x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Jumat, 6 Agustus 2021 14:36 WIB

74% Anak Tidak Membaca Buku, Sinyal Pentingnya Akses Bacaan di Era Digital

7 dari 10 anak tidak membaca buku di era digital dan saat pandemi Covid-19. Bukti pentingnya akses bacaan ke anak-anak, siapa yang peduli?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gawai dan gemerlap era digital, sungguh kian menjauhkan anak-anak dari buku bacaan. Apalagi di masa pandemi Covid-19. Selain urusan sekolah, sibuknya anak-anak usia sekolah “tersangkut” di perangkat gawai atau teknologi. Ini bukan soal baik atau buruk. Tapi soal keseimbangan, antara membaca buku dan ber-perangkat gawai.

Seperti anak-anak usia sekolah di kaki Gunung Salak Bogor. Saat ditanya, apakah pernah membaca sebelum ada taman bacaan? Survei membuktikan, 74% anak menjawab tidak pernah membaca buku, 20% ragu-ragu, dan 6% sudah terbiasa membaca buku. Itulah simpulan survei internal TBM Lentera Pustaka Bogor tentang perilaku membaca buku anak usia sekolah di masa Covid-19 pada Agustus 2020 lalu.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Survei ini pun menjadi bukti pentingnya keberadaan dan peran taman bacaan masyarakat. Khususnya dalam menyediakan akses bacaa kepada anak-anak usia sekolah, apalagi di masa pandemi Covid-19. Demi tegaknya tradisi baca dan membiasakan anak-anak lebih dekat dengan buku buku. Taman bacaan, di manapun, terbukti mampu menjadi sarana yang mendekatkan akses bacaan ke anak-anak. Di saat yang sama, minat membaca pun dapat dibentuk. Kini soalnya, siapa yang peduli terhadap taman bacaan dan mau menghidupkannya?

 

Jangankan anak-anak di kota-kota besar. Ikhtiar menghidupkan tradisi baca di anak-anak kampung di tengah gempuran era digital memang tidak mudah. Maka hari ini, pemandangan anak-anak sedang membaca buku pun kian langka. Semoga saja tradisi baca anak tidak punah.

 

“Sebagai taman bacaan, TBM Lentera Pustaka melakukan survei ini sebagai evaluasi. Dan terbukti eksistensi TBM mampu menyediakan akses bacaan anak-anak. Sebelum ada taman bacaan, 7 dari 10 anak ternyata tidak pernah membaca buku. Apalagi di masa pandemi Covid-19. Inilah peran penting taman bacana yang patut jadi perhatian banyak pihak” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang juga kandidat doktor taman bacaan dari Pascasarjana Unpak Bogor.

 

Harus disadari, taman bacaan adalah sarana publik yang dapat menunjang aktivitas belajar dan sekolah anak-anak. Seusai jam belajar di sekolah, anak-anak dapat memanfaatkan waktu dan melakukan aktivitas tambahan di taman bacaan. Selain untuk menambah pengetahuan, taman bacaan pun dapat menjadi “alat peyeimbang” aktivitas gawai anak-anak. Agar tidak terlindas oleh peradaban zaman yang tidak produktif.

 

Alhasil setahun setelah survei, kini TBM Lentera Pustaka telah menjadi tempat membaca buku 168 anak-anak usia sekolah dari sebelumnya hanya 60 anak. Anak-anak yang membaca buku seminggu 3 kali dan berasal dari 3 desa, yaitu Sukaluyu, Tamansari, dan Sukajaya Kec. Tamansari Bogor. Dengan koleksi lebih dari 6.000 buku, setiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu. Berbekal model TBM Edutainment, TBM Lentera Pustaka pun menjadikan kegiatan membaca lebih menyenangkan melalui aktivitas bernnyanyi literasi, senam literasi, doa literasi, dan salam literasi sebelum membaca. Setiap hari Minggu pun digelar laboratorium baca, selalu ada event bulanan dan jajanan kampung gratis setiap bulan. Taman bacaan telah menjadi “tempat nongkrong” anak-anak usia sekolah untuk mewujudkan giat membaca.

 

Selain taman bacaan, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak pun menjalankan program seperti 1) Gerakan BERantas BUta aksaRA (Geberbura) dengan 9 warga belajar, 2) Kelas PRAsekolah (Kepra) dengan 20 anak, 3) YAtim BInaan (Yabi) dengan 16 anak yatim, 4) JOMpo BInaan (Jombi) dengan 8 lansia, 5) Koperasi Lentera dengan 17 anggota, 6) geraan RAjin menaBUng (RABU), 7) DONasi BUKu, dan 8) LITerasi DIGital. Bahkan kini, ada 3 anak difabel yang aktif datang untuk bersosialisasi dan belajar di TBM Lentera Pustaka sebagai wujud taman bacaan ramah anak-anak disabilitas yang inklusif.

 

Apa arti survei taman bacaan ini?

Tentu untuk mengingatkan semua pihak. Akan pentingnya menyediakan akses bacaan anak-anak usia sekolah, apalagi di masa pandemi Covid-19. Agar anak-anak pun tidak hanya gemar bermain, menonton TV atau asyik dengan ponsel. Tapi dapat diimbangi dengan membaca buku di taman bacaan. Hingga mampu mengubak cara berpikir yang lebih produktif dan kontributif. Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler