dengan jejak historis yang panjang, ragam tradisi dan budaya yang tersemai di Berau juga tak kalah banyak. Salah satunya adalah tradisi Meja Panjang di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay. Dalam tradisi ini, setiap RT membuat meja panjang dengan suguhan aneka panganan dan minuman serta buah. Selanjutnya disambung dengan kegiatan saling mengunjungi dan bersilaturahmi. Tradisi yang sudah dimulai sejak dahulu kala ini terus dipertahankan sebagai wujud nilai kebersamaan dan upaya memperkokoh silaturahmi serta persaudaraan.

    Desember silam (18/12) tradisi ini kembali digelar di Kampung Merasa. Dikemas dalam bentuk pesta budaya. Meja Panjang turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di Berau, seperti Bupati Berau, H. Muharram, Wakil bupati Berau, Ketua DPRD dan jajaran lain. Ke depannya acara ini akan dimasukkan ke dalam direktori wisata di Kalimantan Timur yang akan diluncurkan saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kalimantan Timur.

    Muharram menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan hal yang sangat positif dalam promosi wisata. Beliau juga menambahkan agar pemuda serta warga lokal dapat mengisi kegiatan ini dengan acara yang lebih beragam, supaya dapat lebih menjangkau segmen wisatawan yang lebih luas.

               

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 10:01 WIB

    Surga Bawah Laut Itu Bernama Berau

    Dibaca : 272 kali



    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 09:59 WIB

    Jalur Trekking Baru di Labuan Cermin

    Dibaca : 292 kali







    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 451 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin