Kisah Perjalanan (8) 31 Juli, Titlis-Zurich, Swiss dan Istanbul Turki - Travel - www.indonesiana.id
x

titlis swiss

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 1 Agustus 2020 15:55 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Perjalanan (8) 31 Juli, Titlis-Zurich, Swiss dan Istanbul Turki

    Dibaca : 380 kali

    Hari ini, Minggu, 31 Juli 2011 adalah hari terakhir saya dan rombongan berada di Eropa. Pagi hari di Hotel Landhaus Engelberg ini, memang sangat sejuk. Rasanya kalau boleh, saya maunya masih berlama-lama di dalam kamar sambil menikmati teh dan melahap pemandangan hijau pegunungan dari balik kaca jendela. Tapi rupanya sarapan pagi pun sudah siap menunggu kami.

    Bukan hanya sarapan pagi, kami semua juga langsung mengemas barang-barang dan memaskukkannya ke rumah kami, bus yang setia mengantar kami keliling Eropa. Sebab, perjalanan dengan bus yang setia menemani kami akan berakhir hari ini, di Zurich Airport, Swiss. Sambil menikmati sarapan pagi, saya buka catatan perjalanan hari ini, yang akan diakhiri dengan kembali ke Istanbul Airport, Turki dan kembali ke Indonesia.

    Sumber: Supartono JW

    Sambil menikmati sarapan pagi, saya buka catatan perjalanan hari ini, yang akan diakhiri dengan kembali ke Istanbul Airport, Turki dan kembali ke Indonesia.

    SUNDAY 31/JUL/11
    BRUNNEN   HOT BUFFET/FULL BREAKFAST AT HOTEL
    08:30 HALF DAY EXCURSION TITLIS

    ENGELBERG

    09:00 CABLE CAR ENGELBERG - TITLIS, AND RETURN. *
    TITLIS

    11:30 LUNCH AT: PANORAMA RESTAURANT
    MENU: ** CHICKEN MENU IN "ENGELBERGER STUBE"**/*
    CHICKEN BROTH WITH VEGETABLES/*MARINATED CHICKEN
    WINGS WITH SIAM RICE AND MIXED VEGETABLES/*COCONUT
    TAPIOKA WITH SWEET CORN/ WATER AND TEA
    ENGELBERG

    13:00 ENGL_-_LUCE______36_KMS___00:30_HRS
    LUCERNE

    13:30 HALF DAY TOUR
    ZURICH

    18:00 DEPART ZURICH AIRPORT, ARRIVE 22.00
    ISTANBUL  

    23:25 DEPART ISTANBUL TO JAKARTA

    Sumber: Supartono JW

    Usai sarapan pagi, bus pun meninggalkan halaman parkir Hotel Landhaus Engelberg. Setelah menempuh perjalanan yang kanan-kirinya penuh dengan pemandangan indah, danau, bukit, dan segala macam keindahannya, kurang lebih tiga puluh menit, bus pun sudah sampai di tempat parkir Titlis Rotair. Nampak pegunungan di atas kami yang penuh dengan salju. Belum terbayang, saat nanti saya akan ada di atas sana.

    Sumber: Supartono JW

    Yang saya pahami, sekarang saya sudah ada di bawah Titlis. Sebuah gunung di gugusan Pegunungan Alpen di Swiss dengan ketinggian 3.020 meter di atas permukaan laut. Bila ke Swiss tanpa ke Titlis, maka akan sia-sia, sebab Titlis adalah mutiara di mahkota Swiss, dan satu-satunya ”glacier” yang dapat diakses masyarakat umum.

    Sumber: Supartono JW

    Setelah semua rombongan turun dari bus. Dan, kami diberikan waktu untuk sekadar mengambil foto dan video untuk dokumentasi, kami pun langsung mengarah ke stasiun Cable Car Engelberg. Untuk sampai ke puncak gunung Titlis, maka semua wisatawan harus menggunakan cable car, yaitu kereta gantung yang terhubung dari bawah hingga puncak Titlis. Setiap cable car terbatas maksimal hany dapat dinaiki oleh empat orang.  

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Belum sampai ke puncak Titlis, sepanjang perjalanan naik cable car, pemandangan indah pun terhampar di depan mata. Dan, inilah canggih dan cerdasnya orang-orang Eropa. Puncak gunung salju yang rasanya mustahil didaki oleh khalayak umum pun, dapat dijamah oleh wisatawan hanya dengan teknologi cable car. Sesampai di stasiun cable car di atas, kami pun masuk ke Gedung Titlis. Di dalam gedung ternyata ada toko-toko penjual souvenir dan restaurant.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Tujuan kami, setelah sampai di Titlis, adalah langsung ke luar dan bermain dengan salju. Seluruh sudut area yang boleh diinjak pengunjung pun saya jelajahi dan tak lupa, saya ikutan main “prosotan” di salju. Cukup lama kami berada di atas ketinggian Titlis, hingga waktu makan siang pun tiba. Luar biasanya, makan siang kami juga di Panorama Restaurant di dalam Gedung Titlis. Sambil menatap pemandangan indah pegunungan yang penuh salju, kami melahap makan siang yang semuanya hangat.

    Sumber: Supartono JW

    Tanpa terasa, kami pun sudah harus meninggalkan Titlis, kembali naik cable car untuk turun ke bawah. Saat turun ke bawah, kami juga melihat cable car yang ke arah atas masih banyak diisi oleh wisatawan asing lainnya.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Mengunjungi Swiss, ternyata tidak cukup dengan satu atau dua hari, bila ingin menjamah semua destinasi di sini. Namun, kemarin kami sudah setengah hari di kota tua Lucerne, bermain di pinggir danau. Kini, sudah setengah hari di Titlis. Dan, selanjutnya kami akan menjelajah kota Zurich sebelum akhirnya kami harus ke Zurich Airport pukul 18.00 waktu setempat.

    Sumber: Supartono JW

    Sekarang kami pun sudah dalam perjalanan antara Engelberg-Zurich, sekitar 36 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Di Zurich, saya dan rombongan memiliki waktu sekitar empat setengah jam.

    Sumber: Supartono JW

    Begitu sampai di Zurich, kami hanya berjalan kaki seperti apa yang kami lakukan di Lucerne.

    Kota Zurich berada di tepi danau Zurich, jadi di sini pun kami berecengkerama di pinggir danau lagi. Zurich termasuk kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia. Dibandingkan dengan Berlin, Paris, Hamburg, Amsterdam dan Bruessel, Zurich adalah kota terbesar di Swiss, berpenduduk sekitar tigaratus ribu jiwa ini tak terlalu besar, namun dia memiliki keunikan ala mediteran.

    Satu di antara bukti tertua adalah berdirinya pada tahun 929 masehi. Tahun 1351, Zurich bergabung dengan Konfederasi Swiss. Saat mengunjungi kawasan kota tua, pengunjung bisa melihat suasana khas abad pertengahan dan juga jaman renaissance yang sangat kental. Bukan hanya bangunan saja, namun jalanan dan juga rambu-rambu sendiri masih menggunakan rambu-rambu khas abad pertengahan. Kami juga mengunjungi beberapa butik yang menjual aneka pakaian dan juga aksesoris dan bersantai menikmati pemandangan di kota tua ini di sekitar cafe-cafe di pinggir jalan.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Menjelang pukul 18.00, usai sudah kunjungan kami di Swiss. Kami pun sudah bergeser di Zurich Airport. Sekitar tiga jam, kami terbang menuju Istanmbul Airport. Di Istanbul sekitar pukul 22.00, kami hanya memiliki waktu satu jam sebelum kami harus sudah berada di dalam pesawat Turkish Airline yang akan memboyong kami tepat pukul 23.25 menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dengan tetap transit di Changi Airport Singapura.

    Sumber: Supartono JW

    Inilah akhir perjalanan misi budaya dan wisata saya di Benua Biru. Mengingat masih ada souvenir yang akan saya beli, saya pun mencoba mencari souvenir di dalam bandara Istanbul, meski harganya sudah berkali lipat di banding dengan harga di pasar tradisional Istanbul dan barangnya juga sama, namun karena sudah tak ada waktu lagi, maka saya tetap membelinya.

    Saat itu, saya jadi teringat pesan teman. “Ingat kalau pergi ke Eropa, belanja oleh-oleh itu di Volendam-Amsterdam belanda, terus coklat Brussel-Belgia, dan oleh-leh dari Paris dan Swiss”. Ternyata, oleh-oleh yang harganya murah dengan kualitas barang yang tak berbeda, adanya di Turki dan Bulgaria.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 506 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.