x

Iklan

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Senin, 22 April 2024 16:51 WIB

Sesaji Rewanda, Tradisi Napak Tilas Perjalanan Sunan Kalijaga di Goa Kreo

Tradisi Sesaji Rewanda ini diangkat dari legenda kisah perjalanan Sunan Kalijaga mencari soko guru (tiang utama) berupa kayu jati untuk dijadikan penopang Masjid Agung Demak Bintoro.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sesaji Rewanda kini jadi salah satu atraksi budaya yang digelar secara rutin, biasanya setelah seminggu Hari Raya Idul Fitri. Tradisi Sesaji Rewanda tahun ini digelar di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu  20 April 2024. Sebelumnya, di Plaza Kandri, Waduk Jatibarang, Semarang, Jumat (19/04/2024) malam ditaja pagelaran Sendratari Mahakarya Legenda Goa Kreo yang memesona penonton.

Tradisi Sesaji Rewanda (Jawa: Sesajen Rewondo) ini merupakan legenda kisah perjalanan Sunan Kalijaga mencari soko guru (tiang utama) berupa kayu jati untuk dijadikan penopang Masjid Agung Demak Bintoro. Kisah ini menorehkan jejak dan menjadi tradisi di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dahulu, tradisi ini dinamakan dengan Nyadran atau bersih desa. Dalam bahasa Jawa tradisi “ Sesaji Rewanda”  ini punya arti memberi makan kera.

Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang berhasil mengemas tradisi budaya Sesaji rewanda dengan ciamik dan unik yang bisa dinikmati para pejalan yang berkunjung ke Goa Kreo.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Gelaran Sesaji Rewanda kini jadi salah satu atraksi budaya yang digelar secara rutin biasanya waktu penyelenggaraannya setelah semonggu hari raya idulfitri. Tradisi Sesaji Rewanda tahun ini digelar di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu  20 April 2024. Sebelumnya, di Plaza Kandri, Waduk Jatibarang, Semarang, Jumat (19/04/2024) malam ditaja pagelaran Sendratari Mahakarya Legenda Goa Kreo yangmemesona pennton.

Tradisi Sesaji Rewanda (Jawa: Sesajen Rewondo) ini merupakan legenda kisah perjalanan Sunan Kalijaga mencari soko guru (tiang utama) berupa kayu jati untuk dijadikan penopang Masjid Agung Demak Bintoro. Kisah ini menorehkan jejak dan menjadi tradisi di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dahulu, tradisi ini dinamakan dengan Nyadran atau bersih desa. Dalam bahasa Jawa tradisi “ Sesaji Rewanda”  ini punya arti memberi makan kera.Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

Susi Herawati, M.Kes, Asisten Administrasi Umum, mewakili Kota Semarang dalam sambutannya,mengatakan, Sesaji Rewanda ini merupakan acara budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

“Kegiatan budaya ini bertujuan untuk melestarikan budaya leluhur, silaturahmi,  sekaligus sebagai atraksi wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang,” ujarnya sebelum memotong tumpeng penanda gelaran Sesaji Rewanda, Sabtu (20/04/2024).

Gelar Sesaji Rewanda

Gelaran tradisi Sesaji Rewanda dimulai dengan kirab budaya  yang dilepas oleh Asisten Umum Walikota semarang dr. Susi Herawati, M.Kes, didampingi Kepala Dinas Budaya Pariwisata Wing Poespojoedho, Wing Wiyarso Poespojoedho, S.Sos, M,Si,, anggota DPRD Kota Seamarang Dr. H. Anang Budi Utomo, SMn., M.Pd .Setelah menerima laoran Manggalayuda Susi Herawati menadai perjalanan kirab menuju lokasi pelaksanaan sesaji dengan  penanda pemecahan kendi.

Arak-arakan kirab yang dipimpin Manggalayuda terdiri dari penari Bambu Kerincing, Sunan Kalijaga dan santrinya, pasukan kera, rombongan pengusung katu jati, tumpeng, gunungan buah-buhan dan hasil bumi dan gubungan sego golong atau seko krtkek. Sesampai di lokasi disajikan penampilan “Tari Bambu Kerincing” yang mengusung kisah  salah satu ikon wisata Kandri. Dilanjutkan dengan Tari Wanoro Parisuko yang menggambarkan keriangan para kera ekor panjang penghuni Goa Kreo. Pamuncak ritual  dipersembahkan tarian Bedhaya Nawa Sangan besutan koreografer Parminto yang menggambarkan Sembilan Sunan alias Wali Songo.

Tradisi Sesaji Rewanda yang dulu terkenal dengan sebutan nyadran atau bersih desa ini,  ada kisah menarik dibaliknya. Maka pada mulai tahun 2002 Pemkot Semarang melalui Disbudbar mengpalikasikan peristiwa budaya ini dalam konteks kekinian. Karena kalau di sigi dari sejarahnya tradisi ini menyangkut kebesaran Kanjeng Sunan Kalijaga –salah satu dari Sembilan Wali – di tanah Jawa yang melakukan syiar agama Islam.

 

 

Pengatur laku Budi Lee mengatakan, kini Sesaji Rewanda dikemas secara teaterikal namun tetap kental nuansa tradisinya. Konsepnyadikemas lebih tertata dan teatrikal yang tetap melibatkan warga lokal.

“Dalam atraksi teatrikal antara lain; prosesi menggotong kayu jati, dengan diiringi puluhan kera, kemudian ada  sesaji gunungan makanan yang diarak dari depan Masjid desa hingga ke pelataran  waduk Goa Kreo. Cerita napak tilas Sunan Kalijaga ini kita kemas lebih menarik sehingga dapat menarik minat wisatawan,” ujar Budi Lee yang bertindak sebagai pengatur laku.

Menariknya dari atraksi Sesaji Rewanda ini tak hanya para kera yang rebutan sajen berupa gunungang buah-buaan dan hasil bumi. Tapi pulahan penonton ikur tebutan “ngalab berkah” rebutan nasi golong alias nasi kethek. Selain itu juga ada yang rebutan untuk ngalab berkah rebutan air sendang dalam gentong yang ada di tengah arena yang konon bisa membuat awet muda dan hoki.

 

Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, pemerhati  tradisi dan kearifan lokal, tinggal di Semarang.

 

 

Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini