Cerpen | Koin Arwah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 21 Juli 2021 07:54 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Cerpen | Koin Arwah

    Tiara yang sedang berlibur ke vila pribadinya di Puncak, menemukan sebuah koin perak di perkebunan kosong yang terbengkalai di dekat vilanya. Lantas, penemuan tersebut telah menuntun Tiara menuju sebuah mimpi buruk dan peristiwa yang mengerikan.

    Dibaca : 359 kali

    Aku sudah memberitahu kalian berulang kali, tuan-tuan, bahwa aku telah menceritakan perihal yang sejujurnya. Aku sangat yakin; kalian para penyelidik, yang memiliki pemikiran dingin dan rasional, tidak akan pernah bisa mempercayai kesaksianku! Tetapi, bukankah kalian dapat menerka; apakah aku ini sedang berbohong atau mengatakan yang sejujurnya?

    Akan kuulangi lagi; aku benar-benar tidak tahu dengan keadaan adikku sekarang ini! Aku sungguh benar-benar tidak tahu kemana dia pergi! Yang aku tahu hanyalah aku telah dihantui oleh imajinasi liar terkutuk, sekaligus rasa penyesalan yang mendalam atas kehilangan yang menyakitkan. Apa-pun itu, dia adalah bagian dari keluargaku dan aku sangat menyayanginya.

    Tuan-tuan, aku akan kembali menceritakan peristiwa yang telah menimpaku. Aku tidak peduli apakah kalian mempercayainya atau tidak. Tetapi, kesaksian yang akan kuceritakan ini akan tetap sama. Meskipun aku telah bosan mengulang cerita ini; begitu juga dengan kalian yang mendengarnya; tapi aku berani menjamin, bahwa tidak ada bagian yang distorsi atau kututupi, serta tidak ada juga bagian yang kukarang. Semua nyata dan apa adanya!

    ****

    Namaku Tiara. Aku adalah seorang kakak perempuan dari Daffin, satu-satunya adik laki-laki yang kumiliki. Daffin sedang menunggu kenaikan kelas menuju bangku lima SD, sedangkan aku baru saja lulus SMA dan sedang libur transisi untuk membuka lembaran baru kehidupanku di sebuah kampus negeri. Maka dari itu, keluargaku mengisi masa liburan kami dengan mengunjungi sebuah vila pribadi di Puncak.

    Disana, kami mengisi kegiatan seperti pada umumnya; bermain, berkebun, berburu kuliner di Puncak, dan berbagai macam hal lainnya. Hingga pada suatu hari, ketika aku sedang bermain bola dengan Daffin; bola yang ditendangnya mengarah keluar dari area vila kami, sehingga memasuki perkebunan kosong yang terbengkalai. Lantas aku bergegas mengejar bola tersebut dan mengambilnya kembali. Saat itu jugalah, aku menemukan sebuah koin perak di balik semak-semak; penuh dengan tulisan aneh yang sulit dimengerti; tertulis dari gabungan antara bahasa Yunani kuno, Latin, Arab, dan Jawa kuno. Selain itu, terdapat gambar pentagram dengan ukiran yang absurd. Walakin, aku melihatnya tidak lain sebagai harta karun dan benda seni yang unik. Aku tidak tahu mengapa ada koin perak di perkebunan yang terbengkalai, dan dari mana asal koin tersebut. Bahkan, entah apa yang membisiki pikiranku; aku langsung mengantongi koin itu, lalu kembali ke dalam vila sambil membawa balik bola permainan kami.

    Semenjak aku menyimpan koin tersebut; aku mulai sering bermimpi buruk. Aku bermimpi, bahwa aku sedang melihat sekumpulan orang berpakaian serba hitam, dengan wajah yang pucat menyeramkan. Apabila kulihat dari rupanya, mereka terlihat seperti orang-orang Eropa dari zaman kolonial. Mereka semua mengelilingi sebuah api unggun besar di tengah perkebunan terlarang, serta menari seperti boneka manekin yang kaku dan mengerikan. Mereka tertawa dan bersenandung ganjil, sehingga membuatku bergidik ngeri.

    Di tengah-tengah kerumunan tersebut, aku juga mendapati seorang pria; berbadan tinggi; berwajah tirus dan pucat; berambut putih dan sedikit botak; sedang melafalkan sebuah mantra dengan bahasa yang sulit kumengerti. Pria tersebut - kuduga - adalah seorang pemimpin di tempat itu, dan semua orang memanggilnya "Leider". Aku tidak yakin siapa mereka semua, tapi - entah bagaimana - aku merasa yakin bahwa mereka bukan manusia. Mereka seperti para arwah dari masa lalu, yang sedang menanti hal-hal mengerikan.

    Tidak jauh dari Leider berdiri, aku mendapati berbagai macam benda persembahan yang terbuat dari perak dan emas; dimana aku juga melihat ada tumpukan koin perak yang serupa dengan koin yang kutemukan. Selain itu, perihal yang paling mengerikan, aku mendapati beberapa tubuh anak kecil yang digantung terbalik di sebuah tiang gantung yang mengelilingi api unggun besar tersebut, dengan kepala yang sudah dipotong dan membiarkan darah berkucur dari dalam tubuhnya. Aku yang melihat itu hanya bisa tercengang dan menjerit tak keruan, sehingga membuatku melompat keluar dari alam tidurku. Mimpi buruk tersebut terus terulang setiap malamnya, sampai membuatku takut untuk tertidur.

    Hingga pada suatu sore hari, kedua orang tuaku sedang pergi untuk membeli makanan untuk makan malam, sehingga meninggalkanku bersama adikku di dalam vila. Di hari itulah aku mengisi waktuku untuk menemani Daffin bermain sekaligus menjaganya. Jam demi jam telah berlalu, hingga waktu sudah menunjuk pukul sembilan malam; tapi kedua orang tuaku masih belum pulang, karena mereka terjebak macet di jalan. Alhasil, aku hanya bisa menyiapkan mie instan untuk makan malam kami, sekaligus menidurkan Daffin lebih awal. Arkian, aku menunggu kepulangan mereka di ruang tamu vila yang dikelilingi oleh dinding kaca, sehingga aku dapat melihat pemandangan kota Puncak di malam hari. Aku menikmati panorama malam itu, sembari melihat dan meneliti koin perak yang kutemukan di beberapa hari yang lalu. Saat itu jugalah aku merasa ada yang aneh dan tidak benar dengan koin tersebut. Alhasil, aku mulai mengatur rencana untuk mengembalikannya ke tempat asal.

    Walakin, sewaktu aku sedang melihat gambar pentagram di koin itu, seketika aku merasa pusing yang menggelisahkan dan pandanganku seperti terombang ambing di udara, sehingga aku terjatuh ke atas sofa dan terbawa ke alam mimpi buruk; dimana aku kembali bertemu dengan sekumpulan orang pucat yang menyeramkan itu. Tetapi kali mereka sedang melakukan hal mengerikan; dimana aku mendapati mereka yang sedang menyembelih Daffin untuk dijadikan tumbal ritual tidak suci mereka. Kemudian, aku juga melihat Leider yang sedang melontarkan doa aneh dan nyanyian menghujat dengan bahasa asing; lalu dia menampung darah yang keluar dari tubuh Daffin dengan sebuah cawan emas dan meminumnya.

    Aksinya itu disambut oleh semua orang dengan penuh kegirangan terkutuk, sehingga menciptakan sebuah bayangan pedofilia dan nekrofagus mengerikan yang menari di bawah bulan penuh yang pucat. Aku yang melihatnya, hanya bisa menjerit histeris tak terkendali, sehingga menarik perhatian mereka semua. Lantas mereka langsung melihat ke arahku dan melempar tawa menyeramkan; lalu mengejarku dengan membabi buta seperti hantu yang kelaparan. Walhasil, aku terbangun dari tidurku sambil menjerit histeris. Setelah menyadari itu hanyalah mimpi, aku hanya bisa merasakan kelegaan semu dan berganti menjadi rasa kengerian yang mengintai. Kalakian aku bergegas menghubungi kedua orang tuaku dan berharap agar mereka segera tiba di vila.

    Tiba-tiba aku mendengar suara jeritan Daffin dari dalam kamar tidurnya yang terletak di lantai dua. Lantas, aku kembali mengantongi koin perak tersebut dan membawa ponselku; lalu aku segera berlari ke kamar Daffin. Setibanya di sana, aku mendapati Daffin yang sedang berdiri - membelakangiku - menghadap ke jendela kamar yang terbuka lebar. Di situlah aku mendapati sesosok pria yang sedang berdiri di luar jendela - mengambang di udara dan kegelapan malam - serta melihat ke arah kami. Pria itu berwajah pucat menyeramkan dan berpakaian serba hitam. Kemudian dia menyeringai dengan mata yang membelalak tajam. Perihal yang membuatku semakin merinding adalah aku mengenali pria tersebut; dia adalah Leider. Lantas, aku bergegas membawa Daffin pergi untuk bersembunyi di kamar tidurku, yang terletak tidak jauh dari kamar Daffin dan masih di lantai yang sama.

    Namun nahas, aku mendapati tiga orang yang sedang berdiri menghadang kami di lorong - menghalangi jalan menuju kamar tidurku - dengan pose seperti manekin yang merindingkan; lalu menyeringai dan menatap tajam ke arah kami. Sontak aku bergegas membanting arah tujuan dan berlari - sambil membawa Daffin - untuk menjauhi mereka. Seketika, satu-satunya ide yang terlintas di pikiranku adalah bersembunyi di kamar mandi; kalakian menghubungi polisi dan kedua orang tua kami. Lantas, kami berlari menuju kamar mandi yang berada di lantai satu; satu-satunya tempat yang - aku pikir - aman dari mereka.

    Setibanya di lantai satu, aku mendapati sebuah pemandangan yang sangat mencekam; dimana aku melihat orang-orang mengerikan di dalam mimpiku, sedang berdiri mengerumuni dinding kaca ruang tamu vila kami dari luar, sehingga menutupi seluruh pemandangan di luar vila. Mereka semua berdiri mematung dan melempar tatapan tajam yang mengintimidasi ke arah kami.

    Lantas, dengan rasa takut yang sangat menusuk, aku langsung membawa Daffin ke kamar mandi, yang terletak tidak jauh dari dapur dan pintu keluar. Walakin, setibanya di lorong yang mengarah ke kamar mandi dan pintu keluar, aku mendapati Leider yang sedang berdiri menghadang kami. Dia sangat tinggi, selayaknya orang Eropa pada umumnya. Matanya membelalak ke arah kami yang tidak berdaya dan ketakutan.

    Aku langsung memasang badan untuk melindungi Daffin dan melangkah mundur ke arah dapur. Sedangkan Leider mulai melangkah maju, mengikuti kami dengan dingin dan penuh intimidasi. Pergerakannya diiringi oleh suara senandung ganjil dari orang-orang yang berdiri di balik dinding kaca ruang tamu vila; disusul dengan tiga orang yang mulai turun dari lantai dua. Mereka semua menyudutkan kami di dapur, dan menciptakan suasana yang penuh teror. Lantas aku berteriak gemetar kepada mereka;

    "Mau apa kalian?"

    Akan tetapi, mereka semua tidak merespon, kecuali Leider; dia hanya membalasku dengan seringai horor dan mengulurkan tangan kanannya yang pucat ke arah kami. Aku yang melihat itu hanya bisa terdiam seribu bahasa, sembari melindungi Daffin.

    Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menikam perutku. Saat kulihat lebih jelas; aku mendapati Daffin telah menusuk perutku, dengan sebuah pisau dapur, dan melempar ekspresi wajah yang dingin dan kosong. Walhasil, tubuhku langsung roboh. Aku hanya bisa melihat Daffin dengan penuh kesangsian, sembari berusaha mencabut pisau dapur yang tertancap di perutku, dan menahan arus darah yang keluar dari tubuhku. Luka tusuk itu mulai melumpuhkan seluruh tubuhku secara perlahan, sekaligus membuatnya kaku di atas lantai yang dingin. Kemudian Daffin langsung meraba sakuku dan mengambil koin perak tersebut. Dia melakukannya seperti orang yang terkena hipnotis. Entah itu sejak kapan, aku tidak tahu pasti.

    Di dalam keadaan yang sekarat dan sebelum menghilang dari kesadaranku, aku menyaksikan Daffin melangkah ke arah Leider - seperti orang tidur berjalan - dan meraih tangannya. Kemudian semua orang yang ada di tempat itu mulai bertepuk tangan dan tertawa girang mengutuk. Lantas, Leider langsung menuntun Daffin keluar dari vila, diikuti dengan orang-orang lainnya; kemudian mereka semua menghilang di dalam kegelapan yang diselimuti oleh kabut malam.

    ****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.