Pola Pikir Hitam-Putih Nggak Baik Untuk Nalar Kritis - Urban - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Fitria Wulan sari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Oktober 2020

Senin, 5 Oktober 2020 06:05 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Pola Pikir Hitam-Putih Nggak Baik Untuk Nalar Kritis

    Perbedabat di sosial media terkesan selalu hitam dan putih. Seolah-olah argumentasi terkait satu isu sangat eksklusif dan tertutup hanya untuk dua jenis pendapat. Padahal masih banyak cara untuk benar-benar memahami permasalahan secara holistik, bisa jadi kedua jenis argumentasi tidak ada yang salah. Semuanya benar tergantung konteks dibalik permasalahan tersebut

    Dibaca : 996 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berada di era dengan kemudahan teknologi informasi membuat mayoritas orang memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat. Saya pribadi termasuk orang yang jarang berpendapat di sosial media, namun saya banyak mengamati pendapat orang-orang mengenai isu-isu terkini. Salah satu hal yang menurut saya wajar terjadi dalam perdebatan sosial media adalah argumentasi yang biner, kalau nggak hitam ya putih.

    Sebagai orang yang melihat segala hal sebagai sebuah spektrum, saya sangat tidak nyaman dengan pola pikir macam ini. Seolah-olah argumentasi terkait satu isu sangat eksklusif dan tertutup hanya untuk dua jenis pendapat. Belum lagi pengambilan kesimpulan yang sering kali menyerhanakan argumentasi karena pola pikir hitam-putih ini. Saya beri contoh kecil, saya berpendapat “saya kurang suka menggunakan make up, saya lebih nyaman tidak menggunakan make up”. Orang-orang dengan pola pikir ini pasti akan menyerang saya dengan pendapat “berarti anda nggak suka perempuan yang menggunakan make up?” padahal jelas saya tidak mengatakan hal tersebut. Tapi karena mereka menganggap sesuatu selalu bertolak belakang, akhirnya pendapat tandingan yang digunakan untuk melawan pendapat tidak pernah berkembang ke masalah-masalah esensial.

    Belum lagi penarikan kesimpulan menggunakan pola pikir ini yang cenderung mengeneralisasi semua hal, memarik kesimpulan cepat bahwa saya adalah orang yang tidak merawat diri karena tidak menggunakan make up. Saya sebagai seorang individu dengan pengalaman hidup yang kompleks dikerdilkan hanya karena satu pendapat. Padahal bisa saja kita mencoba melihat konteks dari pendapat saya. Mungkin saya berpendapat seperti itu karena di masa lalu saya pernah dipermalukan karena menggunakan make up yang tidak cocok maka saya merasa lebih nyaman tidak menggunakannya sama sekali akibat pengalaman traumatis pernah dipermalukan.

    Salah satu kasus nyata yang akan saya ambil contohnya adalah bit komedi Pandji Pragiwaksono tentang pemerkosaan, pembaca masih bisa cek videonya di youtube. Argumentasi Pandji tentang pemerkosaan adalah anehnya cara pandang masyarakat yang menyalahkan korban karena menggunakan pakaian terbuka, padahal harusnya yang menjadi masalah adalah pelaku yang tidak bisa mengendalikan dirinya.

    Lalu argumentasi tandingan apa yang dilontarkan oleh netizen unik Indonesia? Komentar ini masih bisa dicek di videonya karena di pinned oleh Pandji, isinya dimulai dengan menyerang personal Pandji menanyakan apa agama Pandji yang seharusnya tidak relevan untuk menjatuhkan argumentasi Pandji. Secara garis besar komentar itu mempermasalahkan pendapat Pandji karena menganggap bahwa memang sudah seharusnya perempuan menjaga auratnya karena itu sudah menjadi perintah agama.

    Padahal keprihatinan Pandji dalam argumentasinya terletak pada bagaimana negara dan masyarakat tetap menyalahkan korban namun tidak menyalahkan pelaku karena tidak mampu mengendalikan dirinya. Lalu fokusnya melucui bagaimana Pandji sebagai laki-laki mampu mengendalikan dirinya meskipun dihadapkan oleh perempuan dengan pakaian terbuka.

    Dari awal argumentasi ini sudah problematis karena berusaha menyerang personal seseorang. Hal ini juga sering terjadi, daripada membuat argumentasi tandingan, menjatuhkan pribadi lawan dianggap jalan pintas untuk membuat argumentasinya tidak kredibel. Tapi kalimat selanjutnya terbentuk oleh pola hitam-putih, ini asumsi penulis yang mungkin bisa saja berbeda dari apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pengirim komentar.

    Namun, dari argumentasi yang menjelaskan bahwa perempuan sudah seharusnya berpakaian tertutup karena merupakan perintah agama, terbentuk karena pengirim komentar merasa bahwa Pandji mendukung perempuan untuk berpakaian terbuka. Padahal Pandji tidak pernah menyatakan hal tersebut, Pandji mempermasalahkan pandangan masyarakat yang menyalahkan korban karena baginya pakaian tidak selalu menjadi alasan perempuan diperkosa.  

    Itu hanya satu contoh dari saya, pembaca bisa menemukaan banyak argumentasi lainnya menggunakan pola pikir ini di lini media sosial. Cara perpikir ini menjadi berbahaya jika kita sudah terlanjur terbiasa dengannya, kita cenderung akan berpikir dan berpendapat dengan pola yang sama. Padahal sudah jelas bahwa hal ini merupakan kesesatan dalam berpikir, hal ini membatasi anda untuk berpikir lebih jauh tentang suatu permasalahan. Pola ini membuat anda berpikir secara eksklusif, kalau nggak hitam ya putih, kalau nggak pendukung pemerintah ya oposisi, kalau nggak jahat ya baik. Padahal jahat dan baik saja bukan hal yang benar-benar terpolarisasi dan bertolak belakang, hal itu sangat tergantung oleh konteks permasalahan.

    Jika kalian menggunakan sudut pandang kalian, tentu kalian akan merasa sebagai orang baik tapi itu tidak membuat kalian bisa memutuskan bahwa orang yang berlawanan kalian adalah orang jahat. Coba belajar untuk lebih terbuka terhadap makna atau pengalaman hidup apa dibalik pendapat yang dilontarkan oleh seseorang. Karena tidak satu orang pun bisa disederhanakan pribadinya yang kompleks dalam satu kesimpulan cepat.

    Tidak semua fans k-pop adalah fanatik. Tidak semua muslim religius adalah radikal. Tidak semua pengkritik pemerintah adalah oposisi. Jadi belajarlah untuk lebih terbuka terhadap semua jenis orang, bisa jadi kalian mendapatkan sudut pandang baru tentang kehidupan. Sekian dari saya. Mari belajar untuk terus berpikir kritis dan jangan lupa bahagia.

     

    Ikuti tulisan menarik Fitria Wulan sari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.