Hilirisasi Morowali Jadikan Indonesia Eksportir Bijih Nikel Menjadi Stainless Steel Terbesar Ketiga di Dunia - Analisa - www.indonesiana.id
x

proses penambangan nikel

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Sabtu, 1 Agustus 2020 06:35 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Hilirisasi Morowali Jadikan Indonesia Eksportir Bijih Nikel Menjadi Stainless Steel Terbesar Ketiga di Dunia

    Dibaca : 687 kali

    Berdasarkan U.S Geological Survey 2020 rupanya Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara yang memiliki cadangan bijih nikel terkaya di dunia dengan jumlah 21.000.000 ton atau setara 24% total cadangan bijih nikel di dunia. 

    Potensi hilirisasi atau pemurnian barang mentah adalah jalan keluar. Hilirisasi wajib dilakukan dan tidak bisa bisa dikompromikan lagi, karena dapat memberikan manfaat jangka panjang baik untuk negara maupun warga. 

    Selain untuk menambah devisa negara, hilirisasi memberikan multiplier effect (efek berganda) menurut Prof. Zaki Mubarok, Guru Besar Teknik Metalurgi ITB, "Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian yakni hilirisasi diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya bagi masyarakat di daerah, pendapatan negara dalam bentuk pajak, dan memberikan multiplier effect (efek berganda) pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan industri tersebut," kata dia dikutip dari Liputan6.com.

    Banyaknya sumber daya nikel ini menjadikan pemerintah fokus untuk melakukan hilirisasi melalui beberapa cara, yakni:

    1. Hilirisasi Nikel dalam Ferronickel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI) yang melalui teknologi peleburan dengan menggunakan saprolit akan menghasilkan baja tahan karat (stainless steel).
    2. Hilirisasi Nikel dan Nickel Matte yang jika dileburkan dengan bijih nikel berkadar tinggi akan menghasilkan logam nikel murni, stainless steel, dan senyawa nikel sulfat sebagai bahan baku nickel-based ion lithium battery.
    3. Hilirisasi Nikel dalam senyawa nickel sulfat yang menggunakan teknologi hidrometalurgi menggunakan limonit akan menghasilkan logam nikel murni, senyawa nikel sulfat sebagai bahan baku nickel-based ion lithium battery, logam kobalt murni, dan senyawa kobalt sulfat yang juga difungsikan sebagai bahan baku manufaktur nickel-based ion lithium battery.

    Ekspor dan investasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam memperbaiki neraca berjalan dan neraca perdagangan. Untuk investasi, penanaman modal akan berujung pada hilirisasi.

    Hilirisasi dipercaya dapat mendatangkan keuntungan berlipat bagi Indonesia. Salah satunya dengan terbukanya peluang untuk penanaman investasi. Investor global diyakini akan menanamkan modalnya di Indonesia. Seperti pada 3 kawasan yang kini menjadi fokus pembangunan untuk hilirisasi yakni di Morowali (Sulawesi Tengah), Konawe (Sulawesi Tenggara), dan Weda Bay (Halmahera Tengah).

    Salah satu kawasan industri yang berencana melakukan pemanfaatan terhadap nikel adalah PT IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park). Pada tahun 2019, dikutip dari Kontan.co.id, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa kawasan industri di Morowali, Sulawesi Tengah, memiliki peran strategis dari hilirisasi Indonesia khususnya industri logam nikel dan stainless steel.

    PLTU MOROWALI

    Dikutip dari talkshow “Economic Challenges” di Metro TV (27/07/2020), hasil hilirisasi dari kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, berhasil menjadikan Indonesia sebagai negara eksportir bijih besi dan baja terbesar ketiga di dunia dari posisi ke-10 pada 2018. Kenaikan yang signifikan ketimbang Indonesia masih lakukan ekspor mentah atau bijih. 

    Pernyataan ini diperkuat oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan. LBP mengatakan bahwa, “ekspor besi dan baja ini, pada tahun 2018 masih di posisi 10 besar. Sekarang, tahun ini, sudah di posisi tiga”.

    Kabar baiknya, pada kuartal I tahun 2020 kondisi ekspor bijih besi dan baja di Indonesia mencapai level di atas ekspor kendaraan. Dari data pemerintah per 25 Juli 2020, tercatat nilai ekspor bijih besi dan baja melonjak 35,04%, dan mencapai US$4,5 Miliar. 

    Lonjakan di industri logam ini sebagian besar ditopang oleh produksi stainless steel dan carbon steel hasil pengolahan serta pemurnian di kawasan Morowali, Sulawesi Tengah. Produk yang dihasilkan dari proses hilirisasi di Morowali antara lain nickel pig iron, stainless steel sebesar 3,5 juta ton/tahun, lalu carbon steel atau baja nirkarat sebanyak 3,5 juta ton/tahun, hot rolled coil dan cold rolled coil dengan besaran 700 ribu ton/tahun.

    Selama tahun 2019, nilai penjualan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel di Morowali mencapai US$9,6 miliar. Hal ini ditandai dengan nilai ekspor sebesar US$4,4 miliar. Nilai tersebut meningkat 12 kali lipat, daripada ekspor mentah sebesar US$350 juta. Semua pencapaian tersebut adalah bukti. Hilirisasi berdampak positif bagi Indonesia.

    Smelter

    Tahun 2024 adalah target Indonesia untuk mencapai posisi kedua sebagai produsen baterai lithium terbesar dunia setelah Tiongkok. Dan, 2026 adalah momentum Indonesia menjadi pemain kunci dan produsen baterai lithium terbesar di dunia. 

    Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pernah menyatakan bahwa hilirisasi industri wajib  didukung. Hal ini berguna untuk meningkatkan kinerja ekspor, dan mendukung investasi yang positif. 

    Pernyataan ini rupanya sejalan dengan inisiasi yang digagas oleh IMIP (PT Indonesia Morowali Industrial Park) yang melakukan hilirisasi beberapa produksi besi, baja, serta nikel di Morowali. Dan, hilirisasi nikel menjadi fokus yang utama.

    Bagi IMIP, inisiasi ini dinilai penting karena dapat memberikan nilai tambah produksi. Dengan fokusnya pemerintahan terhadap ekspor bijih nikel di masa mendatang, hal ini tentu menjadi kabar cerah bagi PT IMIP bersama seluruh tenant di dalamnya, untuk terus menghasilkan produk terbaik guna mendukung hilirisasi Indonesia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.