Dilarang Mudik, Ini yang Bisa Dilakukan untuk Keluarga di Kampung Halaman

Kamis, 21 Mei 2020 13:24 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tahun ini, kesempatan yang bisa saja menjadi momen terakhir sebuah keluarga besar untuk berkumpul bersama tidak bisa dilakukan karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bahkan beberapa daerah sudah melarang kendaraan yang masuk ke daerah tersebut, terutama bagi kendaraan yang berasal atau memiliki plat dari daerah yang melaksanakan PSBB. Budaya yang ada dalam masyarakat seperti mudik memang cukup sulit ditinggalkan, bahkan sudah banyak pelanggar-pelanggarnya.

Masa pandemi Covid-19 sudah berlangsung begitu lama dan Indonesia masih berada dalam status negara dengan kondisi darurat. Endcoronavirus.org melansir kompilasi status berbagai negara termasuk Indonesia yang memiliki grafik kasus yang terus meningkat. Hingga sampai penghujung bulan Mei ini, Indonesia masih belum memiliki titik terang atas kasus ini.

Banyak himbauan bahkan aturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah baik pusat dan daerah mengenai pembatasan kegiatan seperti social dan physical distancing hingga larangan mudik. Beberapa kalangan seperti umat muslim yang mayoritas tentu dibuat terkejut dengan kebijakan ini. Sebelum pandemi, kita banyak berdoa ingin dapat menjalankan aktivitas dan ibadah lebih banyak dengan keluarga tanpa disibukkan oleh pekerjaan, namun tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kemudian akan menjalaninya dalam situasi yang sulit seperti ini.

Aktivitas-aktivitas keagamaan seperti sholat berjamaah, misa, dan lain sebagainya diatur untuk dilakukan di rumah, termasuk perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri yang sudah berjarak kurang dari lima hari lagi. Momen yang sudah menjadi budaya untuk dirayakan bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman.

Tahun ini, kesempatan yang bisa saja menjadi momen terakhir sebuah keluarga besar untuk berkumpul bersama tidak bisa dilakukan karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bahkan beberapa daerah sudah melarang kendaraan yang masuk ke daerah tersebut, terutama bagi kendaraan yang berasal atau memiliki plat dari daerah yang melaksanakan PSBB.

Selain larangan mudik, salah satu aktivitas keagamaan seperti ziarah juga banyak dibatasi baik di makam umum maupun di situs wisata religi lainnya. Akurat.co meliput di salah satu kompleks pemakaman Bungur, Kebayoran Lama, Jakarta, aktivitas ziarah kubur dibatasi untuk 2 hingga 5 orang saja. Pembatasan bukan hanya jumlah orang, waktu mereka juga dibatasi maksimal 15 menit.

Dalam masa pandemi ini, sudah sepatutnya kita mendukung upaya pemerintah dan juga tenaga medis yang telah bekerja keras dalam penanganan Covid-19. Di awal masa pembatasan, kita sudah disuguhi dengan work from home (WFH) dan belajar di rumah bagi kalangan pelajar dan mahasiswa.

Sebulan kemudian, mulai banyak penyesuaian kegiatan dengan aktivitas-aktivitas diskusi untuk tetap dapat menjalin silaturahmi hingga mendapatkan ilmu melalui webinar (web seminar) yang diadakan oleh beberapa organisasi dan komunitas.

Metode yang serupa dengan aktivitas di atas rasanya terpaksa diaplikasikan juga dalam merayakan momen Idul Fitri nantinya. Yang tahun sebelumnya kita dapat bersalaman, berpelukan, cipika-cipiki, hingga mencubit pipi keponakan yang masih bayi, tahun ini kita tidak mendapatkan kesempatan tersebut.

Suasana Lebaran di Kampung Halaman Sebelum Pandemi. Sumber Gambar oleh: Arifsan

Hal-hal lain yang dapat kita lakukan adalah saling mendoakan, baik kepada keluarga dan kerabat yang masih ada maupun yang sudah mendahului. Bagi kita yang masih memiliki rezeki lebih, kita dapat mengirimkan sejumlah rezeki tersebut dengan mentransfernya kepada keluarga atau kerabat kita yang membutuhkan. Bisa juga melalui aplikasi dompet digital dengan kedok THR kepada keponakan-keponakan. Setidaknya, itulah yang dapat kita lakukan demi mendukung percepatan penanganan pandemi ini agar cepat usai.

Budaya yang ada dalam masyarakat seperti mudik memang cukup sulit ditinggalkan, bahkan sudah banyak pelanggar-pelanggarnya. Begitu pula dengan masyarakat yang masih saja bepergian ke luar rumah tanpa urgensi apa pun.

Akan tetapi, perlu diingat kembali bahwa tidak apa-apa bila kita tidak dapat berjumpa dengan keluarga, tidak apa-apa bila kita tidak bisa membeli baju baru, tidak apa-apa asalkan kita semua dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apa pun. Hal tersebut tentunya adalah hal yang paling diharapkan dari kita oleh keluarga dan kerabat kita di rumah. Jangan sampai satu keegoisan kecil memperburuk kesejahteraan keluarga. Mari belajar untuk lebih memahami sesuatu sebelum bertindak.

Tetap jaga kebersihan dan kesehatan.

Semoga kita semua dapat melalui pandemi ini dan kembali kepada keluarga dengan utuh.

Bagikan Artikel Ini
img-content
adam willy

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler