Ketika Sekolah ‘Dirumahkan’ - Analisis - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Sabtu, 2 Mei 2020 13:27 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ketika Sekolah ‘Dirumahkan’


    Dibaca : 1.599 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    *Putu Suasta, Alumnus Fisipol UGM dan Universitas Cornell

     

    Penyebaran Covid-19 barangkali akan tercatat sebagai salah satu peristiwa dengan dampak sosial paling luas dalam sejarah manusia. Semua kegiatan yang melibatkan kerja sama atau hubungan antar manusia terpaksa harus dimodifikasi sedemikian rupa atau kalau tak bisa dimodifikasi, dihentikan sama sekali. Aktivitas pendidikan niscaya tak bisa dihentikan, tapi harus dimodifikasi agar transfer ilmu dan nilai-nilai pendidikan tetap berjalan tanpa melibatkan kontak-kontak fisik atau pertemuan-pertemuan face to face. Belajar dari rumah (home learning) menjadi satu-satunya opsi. Menurut catatan UNESCO per 12 Maret 2020, baru ada 29 negara menerapkan kebijakan meliburkan sekolah secara virtual dan menerapkan pembelajaran jarak jauh (online). Tapi hanya berselang 6 hari, yakni 18 maret 2020, angka itu melambung tinggi menjadi 112 negara. 

    Indonesia termasuk negara yang telah menempuh kebijakan tersebut. Maka di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini perlu mengajukan pertanyaan penting sekaitan dengan praktek “belajar dari rumah”: sejauh mana transfer nilai-nilai pendidikan (bukan hanya transfer pengetahuan) dapat diwadahi?. 

    Bagi kebanyakan anak didik dan pendidik, belajar secara daring (online) tentu saja masih baru dan canggung. Pemanfaatkan teknologi komunikasi seperti penggunaan HP, melakukan komunikasi edukasi melalui video call, tentu saja membuat mereka sedikit banyaknya menjadi gagap mengingat selama ini yang mereka kenal adalah pendidikan dengan kontak langsung di ruang-ruang kelas. Namun bagi pemerintah, tak ada pilihan lain selain terpaksa harus memanfaatkan semua hal yang memungkinkan untuk belajar di rumah (home learning).

    Bahkan pemerintah juga harus memanfaatkan televisi untuk menjangkau lebih maksimal pencapaian proses belajar-mengajar di situasi pandemik ini dengan memanfaatkankerja sama dengan TVRI. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui TVRI meluncurkan program “Belajar dari Rumah” sebagai alternatif belajar di tengah pandemi Coranovirus Disease (Covid-19). Program ini direncanakan akan dimulai pada Senin, 13 April 2020 dan akan berjalan selama tiga bulan hingga Juli 2020. Demikian diungkapkan Mendikbud Nadiem Makarim  pada telekonferensi Peluncuran Program Belajar dari Rumah di Jakarta, Kamis (9/4/2020). 

    Dalam program ‘Belajar dari Rumah’ ini, beberapa pihak, terutama pengamat pendidikan,  juga mengharapkan peran orangtua murid berperan aktif dalam proses belajar-mengajar dari rumah. Apalagi dalam situasi pandemi corona ini di mana semua anggota keluarga berkumpul di rumah dalam rangka mematuhi imbauan pemerintah untuk sementara ‘tetap tinggal di rumah’ (stay at home) demi memutuskan rantai penyebaran virus corona. 

    Dalam proses pendidikan, belajar di rumah (home schooling) bukanlah suatu konsep yang baru sama sekali. Dalam penerapannya, home schooling bersifat ‘profesional’. Artinya, mereka—pendidik pendidik dan anak didik—tetap membutuhkan tatap muka dan peristiwa belajar-mengajar itu bersifat privat.  Mereka yang mengajar dalam pendidikan home schooling tidak selalu harus seorang guru, melainkan mereka yang memiliki keahlian tertentu, atau mereka adalah yang mendapatkan pengetahuan berdasarkan praktik lapangan. 

    Itu sebabnya, di masa depan, home schooling bia menjadi sangat penting dalam pendidikan sebagai praktik pembebasan. Orangtua-orangtua bebas menentukan pilihan dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. juga, mereka yang memiliki berbagai keahlian akan berperan besar dalam dunia pendidikan yang membebaskan itu. karena di masa depan, orang-orang tak lagi terpesona oleh ijazah, melainkan pembuktian keahlian yang dipunyai setiap orang. 

    Untuk saat ini, belajar dari rumah adalah suatu kondisi yang sangat situasional. Kita tak mungkin bisa berharap banyak dari anak didik pada umumnya di tengah perubahan pola ajar dan pemanfaatan sarana prasarana yang sangat asing bagi mereka. Anak didik, dari PAUD hingga sekolah menengah, adalah para pelajar yang selama ini kebanyakan masih konvensional dalam penerimaan proses belajar-mengajar. Sulit berharap optimal dalam hal achievement dari para pelaku pendidikan dalam situasi yang  berubah ini, sama sulitnya berharap dari orangtua-orangtua yang bukan kapasitasnya mengambil alih pendidikan verbal di rumah untuk anak-anak mereka. 

    Bagi orangtua murid, situasi yang sama sekali tak pernah mereka duga ini, tidak terlalu bisa diharapkan memainkan situasi ‘guru’ dalam program ‘Belajar di Rumah’. Meski mereka kini tinggal di rumah, bahkan mungkin berkerja di rumah, para orangtua murid sungguh-sungguh jauh dari terlatih untuk memainkan ‘peran pengganti’ sebagai guru dalam program belajar dari rumah. Mereka lebih mencemaskan pandemi dan pekerjaan mereka ketimbang menjadi bagian dari program belajar dari rumah. 

    Sekolah Model Ashram 

    Hakikat pendidikan ialah memanusiakan manusia. Pendidikan, sekalipun itu di negara-negara maju, tujuan utamanya ialah humanisme. Dasar kemanusiaan tetap menjadi landasar paling dasar yang hendak dikokohkan dalam pendidikan yang mengutamakan humanisme. Pendidikan dasar dan menengh di sekolah-sekolah Australia, misalnya, lebih mementingkan pendidikan perilaku, adab dan moral yang baik ketimbang ilmu pengetahuan. bagi mereka, ilmu pengetahuan mudah dikejar, tetapi adalah hal sukar membangun superioritas budi pekerti. 

    Itulah mengapa pendidikan yang humanis membutuhkan tatap muka, komunikasi verbal dan sarana prasarana yang konkrit. Pada pendidikan yang tak berjarak, semua menjadi mudah terungkap, mudah diterima, terjalin langsung dalam komunikasi yang tak lagi disekati layar-layar komputer atau smartphone. Dalam kebersamaan di situasi yang konkret, nyata dan jelas, segala teladan, ekspresi kognitif dan afektif akan menguatkan jalinan relasi antara pendidik dan anak didik. Karena bagaimanapun, hakikat pendidikan tak bisa lain adalah membentuk dan menjaga hal-hal humanis dari manusia itu sendiri. 

    Pendidikan model ashram adalah praktik yang memberi ruang besar kepada integritas kemanusiaan pada anak didik. Meski tak sekaku model sekolah formal, namun tradisi ashram juga mengenal kedisiplinan, terutama berkaitan dengan praktik-praktik keagungan moral, merasai secara nyata segala pengetahuan yang selama ini hanya diceramahi oleh guru, dan yang yang terpenting ialah penekanan untuk apa anak didik mempelajari dan memahami sesuatu. Gaya hidup ashram sesungguhnya menerjemahkan upaya mereka yang nyantrik di situ untuk menemukan yang paling inti dari filosofi keberadaan mereka dalam memahami diri dan di luar diri. 

    Pendidikan semacam ini telah diterjemahkan oleh, misalnya, Anand Ashram, di Ubud. Anand Asram membuka ilmu pengetahuan dalam bentuk penyadaran akan hakikat keberadaan manusia di tengah ilmu pengetrahuan. Ada hal lain yang juga menjadi pertimbangan manusia mengapa pengenalan diri secara mendalam lebih utama diperhatikan sebelum hal lainnya, misalnya seperti sains, teknologi atau hal lainnya. Anand Ashram pada hakikatnya memberi kesadaran baru bagi siapa pun yang mencoba memahami pengetahuan dan pendidikan secara terbuka. 

    Di masa mendatang, pendidikan model ashram bisa menjadi inspirasi dalam pendidikan Indonesia yang dipadukan dengan karakter bangsa. Gaya asrham sebetulnya telah berlangsung dalam pendidikan formal konsevatif di sejumlah negara di Eropa yang meski tetap memberi hal penting kepada ilmu pengetahuan, namun mata pelajaran tata adab masih menjadi hal yang sama sekali tak dikesampingkan. Dalam konsep ashram, peranan para guru bukan lagi sekadar pengajar, melainkan menjadi panutan moral dan teladan. 

    Pendidikan adalah pergerakan kemanusiaan. Pendidikan seharusnya melahirkan generasi yang menjunjung keutamaan adab daripada kecerdasan yang lepas dari hal-hal rohani. Ada sejumlah konsep-konsep tradisional pada bangsa kita dalam mengambil peran dalam hal pendidikan bangsa. Konsep pendidikan ashram, misalnya. Dalam pengertian yang relatif longgar, sekeha-sekeha di Bali atau pondok-pondok pesantren di Jawa juga berpeluang dijadikan ruang terbuka untuk proses pembelajaran warga. 

    Bagaimanapun, belajar di rumah atau pendidikan jarak jauh memisahkan interaksi manusiawi antara guru dan anak didik. Dan secara kemanusiaan, itu mengeringkan jiwa anak didik. Ingatlah, ruang utama pendidikan anak manusia ialah tetap menjaga dan menghidupkan kegairahan jiwa anak didik  dalam menempatkan diri mereka di hadapan ilmu pengetahuan dan cita rasa keberadaban. Karena itu, kita berharap semoga sekolah-sekolah di negeri ini tidak terlalu lama ‘dirumahkan’.

    Ikuti tulisan menarik Putu Suasta lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.