Sepucuk Kisah dari Orang yang Tersesat Dijalan yang Benar - Analisa - www.indonesiana.id
x

محمد خير الحبيب

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2020

Senin, 30 November 2020 17:08 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sepucuk Kisah dari Orang yang Tersesat Dijalan yang Benar

    kisah seoarang yang ingin berubah

    Dibaca : 171 kali

    Sepucuk kisah dari orang yang tersesat dijalan yang benar

    Hidayah dari Allah Subhanahuwata’ala adalah hal yang yang dicari oleh setiap orang. Dan hal tersebut bahkan bagi kebanyak orang adalah hal yang banyak hilang dalam jati diri muslim pada zaman yang penuh banyak fitnah ini.

    Namun jangan sampai dirimu menjadi orang yang berkata, “Saya sekarang ini karena kehendak saya” atau “saya menjadi seperti ini karena terpaksa oleh keadaan ” dan masih banyak opini yang membuat diri semakin yakin bahwa hidayah Allah tidak akan datang menghampiri.

    Ketika seseorang berdoa, “Ya Allah saya ini hambamu yang penuh dosa… maka tunjunkanlah jalanmu karena didepan hambamu ini ada dua pilihan. Menjadi pribadi yang hanya memikirkan dunia dan akan sibuk dengan kenikmatan yang fana atau diri ini bisa mendapatkan pilihan terbaik yang telah didapat oleh para shalihin dengan menjabat sebagai salah seorang yang mengemban agamamu  islam ini”. Maka hal yang tak terduga pun terjadi.

    Allah Subhanahuwata’ala menjawab dengan kisah yang sangat indah. Allah membuat orang tersebut menjadi sosok yang sangat tidak terduga. Kisahnya berlanjut kepada hal yang akan membuat orang banyak menunggu kedatangan orang ini.

    Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan alam semesta yang berkuasa atas segala sesuatu. Cerita orang itu diberikan bumbu-bumbu perubahan di awal. Perubahan yang mungkin bertentangan dengan yang selalu dia lakukan. Dimulai dengan pertanyaan pada saat datang bulan puasa saat orang-orang banyak melakukan pendekatan diri kepada Allah terbesit satu pertanyaan “kenapa saya bisa shalat lima waktu pada saat ramadhan dan tidak bisa shalat semua pada bulan yang lain?”.

    Masya Allah.. kadang rencana Allah tak terduga dengan memberikan hidayah tanpa perantara yang tidak terduga. Shalat pun adalah langkah pertama yang dia jalani ketika sudah menjadi hamba Allah yang taat. Keadaannya pun membuat dia berfikir “bisa kah saya bisa lebih dari itu?”. Puasa senin dan kamis yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam menghiasi kesehariannya untuk selalu membuatnya lebih dekat dengan Allah.

    Namun rasa yang terduga datang. Pilihan untuk menentukan masa depan datang menghampiri yang bisa merubah takdir tersebut. Apakah masih bisa untuk selalu melanjutkan tujuan dari hidayah yang datang tersebut atau menutup cahaya hidayah perlahan-lahan dengan pilihan yang kurang tepat.

    Allah Subhanahuwata’alaa memilih untuk selalu hambanya mendekatkan diri kepada-Nya. Orang ini melanjutkan ke gerbang dimana dia memulai semuanya dari awal walupun ada keterlembatan yang dia rasa ketika membandingkan dirinya dengan orang –orang yang sudah menyelam didasar lautan ilmu.

    Tempat yang banyak orang berubah yaitu pesantren dia lalui dengan langkah yang tidak mudah. Satu pertanyaan yang sangat membuatnya bingung dalam pelajaran kaidah Bahasa Arab “apa I’rabnya??”. Jawaban untuk pertanyaan ini tidak bisa dia jawab. Jangankan menjawab pertanyaan itu bahkan membaca ayat Ilahi pun belum bisa dia lantunkan dengan lancar. Konflik batin dan kenyataan menjadikan dia berpikir, “kapan saya bisa menjadi orang yang bisa memahami ayat Allah?”.

    Dengan niat untuk mendapatkan cara untuk memahami ayat Allah subhanahuwata’alaa. Dia mencoba dan terus mencoba. Memerhatikan, mengulangi, jatuh dalam kesalahan, diulangi lagi, sampai akhirnya ada satu titik terang dimana dia membalas pertanyaan gurunya..”jawabannya ini”dengan jawaban yang benar.

    Masya Allah yang selalu memberikan kisah yang indah. Semua kesulitan yang dia alami lambat laun telah menjadi sebuah kecintaan untuk lebih dekat kepada Allah subhanahuwata’alaa. Masalah yang menghalangi jalannya datang tiada henti. Kadang dalam permasalahan lingkungan, sosial dan pembelajaran. Dan tibalah saat yang sangat membuat hatinya sedih. Ketika lisan ini belum bisa melantunkan ayat yang bisa membuat hati menjadi tenang. Belum bisa menghayati ayat-ayat Allah. Namun apa yang harus dia lakukan??

    Mengambil mushaf itu bisa. Namun pikirannya disibukan dengan bagaimana cara membacanya. Sangat disayangkan waktu yang telah lalu dia habiskan dengan masa bermain tanpa tau bahwa belajar melantunkan ayat Allah kan menjadi sebuah PR yang sangat besar ketika dia sudah beranjak dewasa.

    Namun sekali lagi ada satu titik terang yang bersinar menerangi jalannya. Dulu dia pernah belajar sedikit dan berniat untuk bisa membaca nya lagi. Al-fatihah sebagai awal langkahnya yang penuh ragu “apakah saya bisa atau tidak”. Al-baqarah dia baca dengan terbata –bata bahkan anak kecilpun lebih bagus bacaannya dari pada orang itu.

    Namun semangat yang dia tunjukan dengan selalu menyisihkan waktunya disetiap waktu magrib menyendiri dimasjid membaca satu dua halaman untuk melancarkan bacaan bisa dibilang salah satu cara   yang terindah selalu dia kenang. Surat Al-baqarah selesai. Surat selanjutnya dan selanjutnya terus dia coba walaupun lisan masih belum terbiasa.

    Masya Allah banyak sekali hal yang dia pikir tidak mungkin terus berdatangan menjadi sebuah jalan yang terang benderang. Pada akhirnya, bacaannya telah sampai kepada surat An-nas yang menjadi cita citanya selama ini. Masya Allah belum terpikir olehnya sekarang dia bisa membaca Al-Qur’an walau tidak sesempurna para ahli tajwid, rasa syukur selalu dia lantunkan “Alhamdulillah saya sudah bisa walaupun belum bagus”.

    Tantangan masih datang. Hafalan Al-Qur’an harus dia kejar. Mengejar teman-teman yang sudah dari dulu menghafal saat dia masih mencoba untuk membaca. Perbandiangan antara dia dan teman-temannya bagaikan semut dan serigala yang berlari cepat.  Sangat jauh tertinggal dari pada orang orang namun semangat dan hidayah Allah tidak pernah berhenti. Dan pada akhirnya dengan samangat yang menggebu, semangat yang dipicu dengan keinginan untuk mengalahkan teman temannya dalam fastabiqul khairat. Dia bisa sampai dimana teman-temannya telah sampai disana.

    Allah Subhanahuwata’alaa berkendak lain. Bukan hanya menhafal yang dia karuniai untuk orang ini. Namun ditambah dengan tanggung jawab yang tidak bisa digapai oleh semua orang. Allah membukakan jalan untuknya dalam belajar, membaca Al-qur’an dan menghafalnya, dan lebih dari itu dia bisa menjadi panutan walaupun dia selalu melihat dirinya adalah seorang yang penuh dosa yang tidak pantas jadi panutan namun tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali dirinya sendiri dan Allah Ta’alaa.

    kisah belum berakhir. Setiap kali Allah masih memberikan dia nafas untuk menjalani hidup maka kisah orang tersebut berlanjut. dan intinya kadang kita berpikir jikalau diri ini selalu dipenuhi oleh sisi negatif, putus asa dan pesimis. Apakah kita tahu masa depan kita dengan hanya menduga masa depan tergantung dengan apa yang kita lakukan sekarang.

    Semua bisa berubah. Kehidupan, kekayaan, cara hidup namun dengan syarat adanya hidayah dari Allah Subhanahu Wata’alaa. Maka katakanlah  “Ya Allah hambamu sekarang masih dalam masa yang susah. Masih belum bisa jadi yang terbaik, namun karuniakanlah untuk kami kehidupan yang tentram yang dipenuhi dengan rahmatmu dan jalan yang engkau ridhai, kami ingin mendekatkan diri kepada-Mu kami ingin menjauhi segala laranganmu makan berikanlah kami kekuatan untuk memenuhi panggilanmu dan menjauhi laranganmu”. Kapan kita berpikir kalau kita bisa berubah maka Allah akan mengubah kisah kita menjadi kiash yang lebih manis dari pada madu.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.