Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Tersendak oleh Iklim Ekologis - Analisa - www.indonesiana.id
x

Dampak Ekologis

Bunk ham

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Januari 2020

Rabu, 12 Februari 2020 14:09 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Tersendak oleh Iklim Ekologis

    Bayangkan saja! Hampir seluruh masyarakat tani daerah Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) terseok akan “Gagal Panen”. Salah satu faktor penghambat pada umum-Nya bagi mereka adalah pembukaan lahan secara bebas, penebangan hutan secara liar, biaya ekonomi meningkat, legaliatas hukum tanpa legal standing, dan keterbatasan lahan sempit.

    Dibaca : 656 kali

    Ada fonemena yang menarik terkait peristiwa, mengapa pulau kecil itu disebut oleh nenek moyang dan para leluhur, sejarah dan peradaban kita adalah surga. Mungkin sepiur dari separuh jawaban mereka “mengatakan” Bima adalah zona dingin dan intensitas curah hujanya tinggi/lebat, sehingga tingkat kepanasan dan suhu penyerapan air tanah bagi mereka bisa menyerap dengan baik dan mengalir secara bebas, tanpa obesitas cuaca dan suhu buruk.

    Misalnya merawat lingkungan, pola hidup sehat, pelestarian alam, dan banyak lainya. Yang dalam artian, itu semuanya bukan karena mereka peka dengan cuaca alam, dan faktor lingkungan seperti apa? Melainkan bagi mereka, peduli dengan lingkungan, alam, hewan, dan tumbuh-tumbuhan itu pior “aktor biologis utama”, yang harus dijaga, dan dirawat dengan baik.

    Mereka tahu bahwa kendati pelestarian alam dan perawatan lingkungan adalah keinginan, cita-cita, dan harapan besar bagi pewaris dan masa depan manusia. Untuk itu mereka menjaga, membangun, dan bahkan memprediksi secara detail mungkin terhadap cuaca, iklim, dan dampak besar kecendrungan alam nantinya akan terjadi dan berubah seperti apa?

    Sehingga melalui proses, tahap penanaman dan pertumbuhan bagi mereka bisa terkendali dengan maksimal. Dengan sepenuhnya melihat, bagaimana merawat dan mengamati pola keadaan alam, kondisi cuaca, lingkungan, dan perubahan iklim bagaiamana?

    Sebab masih banyak diantara masyarakat pesisir kita, menganggap antara “intensitas suhu” dan “curah hujan tinggi” mengistilahkan mereka dapat menyebabkan longsor, banjir, dan pengundulan hutan. Dan wajar-wajar saja, ketika pikiran mereka itu terjadi, dan bergulat semacam itu, kenapa? Karena  mereka tidak bisa membedakan antara api dengan air, dan antara suhu panas dengan suhu dingin.

    Ini yang kemudian meregas dan mengutuk pikiran Jared Diamond, dalam bukunya Collapse. Dia menganalisisnya begini! Di dalam faktor alam itu, terdapat manusia, iklim, dan tumbuh-tumbuhan. Sebagai akut dan potensi besarnya adalah manusia sepenuhnya menggantungkan diri pada alam.

    Namun yang membuat manusia gagal, yakni mereka membiarkan lingkungan dan kondisi alam bersandar pada kehidupan, dan status ekonomi manusia. Begitupula dengan mitologi Yunani, dia melihat, manusia tidak akan bisa hidup tanpa bantuan dengan alam dan manusia lainya.

    Kenapa? Karena 12.000 tahun silam Refolusi Pertanian sudah ada. Baca, Yuval Noah Harari; sapiens, (2017)

    Nah! Kepiwaian ini yang kemudian diciptakan, dan dipakai oleh komunitas Bima bahwa phikologis sapiens, alam, lingkungan mengalami gejala dan dampak yang sangat luas dan besar. Sehingga ideal saja “stigma” yang dibentuk bagi mereka adalah pembukaan lahan, pembabakan liar, pencemaran limbah, pembakaran hutan, dan penyelundupan air sungai, dan banyak yang lainya.

    Semuanya itu, tentu bukan bagian awal dari akhir segala cerita sapiens, dan sejarah baru peradaban mausia, melainkan keterbatasan ruang untuk mengeluarkan diri dari dampak yang mematikan.

    Siapa yang disalahakan, bila seluruh hutan di daerah Bima Nusa Tenggara Barat (NTB), ditebang, dan digantikan oleh lahan pertanian? Dalam hal kebutuhan produktifitas pengolahan, dan penanaman, seperti jagung, padi, kedelai, bawang, dan tanaman pangan lainya.

    Apakah kemdian sapiens (rakyat) yang salah atau pemerintah? Jika pemerintah benar, apakah kemudian Mentri Polhukam siap untuk bertanggung jawab atas segala faktor penggejewantahan itu? Dan jika pemerintah salah, bagaimana akhir dari puncak cerita sapiens dan segala peradaban manusia?

    Bayangkan saja! Hampir seluruh masyarakat tani daerah Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) terseok akan “gagal panen”. Salah satu faktor penghambat pada umum-nya bagi mereka adalah pembukaan lahan secara bebas, penebangan hutan secara liar, biaya ekonomi meningkat, legaliatas hukum tanpa legal standing, dan keterbatasan lahan sempit.

    Kalau pun ada alasan lain, Saya kira sapiens kita hanya sebagai pelengkap saja. Hal yang lebih menggeliurkan lagi, yakni ketidakpedulian kekusaan terhadap perubahan alam, dan iklim lingkungan buruk.

    Ini yang kemudian saya katakan pada sapiens kita (rakyat dan pemerintah) gagal dalam berfikir sebelum bertindak. Padahal Sejak 40 ribu tahun lalu, manusia sudah berfikir, dan bahkan jauh sebelum itu sapiens sudah berkembang dan berevolusi secara cepat.

    Namun dikarenakan adanya "Revolusi Pikiran" membuat manusia, dan alam hentak dan berubah secara drastis, sehingga hubungan antar manusia, tumbuh-tumbuhan, dan planet bumi adalah kesatuan, dan kehancuran entitas yang sama.

    Lebih-lebih suhu panas naik, perubahan cuaca memburuk, tingkat polusi tinggi, suhu udara menurun, dan perubahan komposisi tanah makin terserak. semua itu, sebenarnya mengindikasikan adanya sapiens berfikiran tinggi, namun bernilai rendah, sehingga faktor ekologis saja, berkutat pada hancurnya ekosistem, banjir, lonsor, dan pengundulan secara bebas.

    Saya kira, kalau ini terus-terus terjadi, 200 ratus tahun yang akan datang daerah Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengalami kekeringan panjang, dan menjadi sejarah awal dari peradaban manusia ada. Selamat membaca, dan salam akal sehat. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.