Efek Rumah Kaca, Band yang Menjadi Ikon Demokratisasi Indonesia - Seleb - www.indonesiana.id
x

Personil Band Efek Rumah Kaca

Dialektika Ruang Publik

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 Oktober 2020

Senin, 23 November 2020 06:55 WIB

  • Seleb
  • Berita Utama
  • Efek Rumah Kaca, Band yang Menjadi Ikon Demokratisasi Indonesia

    Bagi para musisi, bermusik tentu saja menjadi ruang ekspresi mengungkap isi hati, terutama perasaan cinta dan kasih sayang. Tetapi ada musisi yang segala lagu-lagunya berisi tentang aspirasi, argumentasi, kritik pada masyarakat maupun pemerintah. Salah satunya band Efek Rumah Kaca. Simak sepak terjang band ini yang selalu kritis pada ketidak adilan.

    Dibaca : 1.437 kali

    Efek Rumah Kaca (ERK) adalah musisi yang kritis melihat fenomena, diplomatis dalam menyampaikan aspirasi sejak era reformasi sampai saat ini. ERK tidak saja menulis lagu-lagu yang bertemakan sosial, lingkungan hidup, politik, gaya hidup, industri musik, homoseksual, gangguan psikologis, religiusitas, pruralisme, tetapi juga turun ke jalan untuk beraksi menyampaikan suara nurani rakyat.

    Banyak diantara kita yang sudah tahu band ini. Tetapi masih banyak pula yang belum tahu dan bertanya: Band apa sih? Apa aja sih lagu-lagunya? Lagu-lagu kritiknya yang keren-keren apa aja sih? Yuk kita bongkar.

    Asal Usul ERK sebagai Indie Band

    Pada tahun 2001,Cholil Mahmud bersama Adrian Yunan Faisal, Hendra dan Sita membuat sebuah band. Akbar Bagus Sudibyo baru ikut masuk setelah diperkenalkan oleh teman mereka. Dua tahun kemudian, Hendra dan Sita keluar dari band karena kesibukkan masing-masing.

    Setelah berganti nama mejadi Hush dan Superego, akhirnya mereka memutuskan memakai nama Efek Rumah Kaca. Cholil dan Akbar adalah teman sekolah di SMAN 47 Jakarta sedangkan Akbar adalah teman Cholil di STIE Perbanas, Jakarta. Akbar dan Cholil meskipun satu kampus, awalnya tidak mengenal satu sama lain, padahal sama-sama pemain band. Teman mereka yang satu kampus jualah yang mempertemukannya. Mereka-mereka adalah artis 90an di sekolah dan kampus mereka dengan lagu-lagu awal yang dibawakan bergendre alternative rock seperti Smashing Pumpkins, Pearl Jam, Radio Head, dan lain-lain.

    Pada Tahun 2017, Adrian, bassist ERK yang juga salah satu pendiri Efek Rumah Kaca, mengalami kebutaan total. Dia memutuskan mengundurkan diri dari ERK. Pada tahun yang sama, ia mengeluarkan album solo yang ber-genre pop folk, Sintas.

    Mereka mengatakan bahwa musik adalah hidup mereka. Semua yang terjadi dalam hidup mereka terlihat dalam musik mereka. Mereka juga digambarkan sebagai grup musik pop dengan pesan-pesan sosial dan politik dalam lirik mereka.

    Personel Cholil Mahmud – vokal utama, gitar, kibor, Poppie Airil – bass, vokal latar. Akbar Bagus Sudibyo – drum, vokal latar, Mantan personel Adrian Yunan Faisal – vokal, bass, gitar, kibord, narrator.

    Personel tur

    Agustinus Panji Mardika – flute, klarinet, trombone, trumpet

    Andi "Hans" Sabaruddin – bass, gitar

    Cempaka Surakusumah – vokal latar

    Dito Budi Trianto – gitar

    Irma Hidayana – vokal latar

    Monica Hapsari – vokal latar

    Muhammad Asranur – kibor, piano

    Nastasha Abigail – vokal latar

     

    Launching Critical Album

    Album perdana berjudul Efek Rumah Kaca rilis perdana pada tahun 2007 didalam studio 64, Studio Beesound, Studio Sinjitos, Studio Soundmate dan Vortex Perjuangan didistribusikan oleh Paviliun Records terjual lebih dari 5.000 kopi.

    Dari 12 lagu album perdana ERK, setidaknya ada 2 lagu yang berkonten soal kritik politik dan pemerintahan yaitu:

    1. Di Udara

    Di Udara adalah sebuah lagu fenomenal yang sampai detik ini belum terungkap siapa pelaku yang sebenarnya dari tindakan kritis politis pada pegiat HAM Indonesia Munir Said Thalib. Munir adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia. Ketika menjabat di Dewan Kontras, Munir berjuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus pada era Orde Baru Soeharto.

    Tim Mawar adalah tim yang dibentuk untuk menculik par aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pelaksanaan Pemilu tahun 1997 dan Sidang Umum MPR tahun 1998. Kopassus adalah Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat. Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang.

    Dalam penulisan lirik dan musik, Cholil membayangkan, bertrasedental bagaimana proses pembunuhan terjadi di dalam pesawat hingga lirikpun tercipta. Seperti Cholil menghidupkan kembali Munir dan Munirpun berkata:

    Aku sering diancam

    Juga teror mencekam

     Kerap ku disingkirkan

    Sampai dimana kapan

    Ku bisa tenggelam di lautan
    Aku bisa diracun di udara
    Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

    Aku sering diancam
    Juga teror mencekam
    Ku bisa dibuat menderita
    Aku bisa dibuat tak bernyawa
    Di kursi-listrikkan ataupun ditikam

    Akhirnya Munir berkata Tapi aku tak pernah mati, Tak akan berhenti”.                    

    Pada tanggal 7 september 2004, Munir diracun di dalam pesawat dan dinyatakan meninggal dunia. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa sebelum pesawat bertolak dari bandara Changi ke Amsterdam, Munir minum kopi dulu di café bandara. Di kafe itulah Munir diracun. Wallahualam.

    Poin saya Istana sangat terlibat dalam pembunuhan pada saat itu. Hingga setiap tanggal 7 September itu pun, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.

    2. Sebelah Mata

    Isi irik lagu kira-kira begini:

    Sebelah mataku yang mampu melihat
    Bercak adalah sebuah warna warna mempesona
    Membaur suara, dibawanya kegetiran
    Begitu asing terdengar

    Sebelah mataku yang mempelajari
    Gelombang kan mengisi seluruh ruang tubuhku
    Terbentuk dari sel akut
    Dan diabetes adalah sebuah proses yang alami

    Tapi sebelah mataku yang lain menyadari
    Gelap adalah teman setia
    Dari waktu waktu yang hilang

    Isi dari lirik mempunyai arti dan makna. Bisa di terjemahkan kepada orang biasa yang akan mengalami, atau menjadi buta seperti yang dikisahkan Cholil pada Adrian yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari band karena kondisi badan yang sakit dan lelah dan akhirnya mengalami kebutaan. Tapi kini Adrian sudah mulai bisa duduk dan berdiri dan matanya sudah mulai membaik. Kadang kalau sedang sehat, Adrian masih ikut manggung bersama ERK.

    Ada pula yang mengkaitkan cerita lagu ini dengan Novel Baswedan yang disiram air keras pada tahun 2017 ketika ingin pulang ke rumah setelah sholat shubuh. Lagu dan drama penyiraman pun menjadi tranding topik yang diangkat menjadi tema talkshow-talksow tv swasta seperti mata najwa dlsb.

    Sungguh ajaib lagu itu bisa dikaitkan dengan kejadian pada Novel Baswedan yang mengakibatkan sebelah mata kiri Novel menjadi buta permanen dan sebelah mata kanannya menjadi remang-remang dan katanya hanya berfungsi 50%. Tim pencari faktapun dibentuk oleh Tito Karnavian. Setelah Tito diganti Idham Aziz, pelaku dapat ditangkap. Akan tetapi Novel menganggap dan membantah bahwa pelaku yang ditangkap itu hanya suruhan, bukan pelaku utama sebenarnya. Akhirnya majelis hakim menghukum pelaku itu dengan hukuman 1 tahun penjara. Ini membuat banyak protes dikalangan masyarakat yang menganggap keputusan hakim tidak seimbang/adil terhadap kebutaan Novel.

    Setahun kemudian pada tahun 2008, ERK meluncurkan album ke-2 Kamar Gelap yang kembali mengupas banyak persoalan social dan pemerintah. Dari 12 lagu yang dirilis rekam, setidaknya ada sebuah lagu yang berbau satire terhadap pemerintah yaitu Mosi Tidak Percaya.

    Ini masalah kuasa, alibimu berharga
    Kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

    Kamu tak berubah, selalu mencari celah
    Lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

    Pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
    Jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

    Kamu ciderai janji, luka belum terobati
    Kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli

    Janjimu pelan pelan akan menelanmu

    Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
    Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

    Tutur lokusioner Cholil sangat tegas, penuh arti dan makna. Ada distrust antara rakyat dan penguasa. Tidak seperti politisi, lawyer, Entrepreneur, dst yang memainkan metafor tutur ilokusioner dan perlokusioner. Ada tutur ilokusi yang disembunyikan penguasa, adapula tutur perlokusi yang diobral pemerintah. ERK melihat ada keterbalikan antara janji dan realitas.

    Selang tujuh tahun kemudian tepatnya 2015, ERK comeback mengeluarkan album ke-3 nya yang bertajuk Sinestesia dengan tema-tema lagu yang sama yang dianggap belum rampung. Stuck in the moment ERK terjadi karena sang vokalis Cholil melanjutkan kuliah di New York AS. Sebenarnya Cholil tidak ada niat untuk kuliah lagi apalagi di AS, tapi karena Istrinya (Irma) mendapat beasiswa Master dan lanjut Doktoral di Columbia University New York mau tak mau Cholil juga harus ikut menemani. Cholil pun membawa anaknya ikut ke New York.

    Sesampainya di New York, Cholil iseng-iseng mendaftar di salah satu Universitas di New York dengan mengambil master sosiologi, eh ternyata keterima. Ia pun pulang ke Indonesia untuk mencari uang tambahan karena uang yang ada dianggap tidak cukup.

    Sesampai di Indonesia, sembari ngamen-ngamen, Cholil bersama ERK sempat melanjutkan proyek album ke-3 nya berjudul Sinestesia yang lama terhenti. Hanya beberapa bulan di Jakarta setelah album ke-3, rampung, Cholil kembali ke New York untuk mendaftar ulang di universitas tersebut dengan melengkapi segala persyaratan dan pembayaran kuliah.

    Merekapun berkumpul bersama. Satu bulan kuliah, Cholil merasa tidak cocok dengan jurusannya sosiologi. Iapun pindah jurusan dan memilih art and politic . Akhirnya ia meyelesaikan studinya pada art and politic dengan predikat suma cumlaude.

    Agak unik juga sebenarnya dalam album sinestesia melihat judul-judul yang terbagi menjadi sub-sub judul yaitu Merah (politik, lara di mana-mana, Ada Ada Saja), Biru, (pasar bisa diciptakan, cipta bisa dipasarkan), jingga (hilang, nyala tak terperi, cahaya, ayo berdansa (Instrumental), Hijau (Keracunan Omong Kosong, Cara Pengolahan Sampah), Putih (Tiada, Ada, dan kuning (Keberagamaan, Keberagaman, Leleng (Instrumental Suku Dayak Kenyah, Samarinda).

    Yang sedang jadi perbincangan dikalangan kaum milenial adalah lagu biru “pasar bisa diciptakan dan cipta bisa dipasarkan”. Poin statement dari lagu ini adalah genre alternative rock indie band bisa membuktikan cipta karya adalah suatu hal yang fundamental terhadap trend pasar. Indie band bergenre folks, pop, alterntif rock mampu memiliki pangsa pasar yang jelas di Indonesia. ERK masih bisa produktif bersaing dengan pemusik-pemusik tanah air yang lebih banyak melihat dan mengutamakan keuntungan.

    Ada juga judul yang menarik dari album ini yaitu Kuning “keberagamaan dan keberagaman”. Lagu ini mengungkapkan tentang makna intoleransi yang terjadi sampai saat ini. Intoleransi terjadi ketika isu SARA selalu menjadi hal yang sensitif bila dikaitkan dengan isu politik. SARA sebagai representasi dari norma-norma kehidupan berbangsa tidak bisa dipisah dengan isu politik yang sedang terjadi. Untuk memisahkannya maka harus ada norma-norma hukum yang jelas dan mengikat.

    Kini, ERK mengeluarkan album ke-4  yang bertajuk judul  “Jalan 63”. “Jalan Enam Tiga” terinspirasi dari kisah film serial jadul American television series sesame street yang ada di Road Sixty Three kota New York. Icon terkenal dari serial ini adalah mupet yang dibuat Jim Henson. Sesame Street menjadi acara national education television di Amerika Serikat. Cholil coba mengangkat sesame street kedalam lagu yang menjadi konten pendidikan.  

    Cholil sebagai vokalis ERK juga berkolaborasi dengan Band Indie Fajar merah yang tidak lain adalah anak dari Widji Thukul seorang aktivis yang hilang sampai saat ini sejak tahun 1998. Debut awal kolaborasi laris manisnya adalah Bunga dan Tembok yang sampai saat ini menjadi simbol pergerakan aksi mahasiswa. Satire lirik lagu merupakan adopsi dari puisi Widji Tukul seperti ini:

    Seumpama bunga
    Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh
    Seumpama bunga
    Kami adalah yang tak kau hendaki adanya

    Kau lebih suka membangun rumah
    Merampas tanah
    Kau lebih suka membangun jalan raya
    Membangun pagar besi

    Seumpama bunga
    Kami adalah yang tak kau hendaki tumbuh

    Seumpama bunga
    Kamilah yang rontok di bumi kami sendiri

    Kau lebih suka membangun rumah
    Merampas tanah

    Kau lebih suka membangun jalan raya
    Membangun pagar besi

    Jika kami bunga engkaulah tembok itu
    Telah kami sebar biji-biji di tubuhmu
    Suatu saat kami 'kan tumbuh bersama dengan keyakinan

    Kau harus hancur
    Kau harus hancur
    Kau harus hancur
    Kau harus hancur

    Kau harus hancur
    Kau harus hancur
    Kau harus hancur

    Akhir cerita, tanpa demo tidak akan ada demokrasi. Demokrasi adalah sebuah perjuangan besar dari rakyatnya untuk merubah hidup yang sulit menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik. Demokrasi adalah sebuah kata yang mempunyai arti dan makna yang besar dalam perjalanan hidup untuk membesarkan nama bangsa dan negara. Demokrasi tidak akan pernah berhenti selagi masih ada protes terhadap kekuasaan. Jika protes tidak didengar dan kebablasan maka akan menimbulkan anarkis.

    Jika demokrasi dibungkam, suara-suara itu tidak bisa dipenjarakan. Di sana bersemayam kemerdekaan. Apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu: Pemberontakan .

    Jika rakyat pergi ketika penguasa pidato, kita harus hati-hati, barang kali mereka putus asa. Kalau rakyat sembunyi dan berbisik bisik, ketika membicarakan masalahnya sendiri, penguasa harus waspada dan belajar mendengar. Kalau rakyat berani mengeluh itu artinya sudah gawat. Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam. Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: LAWAN! (Widji Thukul Aktivis Hilang 1998).

    Jika hati memberontak dan kata LAWAN! berkobar didalam sanubari jiwa dan raga rakyat dan mahasiswa untuk melakukan aksi sampai bertindakan anarkis maka ada yang salah dengan penguasa dalam menyeleggarakan pemerintahan, tidak mampu memberi kesejahteraan dan mewujudkan keadilan, tidak mampu membendung aksi. Disinilah peran pemerintah untuk menjaga demo agar tidak bentrok, rusuh. Concern kepedulian dan aksi masih tetap dilakukan dijalanan dan di musik sampai saat ini oleh sebuah band unik, fenomenal, penuh inspirasi yang bernama Efek Rumah Kaca. Luar Biasa!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.