Gedung Ini Saksi Saya (Tak Jadi) Dipecat Sebagai Anak - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

kantor kenangan

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 18 Februari 2020 14:25 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Gedung Ini Saksi Saya (Tak Jadi) Dipecat Sebagai Anak

    Dibaca : 1.996 kali

    Betul orang bilang, Yogya tak ada matinya. Makna ungkapan itu tak lain, Jogjakarta selalu ramai dikunjungi wisatawan dan para pelajar yang ingin menimba ilmu.

    Wisatawan tertarik  lantaran di Jogja banyak objek Wisata, baik wisata budaya maupun wisata alam, sementara bagi pelajar, tertarik menimba ilmu di Jogja lantaran terdapat banyak Lembaga Pendidikan/Perguruan Tinggi yang cukup ternama, baik  negeri maupun swasta. 

    Para wisatawan biasanya mendatangi destinasi wisata seperti pada saat jam atau waktu yang ramai, siang atau malam hari. Saya malah lebih suka datang saat para wisatawan masih sarapan di hotel atau masih di perjalanan.

    Saat matahari baru menampakkan diri, saya sudah on the track di titik nol kilometer. Saya duduk santai di bangku yang ada di trotoar samping Kantor Pos Besar buatan bangsa Walanda bin Londo alias Belanda dahulu.

    Lantaran masih pagi, tak nampak wisatawan di area ini, jika siang menjelma, dipastikan berjubel wisatwan yang ingin menghabiskan waktu di sekitar depan Gedung Negara (Istana Presiden) atau Benteng Vredeburg dan Tugu Serangan Umum. Suasana yang nampak hanya lalu lintas kendaraan dari orang yang akan beraktifitas seperti mau ke pasar, kerja, sekolah, kuliah dan lainnya.

    Suasana tenang di pagi hari, ternyata juga bisa berkontemplasi atau paling tidak bisa mengingat kembali masa-masa yang telah lalu di sekitar area ini. Di Titik Nol, utamanya ditengan persimpangan ujung Malioboro yang dulu berdiri tugu dan air mancur, mengingatkan pada masa pergerakan mahasiswa tahun delapan puluhan. Di tempat ini biasanya mahasiswa berkumpul, demontrasi menyuarakan aspirasi tentang berbagai kebejadan dan kepincangan social,ekonomi politik di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi dibawah kekuasaan Orde Baru.

    Melihat Gedung Kantor Pos Besar, ingatan saya juga langsung menerawang kejadian yang tak pernah saya lupakan sepanjang hayat. Gedung ini menjadi saksi sejarah bagaimana saya dipecat menjadi anak oleh orang tua

    Peristiwa ini bermula dari kedatangan kakak saya dari kampung yang membawa surat segel. Isinya saya harus menandatangani surat pernyataan bahwa saya bukan lagi anak dari orang tua saya. Tentu saja saya kaget bukan kepalang, mana ada dalam sejarah seorang anak dipecat oleh orang tua sebagai anak.

    Usut punya usut, ternyata persoalannya karena isi telegram (maklum jaman itu telegram adalah sarana komunikasi yg tercepat). Yang dimasalahkan adalah kalimat dalam telegram yang tertulis "Kepada Yang Terhormat Ayahanda Tuanku ....". Kata Tuanku inilah yang dianggap menghina, dianggapnya orang tua disamakan dengan Tuhan.

    Karena merasa tak pernah menulis kata "Tuanku', saya bergegas ke kantor telegram, bagian dari Gedung Kantor Pos Besar. Sambil menunjukkan surat pernyataan, kepada petugas saya minta untuk mencari arsip sesui dengan tanggal dan waktu yang ada telegeram saya. Melihat surat pernyataan, petugas malah tertawa, namun ahirnya ketemu juga setelah mengobrak abrik tumpukan arsip.

    Besyukur, ternyata arsip asli -yang saya tulis tangan -- tidak ada kata "Tuanku", yang ada hanya kalimat "Kepada Yth, Ayahanda....". Kakak saya juga ikut lega, dengan adanya arsip ini, kemungkinan saya tidak jadi di pecat sebagai anak.

    Satu minggu setelah kakak saya pulang kampung dan membawa arsip asli dari kantor telegram, saya dapat kabar bahwa persoalan pemecatan sudah selesai, clear and clean, saya tidak jadi dipecat, saya tetap jadi anak dari orang tua.

    Untuk ayahanda tercinta yang sudah berpulang beberapa bulan lalu, Alfatihah, semoga dimudahkan menuju SurgaMU ya Allah


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.