Tentang Senioritas Masa Orientasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sejumlah calon siswa baru mengikuti gerakan dari kakak seniornya saat masa orientasi sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang, Banten (10/7). Sebanyak 289 calon siswa baru mengikuti ospek sebagai ajang perkenalan antara siswa baru dan kakak kelas serta pihak sekolah.TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

Uswah Hasanah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2020

Jumat, 29 Mei 2020 15:18 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Tentang Senioritas Masa Orientasi

    Masa Orientasi adalah sebuah momen perkenalan antara siswa/mahasiswa baru dengan lingkungan sekitarnya. Masa Orientasi selalu identik dengan senioritas dan juga perundungan

    Dibaca : 1.126 kali

    “Jadi anak jangan manja! Jaman kalian tuh lebih enak daripada jaman kami! Kami dulu lebih berat!” familiar dengan kata-kata bullshit tersebut? Kapan kalian mendengarnya? Saat jadi Mahasiswa Baru, atau sedang mengikuti Masa Orientasi Sekolah? Saya yakin kalian pernah mendengarnya setidaknya sekali seumur hidup dan mendengar senior berlagak dengan membandingkan antara jamannya dan jaman kalian sekarang.

    Senioritas dimana pun akan selalu ada, semasa SMA, saya yang benci sekali dengan kegiatan Pramuka dan menentang MOS, mengkritik teman saya yang menjadi panitia MOS. Dia dan yang lainnya berencana membuat MOS tahun ini lebih ‘sengsara’ daripada tahun yang kami alami. Saya masih ingat bahwa dulu saya dan angkatan saya disuruh membuat tas dari kardus, kalung dari jajanan atau rempah yang telah ditetapkan panitia, selempang dari kertas manila dan ditulisi aneh-aneh, maupun topi dari baskom. Alih-alih melatih mental agar tangguh, saya kira kami lebih mirip dengan orang gila yang diperlakukan secara idiot oleh orang-orang yang tak kalah idiotnya lebih daripada kami.

    “Mengapa kalian membuat acara MOS sebagai ajang balas dendam? Mengapa atribut-atribut ini harus dikenakan oleh mereka? Kasihan adik-adik kelas. Buatlah MOS yang lebih menyenangkan,” kata saya waktu ikut-ikutan rapat bersama mereka. “Biarkan saja, jaman kita MOS dulu malah lebih parah kan? Biar mereka tahu rasa”.

    Saya mendebat mereka bahwa tentu calon siswa baru itu tidak bersalah jika mereka ada di posisi yang enak daripada posisi kita yang dibantai habis-habisan. Bukan salah para adik jika mereka hidup di zaman kebebasan. Namun, bantahan saya dipatahkan dengan kalimat, “Kamu bukan anggota dewan, kamu bukan panitia, kamu tidak berhak untuk bersuara.” Mohon maaf, kupikir sistem yang diterapkan adalah sistem demokrasi. Ternyata bukan.

    Sebagai ajang balas dendam rupanya! Saya menyayangkan para adik yang jadi korban sesuatu yang turun menurun diwarisi sebagai dalih tradisi. Sayang sekali! Mereka membayar mahal untuk sekolah, namun ketika masuk, malah diperlakukan sebagai badut dan alat menyalurkan balas dendam. Awal yang ‘baik’ sebagai didikan sekolah di hari pertama dan tiga hari sesudahnya.

    Perlukah MOS yang seperti itu? Apa ada faedahnya bagi mereka? Selamat, kalian melatih mental mereka menjadi gila seutuhnya dengan teriakan, atribut, dan hal-hal lain yang aneh. Ini adalah alasan mengapa saya tidak pernah menjadi panitia MOS atau aktif organisasi di sekolah.

    Saya sendiri tidak faham kepuasan apa yang didapat ketika melihat orang lain ‘sengsara’. Toh memang kepuasan manusia tidak akan ada ujungnya, maka dari itu, memutus mata rantai senioritas tentu saja susah. Di dunia sekolah, perkuliahan, ataupun dunia kerja, masalah senioritas, selalu ada. "Aku lebih baik daripada kamu. Aku senior di sini. Kamu junior. Aku pernah jadi junior yang diperlakukan secara tidak enak. Maka giliran kalian."

    Mungkin kurang lebih demikian pemikiran mereka yang pernah diperlakukan secara tidak enak oleh senior.

    Apa gunanya menyuruh para junior memakai atribut yang tidak manusiawi? Alibi pelatihan mental untuk melatih mental mereka agar lebih berani, saya rasa tidak dapat diterima. Alibi memanfaatkan barang bekas sebagai bahan daur ulang yang bisa dipakai tidak dapat diterima karena setelah acara MOS selesai, maka itu akan kembali menjadi sampah. Lalu apa? Alibi apalagi yang dapat kalian paparkan?

    Di dunia perkuliahan, dalam masa ospek, ada yang namanya seksi disiplin. Atau yang namanya komdis. Sesuai namanya, tugasnya tentu menjadi bagian yang mengawasi kedisiplinan, dengan wajah yang dipaksa ‘mengerikan’ raut wajah mereka harus tidak menampilkan senyum, suaranya harus keras, membentak, dan mencari-cari kesalahan maba.

    Saya juga tidak faham kenapa kebanyakan dari mereka harus berteriak dengan tidak sabar menyuruh para maba berjalan atau berlari cepat ketika berkumpul ke suatu tempat. Saya tidak faham mengapa mereka harus bersuara keras ketika bicara, saya tidak faham pengajaran etika seperti apa yang hendak mereka tunjukkan. Saya kurang memahami esensi kedisiplinan dengan korelasi wajah yang garang. Haruskah kedisiplinan ditampilkan dengan citra sangar, garang dan ‘seram’? mengapa kita tidak coba cara ramah dan menyenangkan?

    Saya sedikit miris ketika melihat berita dan video yang tersebar di linimasa media sosial saya tentang ospek yang tidak ramah di salah satu universitas di Indonesia. Dimana didalam video itu ada mahasiswa baru yang jalan jongkok untuk naik tangga, dan minum dari bekas temannya. Keterlaluan dan tidak manusiawi sama sekali.

    Lalu ada juga kasus tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Dimas Dikita Handoko yang berumur 19 tahun, rupanya hanya dipicu masalah sepele. Dimas yang merupakan taruna tingkat pertama sekolah pelayaran tersebut dinilai tidak kompak serta tak respek jika berhadapan dengan para seniornya.

    Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi mengungkapkan, para pelaku mengaku ditegur oleh taruna semester 4 yang menyebut bahwa korban tidak respek dan tidak kompak. Apa tujuannya dari mereka? Apa mereka masih mempunyai kewarasan? Ini jelas mencoreng dunia pendidikan tanah air. Dunia pendidikan harusnya melahirkan sumber daya yang terdidik. Dunia pendidikan harusnya menempa orang-orang yang berpendidikan dan berpikiran waras.

    Apa gunanya MOS atau Ospek sendiri? Untuk mengenalkan lingkungan tempat kita belajar bukan? Bukan sebagai pengenalan pendidikan militer dan ajang balas dendam atau pelampiasan masa lalu. Bukan. Konsepnya bukan seperti itu. Toh, setelah MOS atau Ospek, banyak juga yang masih kebingungan ketika ingin mengajukan sesuatu, meminta ijin cuti, atau mengurusi hal-hal administratif lainnya.

    Memang, pribadi tiap orang berbeda dalam menyikapi masalah Masa Orientasi yang identik dengan senioritas dan perpeloncoan ini. Ada yang dengan senang hati menerima, terpaksa, atau bahkan tidak suka. Yang jelas, dari salah satu kategori, akan ada pribadi yang membawa dendam untuk dilampiaskan ke junior setelah mereka.

    Tujuannya mungkin memang bagus, untuk melatih mental agar lebih kuat dan tidak cengeng. Namun kembali lagi, pribadi tiap orang berbeda. Dilihat dari kasus dari tahun ke tahun yang memakan korban dan menimbulkan polemik, aturan untuk MOS pun ditetapkan. Bahwa MOS harus lebih ramah terhadap siswa, nama MOS pun diubah menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Agenda pun diterapkan dengan lebih ramah, guru diwajibkan mendampingi kegiatan orientasi ini. Diharapkan kehadiran guru yang mengawasi dapat memutus budaya senioritas dimana ada kecenderungan perundungan terhadap siswa.

    Atribut pun sudah mulai ramah, tidak memakai atribut aneh, merendahkan martabat nan tidak manusiawi seperti sekolah saya dulu. Kegiatan orientasi sekarang hanya memakai seragam resmi sekolah saja. Namun, beberapa sekolah yang tak sengaja saya temui masih memakai topi baskom dan kalung rumbai-rumbai dari tali rafia. Lantas, bagaimana dengan di dunia kampus? Saya rasa, karena sudah menjadi mahasiswa, bisa lah ya berpikir lebih dewasa. Lebih dipikirkan tujuan dari kegiatan dan tindakan itu kemana, alih-alih memuaskan nafsu belaka. (Atau sebagai pemenuhan tugas proposal yang telah disodorkan)

    Berhenti membanding-bandingkan masa. Berkilah bahwa jaman kalian lebih sengsara daripada jaman adik-adik kalian itu tak bisa dijadikan pembenaran melakukan tindak kekerasan, berkilah bahwa adik-adik sekarang manja dan tidak disiplin dan susah diatur tidak menjadikan alasan pembenaran kalian juga diterima. Perbandingan tidak akan membawa kalian kemana-mana. Tidak akan lebih baik dan tidak akan lebih buruk juga. Berhenti disini. Berhenti. Putuskan rantai kesalahan yang terlanjur dimaklumi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.