Cerita "Si Mungil" Gunung Penanggungan - Travel - www.indonesiana.id
x

Fariz Ilham Rosyidi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Januari 2020

Kamis, 30 Januari 2020 06:21 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Cerita "Si Mungil" Gunung Penanggungan

    Gunung Penanggungan yang terletak di kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto, ternyata menyimpan cerita yang tidak banyak diketahui oleh orang. Gunung mungil yang disebut pendaki "kembaran semeru" itu rupanya punya legenda dengan tanah Jawa dan tiga dewa Hindu.

    Dibaca : 1.357 kali

    Gunung Penanggungan yang terletak di Kabupaten Mojokerto, mempunyai legenda besar yang tidak diketahui oleh banyak orang.

    Meski gunung mungil itu sangat populer untuk aktivitas pendakian, namun, hanya segelintir orang yang mengerti kenapa gunung itu kalau dilihat, menyerupai gunung Semeru, si atap pulau Jawa.

    Pingin tahu kenapa? Beginilah ceritanya, yang saya sadur dari cerita pembentukan tanah Jawa, "Samudramantana".

    Diceritakan, pada mulanya, Pulau Jawa yang kita tinggali ini konon mengambang di samudra luas, yang terombang-ambing kesana-kemari bagaikan kapal diamuk ombak. Berkelana dari laut ke laut.

    Lalu Sang Batara Guru, alias Dewa Syiwa, memerintahkan para dewa untuk "memaku" Pulau Jawa agar tertancap dan tak lagi bergoyang kesana-kesini. Maka dari situ, dipindahkanlah secuplik tanah dari India ke Pulau Jawa.

    Tanah itu digendong oleh Dewa Wisnu, yang menjelma jadi kura-kura besar, dan segera dibelit oleh Dewa Brahma yang menjelma menjadi naga raksasa. Setelah dibawa dan sampai di Pulau Jawa, tanah itu diletakkan ke lokasi yang diberi nama Mahameru.

    Namun, sayang sungguh disayang, puncak gunungnya terlihat miring, sampai tak bisa menyangga puncak Mahameru.

    Oleh karenanya, ketiga dewa itu membawa sebagian 'tanah miring' itu ke daerah yang dikenal Penanggungan, yang mempunyai puncak Pawitra. Sehingga dari situ tercipta kisah legenda Gunung Penanggungan, yang merupakan miniatur atau kembaran mini dari Gunung Semeru.

    Bagi kalian yang ingin mendaki gunung itu, tersedia dua jalur, yakni melalui Tamiajeng dan Jolotundo. Untuk waktu pendakiannya sendiri memakan waktu sekitar 5-8 jam, tergantung dari kondisi fisik masing-masing.

    Bagaimana, sudah siap mendaki gunung "anak" semeru ini? Segera angkat tas gunungmu, dan ajak teman-temanmu ya.

    Salam Lestari!!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.