Tentang Senioritas Masa Orientasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sejumlah calon siswa baru mengikuti gerakan dari kakak seniornya saat masa orientasi sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang, Banten (10/7). Sebanyak 289 calon siswa baru mengikuti ospek sebagai ajang perkenalan antara siswa baru dan kakak kelas serta pihak sekolah.TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

Uswah Hasanah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2020

Jumat, 29 Mei 2020 15:18 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Tentang Senioritas Masa Orientasi

    Dibaca : 463 kali

    “Jadi anak jangan manja! Jaman kalian tuh lebih enak daripada jaman kami! Kami dulu lebih berat!” familiar dengan kata-kata bullshit tersebut? Kapan kalian mendengarnya? Saat jadi Mahasiswa Baru, atau sedang mengikuti Masa Orientasi Sekolah? Saya yakin kalian pernah mendengarnya setidaknya sekali seumur hidup dan mendengar senior berlagak dengan membandingkan antara jamannya dan jaman kalian sekarang.

    Senioritas dimana pun akan selalu ada, semasa SMA, saya yang benci sekali dengan kegiatan Pramuka dan menentang MOS, mengkritik teman saya yang menjadi panitia MOS. Dia dan yang lainnya berencana membuat MOS tahun ini lebih ‘sengsara’ daripada tahun yang kami alami. Saya masih ingat bahwa dulu saya dan angkatan saya disuruh membuat tas dari kardus, kalung dari jajanan atau rempah yang telah ditetapkan panitia, selempang dari kertas manila dan ditulisi aneh-aneh, maupun topi dari baskom. Alih-alih melatih mental agar tangguh, saya kira kami lebih mirip dengan orang gila yang diperlakukan secara idiot oleh orang-orang yang tak kalah idiotnya lebih daripada kami.

    “Mengapa kalian membuat acara MOS sebagai ajang balas dendam? Mengapa atribut-atribut ini harus dikenakan oleh mereka? Kasihan adik-adik kelas. Buatlah MOS yang lebih menyenangkan,” kata saya waktu ikut-ikutan rapat bersama mereka. “Biarkan saja, jaman kita MOS dulu malah lebih parah kan? Biar mereka tahu rasa”.

    Saya mendebat mereka bahwa tentu calon siswa baru itu tidak bersalah jika mereka ada di posisi yang enak daripada posisi kita yang dibantai habis-habisan. Bukan salah para adik jika mereka hidup di zaman kebebasan. Namun, bantahan saya dipatahkan dengan kalimat, “Kamu bukan anggota dewan, kamu bukan panitia, kamu tidak berhak untuk bersuara.” Mohon maaf, kupikir sistem yang diterapkan adalah sistem demokrasi. Ternyata bukan.

    Sebagai ajang balas dendam rupanya! Saya menyayangkan para adik yang jadi korban sesuatu yang turun menurun diwarisi sebagai dalih tradisi. Sayang sekali! Mereka membayar mahal untuk sekolah, namun ketika masuk, malah diperlakukan sebagai badut dan alat menyalurkan balas dendam. Awal yang ‘baik’ sebagai didikan sekolah di hari pertama dan tiga hari sesudahnya.

    Perlukah MOS yang seperti itu? Apa ada faedahnya bagi mereka? Selamat, kalian melatih mental mereka menjadi gila seutuhnya dengan teriakan, atribut, dan hal-hal lain yang aneh. Ini adalah alasan mengapa saya tidak pernah menjadi panitia MOS atau aktif organisasi di sekolah.

    Saya sendiri tidak faham kepuasan apa yang didapat ketika melihat orang lain ‘sengsara’. Toh memang kepuasan manusia tidak akan ada ujungnya, maka dari itu, memutus mata rantai senioritas tentu saja susah. Di dunia sekolah, perkuliahan, ataupun dunia kerja, masalah senioritas, selalu ada. "Aku lebih baik daripada kamu. Aku senior di sini. Kamu junior. Aku pernah jadi junior yang diperlakukan secara tidak enak. Maka giliran kalian."

    Mungkin kurang lebih demikian pemikiran mereka yang pernah diperlakukan secara tidak enak oleh senior.

    Apa gunanya menyuruh para junior memakai atribut yang tidak manusiawi? Alibi pelatihan mental untuk melatih mental mereka agar lebih berani, saya rasa tidak dapat diterima. Alibi memanfaatkan barang bekas sebagai bahan daur ulang yang bisa dipakai tidak dapat diterima karena setelah acara MOS selesai, maka itu akan kembali menjadi sampah. Lalu apa? Alibi apalagi yang dapat kalian paparkan?

    Di dunia perkuliahan, dalam masa ospek, ada yang namanya seksi disiplin. Atau yang namanya komdis. Sesuai namanya, tugasnya tentu menjadi bagian yang mengawasi kedisiplinan, dengan wajah yang dipaksa ‘mengerikan’ raut wajah mereka harus tidak menampilkan senyum, suaranya harus keras, membentak, dan mencari-cari kesalahan maba.

    Saya juga tidak faham kenapa kebanyakan dari mereka harus berteriak dengan tidak sabar menyuruh para maba berjalan atau berlari cepat ketika berkumpul ke suatu tempat. Saya tidak faham mengapa mereka harus bersuara keras ketika bicara, saya tidak faham pengajaran etika seperti apa yang hendak mereka tunjukkan. Saya kurang memahami esensi kedisiplinan dengan korelasi wajah yang garang. Haruskah kedisiplinan ditampilkan dengan citra sangar, garang dan ‘seram’? mengapa kita tidak coba cara ramah dan menyenangkan?

    Saya sedikit miris ketika melihat berita dan video yang tersebar di linimasa media sosial saya tentang ospek yang tidak ramah di salah satu universitas di Indonesia. Dimana didalam video itu ada mahasiswa baru yang jalan jongkok untuk naik tangga, dan minum dari bekas temannya. Keterlaluan dan tidak manusiawi sama sekali.

    Lalu ada juga kasus tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Dimas Dikita Handoko yang berumur 19 tahun, rupanya hanya dipicu masalah sepele. Dimas yang merupakan taruna tingkat pertama sekolah pelayaran tersebut dinilai tidak kompak serta tak respek jika berhadapan dengan para seniornya.

    Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi mengungkapkan, para pelaku mengaku ditegur oleh taruna semester 4 yang menyebut bahwa korban tidak respek dan tidak kompak. Apa tujuannya dari mereka? Apa mereka masih mempunyai kewarasan? Ini jelas mencoreng dunia pendidikan tanah air. Dunia pendidikan harusnya melahirkan sumber daya yang terdidik. Dunia pendidikan harusnya menempa orang-orang yang berpendidikan dan berpikiran waras.

    Apa gunanya MOS atau Ospek sendiri? Untuk mengenalkan lingkungan tempat kita belajar bukan? Bukan sebagai pengenalan pendidikan militer dan ajang balas dendam atau pelampiasan masa lalu. Bukan. Konsepnya bukan seperti itu. Toh, setelah MOS atau Ospek, banyak juga yang masih kebingungan ketika ingin mengajukan sesuatu, meminta ijin cuti, atau mengurusi hal-hal administratif lainnya.

    Memang, pribadi tiap orang berbeda dalam menyikapi masalah Masa Orientasi yang identik dengan senioritas dan perpeloncoan ini. Ada yang dengan senang hati menerima, terpaksa, atau bahkan tidak suka. Yang jelas, dari salah satu kategori, akan ada pribadi yang membawa dendam untuk dilampiaskan ke junior setelah mereka.

    Tujuannya mungkin memang bagus, untuk melatih mental agar lebih kuat dan tidak cengeng. Namun kembali lagi, pribadi tiap orang berbeda. Dilihat dari kasus dari tahun ke tahun yang memakan korban dan menimbulkan polemik, aturan untuk MOS pun ditetapkan. Bahwa MOS harus lebih ramah terhadap siswa, nama MOS pun diubah menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Agenda pun diterapkan dengan lebih ramah, guru diwajibkan mendampingi kegiatan orientasi ini. Diharapkan kehadiran guru yang mengawasi dapat memutus budaya senioritas dimana ada kecenderungan perundungan terhadap siswa.

    Atribut pun sudah mulai ramah, tidak memakai atribut aneh, merendahkan martabat nan tidak manusiawi seperti sekolah saya dulu. Kegiatan orientasi sekarang hanya memakai seragam resmi sekolah saja. Namun, beberapa sekolah yang tak sengaja saya temui masih memakai topi baskom dan kalung rumbai-rumbai dari tali rafia. Lantas, bagaimana dengan di dunia kampus? Saya rasa, karena sudah menjadi mahasiswa, bisa lah ya berpikir lebih dewasa. Lebih dipikirkan tujuan dari kegiatan dan tindakan itu kemana, alih-alih memuaskan nafsu belaka. (Atau sebagai pemenuhan tugas proposal yang telah disodorkan)

    Berhenti membanding-bandingkan masa. Berkilah bahwa jaman kalian lebih sengsara daripada jaman adik-adik kalian itu tak bisa dijadikan pembenaran melakukan tindak kekerasan, berkilah bahwa adik-adik sekarang manja dan tidak disiplin dan susah diatur tidak menjadikan alasan pembenaran kalian juga diterima. Perbandingan tidak akan membawa kalian kemana-mana. Tidak akan lebih baik dan tidak akan lebih buruk juga. Berhenti disini. Berhenti. Putuskan rantai kesalahan yang terlanjur dimaklumi.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 96 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.