Muhammad Hatta Dari Berbagai Sisi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Muhammad Hatta Pejuang Proklamator Pemimpin Manusia Biasa

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 25 Juni 2020 12:33 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Muhammad Hatta Dari Berbagai Sisi

    Dibaca : 348 kali

    Judul: Muhammad Hatta – Pejuang, Proklamator, Pemimpin, Manusia Biasa

    Penulis: Amrin Imran

    Tahun Terbit: 1981

    Penerbit: Mutiara Jakarta                                                                                      

    Tebal: xi + 156

    ISBN:

     

    Buku yang membahas Muhammad Hatta ini sangat menarik karena memuat fakta-fakta yang jarang ditehaui oleh khalayak umum. Informasi itu misalnya tentang nama asli Hatta, peristiwa apa yang menyebabkan Hatta membenci Belanda dan sebagainya. Buku yang disusun secara kronologis dari sejak kelahiran Hatta sampai dengan wafatnya ini merangkum secara lengkap perjalanan kehidupan Sang Proklamator.

    Tidak banyak yang tahu bahwa nama asli Muhammad Hatta adalah Muhammad Attar. Mula-mula Attar dipanggil Atta saat kecil. Lama-lama ucapan Atta ini berubah menjadi Hatta.

    Buku ini mengisahkan masa kecil Muhammad Hatta yang sangat akrab dengan keluarga pihak ibunya. Keakraban dengan keluarga pihak ibu ini disebabkan ayah kandung Hatta meninggal saat ia masih kecil. Ibunya menikah lagi dengan seorang saudagar. Hubungan Hatta dengan ayah angkatnya sangat baik. Hubungan Hatta dengan kakek dari jalur ayahnya juga sangat baik. Hatta sering ke kampung kakeknya dari jalur ayah saat libur sekolah. Kake dari jalur ayahnya adalah seorang ulama.

    Mengapa Hatta membenci Belanda? Peristiwa yang membekas dalam benak Hatta tentang Belanda adalah peristiwa penggeledahan perempuan-perempuan pribumi oleh tentara Belanda yang membawa senjata dan sangkur terhunus di sebuah jembatan dekat rumah Hatta. Hatta yang masih kecil menyaksikan sendiri peristiwa tersebut. Peristiwa kedua adalah ketika teman kakeknya dibawa Belanda dengan kereta api untuk ditahan. Teman kakeknya ini difitnah dan dituduh terlibat Perang Kamang. Padahal teman kakeknya ini sesungguhnya tidak terlibat.

    Meski sudah ada perasaan membenci Belanda, namun Hatta bersekolah di sekolah Belanda. Hubungannya dengan guru-guru di sekolahnya membuat perasaannya kepada Belanda sedikit berubah. Itulah sebabnya ia akhirnya bersekolah sampai ke Negeri Belanda.

    Perkenalan Hatta dengan perjuangan kemerdekaan dimulai saat ia bersekolah di Padang. Ia bertemu dengan utusan Jong Sumatra Bond (JSB), Nazir Datuk Pamuncak yang berkunjung ke Padang. Hatta yang saat itu menjadi siswa MULO, menghadiri pertemuan dimana Nazir Datuk pamuncak berpidato. Hatta yang sudah punya pengalaman berorgasisasi sebelumnya, ditunjuk menjadi bendaraha JSB cabang Padang. Di sinilah bakat berorganisasi Hatta teruji. Ia mendekati para orang kaya untuk membantu kas JSB. Saat ia bersekolah di Jakarta, ia tetam dipercaya sebagai bendahara JSB. Di Jakarta ia menyelamatkan kas JSB yang hampir kosong. Dengan terisinya kas, maka majalah yang sudah tidak terbit berhasil diterbitkan kembali.

    Pengalaman organisasinya di JSB ini kemudian berguna saat ia bersekolah di Belanda. I amula-mula dipilih menjadi bendahara Indische Vereniging yang kemudian berubah menjadi Perhimpunan Indonesia. Kemudian ia terpilih menjadi Ketua. Saat menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia Hatta sangat aktif berjaringan dengan pergerakan kemerdekaan dan gerakan anti fasis yang sedang melanda Eropa. Ia berteman dengan Jawaharlal Nehru yang saat itu juga sedang belajar di Eropa.

    Buku ini secara menarik menggambarkan dinamika hubungan Hatta dengan Sukarno. Hubungan pertama antara Hatta dengan Sukarno terjadi saat Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) bersama dengan anggota-anggota Perhimpunan Indonesia yang sudah pulang ke Indonesia. Saat Sukarno ditangkap, PNI dibubarkan secara sepihak oleh Sartono (pengurus). Hatta kecewa dengan keputusan tersebut. Tidak selayaknya partai dibubarkan oleh pengurusnya saat pemimpinnya ditahan. Saat Sartono mendiripak Partai Indonesia (Partindo), Hatta membantu teman-temannya eks PNI yang tidak mau bergabung dan menyebut kelompoknya sebagai “Golongan Merdeka”. Ia bersama Golongan Merdeka mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, atau lazim disebut sebagai PNI Baru. Selepas dari tahanan Sukarno ternyata bergabung dengan Partindo. Terjadilah saling menjatuhkan antara Partindo dengan PNI Baru. Meski Hatta sempat bertemu Sukarno dan membahas supaya antara Partindo dan PNI Baru tidak saling menjelekkan – dan Sukarno setuju, tetapi upaya ini ternyata tidak berjalan.

    Perselisihan antara Hatta dengan Sukarno juga terjadi saat ada khabar bahwa Hatta akan diangkat menjadi anggota Parlemen di Belanda. Meski khabar tersebut belum resmi, tetapi Partindo sudah mengkritik Hatta yang dianggap mau bekerjasama dengan penjajah. Hatta yang pada akhirnya menolak tawaran untuk menjadi anggota Parlemen tersebut menjawab bahwa menjadi anggota Parlemen tidak berarti bekerjasama dengan Belanda.

    Kedua tokoh ini berjuang dengan garis dan gayanya sendiri-sendiri, sampai akhirnya mereka berdua ditangkap Belanda karena dianggap menyiapkan pemberontakan. Sukarno ditangkap pada tahun 1933 dan dibuang ke Ende – Flores dan Hatta ditangkap pada tahun 1934 dan dibuang ke Digul.

    Keduanya bertemu kembali saat Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942. Hatta yang sudah lebih dulu berada di Jakarta, menjemput Sukarno di Pelabuhan Pasar Ikan. Sejak itu mereka berdua bersatu padu menyiapkan Kemerdekaan Indonesia.

    Kedua orang yang sama-sama meyakini bahwa melalui Perang Pasifiklah Indonesia akan mencapai kemerdekaannya, ternyata memiliki perbendaan pandangan. Sukarno berkeyakinan bahwa Jepang akan memenangkan Perang Pasifik. Sementara Hatta berkeyakinan bahwa Amerikalah yang akan menang. Tetapi keduanya tetap bersatu padu dan bersedia bergabung dengan Pemerintahan Jepang di Jawa. Hatta menjadi penasihat pemerintah, sedangkan Sukarno memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Putera dipimpin oleh empat sekawan yaitu Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan Kyai Haji Mas Masyur.

    Dwi Tunggal ini tetap solid sampai dengan Proklamasi. Baik Hatta maupun Sukarno yang didesak oleh pemuda supaya segera memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia tanpa perlu menunggu sidang PPKI, secara kompak menolak. Alasan utama penolakan adalah kekhawatiran terjadinya pembantaian penduduk oleh Jepang yang sudah terikat pada perjanjian status quo dengan Sekutu. Namun saat Laksamana Maeda mengijinkan PPKI bersidang di rumahnya pada tanggal 16 Agustus 1945. Malam itu mereka merumuskan teks Proklamasi. Hatta adalah konseptor naskah Proklamasi tetapi Sukarnolah yang menulisnya di kertas sebelum diketik oleh Sayuti Melik. Keesokan harinya, pada jam 10.00 Teks Proklamasi dibacakan di halaman rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta. Sukarno dan Hatta menjadi Wakil Bangsa Indonesia untuk menyatakan Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Sukarno Hatta bahu membahu mempertahankan Republik muda dari hantaman Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia dan dari ketidak sabaran beberapa elemen bangsa. Berbagai pemberontakan melanda tanah air. Namun Dwi Tunggal ini tetap solid merawat Kemerdekaan yang sudah dikumandangkan.

    Hubungan Hatta dan Sukarno justru retak saat kondisi bangsa sudah mulai mapan. Sukarno yang dianggap mulai dipengaruhi oleh Komunis dan Hatta yang membenci Komunis mulai tidak sejalan. Akhirnya Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada tanggal 23 November 1956. Sejak itu Hatta menjadi orang biasa.

    Di bagian akhir buku ini dikisahkan bagaimana Hatta sebagai seorang yang tertib pada aturan dan pekerjaan serta senantiasa tepat waktu. Ia menolak saat adiknya meminta tolong supaya mendapatkan sambungan tilpon. Ia juga tidak meberitahukan kebijakan pemotongan nilai uang kepada keluarganya. Dalam hal tepat waktu, ia menyiapkan naskah pidato dan ternyata belum siap menjelang naskah tersebut dibutuhkan.

    Buku ini tidak hanya memuat hal-hal serius yang berhubungan dengan ketaatan Hatta pada aturan dan kebiasaan tepat waktu. Buku ini juga mengisahkan Hatta yang selalu potong rambut pada tanggal yang sama dan duduk di kursi yang sama saat kecil. Saat Hatta dirawat dan dianjurkan oleh dokter untuk menekuk kaki kanannya, ia melakukan tanpa kompromi, sampai dokter lain heran dan memberitahu bahwa Hatta tidak perlu selalu menekuk kakinya. Kisah lain tentang betapa taatnya Hatta tentang tepat waktu adalah saat pesawat yang membawanya akan mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang 5 menit lebih cepat, ia meminta kepada pilotnya untuk membatalkan pendaratan dan melakukan terbang berputar supaya mendaratnya tepat waktu.

    Buku ini sungguh menarik karena memaparkan Hatta tidak saja dari karier politiknya, tetapi juga menguraikan Hatta sebagai orang biasa.

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.