Mahasiswa KKN UPGRIS Kenalkan Ekonomi Kreatif pada Warga Desa Temurejo - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Pemberian pelatihan ekonomi kreatif oleh mahasiswa KKN UPGRIS untuk usaha kecil di Desa Temurejo

Amus Uchiha

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Februari 2021

Jumat, 19 Februari 2021 17:40 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Mahasiswa KKN UPGRIS Kenalkan Ekonomi Kreatif pada Warga Desa Temurejo

    Mahasiswa KKN UPGRIS memberi pelatihan Ekonomi Kreatif di tengah pandemi virus Covid-19 pada masyarakat Rt.09 Rw.03 Desa Temurejo Kecamatan Karangrayung kabupaten Grobogan

    Dibaca : 755 kali

    Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun ini dilakukan secara daring. Karena pandemi Covid-19 yang belum reda maka beberapa universitas memberlakukan KKN Online. Salah satunya universitas di kota Semarang, yaitu Universitas PGRI Semarang.
     
    KKN ini dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa di lingkungan mereka masing-masing. Salah satunya adalah Dwi Meli Fitriani, mahasiswa program studi Informatika yang melakukan KKN di kampung halamannya yaitu Desa Temurejo Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan.
     
    KKN ini dimanfaatkan Meli untuk membantu warga sekitar rumahnya dalam mengembangkan usaha yang dimiliki. Seperti Desi Wulandari, tetangga Meli yang memiliki usaha bekatul untuk makanan ternak. Desi biasanya menjual bekatul yang ia miliki dengan harga Rp.3000 per kilogram, dengan cakupan hanya warga sekitar saja. Hal ini membuat Meli ingin membuat agar bekatul milik Desi dapat mencakup ke desa lain dan juga dengan harga jual yang lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan penghasilan.
     
    Selain Desi, Meli juga membantu Ngatemi penjual burger mini untuk anak-anak di lingkungan sekitar mereka. Sama seperti bekatul milik Desi, Meli berniat membuat burger mini milik Ngatemi semakin dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu pada tanggal 9 Februari 2021 yang lalu Meli mengenalkan ekonomi kreatif pada Desi dan Ngatemi.
     
    20210213_121426.jpg
     
    Pengemasan burger nosya Di Desa Temurejo, Grobogan.
    Dimulai pada tanggal 9 Februari 2021 Meli melakukan survei dan pengenalan awal mengenai ekonomi kreatif pada Desi dan Ngatemi.
     
    20210209_203045.jpg
     
    Survei usaha burger mini milik Ngatemi oleh Mahasiswa UPGRIS, Desa Temurejo, Grobogan.
    Pertanyaan yang diajukan Meli adalah seputar usaha yang dimiliki. Seperti modal awal, biaya yang dikeluarkan dan sampai mana penjualan produk selama ini. Setelah semua data terkumpul Meli menjelaskan mengenai ekonomi kreatif pada Desi dan Ngatemi. Meli menjelaskan bagaimana pentingnya branding untuk produk yang mereka miliki dan penjualan online dimasa pandemi seperti ini. Selanjutnya Meli melakukan perncangan branding untuk bekatul milik Desi dan burger mini milik Ngatemi.
     
    20210212_170357.jpg
     
    Perancangan branding bekatul milik Desi Di Desa Temurejo, Grobogan.
    Perancangan branding dilakukan pada tanggal 12 Februari 2021. Branding ini meliputi pemberian nama pada produk dan desain pengemasan pada produk. Pada bekatul milik Desi menjadi Bekatul Ganil dan untuk burger mini milik Ngatemi menjadi Burger Nosya. Perancangan desain ini telah disetujui oleh semua pihak sebelum nantinya akan dicetak dan dijadikan kemasan produk.
     
    20210213_112809.jpg
     
    Produk bekatul ganil milik Desi Di Desa Temurejo, Grobogan.
    Tepat pada tanggal 15 Februari 2021 kemasan untuk bekatul dan burger mini telah siap. Kemasan untuk bekatul sendiri dari plastik bening yang cukup tebal dengan desain Bekatul Ganil di depannya. Sedangkan untuk burger memiliki kemasan dari plastik mika dengan logo burger Nosya diatasnya.
     
    20210213_121535.jpg
     
    Kemasan burger Nosya.
    Setelah melakukan branding produk memiliki nilai lebih dalam penjualan. Bekatul Ganil kini dengan kemasan 2 kilogram dijual seharga Rp.10.000. Untuk burger mini yang biasanya seharga Rp.2000 kini menjadi Rp.5000 per kemasan.
     
    Selanjutnya adalah pemasaran secara online. Meli memanfaatkan sosial media yaitu Facebook dan Instagram dalam penjualannya. Meli berharap setelah ini usaha kecil ini akan berkembang dan bisa dikenal hingga keluar desa atau bahkan kota.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.