San Pek Eng Tay - Romantika Emansipasi Perempuan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku San Pek Eng Tay

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 11 Februari 2021 17:44 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • San Pek Eng Tay - Romantika Emansipasi Perempuan

    Kisah San Pek Eng Tay selama ini dikenal sebagai sebuah kisah romantis saja. Padahal sesungguhnya legenda dari abad 4 dari Negeri Tiongkok ini adalah kisah emansipasi seorang perempuan supaya bisa berperan bagi pemerintah dan masyarakatnya.

    Dibaca : 936 kali

    Judul: San Pek Eng Tay – Romantika Emansipasi Seorang Perempuan

    Penulis: Oey Kim Tiang

    Tahun Terbit: 1992

    Penerbit: Yayasan Obor Indonesia                                                                      

    Tebal: xxvi + 302

    ISBN: 979-461-065-8

     

    Cerita San Peng Eng Tay adalah cerita yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Saking terkenalnya, kisah dari Negeri Tiongkok ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dan diadaptasi menjadi cerita kethoprak, lenong dan sandiwara. Saat kecil saya sering didongengi kisah San Pek Eng Tay oleh emak saya. Saya juga pernah melita kethoprak lokal di desa saya membawakan cerita ini dalam sebuah pementasan. Bahkan ayah saya mempunyai kaset sandiwara yang berkisah tentang dua sejoli yang saling cinta ini. Saya masih ingat cover kaset tersebut bergambar rumpun bambu dengan dua ekor kupu-kupu kuning terbang di dekatnya. Tentu saja ada gambar sepasang kekasih yang sedang duduk berdua di dekat rumpun bambu tersebut.

    San Pek Eng Tay selama ini saya kenal sebagai sebuah kisah percintaan yang gagal karena perbedaan ekonomi. Pasangan tersebut rela untuk mati demi mempertahankan cintanya. San Peng Eng Tay adalah kisah percintaan yang menghibur pembacanya, pendengarnya dan pemirsanya.

    Saya tertarik dengan judul yang dipakai oleh buku ini. Khususnya sub judulnya: “Romantika Emansipasi Seorang Perempuan.” Sub judul ini seakan memberi tahu pembaca bahwa kisah San Pek Eng Tay mempunyai nilai yang lebih mendalam dari sekadar kisah percintaan ala Romeo dan Juliet, atau Rara Mendut - Pronocitro. Jadi San Pek Eng Tay tidak disajikan sebagai sebuah hiburan tentang kisah cinta yang kandas, tetapi dibidik dari sisi emansipasi perempuan.

    Achmad Setiawan Abadi (ASA) menjelaskan panjang lebar tentang perbedaan kisah San pek Eng Tay yang selama ini kita kenal di Indonesia dengan kisah yang ada di buku ini. Ia menyebutkan bahwa kisah hasil terjemahan Oey Kim Tiang (OKT) ini membawa misi emansipasi perempuan. ASA bahkan menyatakan bahwa persetujuannya untuk menerbitkan kisah San Pek Eng Tay versi terjemahan OKT ini adalah karena alasan ini (hal. xv). Awalnya ASA enggan menerbitkan kisah San Pek Eng Tay karena kisah ini sudah begitu dikenal di Indonesia.

    Ringkasan kisah San Pek Eng Tay adalah sebagai berikut. Ciok Eng Tay adalah anak perempuan Tunggal dari keluarga menengah. Ayahnya adalah mantan camat yang peduli kepada pendidikan anaknya. Itulah sebabnya, meski Ciok Eng Tay adalah seorang perempuan, ia mendapatkan pendidikan dari guru yang diundang ke rumahnya. Eng Tay kemudian melanjutkan sekolah kepada seorang guru (guru Ciu di Hang Siu). Karena perempuan belum lazim bersekolah, Eng Tay harus menyamar sebagai seorang pemuda. Eng Tay berteman akrab dengan Nio San Pek. Mereka bahkan menjadi kakak adik saat sekolah bersama. Ketika Eng Tay diminta pulang ke rumah orangtuanya karena akan dinikahkan, Eng Tay memberi tanda-tanda kepada San Pek bahwa sesungguhnya dia adalah seorang perempuan. Eng Tay mengharapkan bahwa San Pek melamarnya untuk dijadikan istri. Eng Tay berpesan kepada istri gurunya supaya memberitahu San Pek untuk datang melamarnya 30 hari setelah perpisahan. Namun sayang, saat Nio San Pek datang ke rumah Ciok Eng Tay, Eng Tay sudah terlanjur dijodohkan dengan Ma Bun Cay, anak seorang kaya. Nio San Pek yang kecewa akhirnya sakit dan meninggal. Ciok Eng Tay yang tetap mencintai San Pek meminta supaya perjalan perahu yang akan mengantarkannya ke rumah calon mertuanya dilewatkan kuburan San Pek. Di kuburan itulah terjadi sebuah peristiwa dimana Eng Tay ditelan oleh lubang kubur di sebelah kuburan San Pek. Di kuburan mereka berdua kemudian muncul dua kupu-kupu yang keluar dari dalam kuburan. Kupu-kupu tersebut senantiasa terbang bersama.

    Sekarang mari kita lihat, seperti apa OTK membingkai kisah yang sudah ada sejak abad 4 di Negeri Tiongkok ini menjadi sebuah kisah emansipasi seorang perempuan. Ada beberapa upaya OTK untuk menunjukkan bahwa kisah San Pek Eng Tay sesungguhnya bukan sekadar kisah percintaan. Setidaknya saya menemukan hal-hal berikut di kisah hasil terjemahan (gubahan?) OTK.

    Dalam novel ini OTK menunjukkan bahwa sejak jaman dulu perempuan telah memiliki peran dalam pemerintahan dan masyarakat. Dalam percakapan antara Ciok Eng Tay dengan ayahnya (Ciok Kong Wan) membahas permintaan Eng Tay untuk sekolah, OTK menyelipkan beberapa nama perempuan yang berperan dalam pemerintahan dan masyarakat (hal. 9). Misalnya ada nama Thay Su di jaman Dinasti Chou. Alasan ini dipakai oleh OTK bahwa dalam tradisi Tiongkok kuno, perempuan terpelajar bisa mempunyai peran yang besar dalam pemerintahan dan masyarakat. Bahkan peran perempuan tidak bertentangan dengan ajaran Kong Hu Cu, sebab salah satu buku Lun Gi – Kitab Ajaran Kong Hu Cu, memuat kisah peran perempuan dalam pemerintahan dan masyarakat (hal. 8).

    Cara kedua untuk mengemas cerita San Pek Eng Tay menjadi kisah emansipasi perempuan dilakukan OTK melalui penokohan Eng Tay sendiri. Eng Tay digambarkan sebagai seorang pemudi yang cerdas, ceria patuh kepada orangtua tetapi juga berani untuk memperjuangkan keinginannya mencari ilmu. Ketika keinginannya ditentang oleh ayahnya, ia tidak kemudian menyerah dan meratapi nasip sambal menangis. Tetapi Eng Tay mencari akal yang kadang cerdik dan sedikit licik – misalnya saat ia menggunakan tukang tenung (hal. 32) atau saat ia meminta supaya perahu yang membawanya ke rumah calon mertua, melewati makam San Pek (hal. 283).

    Eng Tay juga digambarkan menjadi seorang yang teguh memegang janji. Ayahnya mengijinkan Eng Tay untuk bersekolah di Han Ciu dengan syarat ia menyamar sebagai lelaki, menjaga keperawanan dan bersedia pulang saat dipanggil, mengingat kesehatan ibunya yang sudah memburuk. Eng Tay berhasil menyamar sebagai lelaki selama 3 tahun tanpa terbongkar bahwa sesungguhnya dia adalah seorang perempuan. Ia juga berhasil menjaga keperawanannya, meski cintanya kepada San Pek sudah menggebu. Ia juga patuh untuk pulang saat ayahnya memintanya pulang setelah 3 tahun dengan alasan ibunya sakit. Penokohan Eng Tay ini sangat jelas dipakai oleh OTK untuk menggambarkan bahwa perempuan mempunyai kualitas untuk beremansipasi.

    Tokoh Eng Tay digambarkan sebagai seorang perempuan yang bisa menjaga diri. Saat Eng Tay sakit, OTG menggambarkan bagaimana ia mencari akal supaya San pek tidak sampai tahu bahwa ia adalah seorang perempuan (bab 7). Padahal sesungguhnya ia sangat ingin menjalin hubungan cinta dengan San Pek. Bukan sekadar hubungan kakak-adik. Di pengantar, ASA menyebutkan bahwa OTK mengkritik Riantiarno saat memmentaskan kisah San Pek Eng Tay, dimana Eng Tay membuka baju di depan San Pek (hal. xiv). Menurut OTK adegan buka baju yang diperagakan dalam pementasan teater Riantiarno sungguh kurang patut dan kurang menghargai sosok Eng Tay sebagai seorang perempuan yang mengejar ilmu pengetahuan.

    Memang benar bahwa membaca kisah San Pek Eng Tay versi OTK sungguh berbeda dengan versi-versi San Peng Eng Tay lainnya. OTK berhasil mengubah kisah ini menjadi kisah emansipasi perempuan daripada hanya menjadi kisah romantik yang memberi hiburan semata. (571)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.