Jangan Apatis dan Skeptis, Optimislah! - Analisa - www.indonesiana.id
x

kisah ramadan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 13 Mei 2020 09:37 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Jangan Apatis dan Skeptis, Optimislah!

    Dibaca : 371 kali

    Harapan dan pandangan baik, membuka langkah menjadi mudah. (Supartono JW.13052020)

    Ramadan Tak Biasa, di tengah pandemi corona, hari ini memasuki hari terakhir, yaitu hari ke-20, dalam fase keistimewaan 10 hari kedua Ramadan yang penuh maghfirah, ampunan. 

    Kira-kira apa yang dapat dideskripsikan dari kondisi masyarakat sepanjang 19 hari Ramadan yang telah kita lewati? Dari berbagai situasi dan kondisi, baik fakta langsung di masyarakat maupun dari berbagai pemberitaan di media massa, media sosial,  dan televisi, saya menyimpulkan ada tiga sikap yang sangat menonjol dari masyarakat kita secara umum, maupun khususnya umat muslim.  Sikap itu adalah apatis, skeptis, dan optimis. 

    Longgar, langgar, prasangka buruk

    Kira-kira dari tiga sikap yang muncul di masyarakat kita dalam ibadah Ramadan di tengah corona, mana yang lebih dominan? 

    Sebagai tolok ukur, dalam situasi pandemi corona, dengan adanya tindakan pencegahan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di dalamnya ada perintah belajar di rumah, bekerja di rumah, dan ibadah di rumah. Lalu, bila terpaksa ke luar rumah wajib memakai masker dan pembatasan diri, serta ada Larangan Mudik, maka dapat kita lihat sikap masyarakat dalam mematuhi semua hal tersebut. 

    Bila diidentifikasi sikapnya, ambil contoh dalam diskusi di TV One, Selasa malam (12/5/2020), ternyata temanya adalah "Longgar dan Dilanggar". Isi diskusinya adalah menyoal banyaknya masyarakat yang tetap cuek dan melanggar peraturan PSBB maupun larangan mudik, karena pemerintahnya juga longgar, tidak tegas, bahkan cenderung mencla-mencle dalam soal peraturan yang membikin masyarakat jadi bingung. 

    Sementara ketika saya membaca di Tribun Manado.co.id, Selasa (12/5/2020), ada judul tausiah, siar agama tentang Renungan Ramadan 20-Menata Hati untuk Empati Bukan Caci Maki, ternyata menyoal ibadah di rumah dan ibadah di masjid saja menjadi persoalan yang tanpa disadari menjadi perseteruan dan cenderung caci maki, bukan empati. Apa pasalnya? 

    Atas adanya peraturan dan fatwa untuk tidak beribadah di masjid, ternyata tetap banyak muslim yang beribadah di masjid. Nah, yang tetap salat di masjid berprasangka buruk bahwa mereka yang tidak salat di masjid dianggap lemah iman dan tidak mau memakmurkan masjid karena urusan mati dan hidup adalah urusan Allah SWT,  bukan urusan manusia. 

    Sebaliknya, mereka yang tidak salat di masjid menganggap yang tetap salat di masjid adalah 'pembangkang' aturan  pemerintah dan fatwa MUI, dan tidak toleran dalam membantu memutus mata rantai penyebaran corona. 

    Selain, dua contoh berita yang saya kutip tersebut, masyarakat juga dapat melihat contoh yang sama di sekitar lingkungannya secara langsung, tidak perlu menonton berita dari televisi atau membaca dari media tentang sikap masyarakat kini.

    Atas kondisi tersebut, nampaknya sikap masyarakat yang masih apatis dan skeptis, secara kuantitas menjadi berimbang. 

    Lalu, sebenarnya apa maksud apatis, skeptis, dan optimis itu? 

    Apatis, skeptis, dan optimis

    Sesuai KBBI, apatis adalah acuh tak acuh, tidak peduli, masa bodoh. Skeptis bermakna kurang percaya, ragu-ragu. Sementara, makna optimis adalah selalu berpengharapan, berpandangan baik dalam menghadapi segala hal. Sesuai makna tersebut, maka sesuai kondisi masyarakat kita sekarang ini, maaf, dengan mengabaikan latar belakang mengapa mereka menjadi bersikap demikian, maka masih sangat banyak masyarakat yang apatis, acuh tak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh dengan imbauan dan peraturan pencegahan corona. 

    Setali tiga uang, masih sangat banyak masyarakat yang kurang percaya dan ragu terhadap sikap dan kebijakan pemerintah, karena telah terbukti kebijakan dan peraturannya membikin bingung rakyat, sehingga masyarakat menjadi abai dan tidak patuh. 

    Namun begitu, kita juga wajib bersyukur bahwa ternyata tetap masih lebih banyak masyarakat yang optimis dengan berbagai kebijakan yang ada serta adanya kesadaran diri, karena selalu ada harapan dan berpandangan baik, sehingga tetap mematuhi peraturan pemerintah dan tetap khusu menjalankan ibadah Ramadan meski harus dilaksanakan di rumah. 

    Karena banyak masyarakat yang optimis, maka di beberapa daerah, kini kasus penyebaran corona sudah ada yang menurun secara signifikan. 

    Ketahuilah wahai masyarakat, sikap optimis adalah karakter indah seorang mukmin sejati, sebab senantiasa berpikir positif, mampu memotivasi diri menjadi pribadi yang memiliki visi dunia dan akhirat, perfeksionis, dan punya standar yang tinggi untuk perkara-perkara yang memuliakan sesama manusia dan  dicintai Allah. 

    Karenanya sikap optimis yang sudah tertanam dalam hati, akan menjadi siap sedia, tatkala beribadah Ramadan seperti saat di tengah pandemi corona ini. Ingatlah, hidup itu, pada hakikatnya adalah belajar, beramal dan bersabar serta mengiringi semua yang kita lakukan dengan penuh optimisme, dan Allah akan memberi kita yang terbaik sesuai takdirnya. 

    Yakinlah setelah kesulitan ada kemudahan, seperti tersurat dalam QS Al-Insyirah: 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” 

    Seorang mukmin sejati dalam segala situasi dan kondisi juga harus bergantung hatinya kepada Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah kepada Allah. Dan jangan kau lemah.” (HR. Muslim). 

    Wahai masyarakat, yang hingga kini masih memiliki sikap apatis dan skeptis, ayolah menjadi optimis, agar penyebaran virus corona segera  terhenti, ibadah Ramadan menjadi khusu kembali. 

    Mari tutup hari terakhir fase keistimewaan maghfirah dengan memohon ampunan menjelang fase 10 hari ketiga Ramadan. Jauhi sikap apatis dan skeptis! 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.