Cerita "Si Mungil" Gunung Penanggungan - Travel - www.indonesiana.id
x

Fariz Ilham Rosyidi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Januari 2020

Kamis, 30 Januari 2020 06:21 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Cerita "Si Mungil" Gunung Penanggungan

    Dibaca : 692 kali

    Gunung Penanggungan yang terletak di Kabupaten Mojokerto, mempunyai legenda besar yang tidak diketahui oleh banyak orang.

    Meski gunung mungil itu sangat populer untuk aktivitas pendakian, namun, hanya segelintir orang yang mengerti kenapa gunung itu kalau dilihat, menyerupai gunung Semeru, si atap pulau Jawa.

    Pingin tahu kenapa? Beginilah ceritanya, yang saya sadur dari cerita pembentukan tanah Jawa, "Samudramantana".

    Diceritakan, pada mulanya, Pulau Jawa yang kita tinggali ini konon mengambang di samudra luas, yang terombang-ambing kesana-kemari bagaikan kapal diamuk ombak. Berkelana dari laut ke laut.

    Lalu Sang Batara Guru, alias Dewa Syiwa, memerintahkan para dewa untuk "memaku" Pulau Jawa agar tertancap dan tak lagi bergoyang kesana-kesini. Maka dari situ, dipindahkanlah secuplik tanah dari India ke Pulau Jawa.

    Tanah itu digendong oleh Dewa Wisnu, yang menjelma jadi kura-kura besar, dan segera dibelit oleh Dewa Brahma yang menjelma menjadi naga raksasa. Setelah dibawa dan sampai di Pulau Jawa, tanah itu diletakkan ke lokasi yang diberi nama Mahameru.

    Namun, sayang sungguh disayang, puncak gunungnya terlihat miring, sampai tak bisa menyangga puncak Mahameru.

    Oleh karenanya, ketiga dewa itu membawa sebagian 'tanah miring' itu ke daerah yang dikenal Penanggungan, yang mempunyai puncak Pawitra. Sehingga dari situ tercipta kisah legenda Gunung Penanggungan, yang merupakan miniatur atau kembaran mini dari Gunung Semeru.

    Bagi kalian yang ingin mendaki gunung itu, tersedia dua jalur, yakni melalui Tamiajeng dan Jolotundo. Untuk waktu pendakiannya sendiri memakan waktu sekitar 5-8 jam, tergantung dari kondisi fisik masing-masing.

    Bagaimana, sudah siap mendaki gunung "anak" semeru ini? Segera angkat tas gunungmu, dan ajak teman-temanmu ya.

    Salam Lestari!!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 10:01 WIB

    Surga Bawah Laut Itu Bernama Berau

    Dibaca : 272 kali



    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 09:59 WIB

    Jalur Trekking Baru di Labuan Cermin

    Dibaca : 292 kali







    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 450 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin