Mengapa Komoditas Mineral Mampu Memperbaiki Ekonomi Negeri? - Analisa - www.indonesiana.id
x

sumber foto: beritakalteng.com

Sri Kandhi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2020

Selasa, 16 Februari 2021 13:04 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengapa Komoditas Mineral Mampu Memperbaiki Ekonomi Negeri?

    Pandemi Covid-19 ini seolah memberi berkah bagi komoditas mineral. Peluangnya besar untuk memperbaiki perekonomian Indonesia yang tidak stabil saat ini. Mengapa demikian?

    Dibaca : 505 kali

    Virus Covid-19 telah menyerang dunia dan melumpuhkan perekonomian global sepanjang tahun 2020. Pemerintah dari negara masing-masing terus berupaya untuk menemukan solusinya. Di Indonesia sendiri, tingkat produksi dan penjualan seluruh komoditas terkena dampaknya, salah satunya komoditas mineral.

    Produksi dan penjualan mineral di Indonesia dipengaruhi oleh faktor pasar dan pergerakan harga komoditas global. Sugeng Mujiyanto selaku Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM menjelaskan untuk sisi produksi, realisasinya berada di bawah target. Sementara pada sisi penjualan, beberapa komoditas mampu melebihi target. 

    Di antara produksi tembaga, emas, perak, dan timah, yang mampu melampaui target adalah nikel sebesar 2.316.500 juta ton atau 120 persen dari target yang terdiri dari Ferronickel 1.462.300 ton dan Nickel Pig Iron sebanyak 860.500 ton. Sementara produksi nickel matte sebesar 91.700 ton atau 127 persen dari target.

    Dikutip dari Kontan.co.id (14/2), Sugeng menjelaskan bahwa Covid-19 memiliki dampak terhadap produksi mineral tahun 2020. Meskipun sebagian besar produksinya di bawah target, namun olah nikel mampu menunjukkan kenaikan. Sementara untuk sisi penjualannya, Sugeng menambahkan selain timah dan nikel matte, sisanya mengalami peningkatan. 

    Pandemi Covid-19 seolah membawa keberuntungan bagi komoditas mineral. Komoditas mineral di Indonesia memiliki peluang yang lebih bagus jika dibandingkan dengan komoditas lainnya dalam memperbaiki ekonomi negeri yang tidak stabil ini. 

    Hal tersebut dikarenakan komoditas mineral berpengaruh besar di industri kendaraan listrik. Di mana kita tahu bahwa salah satu komponen dari baterai lithium adalah nikel. Artinya, dunia membutuhkan nikel dan mineral penunjang lainnya. 

    Negeri kita memiliki sumber dayanya yang melimpah serta adanya larangan ekspor nikel yang berarti seluruh penjualan diharapkan dapat diserap pasar domestik. Dan, dari sinilah upaya pemulihan ekonomi Indonesia di tengah pandemi Covid-19 dimulai. Bank Dunia, IMF, dan beberapa institusi lain telah memprediksikan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2021 naik hingga 5,5 persen. Arif S. Tiammar selaku praktisi tambang dan smelter menjelaskan prediksi tersebut akan memberikan prospek positif bagi permintaan komoditas mineral dan logam negeri. 

    Sugeng Mujiyanto selaku Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM berharap di tahun 2021 ini target produksi dan penjualan komoditas mineral dapat tercapai. "Kita juga berharap dan mendorong realisasi hilirisasi dan pembangunan smelter yang sesuai target, sehingga permintaan di dalam negeri pun semakin baik," ujar Sugeng dikutip dari Kontan.co.id, (14/2).

    Kehadiran investor asing yang bekerja sama dengan pengusaha industri pertambangan ini menimbulkan dua pemahaman: mereka "mengeruk" sumber daya alam dan mereka "memanfaatkan" sumber daya alam. Mengeruk bisa diartikan menghabiskan, sedangkan memanfaatkan berarti berguna bagi banyak orang. Bagaimana menurutmu, yang manakah menjadi pemahamanmu?

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.