Antara Berdebat dengan Intelektual dan Orang Bodoh, Ini Lho? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Berdebat

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

3 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Antara Berdebat dengan Intelektual dan Orang Bodoh, Ini Lho?

    Jangan berdebat dengan orang bodoh, sebab hasilnya hanya gagal paham, diamlah, itu sikap intelektual. (Supartono JW.09062021).

    Dibaca : 126 kali

    Jangan berdebat dengan orang bodoh, sebab hasilnya hanya gagal paham, diamlah, itu sikap intelektual. (Supartono JW.09062021).

    Dalam setiap detik, kini Indonesia hanya dipenuhi polemik, kisruh, masalah dan persoalan, yang pangkalnya justru dibuat oleh para elite yang duduk di pemerintahan dan parlemen.

    Lalu, para influenser, para buzzer, para pendukung, dan para relawannya, sibuk mengawal program kisruh yang dibaliknya memang demi tujuan dan kepentingan mereka via jalur media massa dan media sosial (medos).

    Sementara rakyat yang memang sudah mengalami masalah kronis dalam keterpurukan pendidikan, perekonomian, kesehatan dan berbagai lini kehidupan lainnya, hingga hidup berkubang penderitaan, justru diabaikan. Justru terus ditindas dengan kesewenangan, dan penuh ketidakadilan.

    Siapa teriak, siapa yang didengarApa

    Kurang apa rakyat berteriak kepada rezim sekarang? Tapi apa yang di dengar? Rezim justru terus asyik masuk dengan program dan kepentingannya. Saat program dan kepentingannya dijalankan demi memenuhi tuntutan partai, partai wajib memenuhi kontrak dengan cukong, maka saat rakyat tak setuju, kecewa, dan marah karena program mereka bukan amanah untuk rakyat, mereka justru memperkuat diri dengan berbagai cara dan aksi. Ini sama dengan siapa teriak, siapa didengar.

    Inilah yang kini sangat kental terjadi di Republik ini. Rakyat sebagai penguasa sejati negeri, justru hanya sekadar dimanfaatkan suaranya untuk kursi mereka, rakyat terus dibodohi, dan mereka terus beraksi dengan rencana, program yang hanya untuk kepentingan mereka.

    Rakyat tak akan didengar lagi. Apa pun kebenaran dan tuntutan sesuai hati nurani rakyat, akan dibenturkan ke kanan dan ke kiri hingga rakyat justru saling berhadapan dengan sesama rakyat. Itulah akal licik demi menguasai negeri ini dengan pola penjajahan baru, lebih jahat dari zaman penjajahan kolonialisme.

    Lihatlah deretan kepentingan mereka, semua jalur yang menghambat, dibabat. Mulai dari Omnibus Law hingga pelemahan KPK secara masif. Melindungi koruptor dengan berbagai cara dan upaya, sebab di setiap koruptor ada rahasia besar di baliknya. Bahkan, terbaru ketika rakyat mempertanyakan menyoal dana Haji kira-kira ada di mana dan untuk apa, mereka pun bersatu pasang badan.

    Luar biasa, negeri ini kini benar-benar hanya jadi bancakan, makanan para tuan-tuan penjajah baru yang tergabung dalam oligarki dan dinasti politik.

    Mereka pun menutup mata dan hati, bahwa di negeri ini, banyak rakyat kaum intelektual, yang tidak bodoh, sangat paham dengan perilaku dan sepak terjang mereka. Tapi, karena mereka sedang berkuasa, maka kaum intelektual pun hanya dibikin bisa bersuara di media massa dan tempat-tempat lainnya yang sudah mereka kawal dan mustahil akan mereka dengar dan mustahil dapat menyerang dan menjatuhkan mereka.

    Lebih dari itu, mereka juga sadar, masih banyak rakyat di negeri ini yang bodoh, jadi sangat mudah bagi mereka untuk mengambil hati rakyat yang bodoh ini dengan berbagai cara. Terlebih, rakyat yang bodoh juga miskin hati dan miskin harta. Sehingga sangat mudah disentuh dan masuk ke dalam perangkap mereka.

    Pertanyaannya, sampai kapan rakyat, khususnya kaum intelektual tak akan di dengar suaranya oleh para pemimpin di negeri ini? Apa sampai tahun 2024? Bila suara rakyat tak akan didengar sampai 2024, berarti rakyat harus terus merasakan penderitaan lebih dari tiga tahun ke depan.

    Tapi lihat juga, mereka pun sudah merancang untuk terus menguasai dan menjajah negeri ini kembali di periode selanjutnya, 2024-2028. Apa yang akan rakyat dapatkan bila terus ada di bawah ketiak penjajah baru?

    Sampai kapan kondisi Indonesia akan begini? Masalah dan polemik yang jadi bahan perdebatan pun, selalu mentok tak berujung, sebab yang punya kuasa selalu punya alasan demi memenangi perdebatan meski tetap terbaca skenario dan penyutradaraannya.

    Inilah Indonesia, yang kini menjadi negeri dengan 1001 polemik dan perdebatan di mana polemik dan perdebatan itu justru sengaja dicipta oleh rezim tapi tidak boleh ada rakyat yang dapat mengalahkan perdebatan. Yang menang harus rezim. Miris, kan?

    Jangan berdebat dengan orang bodoh

    Karenanya, sebagai pengingat, dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam keluarga, lingkungan masyarakat, tempat perkumpulan, sekolah, kampus, tempat kerja, dan lain sebagainya, berkaca dari sikap rezim yang seperti sekarang, maka diri kita wajib cerdas.

    Jangan pernah diri kita ikut terjebak dan terlibat dalam suatu perdebatan yang di dalamnya ada orang-orang yang belum pintar, alias bodoh. Sebab, hasilnya jelas, perdebatan itu akan tanpa ujung. Akan terus ada gagal paham, tidak nyambung, buang-buang energi, dan hanya memancing emosi. Sebab, orang bodoh itu, tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, tidak memiliki pengetahuan.

    Jadi, sampai kapan pun, setiap Anda berdebat dengan orang bodoh, tak akan pernah menang. 

    Makanya, bila Anda yakin akan menyiapkan tenaga dan pikiran untuk berdebat, yakinkan dulu bahwa diri Anda sudah tergolong orang yang intelektual, yaitu cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Bukan hanya ahli nyerocos tanpa isi dan tanpa dasar ilmu dan pengalaman pendidikan, serta pengalaman kehidupan.

    Perdebatan antara sesama orang yang intelektual, pasti ada pemenangnya. Yang kalah tentu akan berbesar hati dan mengakui kekalahan dan kelemahannya. Itu karena sesama intelektual dan usai berdebat, masalah selesai.

    Yang menjadi pertanyaan saya sekarang, apakah pemerintahan dan parlemen Indonesia diisi oleh kaum yang benar-benar intelektual?

    Bila benar, tapi mengapa setiap polemik dan masalah yang mereka buat, saat diperdebatkan oleh rakyat, mengapa mereka memaksa untuk jadi pemenangnya?

    Meski dalam setiap perdebatan, oleh para rakyat yang intelektual telah diberikan masukan dan ditunjukkan di mana letak masalah dan bagaimana solusinya, mereka ternyata tetap saja ngeyel dan merasa yang paling benar. Berikutnya, bila ada rakyat yang dianggap kekewat batas dalam mendebat atau melawan mereka, hukum dan ketidakadilan menjadi taruhan untuk menakuti dan menangkapi rakyat. Luar biasa.

    Sampai kapan rakyat akan bisa menang mendebat pemeritahan dan parlemen yang tak amanah? Padahal orang-orangnya kan intelektual. Atau, jangan-jangan memang banyak yang tidak intelektual, jadi rakyat sama saja berdebat dengan orang bodoh?

    Atau memang mereka terdiri dari para intelektual, tapi jiwanya memang sudah diabdikan untuk program kepentingan. Prek omongan rakyat, biar saja dianggap orang bodoh, yang penting bekerja sesuai kontrak, bukan sesuai amanah.

    Mari, kita lihat diri kita. Apakah saya sudah termasuk orang yang intelektual, memiliki intelegensi, sosial, emosional, kreatf-imajinatif-inovatif, dan Iman (Iseaki) dengan nilai di atas rata-rata, 80-100?

    Bila belum, ayo pompa dan kembangkan Iseaki itu hingga diri kita sampai di gerbang orang yang dianggap intelektual. Meski saya belum sampai di gerbang Iseaki dan orang yang intelektual, mulai sakarang, hindarkan diri kita, membuang energi, berdebat dengan orang yang masih bodoh. 

    Bila tanpa sengaja kita terjebak dalam perdebatan dengan orang bodoh, maka mintalah maaf, sudahi perdebatan, dan diam. Alihkan ke topik pembicaraan lain.

    Tapi bagaimana dengan kondisi negeri ini? Rakyat terus jadi korban penderitaan dan ketidakadilan dari tindakan dan program rezim. Apa rakyat harus diam? Kapan mereka akan bersikap intelektual sejati, kembali menjadi diri mereka sendiri, menjadi rakyat yang sama-sama bisa merasakan ada penderitaan dan ketidakdilan? Apa harus menunggu pintu hidayah? Bahwa mereka itu mewakili rakyat? Kita lihat saja. Masih ada tiga tahun lagi, sebelum masa lima tahun berikutnya.




    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.