Kisah Perjalanan (5) 28 Juli, Menara Eiffel, Museum Louvre, Notre-Dame, Sungai Seine, dan Galeries Lafayette - Travel - www.indonesiana.id
x

Menara Eiffel

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Juli 2020 17:44 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Perjalanan (5) 28 Juli, Menara Eiffel, Museum Louvre, Notre-Dame, Sungai Seine, dan Galeries Lafayette

    Dibaca : 470 kali

    Supartono JW

    Hari ini, kenanganan perjalanan sembilan tahun yang lalu, Kamis, 28 Juli 2011, rasanya paling sulit terlupakan, meski seluruh perjalanan ke Benua Biru tak ada yang dapat dilupakan. Apalagi bila saya buka catatan perjalanan dan foto-foto kunjungan itu. Di sana tertulis, “Hari ini. Paris. Pagi-siang, susuri jalan kota, potret kota dari Menara Eiffel, sisir aliran sungai Seine, dan ditutup makan siang di resto Chinois Thailandais. Siang-sore, kunjungi Musium Louvre, bercengkrama dengan lukisan Monalisa, memandangi Notre Dame Cathedral, cuci mata dan cuci gudang di Galeries Lafayette, dan santap malam di Chines Resto. Malam, Istirahat di Residhome. Alhamdulillah, semua dalam rombongan tetap bugar.” (Supartono JW. Paris28072011).

     

    Saat itu, setelah sehari kemarin mengitari La Vallee dan Disneyland, sesuai agenda, hari ini akan berkunjung ke tempat yang selama ini diimpakan oleh setiap turis manca negara bila singgah ke kota Paris. Sebelum sarapan pagi di Hotel Mercure, kami semua juga sudah langsung membawa kopor dan semua barang bawaan, sebab, malam nanti, kami akan geser menginap di hotel lain. Saya cek agenda hari ini:

    THURSDAY 28/JUL/11
    PARIS-MARNE LA VALEE       HOT BUFFET/FULL BREAKFAST AT HOTEL
    09:15 FULL DAY SIGHTSEEING TOUR

    ENTRANCE TO EIFFEL TOWER LEVEL 2
    ENTRANCE TO LOUVRE MUSEUM.

    ENTRANCE TO NOTRE DAME CATHEDRAL.

    12:00 LUNCH AT: PRINTEMPS DE JADE
    MENU: PEKIN SOUP/FRIED CHICKEN / FRIED FISH/SAUTED
    BEEF WITH VEGETABLES / TOFU WITH 8 TREASURES (NO
    PORK)/SAUTED VEGETABLES/RICE / FRUITS / TEA
    15:00 ONE HOUR BATEAUX PARISIENS CRUISE ON THE RIVER SEINE.
    ENTRANCE TO NOTRE DAME CATHEDRAL.

    18:00 DINNER AT: PAYS PARADIS
    MENU: TOFU AND VEGETABLE SOUP/SLICED FISH WITH
    GINGER & SPRING ONION/GONG BAO CHICKEN / SPICY
    BEEF/SEASONAL VEGETABLE & SQUID/SAUTEED SEASONAL
    VEGETABLES/RICE / FRUIT / TEA
    HOTEL - RESIDHOME PARC DU MILLENAIRE

    Selepas sarapan pagi, kami semua sudah meninggalkan Hotel Mercure. Tanpa terasa bus sudah membawa kami di sisi Sungai Siene, dan nampak dari kejauhan Menara Eiffel. Berbeda dengan hari lainnya, khusus hari ini, berada di Paris, kami ditemani oleh seorang pramuwisata/pemandu wisata/tour guide asli orang Paris, Prancis. Sebut saja namanya Mrs. A.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Menariknya, Mrs. A. Ini ternyata justru tidak membolehkan saya bicara dengan bahasa lain selain bahasa Indonesia, karena Mrs. A. Memang sedang dalam program melancarkan kemampuan komunikasi dengan bahasa Indonesia. Mrs. A. Sudah menikah dengan laki-laki bukan warga negara Prancis.

    Namun yang unik, kata Mrs. A. dia dan suaminya tidak merencanakan untuk memiliki keturunan/anak. Bahkan, rekan-rekan di tempat kerjanya, yang sama-sama menjadi pemandu wisata, juga tidak ada yang menikah untuk memiliki anak. Rencana tidak memiliki anak, malah sudah dibicarakan kepada pihak keluarga masing-masing, sebelum mereka menikah. Mengapa? Jawabnya, simpel. Punya anak di Paris, biaya mahal. Kisah ini, mungkin dalam kesempatan lain bisa saya ulas.

    Sumber: Supartono JW

    Sambil terus membereikan informasi sepanjang perjalanan, Mrs. A. menjelaskan soal Menara Eiffel yang sudah nampak dari jauh. Menara yang dirancang oleh Gustave Eiffel pada tahun 1889, memiliki 3 lantai (tower) dengan 1.710 anak tangga. Namun, saat nanti kami menuju tower 2 akan menggunakan lift.

    Sumber: Supartono JW

    Menariknya lagi, Mrs. A. juga mengingatkan bahwa saat nanti kita memasuki wialayah Menara Eiffel dan masuk ke dalamnya, terlebih saat berdesakan di dalam lift, kita harus hati-hati. Sebabnya, sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa di Menara Eiffel ini, banyak sekali pencopet. Bahkan, pencopet modern di situ ada yang bekerja secara individu, kelompok, bahkan menyerupai keluaraga, ayah-ibu-anak.

    Sumber: Supartono JW

    Begitu kami sudah berada di bawah menara, kami pun antri untuk masuk lift. Meski kami tidak singgah di lantai/tower 1, Mrs. A. menjelaskan bahwa di tower 1 ada kaca transparan. Sehingga bila kita berada di situ, akan ada sensasi mendebarkan dengan berdiri dan berjalan di lantai kaca menara Eiffel, dengan ketinggian 57.

    Di situ juga ada restoran Le Tour 58 Eiffel, sehingga bila singgah dan menyantap makanan di situ dapat  sembari menikmati pemandangan kota Paris dari atas bangunan yang didirikan pada tahun 1889 dengan tinggi 325 meter.

    Sumber: Supartono JW

    Eiffel memiliki sejarah perkembangan yang sangat panjang hingga kini menjadi ikon Paris dan ikon tempat romantis dunia. Menara Eiffel adalah buah karya dari Gustav Eiffel, dan sejarah menara ini pun sudah sangat mudah didapatkan oleh siapa pun wisatawan yang ingin menjejakkan kaki di sini.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Saat kami sudah tiba di tower 2, masing-masing dari kami pun ada yang langsung memanfaatkan untuk mengambil video atau foto, ada juga yang langsung membeli makanan dan minuman, serta souvenir di toko-toko di lantai 2 menara ini. Yang pasti, melihat dan menjejakkan kaki kita di menara ini secara langsung, yang ada dalam pikiran saya adalah, betapa cerdasnya Gustav Eiffel dengan buah karya yang tak ternilai harganya ini.

    Sumber: Supartono JW

    Puas menjelajah di tower 2 menara Eiffel, kami pun langsung turun kembali melalui lift, sebab makan siang sudah menunggu kami. Tak lama kami pun sampai di makan siang di resto Chinois Thailandais. Setelah sekian lama kami makan makanan Eropa, siang ini kami akan makan siang dengan menu yang akrab di lidah, yaitu makanan Asia.

    Sumber: Supartono JW

    Makan dan istirahat pun terlewati. Kami langsung bergeser menuju Museum Louvre. Tak lupa, saat melintas di pinggir sungai Siene, kami pun melintas di jembatan cinta, jembatan yang dijejali gembok cinta.

    Sumber: Supartono JW (Jembatan cinta, banyak gembok di pagar jembatan)

    Sumber: Supartono JW

    Museum Louvre (Musee du Louvre) terletak di Rive Droite Seine atau tepi Sungai Seine. Musee du Louvre berada di dalam area Istana Louvre (Palais du Louvre). Bila simbol Eiffel adalah menara, maka simbol Louvre adalah piramida kaca.

    Museum Louvre memiliki tiga pintu masuk. Pintu utama melalui pintu di piramida kaca yang berada di tengah plaza, lalu melalui pusat perbelanjaan bawah tanah Carrousel de Louvre, dan yang terakhir melalui Porte des Lions. Jika melalui pintu utama akan tersedia elevator yang terutama ditujukan bagi lansia, ibu dengan anak, maupun orang dengan cacat fisik. Elevator itu untuk turun menuju museum.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sebagai salah satu Museum terbesar di dunia, Museum ini memiliki 5 lantai dan memiliki 3 sayap, yaitu Denon, Richelieu, dan Sully. Di dalam Musee Du Louvre ada sekitar 35 ribu benda seni dari mulai zaman prasejarah hingga abad ke-19. Diletakkan di bangunan yang dulunya adalah benteng kota di abad ke-12.

    Dari benteng bangunan ini kemudian menjadi istana yang diperluas hingga seperti sekarang ini. Arealnya seluas 60.600 meter persegi. Karena begitu luasnya dan banyaknya koleksi, pengunjung harus menentukan bagian yang akan dikunjungi. Kalau pun mau melakukan the art of getting lost, Louvre adalah tempat yang tepat. Kemungkinan menemukan koleksi Mesir 2600 sebelum masehi, harta karun dari dinasti Islam, Yunani dan Romawi sangat besar.

    Sumber: Supartono JW

    Koleksi museum ini dibagi menjadi 8 bagian, yaitu bagian Mesir Kuno, benda purbakala dari Timur Dekat, Yunani, Etruskan, Romawi. Selain itu ada seni Islam, Patung, Seni Dekoratif, Seni Lukis dan juga Seni Gambar dan Cetakan. Setiap hari, turis dari banyak negara di dunia mengantri panjang untuk memasuki piramida kaca atau pintu lainnya untuk melihat koleksi-koleksi museum.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Beberapa koleksi utama adalah Venus de Milo, Nike of Samothrace, lukisan-lukisan Raphael, Michelangelo, dan tentu saja lukisan-lukiasan Leonardo da Vinci. Namun yang paling dicari oleh semua pengunjung adalah lukisan Monalisa yang terletak di lantai satu. Lukisan Monalisa ini dilindungi oleh kaca yang cukup tebal. Diberikan batas berupa pagar kayu agar lukisan ini terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab pengunjung sangat ramai di ruangan itu. Saat saya mencoba mengambil foto Monalisa, rasanya sulit sekali mendapat momen yang tepat karena banyaknya pengunjung.

    Sumber: Supartono JW

    Sejarah Museum ini, dibangun oleh Raja Phillip II di akhir abad ke-12. Pada mulanya bangunan ini dimaksudkan sebagai benteng. Sisa-sisa benteng dapat dilihat di ruang bawah tanah museum. Pada tahun 1682, Raja Phillip XIV memutuskan bahwa keluarga kerajaan akan tinggal di Istana Versailles sebagai kediaman pribadi. Setelah itu, Raja memerintahkan supaya Istana Louvre digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda koleksi kerajaan seperti patung.

    Sumber: Supartono JW

    Pada tahun 1692, di gedung ini ditempati oleh Académie des Inscriptions et Belles Lettres dan Académie Royale de Peinture et de Sculpture. Académie tetap di Louvre selama 100 tahun berikutnya. Selama Revolusi Perancis, Majelis Nasional Perancis menetapkan bahwa Louvre harus digunakan sebagai museum untuk menampilkan karya-karya bangsa.

    Setelah Revolusi Perancis, Majelis Nasional Perancis akhirnya memutuskan agar Louvre digunakan untuk menyimpan karya-karya milik negara Perancis. Bangunan ini diperluas beberapa kali hingga membentuk Istana Louvre yang sekarang ini. Museum ini dibuka pada tanggal 10 Agustus 1793 dengan memamerkan 537 lukisan.

    Sumber: Supartono JW

    Saat menyusuri setiap ruang di Louvre, Mrs. A. tak pernah jauh dari saya. Dia juga bercerita, bahwa sepanjang menjadi pemandu wisata, cerita yang paling berkesan adalah saat memandu turis-turis dari Indonesia atau melihat polah tingkah turis Indonesia saat berada di Paris, baik masyarakat biasa maupun seleberitis. Katanya, dia lebih banyak melihat turis dari Indonesia yang maaf, ‘norak’. Gayanya benar-benar menggelikan. Ringkasnya, Mrs. A. bilang, bagaimana sih tingkah polah Orang Kaya Baru (OKB), Itulah, sebagian besar dari turis Indonesia yang berkunjung ke Paris.

    Sumber: Supartono JW

    Meski berada di dalam Louvre lebih dari dua setengah jam, namun karena luas dan banyaknya koleksi yang kami jelajah, tanpa terasa, kami pun harus berpisah dengan Louvre dan segera menuju ke sungai Seine yang memang tidak jauh dari museum.

    Sumber: Supartono JW

    Mrs. A, pun menjelaskan lebih detil menyoal sungai Seine yang merupakan satu di antara sungai utama di Prancis bagian barat laut. Sungai ini merupakan salah satu jalur lalu lintas air komersial dan juga menjadi sebuah tujuan wisata, khususnya di dalam kota Paris. Nama Seine sendiri berasal dari kata Sequanus dalam bahasa Latin.

    Membelah kota Paris menjadi dua bagian yang dalam bahasa Prancis disebut dengan istilah la rive droite (“tepi kanan”) dan la rive gauche (“tepi kiri”). Yang dimaksud dengan tepi kanan adalah Paris Utara dan tepi kiri adalah Paris Selatan. Meski pada abad ke-19 akhir sampai awal abad ke-20 telah menjadi beban bagi pemerintah Kota Paris karena banjir, penyakit dan saluran limbah yang buruk. Namun sekarang sungai ini telah menjadi penyangga kehidupan warga Kota Paris. Sungai ini juga mendapatkan anugrah dari UNESCO sebagai salah satu cagar budaya dunia.

    Sumber: Supartono JW

    Bercengkerama di tepi sungai Seine, kami pun berjalan kaki dan mendekat ke
    Notre-Dame de Paris, katedral Prancis yang memiliki sejarah terpanjang dan terkaya.
    Notre-Dame de Paris pernah menjadi situs pernikahan kerajaan, konsekrasi Napoleon Bonaparte sebagai kaisar dan beatifikasi Joan of Arc. Katedral ini memiliki panjang sekitar 128 meter (420 kaki) dan lebar 12 meter (39 kaki) di bagian tengah.

    Sumber: Supartono JW

    Sekitar dua jam kami mengakrabi pinggiran sungai Seine dan Notre-Dame. Ternyata, sebelum makan malam di Restauran Pays Paradis, kami berkesempatan mengakrabi Galeries Lafayete, sebelum besok semua rombongan dapat kembali bercengkerama bebas di mal ini.

    Sumber: Supartono JWKe Paris, tanpa singgah di Galeries Lafayette yang menjadi simbol fesyen di Paris, Prancis, makan tanpa garam. Berlokasi di Boulevard Haussman, mal ini dikenal sebagai tempat belanja legendaris untuk para wisatawan yang tidak mempermasalahkan harga. Berbagai koleksi busana pria dan wanita rancangan para desainer bisa ditemukan di sini. Sama halnya dengan aneka perhiasan dan aksesori keluaran terbaru, aneka sepatu pria dan wanita, juga tas-tas cantik untuk wanita merk terkenal. Tentu saja, semua barang ini harganya hanya cocok bagi wisatawan berduit.

    Setelah kami jelajahi, Galeries Lafayette terbagi atas 3 gedung dan ada aturan yang menarik bagi para wisatawan untuk belanja. Untuk total belanja di atas sekian Euro, warga negara Uni Eropa berhak mendapatkan uang pengembalian pajak sebesar 10-12%. Uang ini bisa diperoleh di mal maupun ditukar di bandara.

    Sumber: Supartono JW

    Sore ini di Galeries Lafayete kami hanya  adaptasi sekitar satu jam dan langsung menuju untuk santap malam di Restauran Pays Paradis, kembali dengan menu Eropa. Santap malam pun usai, bus mengantar kami menuju ke Hotel Residhome. Bersiap menginap di malam pertama di pusat kota Paris.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 506 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.