Kemistikan Akal dalam Literasi Logika; Menjawab Pernyataan Ketua BPIP Menyebutkan Musuh Terbesar Pancasila adalah Agama - Analisa - www.indonesiana.id
x

Musuh terbesar pancasila adalah agama

Bunk ham

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Januari 2020

Jumat, 14 Februari 2020 06:27 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kemistikan Akal dalam Literasi Logika; Menjawab Pernyataan Ketua BPIP Menyebutkan Musuh Terbesar Pancasila adalah Agama

    Dibaca : 403 kali

    Dalam hukum logika, definisi akal tidak selalu dimaknai fisika, matematis, dan ilmiah. Akhir-akhir kemarin, Prof BJ Habibie menyoal 'hukum matematis' akan selesai, bila rumus logika dipakai. Dengan istilah framing pengetahuan, tingkat rasionalitas dan keilmiahan bisa diciptakan oleh akal.

    Namun ide untuk sampai pada derajat pemikiran dan akal pemahaman kita belum sampai pada klimaks itu. Karena dengan keterbatasan awal, pikiran, pengalaman, dan tindakan manusia tahu hal-hal ilmiah bisa berubah menjadi alamiah.

    Normal saja, ketika momok pikiran dijadikan raja, maka segala organ, dan tubuh dalam manusia menjadi prajurit, karena akal sejatinya disini, tidak berfungsi lagi sebagai 'penerima' namun lebih dekat dengan makna sebagai 'pemberi'.

    Tetapi dari sekian banyak refleksi yang dia terima. Dalam hal lingkungan, manusia dan alam, mengubah keadaan, orientasi, dan mindset pola pemikirannya, (Teori Empirisme).

    Selain pada perselisihan, juga pada pertentangan. Baik dalam soal mistik maupun pada soal logika, realitas, dan kenyataan. Baca Dialektika Feurback antara Akal, dan Agama, karya Lenin; Sosialisme dan Agama, cetakan (2017).

    Alasan lain juga dirumuskan dalam buku "Republika ; Karya Aristoles" disebutkan peran akal adalah ide yang merangsang dari produktifitas materi. Yang melakoni antara pengetahuan akal, civitas materi, dan logika mistik adalah fase yang berbeda, namun sistem algoritma sama.

    Cara kerja, proses evolusi, dan miniatur yang ada dalam materi. Itu diolah, dikonsumsi, dan diproduksi oleh akal. Salah satunya adalah kenapa akal Yudian Wahyudi selaku ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyebutkan musuh terbesar pancasila adalah agama? Ujarnya, seusai dilantik di Istana negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020)

    Ini—kan soal-soal baru yang kemudian hari-hari ini, menggegerkan publik, media, dan seluruh masayarakat sejagat raya yang beragama. Polemik dan dialektis semacam ini, mengundang tokoh-tokoh hukum, politik, ekonomi dan agama ini, kembali menyiarkan, dan memperbincangkan lagi isu yang sedang memanas.

    Bila dirunut kebelakang lagi, terkait persoalan musuh terbesar Pancasila tadi, adalah agama, jelas sangat absur, dan inflict disclaiming. Tidak relevan sekali dengan landasan dasarnya apa?  Sebab itu, terkesan makna bertentantangan, dan membuat negara kelimpungan, atau bahkan hancur bergelimpangan.

    Coba kita analisis, terkait persoalan masalah itu! Di dalam ide, terdapat akal dan pikiran yang merangsang obyektivitas materi. Jika agama di lihat dari sudut pandang materi, maka segala ucapan, pikiran, dan karya adalah mistik dan misteri. Namun sebaliknya jika persoalan agama dikaca secara logis, maka entiitas (kesatuan) antara ide, akal dan materi adalah ideologis.

    Dalam makna atau istilah hermeneutika "inheren dan terikat dalam dirinya". Itu semua, tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Secara definitif antara agama dan ideologi, jelas berbeda, namun perpaduan ideologi dengan agama bermakna logis.

    Sangat cacat dan krisis sekali pemikiran kita menyebutkan soal agama adalah musuh terbesar pancasila? Poin ini yang kemudian saya katakan bahwa kita terjebak pada soal kemistikan akal dalam literasi logika. Agama yang seharusnya membongkar "rumus logika" maleh ditajuk sebagai anti pancasilais.

    Padahal geliatnya ide, akal dan pikiran memberikan pola, bahwa rumus pancasila adalah logika. Di dalam sila-silanya terdapat sederatan kunci yang menunjukan segala bentuk bumi, langit, air, dan udara beserta seluruh isinya adalah milik kita, milik bangsa, milik agama, dan negara.

    Biarkan perbedaan, dan inheren "ideologis" mengalir dalam rumus logika dan literasi pancasila, sebab indahnya pelangi, ketika integrititas antara perpaduan warna bisa bertemu. Meskipun berbeda-beda tapi satu tujuan. Yakni, hidup damai, rukun, dan sehat sejahtera.

    Belum lagi, kalau saya menyuntik dalam soal-soal Pancasila terdapat rumusan-rumusan logika kontradiktif. Yang di mulai dari sila pertama hingga sampai pada sila tekahir itu, jelas menuai kontroversi, dan perselisihan pendapat. Seperti hal ihwal-nya yang disampaikan oleh Rocky Gerung di forum Indonesia Lawyer Club (3/12/2019, ILC).

    Dia mengurai, bahwa bahwa Pancasila bukan ideologis. Dia hanya barang abstrak milik negara yang berideolgis adalah orangnya, yang memiliki keyakinan "inheren dalam jiwanya". Sebab yang punya ideologis adalah fasisme dan Komunisme.

    Belum lagi, kalau kita menilik dalam soal Pancasila. Apakah kemudian semua yang implisit dalam ideologi negara, bangkit dari pandangan marxisme–kah, sosialisme, libertarianisme, atau fasisme?

    Semuanya itu, tentu intens dan masuk ke dalam kelas-kelas tertentu. Sebagian dari separuh isi pancasila, ada yang dari sosialisme kiri dan bahkan sebagian dari humanisme kanan, ada yang kiri. Buktinya Bunk Karno tidak akan tahu keadaan petani seperti apa? Bila Marhaenisme ada.

    Sebab seyogianya akal kemistikan kita, lebih berkutat cendurung  menjadi musuh daripada menjadi bintang damai, dan mulia pada sesama umat. Keindahan itu yang kemudian saya katakan akan damai, bila logika perbedaan bisa diolah. Dan begitu pula persatuan akan merdeka, bila warna perbedaan diterima.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.