Mudik, Silaturrahmi dan Ayam Bekakak - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

kang nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Mei 2021

Rabu, 12 Mei 2021 20:58 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Mudik, Silaturrahmi dan Ayam Bekakak

    Dimensi Mudik

    Dibaca : 359 kali

    ayam Bekakak

     

    Sudah dua tahun ini, orang mau mudik dilarang. Jalan disekat sekat, laut pun dipatroli, hanya udara yang tidak di jaga, yang nekad banyak. Walaupun akhirnya harus nerima resiko; putar balik. Covid-19 menjadi alasan pelarangan itu.

    Perkara mudik memang mengandung dimensi yang beragam. Silaturrahmi dengan keluarga adalah pokok pangkalnya, kangen masakan asal, selebihnya (terkadang ) ada nilai unjuk diri pula.

    Tafta Zani bilang begini " Aspek psikologi sosial pada prilaku mudik, punya inner dinamic-nya yg sukar dijinakkan lewat alasan-alasan rasional.

    Sekarang banyak yang tidak bisa mudik lantaran ada pelarangan dari pamarentah.

    Jaman saya dulu, dikala masih kuliah, kos di Yogyakarta, bukan itu soalnya! Saya dan kawan kawan --pernah-- tidak mudik lantaran sayang biaya untuk bolak balik.

    Namun nyatanya, ada perasaan menyesal, sedih lantaran tidak lebaran bareng keluarga. Teman saya (tidakperlu saya sebut), tiba tiba menangis sesenggukan  saat  mengangkat tangan takbiratul ihrom, sembahyang Idhul fitri di Alun alun  kidul.

    Saya kaget, saya senggol dia, saya tanya, "Kenapa nangis".

    Dia jawab, "Ingat bekakak". 

    Sayapun larut, ingat bekakak.

    Setelah itu diulangi takbirotul ihrom.

    Rupanya dalam benak kawan saya ini, disaat tidak mudik, ada sesuatu yang hilang dari kebiasaan.  Hingga saat sembahyang, di depan matanya berseliweran bayangan "ayam bekakak" yang biasa disantap saat lebaran, itu adalah tradisi.

    Ayam bekakak adalah ayam bakar khas Banten yang cita-rasanya  beda dengan ayam bakar lainnya. Tidak sembarang waktu ada, biasanya orang bikin bekakak kalau ada perayaan perayaan atau momen tertentu saja seperti --salah satunya -- saat  lebaran.

    Jadi, mudik bukan hanya soal silaturahmi, tapi ada dimensi lain. Ingin makan selera asal, asli dan tak tergantikan!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.