Apa Benar Menulis Buku Itu Ibarat Ngomong? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Jumat, 3 Juli 2020 06:28 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Apa Benar Menulis Buku Itu Ibarat Ngomong?

    Dibaca : 722 kali

    Menulis Buku Itu Ibarat Ngomong, Mengalir tapi Padat

     

    Kata sebagian orang, menulis buku itu susah. Ada pula yang beranggapan, menulis buku itu tidak segampang pikiran. Lalu saya katakan kepada mereka. Menulis apapun, jelas susah bila tidak dilakukan.

    Banyak orang lupa, resep terbaik menulis adalah menulis, menulis, dan menulis. Karena menulis bukan untuk didiskusikan, apalagi hanya jadi bahan seminar. Nah masalahnya, bagaimana cara kita menulis?

    Berdasarkan pengalaman pribadi. Hingga saat ini, saya setiap hari pasti menulis. Minimal 6.000 karakter bisa dihasilkan dari jari-jemari di papan laptop. Atau setara satu artikel koran. Hasilnya pun alhamdulillah. Selain mendapat upah bila dipublikasikan. Hingga kini pun sudah 31 buku yang diterbitkan, baik karya sendiri arau bersama. Ada pula ratusan artikel koran yang sudah diterbitkan. Karena menulis sudah jadi kebiasaan sehari-hari.

    Ibarat ngomong atau berbicara, itulah cara sederhana menulis buku.

    Bila kita pandai ngomong maka harusnya pandai pula menulis. Bila mampu ngomong berjam-jam, maka harusnya mampu pula menulis berjam-jam. Bukan sebaliknya, banyak ngomong. Tapi saat menulis justru bilang tidak punya waktu.  Tidak mampu menulis karena alasan sibuk. Belum menulis, sudah mencari alasna untuk menghindar.

    Resep menulis apapun, termasuk menulis buku adalah seperti orang ngomong, seperti sedang berbicara. Agar kata-kata yang dihasilkan bersifat mengalir. Persis seperti ngomong, mengalir dan tidak ada kata yang susah untuk diomongkan. Ibarat ngomong, menulis buku  pun kata-katanya sederhana. Agar mudah dimengerti. Kalimat-kalimatnya pendek saja. Tidak usah panjang-panjang bila akhirnya menyulitkan. Sedikit tapi padat, seperti orang sedang ngomong.

    Menulis buku ibarat ngomong. Itu pun sinyal. Bahwa kita diajak untuk menyedikitikan ngomong atau bicara. Lalu diubah menjadi lebih banyak menulis. Agar kebiasaan pun berubah. Kita jadi orang yang selalu ngomong atas apa yang dituliskan. Bukan sebaliknya, banyak ngomong tanpa pernah menuliskan nya.

    Seperti orang ngomong. Menulis itu butuh proses dan tidak mungkin langsung sempurna. Menulislah seperti ngomong, seperti berbicara. Asal ide dan gagasan mampu diekspresikan. Toh, bila ada yang salah bisa diperbaiki. Tulisan yang kurang pas, nanti bisa disunting. Asal jangan menulis sambil menyunting. Tuntaskan saja dulu tulisannya. Setelah itu baru disunting. Agar tulisannya menjadi lebih baik, lebih enak dibaca Menulislah seperti kita ngomong.

    Dan penting diketahui, Menulis itu bukan wacana, bukan pula sebatas niat. Apalagi hanya jadi bahan diskusi atau seminar. Saya selalu menyebut, menulis itu bukan teori tapi praktik. Tulisan hanya terjadi bila ada perilaku menulis.

    Maka bila kita mampu rutin, banyak, dan terbiasa untuk urusan lain yang tidak produktif. Lalu, kenapa kita tidak bisa rutin, banyak, dan terbiasa dalam urusan menulis? Maka, Jadikanlah menulis sebagai sebab mahalnya suasana batin. Sederhana tapi tetap berkualitas di setiap waktu. Karena menulis ibarat ngomong ... #MenulisIbaratNgomong

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.