Meneladani Diri, Berbuat Baik, dan Benar

Sabtu, 9 Mei 2020 13:11 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jangan berharap kepada orang lain, jadilah teladan untuk diri sendiri dengan berbuat baik dan benar

Berbuat benar, tidak sekadar baik, mudah bagi siapa saja yang cerdas intelgensi dan personaliti. (Supartono JW.09052020)

Ibadah Ramadan telah kita lalui setengah jalan. 15 hari sudah berlalu dan fase kedua keistimewaan Ramadan, yaitu mahgfirah tersisa 5 hari lagi. 

Apa hasil refleksi dan instrospeksi ibadah saya selama 15 hari kemarin? Terlebih, ibadah Ramadan Tak Biasa (RTB) karena dalam situasi pandemi corona, cukup signifikan menguji pengendalian diri dan hawa nafsu masing-masing dari kita. 

Pertanyaannya, benarkah kita benar-benar teruji dan dapat menahan hawa nafsu dalam kondisi sulit ini? Waktu begitu cepat berlalu. Apakah dari yang sudah kita lewati, ibadah kita benar, sempurna? Apakah kita sudah mengisi dan memaknai Ramadan dengan kesungguhan dan sepenuh hati? 

Sudahkah kita berlomba-lomba berbuat kebaikan? Apakah sejauh ini, keikhlasan menjalankan ibadah Ramadan yang diniatkan sejak awal masih sama, tidak berubah dan malah tambah khusu? 

Kondisi RTB sekarang jelas-jelas akan sangat sulit mewujudkan harapan-harapan seperti saat tidak ada pandemi corona. Kondisi tak normal dengan ekonomi yang sulit, adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan larangan mudik, membuat kita semua harus realistis dengan keadaan. 

Tak ada lagi harapan-harapan yang bersifat materi dan kebutuhan Lebaran seperti makanan khas, hidangan khas, hingga baju baru Lebaran. Sebab, tradisi ibadah Ramadan dan Lebaran pun tak dapat dilakukan. 

Meneladani diri 

Atas semua hal tersebut, di sisa waktu ibadah Ramadan yang ada, setelah separuh langkah, di dalam fase 10 hari kedua, yang penuh ampunan, inilah saatnya kita meneladani diri sendiri, karena banyak kasus-kasus di luar diri kita, yang datang silih berganti, justru terus menggoda kita untuk ikut terlibat pada persoalan-persoalan duniawi yang menggerus perilaku dan mental yang berakibat lemah dalam pengendalian diri dan emosi (hawa nafsu). 

Kasus-kasus yang dimaksud adalah, banyaknya kebijakan dan peraturan menyoal penanganan pandemi corona dari pemimpin negeri ini yang tidak konsisten, tidak tegas, tidak cermat, cenderung "mencla-mencle", lemah komunikasi dan sosialisasi, kurang memihak rakyat, sehingga kebijakan dan peraturan pun tak dipatuhi, di langgar, dan banyak yang mengabaikan. 

Siapa yang salah, bila pada akhirnya pandemi corona malah terus menyebar dan bertambah korbannya. Mustahil berharap kehidupan akan kembali normal dalam waktu dekat. Siapa yang akhirnya dapat kita jadikan contoh, teladan bagi saya, kita, dan mereka? 

Pemimpin negeri (baca: pemerintah) kah? Atau masyarakat yang tak patuh dan abai pada kebijakan dan peraturan? Apakah saya, harus ikut-ikutan bersikap dan berperilaku seperti mereka? Sehingga pandemi corona dan ibadah Ramadan juga akan terus kita lewati begitu saja tanpa makna lebih dan abai terhadap keistimewaan di dalamnya. 

Inilah saatnya kita benar-benar instrospeksi dan merefleksi diri. Lalu, hasilnya, dengan penuh kesadaran, berbesar hati, dan rendah hati, tak ikut-ikutan menjadi pribadi yang turut menyumbang masalah. 

Menjadi pribadi yang andil dalam mengecilkan dan menyelesaikan masalah. Tidak meneladani sikap dan perlaku yang salah, tidak ikut-ikutan "mengumbar" hawa nafsu dan tak dapat mengendalikan diri karena kecewa kepada "mereka" dan keadaan. 

Inilah saatnya kita menjadi pribadi yang minimal dapat meneladani diri sendiri, dengan sikap, perilaku, perbuatan, ucapan yang cerdas intelegensi dan emosi. 

Pada hakikatnya, setiap individu tidak diberi instrumen yang sama untuk menjadikan dirinya menjadi yang terbaik. Kesadaran adanya perbedaan inilah yang seharusnya dapat membangkitkan sekaligus memicu kita menjadi manusia yang baik. 

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah: 148; “Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan.” dan, Al-Quran Surat Al-Maidah: 48; “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” 

Dari kedua ayat tersebut menunjukkan agar kita menjadi pribadi-pribadi fastabiqu al-khairat, yaitu berlomba-lomba berbuat kebajikan, kebaikan. 

Kendati setiap individu berbeda kadar dan jenis keunggulan maupun kelemahan, tetapi semua manusia diberi potensi dan kesempatan yang sama olah Allah SWT. Sama-sama diberikan peluang untuk mengembangkan potensi dan memanfaatkan kesempatannya dalam seluruh perjalanan hidupnya. 

Karenanya, bila inti dari ibadah Ramadan (puasa) adalah menahan atau mengendalikan nafsu, maka kita harus menjadi pribadi atau individu yang  mampu meneladani diri sendiri, dengan tetap konsisten pada perbuatan yang baik dan benar, tidak ikut-ikutan terbawa arus pada perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. 

Ramadan sarana terbaik manusia

Ramadan adalah sarana terbaik bagi manusia untuk meneguhkan kualitas kehambaan kita di hadapan Allah SWT dan kualitas kemanusiaan kita di dunia. Kapan tindakan kita berbuah manfaat bagi orang lain? Saat kita telah mampu menjadi teladan untuk diri kita sendiri. Ramadan adalah ladang pahala dan di fase 10 hari kedua ini, Allah SWT membuka lebar ampunan-Nya bagi hamba-hamba yang sudi bersujud dan bersungguh-sungguh meminta kepada-Nya. 

Satu kali kebaikan yang kita perbuat dijanjikan mendapatkan balasan berlipat. Jangan sampai saat Ramadan berlalu, kita hanya merasakan kehampaan dan penyesalan, karena menyia-nyiakan bulan istimewa ini terseret arus "mereka". 

Mari, setelah pertengahan Ramadan, kita terus menjadi teladan untuk diri sendiri, terus berlomba-lomba dalam perbuatan baik dan benar dalam beribadah. Aamiin. 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua