Masih Efektifkah Politik Dinasti di Era Generasi Alpha (A)? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Muhamad Bayu Erlangga

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 Juni 2021

Senin, 28 Juni 2021 09:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Masih Efektifkah Politik Dinasti di Era Generasi Alpha (A)?

    Belakangan Muncul Isu akan adanya politik dinasti terkait puan maharani yang akan maju di capres 2024 mendatangditengah panasnya berita tentang virus corona atau covid-19

    Dibaca : 488 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ditengah meningkatnya pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih melanda Indonesia ada beberapa isu yang tidak kalah menarik untuk dibahas, diantaranya dugaan akan terjadinya politik dinasti yang menyangkut nama mantan presiden Republik Indonesia yakni Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri. Megawati Soekarnoputri yang tak lain adalah putri dari proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia yaitu Dr. Ir. H. Soekarno kini tengah menjadi perhatian publik.  

    Pasalnya, anak dari mantan presiden kelima itu yakni Puan Maharani yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakayat Republik Indonesia (DPR RI), dikabarkan akan maju sebagai Calon Presiden di Pemilu 2024 mendatang. Hal ini tentu menjadi sorotan dari berbagai kalangan.

    Lantas, apakah efektif sistem politik dinasti di zaman sekarang yang lebih akrab dengan teknologi yang disebut Generasi Alpha (A)?

    Sebelumnya, mari kita mengenal terlebih dahulu tentang pengertian generasi alpha itu sendiri.

    Bagaimana sih, Generasi Alpha itu?

    Jadi generasi alpha di sematkan untuk anak yang lahir dari tahun 2010, bisa di bilang generasi ini adalah generasi yang beruntung, itu dikarenakan mereka yang lahir di generasi ini tumbuh di tengah-tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, mereka dapat memanfaatkan berbagai teknologi dalam memperluas wawasan mereka.

    Tentu hal ini sangat berdampak pada tatanan dunia kedepannya,di ibaratkan generasi ini seperti dua mata pisau, jika generasi alpha ini tidak di pimpin dalam mengembangkan kemampuannya dengan baik ini bisa menjadi kemunduran bagi suatu negara, dan apabila generasi alpha ini mendapatkan tempat dan bisa mengembangkan kelebihan yang ada.

    Hal ini akan berdampak pada perkembangan dan kemajuan suatu negara itu sendiri, itu karena umur mereka yang masih muda tetapi dapat memanfaatkan perkembangan teknologi yang menjadi kekuatan di berbagai negara, tak heran jika mereka tumbuh sebagai generasi unggul dan berwawasan luas bahkan cara berpikirnya lebih keritis dan lebih peka.

    Setelah mengenali tentang generasi alpha secara singkat, mari kita lanjutkan pada bahasan politik dinasti yang menjadi fokus dari bahasan kali ini.

    Mengenal Politik Dinasti

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinasti adalah keturunan raja-raja yang memerintah, semuanya dari garis keturunan.Oleh karena itu, selain dari kelompok tertentu tidak memiliki peluang untuk memerintah.Tentu ini bisa bahaya untuk suatu negara yang menginginkan perubahan.

    Karena, jika raja atau pemimpin terdahulu memiliki integritas dalam memimpin suatu pemerintahan, tetapi tidak menutup kemungkinan penerus atau keturunannya berbeda,bahayanya jika penerusnya tidak memiliki jiwa leadership yang kuat, bukan tidak mungkin kepentingan akan berpihak pada suatu golongan bukan lagi kepada masyarakat.

    Jika melihat kembelakang politik dinasti yang termasyhur dan terkenal di Amerika Serikat yakni dinasti kennedy, yang juga memiliki kekayaan yang sangat besar bisa mengalami kebuntuan karena berbagai faktor,yang tentunya menginginkan sebuah perubahan, ini menjadi sebuah pelajaran bagaimana suatu dinasti politik meski survive dan hebat secara external,tetapi tidak menjamin keberlangsungannya.

    Kalau seorang elit politik mengandalkan politik dinastinya,dan mengabaikan etika sosial maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan menurun dan masyarakat akan beranggapan bangsa ini dibangun dengan sistem nepotisme, yang hanya mementingkan suatu golongan saja.

    Memang tidak ada yang salah dengan politik dinasti, konstitusi membuka ruang bagi siapa saja untuk di pilih dan memilih,karena setiap warga negara tak bisa di kurangi haknya berpolitik semata karena dia berasal dari keluarga penguasa, setiap warga negara juga harus di beri kesempatan yang sama dalam pemerintahan.

    Bahkan dalam kostitusi Indonesia tertulis dengan jelas yang tertuang dalam pasal 28 D ayat 3, yang menegaskan kesetaraan setiap warga negara dalam hal berpolitik, ini juga yang  memberikan dan diharapkan adanya perubahan dari putra putri terbaik bangsa untuk memimpin suatu negara nantinya.

    Apalagi di zaman sekarang di mana pertumbuhan teknologi sudah semakin tak terbendung lagi yang sudah mempengaruhi perputaran ekonomi dunia yang berbasis teknologi, tentu generasi di zama sekarang dan generasi seterusnya harus siap dan memiliki wawasan yang lebih luas lagi.

    Singkatnya

    Pemaparan konotasi positif dan konotasi negatif di atas adalah buah pikir dari pengetahuan penulis, melihat isu yang banyak di bicarakan di tengah pandemi ini mengenai anggapan akan adanya politik dinasti.Bagi penulis alangkah baiknya jika para politikus atau elit politik yang akan ataupun sudah menjadi penguasa sadar akan kemampuan dan kapabilitas.

    Karena bangsa ini membutuhkan pemimpin yang memiliki Integritas dan jiwa kepemimpinan yang kuat, karena hingga saat ini jika kita jujur menganalisa dan memahami fenomena yang ada, belum ada calon pemimpin yang layak yang dipersiapkan untuk menggantikan posisi penting para penguasa sebelumnya.

    Sudah selayaknya sistem politik dinasti dibatasi, mengenai dampak yang dapat di timbulkannya, untuk itu harus ada regulasi yang mengatur dan membatasi tentang hal itu.

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Bayu Erlangga lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.