Wayang dan Penyebaran Islam di Nusantara

Senin, 28 Desember 2020 06:33 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Wayang diyakini sebagai bayang-bayang kehidupan nenek moyang. Wayang dipertunjukkan untuk mengenang jasa-jasa nenek moyang dan memujanya. Ada berpendapat, kata Wayang berasal dari Wad An Hyang, artinya leluhur. Ada pula yang berpendapat, wayang berasal dari India dan rekaman pertama pertunjukan wayang telah ada sejak 930 M. Mahabrata di Jawa dimulai dengan cerita Adam dan Hawa, seperti tertera dalam buku Gubahan Yosodipuro I dan Yosodipuro I.

Indonesia adalah sebuah bangsa yang memiliki budaya dan kultur yang beraneka ragam. Diantara budaya-budaya itu adalah hasil akulturasi dari bangsa-bangsa yang pernah singgah di Nusantara. Diantara pengaruh kebudayaan yang sangat kental dengan masyarakat Indonesia adalah kebudayaan yang dibawa oleh bangsa yang menganut agama Hindu dan Budha. Tentu ini sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Nusantara. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia telah melalui fase penyebaran Islam yang berbeda dengan negara-negara lain. Penyebaran Islam di Indonesia lebih menekankan kepada pendekatan melalui kultur budaya yang sudah ada di Indonesia (akulturasi).

Diantara contoh kebudayaan tersebut adalah wayang. Wayang diyakini sebagai bayang-bayang kehidupan nenek moyang. Wayang dipertunjukkan untuk mengenang jasa-jasa nenek moyang dan memujanya (Marzdedeq : 2014). Ada pula yang berpendapat, kata Wayang berasal dari Wad An Hyang, artinya “Leluhur” (Republika : 2017). Ada yang berpendapat, Wayang berasal dari India dan rekaman pertama pertunjukan wayang telah ada sejak 930 M.

Namun, ada pula yang meyakini wayang kulit sebagai salah satu dari berbagai akar budaya seni tradisional Indonesia. “Ada yang menginterpretasikan bahwa wayang berasal dari India, meskipun apabila kita menunjukkan wayang kepada orang-orang India, mereka tidak tahu apa-apa,” ujar Dr. Suyanto, pengajar ISI Surakarta dalam “Diskusi Wayang, Islam, dan Jawa” di solo akhir November tahun 2017.

Pada masa Hindu dan Budha di Asia Tenggara, wayang diambil dari kitab Mahabrata dan Ramayana. Di Indonesia, permainan wayang terdapat di Jawa, Madura, Bali, Lombok, sebagian Sumbawa, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Selatan. Di Malaysia wayang terdapat di daerah perbatasan dengan Thailand, diantaranya di Trengganu (Marzdedeq : 2014)

Pada masa perkembangan Islam di Jawa, terdapat banyak perubahan pada cerita wayang. Para Sang Hyang itu dianggap keturunan Adam. Adam beranak Anwar dan Anwas. Anwar menurunkan para Sang Hyang dan Sang Hyang menurunkan dewa-dewa Hindu (Syiwa, Wisnhu, Brahma, dan sebagainya), sedangkan Anwas dianggap menurunkan nabi-nabi.

Pujangga istana menyusun silsilah raja. Disebutkan bahwa ayah raja itu keturunan dewa-dewa, ia keturunan Parikesit cucu Arjuna dan ibu raja itu keturunan nabi-nabi.

Mahabrata di Jawa dimulai dengan cerita Adam dan Hawa, seperti kita dapatkan dalam buku Gubahan Yosodipuro I dan Yosodipuro II. Serat Kanda (saduran Mahabrata) disalin oleh Ronggowarsito menjadi Serat Paramayoga atau Jitapsara

Ada banyak macam-macam wayang yang ditemukan di berbagai Negara. Di China terdapat Wayang Potehi yang digerakkan dengan permainan jari, Wayang tali dan Wayang kulit. Di Thailand, Birma, Laos, Dan Kamboja terdapat wayang kulit

Di Indonesia, wayang terdapat di Jawa, yakni wayang kulit (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan Wayang golek (Jawa Barat). Di luar Jawa Wayang kulit terdapat Di Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, dan Wayang kulit banjar di Kalimantan.

Di Jawa, terdapat tingkatan wayang, yakni: wayang purwa, wayang kKrucil, wayang gedog, wayang beber, dan wayang menak. Wayang menak tidak mengambil cerita Mahabrata, tetapi menceritakan kisah Amir Hamzah (Marzdedeq : 2014).

Oleh karena bangsa Indonesia yang sudah tidak asing dengan wayang dan cerita-ceritanya, maka para da’i dan muballigh di Nusantara dahulu memanfaatkan hal tersebut sebagai sarana dan media dalam penyebaran Islam. Sunan Kalijaga, misalnya, mengembangkan Wayang Purwa, yakni Wayang kulit bercorak Islam.

Diriwayatkan juga bahwa nama-nama tokoh pewayangan khas Jawa (Punakawan). Seperti Semar, Petruk, Bagong, Dan Gareng pun berasal dari bahasa Arab. Setiap tokoh memiliki karakter tertentu, yang memiliki peran sebagai media penyampai syiar dan dakwah Islam pada zaman itu.

Bisa ditarik kesimpulan dari tulisan ini bahwasanya Wayang adalah salah satu dari budaya yang ada sebelum Islam tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Setelah itu Wayang dijadikan media dan sarana dalam penyebaran Islam yang banyak memuat dalam kisah-kisahnya pendidikan dan pengajaran adab dan perangai yang baik.

*Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab STIBA Ar-Raayah

Bagikan Artikel Ini
img-content
محمد نصرالله

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Wayang dan Penyebaran Islam di Nusantara

Senin, 28 Desember 2020 06:33 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua