Si Ular Besi Antar Jonan Jadi Menteri - Analisis - www.indonesiana.id
x

cover buku Si Ular Besi Antar Jonan Jadi Menteri

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 12 Januari 2021 10:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Si Ular Besi Antar Jonan Jadi Menteri

    Siapa saja pasti mengakui Ignasius Jonan adalah sosok hebat yang membuat perkerta-apian Indonesia menjadi membanggakan. Sebagai direktur utama PTK AI, ia melakukan perubahan radikal pada BUMN yang selalu merugi tersebut. KAI menjadi bersih, teratur dan tepat waktu. KAI juga mulai menuai laba. Inilah strategi Jonan dalam membenahi PT. Kereta Api Indonesia yang amburadul menjadi BUMN yang ciamik.

    Dibaca : 1.168 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Si Ular Besi Antar Jonan Jadi Menteri

    Penulis: Akhmad Sujadi

    Tahun Terbit: 2015

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

    Tebal: xii + 245

    ISBN: 978-602-03-2466-1

     

    Siapa saja pasti mengakui bahwa Ignasius Jonan adalah sosok hebat yang telah berhasil membuat perkerta-apian Indonesia menjadi membanggakan. Sejak Jonan masuk sebagai Direktur PT. Kereta Api Indonesia (KAI), perubahan radikal terjadi di BUMN yang selalu merugi tersebut. Jonan berhasil membuat KAI yang sudah tak dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia menjadi sebuah BUMN yang membanggakan. KAI menjadi bersih, teratur dan tepat waktu. KAI juga mulai menuai laba.

    Ketika Jonan dipercaya menjadi Direktur KAI pada tahun 2009, KAI masih dianggap sebagai perusahaan kelas kambing. KAI menghadapi banyak masalah baik secara internal maupun eksternal. Gerbong-gerbong mereka kumuh, berjubel, dan berbau. Sementara itu stasiun-stasiun dipenuhi oleh para pengasong yang tidak hanya di emperan, tetapi masuk ke dalam peron dan bahkan ke gerbong-gerbong yang berhenti di stasiun tersebut. Dalam hal ketepatan waktu, KAI adalah juara satu dari belakang. Tidak ada kereta yang tidak terlambat. Belum lagi banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan kereta. Dalam buku ini Akhamad Sujadi menggambarkan dengan lebih rinci tentang kondisi KAI saat Jonan baru mulai masuk.

    Dalam tiga tahun, Jonan dan timnya mampu mengubah KAI menjadi sebuah sarana transprtasi darat yang nyaman aman dan tepat waktu. Gerbong tidak lagi berjejal. Toilet kereta bersih dan tidak bau. Stasiun menjadi tempat yang menyenangkan bagi para calon penumpang maupun enumpang yang turun.

    Buku ini secara sangat baik menggambarkan bagaimana Jonan membenahi KAI Keberhasilan Jonan membenahi perkereta-apian di Indonesia membawanya ke jabatan yang lebih penting, yaitu sebagai Menteri Perhubungan. Bukan hanya Jonan, tetapi tim inti yang bekerjasama dengan Jonan dalam membenahi KAI juga mendapatkan tugas yang lebih besar.

    Ada tiga hal yang saya pelajari dari strategi Jonan membenahi KAI. Pertama, Jonan membentuk tim kerja yang solid dan profesional. Kedua, Jonan memilih masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama, sehingga membawa kepercayaan diri timnya. Ketiga, Jonan memilih momen yang bisa menjadi perhatian banyak orang, yaitu lebaran.

     

    Membangun Tim Solid dan profesional

    Ketika Jonan masuk sebagai Direktur Utama KAI pada Bulan Februari 2009, pertama-tama yang dilakukan oleh pria kelahiran Singapura 21 Juni 1963 tersebut adalah membentuk tim kerja. Ignatius Jonan melakukan reorganisasi KAI, yaitu dengan mengangkat Sulistyo Wimbo Hardjito sebagai Direktur Komersial. Direktorat Komersial adalah direktorat baru yang pada era pimpinan KAI sebelumnya tidak ada. Jabatan rangkap yang ada di KAI juga segera diselesaikan. Contohnya adalah Direktur Operasi yang masih dirangkap oleh Wakil Direktur Utama segera diisi oleh orang yang sangat paham dengan operasional kereta api. Ketika ia membutuhkan modernisasi sistem ticketing, ia mengajak M. Kuncoro Wibowo. Kuncoro Wibowo rela bergabung dengan KAI meski gajinya turun drastis dari Rp.70 juta di perusahaan sebelumnya menjadi hanya Rp. 40 juta.

    Tim solid yang profesional ini langsung bisa bekerja. Dalam waktu tiga tahun tim ini bisa mengubah wajah KAI yang bopeng menjadi mentereng. Reorganisasi dan penempatan orang-orang profesional yang bisa bekerjasama dalam tim menjadi kunci utama keberhasilan Ignatius Jonan mengubah KAI.

     

    Memilih Menyelesaikan Masalah yang Bisa Diselesaikan

    We do what can we do, small action big impact. Itulah kredo yang disampaikan kepada timnya memulai carut-marut KAI. Dalam teori organisasi, ada ahli yang menyarankan untuk fokus kepada akar masalah. Namun sering kali akar masalah terlalu rumit untuk dipecahkan dalam waktu singkat. Karena akar masalah biasanya tidak hanya satu, tetapi terdiri dari berbagai masalah yang saling membelit. Jika sebuah tim atau organisasi terlalu fokus untuk mencari dan menangani akar masalah, maka semangat dan staminanya sering sudah luntur sebelum masalah tersebut tertangani.

    Jonan dan tim memilih untuk menangani masalah yang mereka yakin mampu ditanganinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. We do what can we do – istilah Jonan. Tentu saja masalah yang ditangani haruslah masalah yang memberi dampak besar, atau setidaknya bisa dianggap sebagai sebuah keberhasilan awal. Small action big impact – istilah Jonan.

    Pembatasan penumpang adalah masalah yang dipilih pertama untuk diatasi. Untuk mengatasi jumlah penumpang yang tidak terkontrol, hanya dibutuhkan disiplin dari pegawai KAI. Dengan tim yang solid dan disiplin serta ancaman sangsi bagi yang melanggar, pembatasan penumpang ini bisa dilaksanakan dengan baik. Memang pembatasan penumpang tidak serta-merta membuat permasalahan KAI beres. Masih banyak hal yang harus diselesaikan. Namun dengan pembatasan jumlah penumpang sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia, wajah KAI langsung berubah drastis.

    Baru setelah urusan pembatasan jumlah penumpang ini ada hasilnya, tim kerja mulai membenahi masalah stasiun yang dijejali oleh para pengasong. Pembatasan penumpang yang sudah mulai diapresiasi oleh masyarakat menjadi modal untuk menyelesaikan masalah yang lebih rumit, yaitu ketertiban stasiun dan gerbong kereta. Penyelesaian masalah pengasong ini tidaklah mudah karena KAI dianggap melanggar hak ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya sebagai pedagang kecil.

    Sasaran berikutnya adalah membenahi penumpang kereta komuter yang memenuhi atap gerbong. Upaya ini juga tidak mudah. Sebab para penumpang yang biasa duduk di atap kereta melakukan perlawanan. Tindakan-tindakan pendisiplinan yang mengancam keselamatan jiwa yang diterapkan oleh KAI mendapat tentangan dari berbagai pihak. Namun kegigihan dan sikap kukuh yang ditunjukkan oleh tim Jonan ternyata bisa membawa hasil.

    Perubahan orientasi KAI sebagai perusahaan yang memberi pelayanan kepada penumpang terus berlanjut. Pembenahan pada ketera ekonomi dengan membuat kursi yang lebih nyaman dan memasang Ac adalah salah satunya. Perubahan model toilet kereta yang membuat tinja tidak tercecer di sepanjang rel dan toilet yang lebih nyaman adalah contoh lainnya. Perubahan model toilet ini juga berdampak kepada semakin baiknya pemeliharaan rel kereta. Sebab para pekerja pemelihara rel kereta tidak jijik lagi kalau harus bertugas memeriksa dan memelihara kondiri rel kereta.

     

    Mencari Momentum yang Menjadi Perhatian Masyarakat Banyak

    Jonan memilih Lebaran 2012 sebagai momentum untuk menerapkan kebijakan baru KAI. Pelayanan KAI yang sebelumnya berfokus kepada produk, diubah menjadi berfokus kepada pelayanan pelanggan. Pada angkutan lebaran 2012, KAI menyiapkan gerbongnya dengan baik. KAI juga mendisiplinkan penumpang. Para penumpang hanya bisa naik dari stasiun yang tertera pada tiketnya. Jumlah penumpang dibatasi sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia.

    Sebenarnya ujicoba penerapan kebijakan angkutan lebaran ini sudah dilakukan di tahun 2011. Namun ujicoba tersebut belum sepenuhnya menerapkan sepenuhnya fokus pelayanan kepada penumpang. Penjualan tiket masih ditolerir 150% dari jumlah kursi. Kereta Sapu Jagad masih dioperasikan untuk mengangut penumpang yang tidak kebagian tiket.

    Berdasarkan evaluasi ujicoba angkutan lebaran 2011 tersebut, berbagai hal mulai dibenahi. Misalnya sistem ticketing yang dibuat berbasis jaringan. Jika dulunya tiket kereta api dijual tanpa nama dan tidak bisa dikontrol jumlahnya, maka dengan sistem baru, tiket harus sesuai dengan nama penumpang yang akan berangkat. Para penumpang juga bisa membeli tiket di mana saja, tanpa harus pergi ke stasiun keberangkatan. Dengan ticketing berbasis jaringan, maka jumlah tiket menjadi lebih mudah untuk dibatasi. Tiketing modern ini serta merta bisa memecahkan masalah percaloan yang selama ini marak. Sebab percaloan di KAI melibatkan orang dalam KAI sendiri.

    Kesuksesan pada angkutan lebaran 2012 membuat citra KAI berubah total.

     

    Membenahi Aset KAI dan Membangun KAI untuk Masa Depan

    Upaya Jonan membenahi KAI tidak berhenti sampai kepada kesuksesan tersebut di atas. Jonan mengupayakan supaya bisnis KAI tidak hanya untuk angkutan manusia di Jawa. KAI harus mampu mengembangkan bisnis sebagai pengangkut barang. Jonan meningkatkan upaya pembangunan rel ganda Jakarta-Surabaya. Dengan adanya rel ganda ini maka perjalan kereta menjadi lebih teratur dan lebih banyak. Dengan demikian rangkaian kereta barang juga bisa semakin banyak jumlahnya.

    Jonan juga menyelesaikan kerjasama dengan PT Raillink untuk pengoperasian Kereta Bandara Kualanamu. Upaya koneksi antar moda transportasi ini dilanjutkannya saat ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dengan membangun kereta ke bandara Sukarno Hatta.

    Jonan dan tim juga berhasil menata aset KAI. Gedung Lawang Sewu dan Musium Kereta Api Ambahrawa ditata sedemikian rupa sehingga bisa menjadi aset yang memberi laba. Aset-aset berupa tanah setasiun dan tanah-tanah di sepanjang rel kereta yang selama ini telah dikuasai pihak lain, bisa diambil kembali menjadi milik KAI.

     

    Jonan Sebagai Menteri Perhubungan

    Keberhasilan Jonan dalam menangani KAI membuatnya dipilih oleh Joko Widodo menangani sektor perhubungan. Bukan hanya Jonan, tetapi tim yang bekerja bersama Jonan juga mendapat promosi yang luar biasa. Sebagai contoh, Edy Sukmoro yang sebelumnya Direktur Pengelola aset dan memiliki peran penting dalam penertiban dan penataan aset KAI terpilih menggantikan Jonan sebagai Direktur Utama KAI. Sedangkan Sulistyo Wimbo Harjoto menduduki Direktur Utama Angkasa Pura.

    Sebagai Menteri Perhubungan Jonan lumayan berhasil membenahi koneksi antar moda. Namun sayang, tugasnya sebagai Menteri Perhubungan tak bisa diselesaikan karena keburu diganti. Konon khabarnya karena ia kukuh pada keputusannya untuk membereskan masalah yang terlalu besar. Akar masalah yang rumit berbelit di Kementerian Perhubungan.

    Semoga suatu saat ada yang menulis tentang sepak terjang Ignatius Jonan saat menjadi Menteri Perhubungan yang kemudian diberhentikan. Sehingga kita menjadi paham apa yang sesungguhnya terjadi. Atau Pak Jonan sendiri berkenan menulis biografi? Siapa tahu. (563)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.