Pantang Pulang Sebelum Tenang, Kisah Pak Polisi di Check Point Covid-19 - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 4 Juni 2020 08:53 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Pantang Pulang Sebelum Tenang, Kisah Pak Polisi di Check Point Covid-19

    Dibaca : 823 kali

    Di Balik Kisah Pak Polisi di Pinggir Jalan.

     Di tengah upaya mencegah penularan Covid-19, ada cerita menarik yang tidak diketahui banyak orang. Tidak ter-ekspos dan jarang terpublikasi. Saat menonton Pak Polisi yang ada di jalanan. Saat menyaksikan korps Bhayangkara harus rela meninggalkan keluarga. Dari pagi hingga petang, dari siang hingga malam. Untuk mengemban tugas mulia, mencegah wabah virus corona.

    Sekalipun mereka, Pak Polisi, harus bermandikan keringat dan berselimutkan debu. Pak Polisi tetap tegar berdiri di ruas-ruas jalan penyekatan. Memeriksa SIKM (Surat Izin Keluar Masuk). Agar warga tidak mudik juga tidak balik ke Jakarta.

    Tanpa kenal lelah. Sejumlah korps Bhayangkara bahu-membahu menyapa pengemudi roda dua dan roda empat. Mengecek protokol kesehatan harus tetap dipatuhi. Ada yang mengatur lalu lintas. Ada yang memeriksa surat. Ada yang menata pembatas jalan. Bahkan ada yang mengontrol pengemudi harus putar balik. Lagi-lagi, setiap hari Pak Polisi rela berkorban meninggalkan keluarga saat Idul Fitri. Menunda kehangatan bersama anak-anak dan istrinya. Tapi hebatnya, mereka tidak pernah mengeluh. Bahkan mereka masih bisa tersenyum kepada warga. Sambil sesekali bercanda dengan rekan korps Bhayangkara lainnya. Terus-menerus, setiap hari di jalanan.

    Siang itu, terik matahari terasa menyengat di ruas jalan penyekatan. Bahkan tiba-tiba, hujan deras pun turun. Mereka tetap setia berteduh di pos penyekatan atau check point. Meski baju coklat yang jadi kebanggaannya lusuh diselimuti debu. Tapi sekali lagi, semangat mereka dalam bertugas terus terpatri dalam jiwanya. Mungkin, mereka mengusung slogan “pantang pulang sebelum tenang di medan juang”. Sesuai amanat Tribrata yang menjadi pedoman hidup anggota Polri.

    Tetap tegas namun humanis. Begitu prinsip Pak Polisi saat bertugas. Karena selalu saja ada warga yang ngotot mudik dan balik. Warga yang mencari akal. Agar tetap bisa mudik atau balik. Entah melalui jalan tikus atau berusaha mengelabui petugas. Pak Polisi tetap santun untuk menegakkan aturan.

    Sungguh, Pak Polisi tidak pernah baper. Mereka hanya menegakkan aturan. Sekalipun tidak sedikit warga yang tidak peduli pada mereka. Sekalipun warga mencemooh saat Pak Polisi menindak pelanggaran. Bahkan tidak sedikit pula yang menganggap Pak Polisi melanggar hak asasi manusia. Tapi di saat yang sama, siapa yang peduli pula terhadap hak asasi manusia Pak Polisi? Saat mereka ingin bercengkrama dengan keluarga di rumah?

    Sayang publik tidak tahu. Sebagai manusia, Pak Polisi pun punya rasa kangen berkumpul dengan keluarga. Punya rasa cinta sebagai orang tua untuk melindungi anak-anaknya. Punya rasa simpati untuk bergaul dengan tetangga dan lingkungan rumahnya. Tapi rasa itu sudah dibuang jauh-jauh oleh Pak Polisi. Demi tugas untuk bangsa dan negara. Harus selalu siap memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Selalu setia menegakkan hukum. Dan yang paling penting, selalu dekat dengan masyarakat. Untuk mengayomi dan melayani dengan sepenuh hati.

    Sekalipun bermandikan keringat, berselimut debu. Pak Polisi tetap ada di dekat masyarakat. Terima kasih Pak Polisi, selamat bertugas lagi …


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.