x

Kak Jana berseragam pramuka di TRW Pramuka Cibubur, Jakarta Timur

Iklan

Untung Widyanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 Agustus 2020

Minggu, 8 Agustus 2021 17:34 WIB

Obituari: Warisan Kak Jana Anggadiredja Bagi Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka berusia 60 tahun pada 14 Agustus 2021. Salah satu tokohnya, Kak Jana Anggadiredja wafat pada 17 Juli 2021. Sosok ini berperan dalam lahirnya Undang-Undang Gerakan Pramuka. Mengapa Kak Jana dua kali gagal terpilih sebagai ketua Kwarnas? Warisan apa saja yang disumbangkan Kak Jana bagi Gerakan Pramuka?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Untung Widyanto, jurnalis lepas, mantan Ketua DKD DKI Jakarta tahun 1990

Malam masih pekat pada Sabtu, 17 Juli 2021. Kak Herlin Komalawati terbangun dari tidurnya sekitar pukul 02.30 WIB. Dia salat tahajud dan membaca  Al Quran di rumahnya di Bekasi. “Ya Allah SWT, jika Engkau lebih sayang pada suamiku, tempatkan dia di Surga-Mu. Aku iklas dan jangan siksa suamiku dengan penyakit ini,” itu doa Kak Herlin untuk suaminya, Prof Dr Jana Tjahjana Anggadiredja MSc. Apt yang sudah 10 hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

Tidak berapa lama kemudian, Kak Herlin menerima telepon dari menantunya yang sedang jaga  di RSPAD. Mengabarkan kalau suaminya wafat pada pukul 03.20 WIB. “Jadi Kak Jana berpulang menunggu keikhlasan saya,” ujar Kak Herlin menahan tangis pada acara Doa Bersama virtual yang digelar Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada Ahad malam, 19 Juli 2021. Kak Jana Anggadiredja adalah Wakil Ketua Kwarnas Bidang Perencanaan dan Pengembangan masa bakti 2018-2023. Pada Kwarnas periode 2008-2013, Kak Jana dipercaya sebagai Wakil Ketua Kwarnas Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Penelitian.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kak Herlin Komalawati juga menceritakan perjuangan suaminya pada acara Peringatan dan Doa Bersama Wafatnya Kak Jana, yang diadakan Kamis malam, 22 Juli 2021.  Acara ini digelar Purna Aktivis dan Dewan Kerja (PADK) seluruh Indonesia. Dia mengucapkan terima kasih kepada Sekjen Kwarnas Kak Bachtiar Utomo yang memfasilitasi perawatan suaminya di RSPAD. Juga untuk andalan dan staf  Kwarnas yang membantu pemakaman Kak Jana Anggadiredja di Al Azhar Memorial Garden Karawang pada Sabtu siang.

Cucu Kak Jana Anggadiredja

Menurut Kak Herlin, jiwa pramuka Kak Jana membantunya ketika ada kesulitan. Anggota pramuka memang menyumbangkan darahnya ketika Kak Jana membutuhkan donor plasma konvalesen dan donor darah.  “Apa yang selama ini digeluti Kak Jana di pramuka, dibawanya sampai akhir hayat,” kata Kak Herlin yang berpacaran dengan Kak Jana ketika sama-sama menjadi pramuka di Kwarda Jawa Barat akhir tahun 1970-an.

Pada acara Doa Bersama tersebut, Ketua Kwarnas Kak Budi Waseso memberi sambutan secara tertulis yang dibacakan Wakil Ketua Kwarnas Bidang Hubungan Luar Negeri, Kak Ahmad Rusdi.  Selain Kak Herlin, Kak Rusdi, Kak Joko Mursitho (Kepala Pusdiklatnas) dan Kak Rachmad Junizar (Andalan Nasional Kwarnas), Kak Paulus Tjakrawan memberi kesaksian persabahabatannya dengan Kak Jana sejak tahun 1977. Pada saat itu, Kak Jana menjadi Ketua Dewan Kerja Pramuka Penegak-Pandega Daerah (DKD) Jawa Barat, sementara Kak Paulus menjadi anggota Dewan Kerja Pramuka Penegak-Pandega Nasional (DKN).

Acara Doa Bersama diikuti sekitar 320 pramuka dari seluruh Indonesia lewat aplikasi Zoom. Satu hari sebelumnya, berlangsung Takziah virtual yang dihadiri ratusan orang dari  pejabat, mantan pejabat dan anak buah Kak Jana di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta komunitas rumput laut.  Kak Jana menjadi pegawai Kementrian Riset dan Teknologi/BPPT sejak tahun 1982, setelah lulus dari Jurusan Farmasi, Universitas Padjajaran, Bandung. Kariernya terus menanjak hingga menjadi Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan SDA pada tahun 2002-2010.  Sejak 2006, Kak Jana menjadi ketua Indonesian Seaweed Society. Setelah itu dia menjadi Tenaga Ahli Pengajar (Tajar) Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas hingga wafat.

 

Revitalisasi dan Undang-Undang Pramuka

Saya mengikuti acara Takziah virtual dan Doa Bersama tersebut, karena almarhum adalah kakak dan senior saya di kepramukaan. Tahun 1990, menjadi awal perjumpaan saya dengan Kak Jana yang saat itu menjadi Banas Menristek Bidang Pengembangan Ristek Lintas Sektoral. Saya datang ke kantor beliau di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta Pusat untuk berkonsultasi dan menyampaikan undangan sebagai pemberi materi Teknik Penelitian pada Latihan Pengembangan Kepemimpinan (LPK). Saat itu saya menjadi Ketua DKD Jakarta.

Selain Kak Jana, pemberi materi lainnya adalah Andalan Daerah, yaitu Kak Paulus Tjakrawan dan Kak Endy Atmasulistya. Kak Jana juga menjabat Andalan Daerah  Urusan Penelitian dan Pengembangan Kwarda DKI Jakarta.

Setelah lulus kuliah di FISIP UI tahun 1991, saya menjadi wartawan majalah Editor. Media ini dibredel rezim Soeharto. Kemudian saya menjadi wartawan majalah Tiras, lalu di majalah Tajuk. Tahun 2000 saya bergabung menjadi wartawan Tempo/Koran Tempo hingga purnabakti pada 2019.  

Pada saat saya menjadi wartawan Tempo di kompartemen ilmu pengetahuan-teknologi dan lingkungan, Kak Jana menjadi salah satu nara sumber kami. Ketika itu Kak Jana menjadi pejabat eselon satu (Deputi Kepala BPPT) dan ahli rumput laut. Saya sering mewawancarai di kantornya di Gedung BPPT, Jalan Thamrin atau meliput acaranya.  

Pada awal 2007, saya ditugaskan Tempo meliput acara Bayer Eco-Minds, pertemuan mahasiswa se Asia Pasifik  di Thailand. Kami menginap di tempat pendidikan lingkungan yang dikelola Universitas Mahidol di Provinsi Kanchanaburi, Thailand Barat.

Ketua DKD Jawa Barat tahun 1978

Saya membuat usulan tertulis kepada Ketua Kwarnas Pramuka Kak Prof Dr Azrul Azwar agar ada tempat untuk pendidikan lingkungan dan energi terbarukan di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur.  Waktu itu saya menjadi Andalan Nasional Kwarnas bidang Humas. Kak Azrul setuju. Kemudian saya menghubungi Kak Jana dan mengajaknya bertemu Kak Azrul di Gedung Kwarnas Gambir. Keduanya kemudian akrab, karena sama-sama profesor dan Kak Azrul adalah mantan pejabat eselon satu, yaitu Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan.

Anak buah Kak Jana membuat maket Rumah Pintar yang bakal dibangun di tepi Danau Situbaru Cibubur. Bangunan tersebut menggunakan solar panel untuk sumber listrik. Lalu bakal dibangun pembangkit listrik tenaga air (pikohidro) dan tenaga bayu (angin). Kak Rachmad Junizar, eksekutif dan sahabat Kak Jana sejak di Dewan Racana Universitas Padjajaran, membantu membuatkan proposal. Kami menawarkan ke sejumlah pihak, namun gagal mendapat sponsor.

Maket Rumah Pintar dan prototipe pembangkit listrik tersebut kami pamerkan pada acara  ASEAN Scout Jamboree 2008. Pada kegiatan perkemahan yang diikuti 1500 anggota pramuka dari Asia Tenggara itu, BPPT memamerkan dan memperagakan sejumlah produk teknologi Indonesia. Berkat bantuan Kak Jana, peserta dari luar negeri dapat mengetahui kemajuan teknologi Indonesia. Pada Musyawarah Nasional (Munas) Pramuka di Jakarta, tahun 2008, Kak Azrul Azwar terpilih kembali sebagai ketua untuk periode kedua (2008-2013). Kak Jana dipercaya menjadi Wakil Ketua Kwarnas Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Penelitian.

Pada awal menjabat, Kak Jana belajar dari Kepala Pusdiklatnas Pramuka Kak Dr Joko Mursitho. Kak Joko menyarankan Kak Jana ikut Kursus Pelatih Dasar (KPD), yang dilanjutkan Kursus Pelatih Lanjutan (KPL). “Beliau ikut kedua kursus tersebut di Kwarda Banten dan Kwarda Jawa Timur, padahal saat itu Kak Jana menjadi pejabat eselon satu di BPPT,” ujar Kak Joko pada acara Doa Bersama Kwarnas, 19 Juli 2021. Untuk mempraktikkan keterampilannya, Kak Jana menjadi pembina pramuka penggalang, pada Gugusdepan  Kota Bekasi  02103, yang berpangkalan di SMPN 12 Kota Bekasi. Selain itu menjadi Pelatih Pembina Pramuka di Pusdiklat Kwarcab Kota Bekasi.

Kak Jana juga tidak sungkan bertanya dan belajar dari staf Kwarnas. Kak Deden Syefrudin, yang kini menjadi Kepala Bidang Kerjasama Luar Negeri Kwarnas, sering diminta pendapat dan saran.  “Beliau mau membuka buku-buku kepramukaan dari luar negeri untuk pengayaan bahan,” kata Deden, mantan anggota DKN. Dia menggambarkan Kak Jana adalah sosok yang jujur, tegas, dan rendah hati.

Kak Jana memanfaatkan jaringannya dengan Purna Aktivis dan Dewan Kerja (PADK) yang ketika itu banyak menjadi pimpinan di kwartir daerah dan kwartir cabang serta Pusdiklatda.  Pada periode kepemimpinannya, Kak Jana berhasil melakukan penyempurnaan program-program pendidikan dan pelatihan. Untuk kurikulum bagi peserta didik, meliputi penyempurnaan Syarat Kecakapan Umum (SKU) untuk Pramuka Siaga, Penggalang dan Penegak. Ini fenomenal karena SKU lama yang dirumuskan tahun 1970-an belum diganti, padahal kita telah memasuki era masyarakat digital.

Lalu ada penyempumaan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) dan Modul Permainan Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega. Untuk kurikulum bagi tenaga pendidik dan anggota dewasa, meliputi Orientasi Kepramukaan, KMD, KML, KPD, KPL, Sistem Pengelolaan dan Pengembangan Anggota Dewasa dan Sistem Pendidikan dan Pelatihan dalam Gerakan Pramuka. Untuk instrumen penelitan, akreditasi dan sertifikasi, meliputi: Panduan Akreditasi Gugusdepan dan Litbang Data Dasar Gerakan Pramuka, Panduan Akreditasi Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat), serta instrumen Sertfikasi Pelatih dan Pembina.

Kak Joko Mursitho masih ingat acara Karang Pamitran Nasional (KPN) yang  dilaksanakan pada 9 – 14 September 2013 di Buperta Cibubur. Penanggung jawab kegiatan adalah Kak Jana yang menjelaskan bahwa KPN sangat berkolerasi dengan program-program Kwarnas dalam merevitalisasikan Gerakan Pramuka. Muaranya adalah revitalisasi gugus depan. Gugus depan yang maju, kata Kak Jana, harus digerakkan oleh para pembina yang ikhlas, maju, dan berkualitas. “Membina keikhlasan para pembina bukan hal yang mudah,” kata Kak Jana ketika itu.

Sejumlah menteri dan kepala staf TNI ikut menjadi pembicara KPN. Selain dana APBN, kegiatan KPN didukung sponsor yang dikoordinir oleh Kak Rachmad Junizar. Usai kegiatan, ada sisa dana Rp 900 juta yang dikembalikan panitia ke Bendahara Kwarnas. “Kak Jana yang memerintahkan.  Dalam sejarah Kwarnas belum pernah terjadi sisa dana kegiatan diserahkan ke organisasi. Ini menunjukkan Kak Jana adalah sosok yang jujur,” kata Kak Joko Mursitho yang rumahnya di Lampung pernah dijadikan tempat penginapan Kak Jana.

Reuni PADK 2016

Pada Hari Pramuka 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Pramuka. "Saya pernah mengucapkan keprihatinan atas mulai berkurangnya minat pelajar dan mahasiswa dalam Gerakan Pramuka. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya mencanangkan revitalisasi Pramuka," kata Presiden SBY yang juga menjabat Ketua Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas) Pramuka.  Presiden mengungkapkan pentingnya Gerakan Pramuka memiliki undang-undang untuk mendukung program revitalisasi tersebut.

Ketua Kwarnas Kak Azrul Azwar membentuk tim yang menyiapkan naskah akademik dan draf undang-undang pramuka. Tim ini diketuai Kak Prof Koesnadi Hardjasoemantri yang kemudian dilanjutkan oleh Kak Prof WP Napitupulu.  Keduanya mantan pimpinan Kwarnas. Kak Jana menjadi penanggung jawab untuk merumuskan materi-materi revitalisasi pendidikan dan pelatihan Gerakan Pramuka dan ditugaskan Kwarnas menjadi anggota Kelompok Kerja (Pokja) UU Gerakan Pramuka.  Saya ditugaskan menjalin komunikasi dengan kawan-kawan jurnalis.  Kak Azrul dan Kak Jana berduet melobi fraksi-fraksi di DPR. Akhirnya DPR dan pemerintah mengesahkan UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Ini prestasi dari Kak Azrul Azwar yang berhasil menjalankan salah satu amanat Munas Pramuka yaitu adanya UU Gerakan Pramuka.

Dalam perjalanannya, hubungan Kak Azrul dan Kak Jana renggang terkait perjanjian build, operate and transfer (BOT) antara Kwarnas dengan anak perusahaan properti Grup Agung Podomoro pada tahun 2013. Dalam perjanjian selama 30 tahun tersebut, lahan Taman Rekreasi Wiladitika dan Pusdiklatnas Cibubur seluas 19 hektare (ha) bakal dijadikan superblok, yaitu   apartemen, pusat belanja, convention center, hotel dan berbagai fasilitas lainnya. Pimpinan Kwarnas beralasan langkah itu dilakukan untuk membuat organisasi lebih mandiri karena bantuan dana APBN sangat kecil, kurang dari Rp 20 miliar per tahun. 

Di jajaran pimpinan Kwarnas, hanya Kak Jana Anggadiredja yang terang-terangan berani menolak perjanjian tersebut. Alasannya: karena prosesnya tertutup, tidak melibatkan kwartir daerah dan majelis pembimbing serta perjanjian itu melebihi masa bakti kepengurusan Kwarnas. Para aktivis yang bergabung dalam Gerakan Peduli Aset Pramuka juga menolak komersialisasi lahan pramuka ini. Karena tentangan dari banyak pihak, perjanjian yang sudah diteken tersebut akhirnya tidak dilanjutkan oleh pengurus Kwarnas berikutnya.  

Pada periode sebelumnya, Kwarnas juga membuat perjanjian serupa dengan anak perusahaan Grup Agung Podomoro lainnya.  Kali ini untuk lahan seluas 33 ha di sekitar Danau Situbaru, Bumi Perkemahan Pramuka (Buperta) Cibubur. Dalam siaran pers 27 Juli 2006, pimpinan Kwarnas menjelaskan kebijakan yang dilakukan hanya membenahi dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan di sekitar danau yang sejak lama telah digunakan sebagai lahan usaha.  Memang, ketika Kak  Himawan Sutanto  menjadi ketua pada masa bakti 1993-1998, Kwarnas bekerja sama dengan perusahaan swasta membangun Stasiun Pom Bensin Terpadu (ada Mc Donald, Pizza dan restoran lainnya) yang sampai saat ini beroperasi. Perjanjian ini sangat merugikan karena minimnya pendapatan yang diperoleh Kwarnas.

Akan tetapi, upaya yang dilakukan pimpinan Kwarnas mendapat tentangan dari Wakil Ketua Kwarnas bidang Humas Kak Parni Hadi. Para aktivis  dan purna dewan kerja yang bergabung dalam Gerakan Peduli Aset Pramuka menyuarakan penolakannya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku ketua Majelis Pembimbing Nasional Pramuka akhirnya meminta Kwarnas membatalkan perjanjian tersebut.  

 

Dua Kali Terjegal di Munas Pramuka

Pandu Sarikat Islam Angkatan Pandu (SIAP) di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menjadi awal perkenalan Kak Jana dengan kepramukaan golongan siaga/pemula pada tahun 1960. Saat itu, dia menjadi pelajar sekolah dasar. Lalu menjadi penggalang hingga penegak di Gudep Sumedang 01, Pangkalan Srimanganti Yayasan Pangeran Sumedang. 

Kak Jana yang lahir di Sumedang, pada 16 Juni 1954 kemudian kuliah di jurusan Farmasi, Universitas Padjajaran, Bandung. Dia bergabung menjadi pramuka pandega di Gudep 205 yang berpangkalan di kampus Unpad.  Dia menjadi Ketua Dewan Racana Padjajaran 1975-1977 dan Ketua DKD Jawa Barat masa bakti 1977-1980, ketika Kak Mashudi menjadi ketua Kwarda Jawa Barat.

Setelah itu Kak Jana menjadi Andalan Daerah Urusan Kegiatan, Kwarda Jawa Barat (1981-1985). Ketika bekerja di kantor Kementrian Riset dan Teknologi, Kak Jana menjabat  sebagai Andalan Daerah urusan Penelitian dan Pengembangan, Kwarda DKI Jakarta (1988-1992). Dilanjutkan menjadi anggota Badan Usaha Dana, Kwarnas periode Kak Rivai Harahap (1999-2003). Setelah itu menjadi Wakil Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Penelitian, Kwarnas periode 2008-2013.

Pada saat menjadi pimpinan Kwarnas, Kak Jana aktif di Gugusdepan Kota Bekasi  02103, yang berpangkalan di SMPN 12 Kota Bekasi. Gudep ini dekat dengan kediamannya di Perumahan Galaxy, Kota Bekasi. Beliau juga ikut KPD dan KPL yang kemudian menjadi pelatih di Pusdiklatcab Kota Bekasi. Jaringan pertemanannya dengan PADK yang menjadi pimpinan di kwartir daerah dan Pusdiklatda membantu tugasnya sebagai wakil ketua Kwarnas. Apalagi Kak Jana termasuk pimpinan yang rajin berkunjung ke daerah.  Banyak diantara mereka akhirnya mendorong Kak Jana menjadi calon ketua Kwarnas pada Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka, 2-5 Desember 2013 di Kupang, Nusa Tenggara.

Mengapa Kak Jana yang dipilih? “Kami ingin yang menjadi ketua Kwarnas adalah pramuka tulen, pramuka sejati, yang pernah menjadi peserta didik sejak siaga, penggalang, penegak hingga pandega. Hanya Kak Jana yang memenuhi syarat itu, apalagi beliau sosok yang memiliki integritas dan punya kemampuan memimpin,” kata Kak Hatta Zainal, Ketua Kwarda Kalimantan Timur yang menjadi salah satu koordinator tim sukses Kak Jana.   

Kak Hatta menjelaskan bahwa Kak Jana berhasil melakukan reformasi pendidikan dan pelatihan selama menjadi wakil ketua Kwarnas. Selain itu, Kak Jana pernah menjadi ketua Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega (DKD), Kwarda Jawa Barat. Kak Hatta sendiri adalah mantan anggota DKD Kalimantan Timur pada 1976-1979, dan bersama Kak Jana dan Kak Paulus mewarnai dunia kepandegaan saat itu. Kak Hatta menjelaskan dewan kerja adalah wadah pembinaan bagi pramuka penegak dan pandega, untuk nantinya menjadi pimpinan kwartir.

Musyawarah Kerja Andalan Pusat dan Daerah (Anpuda) III tahun 1966 di Jakarta memutuskan pembentukan dewan kerja di tiap kwartir.  Ini merupakan wadah pembinaan yang fungsinya mengelola kegiatan penegak dan pandega. Kak Azis Saleh, ketua harian Kwarnas ketika itu, mengatakan, “Dewan kerja ini diniatkan sebagai wadah kaderisasi pimpinan Gerakan Pramuka.” Pernyataan yang sama juga diucapkan oleh ketua Kwarnas Kak Sri Sultan Hamengkubuwono IX. “Mereka melakukan praktik memimpin dan learning by doing,” kata Kak Sultan HB IX seperti yang didengar Kak Paulus Tjakrawan, anggota DKN masa bakti 1971-1974 dan 1974-1978.

Beberapa bulan menjelang pelaksanaan Munas Pramuka di Kupang tahun 2013, Kak Paulus Tjakrawan, Kak Triadi Suparta dan Kak Rachmad Junizar membuat perencanaan strategis bersama Kak Jana Anggadiredja. Saya ikut dilibatkan dalam rapat-rapat malam hari yang berlangsung di kantor Kak Rachmad Junizar di kawasan Cilandak atau di beberapa rumah makan. Mereka mengumpulkan dana pribadi. Uang yang terkumpul itu digunakan untuk membiayai tiket pesawat dan akomodasi pimpinan Kwarda untuk rapat di Jakarta.

Tim Jakarta tersebut kemudian diperkuat kakak-kakak pimpinan Kwarda yang mantan Dewan Kerja. Ada Kak Singgih Setyo Sayogo (mantan Ketua DKD Jawa Tmur), Kak Hatta Zainal (mantan anggota DKD Kalimantan Timur),  dan Kak Revfly Gerungan (mantan pimpinan DKD Sulawesi Utara). Selain itu juga ada PADK seangkatan saya yang menjadi pimpinan Kwarda.   Kak Jana yang saat itu menjadi Tenaga Ahli Pengajar Bidang Sumber Kekayaan Alam, Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat pemerintah.

Selain Kak Jana, ada beberapa sosok lain yang menjadi calon ketua Kwarnas periode 2013-2018. Yaitu Kak Eris Heryanto (Wakil Ketua Kwarnas bidang Abdimas), Kak Nanan Nanan Soekarna (mantan Wakapolri), dan Kak Adhyaksa Dault (mantan Menpora). Tim sukses para calon juga  melakukan penggalangan ke kwarda-kwarda beberapa bulan sebelum pelaksanaan Munas di Kupang. Ketua Kwarnas Kak Azrul Azwar yang hubungannya renggang dengan Kak Jana, mendukung Kak Adhyaksa Dault. Begitu juga sejumlah PADK yang menjadi pimpinan Kwarda.  

Dinamika Munas di Kupang makin panas. Masing-masing tim sukses mengklaim jumlah dukungan Kwarda dan muncul desas-desus pembelian suara. Malam sebelum pemilihan ketua Kwarnas, Kak Jana Anggadiredja meminta saya menemani tidur di kamar hotelnya. Saya menyaksikan Kak Jana agak galau. Kemudian beliau salat malam. Pada saat subuh, kami salat bersama. Kemudian saya kembali ke kamar saya di hotel yang sama.

Pada sidang pleno Munas di pagi hari, setiap calon ketua memaparkan visi dan rencana kerjanya. Kemudian dilakukan pemungutan suara. Kak Adhyaksa memperoleh 17 suara dari total 34 suara yang diperebutkan. Urutan kedua adalah Kak Jana dengan 15 suara, lalu Kak Nanan Soekarna dan Kak Eris, masing-masing memperoleh 1 suara. Suara Kwarnas diberikan untuk Kak Adhyaksa. Kesedihan mewarnai kwarda-kwarda yang mendukung Kak Jana. Kepada saya, Kak Singgih Setyo Sayogo menjelaskan tim Kak Jana tetap “memenangkan pemilihan” karena teguh menggunakan Dasa Darma Pramuka dalam proses pemilihan.

Banyak kegiatan nasional yang berhasil dilakukan Kwarnas selama masa bakti 2013-2018. Namun sosok Ketua Kwarnas Kak Adhyaksa Dault menjadi kontroversi tersendiri bagi organisasi. Ayah Kak Adhyaksa adalah pengacara dan politisi PPP di era Orde Baru. Masa remaja dan mudanya besar di organisasi kampus dan kepemudaan, hingga menjadi Ketua Umum KNPI pada 1999-2002. Kak Adhyaksa adalah tokoh politik  dan pernah menjadi calon anggota DPR dari Fraksi PKS. Setelah tidak menjadi Menteri, Kak Adhyaksa turun ke masyarakat, berupaya maju dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2012 dan 2017. Namun tidak ada partai yang mengusungnya.

Pada Pilpres 2014, Kak Adhyaksa disebut-sebut menjadi kelompok pendukung pasangan calon presiden-wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Pasangan ini didukung 6 partai, yaitu  Gerindra, PKS, PAN, PPP, Partai Bulan Bintang dan Golkar. Pasangan ini kalah oleh Joko Widodo-Jusuf  Kalla, yang didukung PDIP, PKB, Nasdem dan Hanura. Sebagai tokoh politik, Kak Adhyaksa hadir dalam Aksi 411 dan 212, serta Rakornas Persaudaraan Alumni 212 di TRW Pramuka, Cibubur, pada 29 Mei 2018. 

Secara politik, Kak Adhyaksa berseberangan dengan pusat kekuasaan. Relasinya kemudian makin memanas dan berdampak bagi organisasi kepramukaan. Apalagi kemudian tersebar video kehadiran Kak Adhyaksa dalam acara ulang tahun Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Menpora Imam Nahrawi langsung membekukan pencairan dana hibah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 untuk Kwarnas yang besarnya Rp 10 miliar dan dana APBN Rp 24 miliar untuk kegiatan perkemahan Raimuna Nasional. “Tentang statemen Adhyaksa yang saya lihat mendukung khilafah, mendukung HTI, meskipun pernyataannya memang beberapa waktu lalu. Tapi ini kan tidak mungkin kami beri fasilitasi (hibah) begitu saja sebelum ada klarifikasi lebih lanjut," kata Imam Nahrawi, politisi PKB, ketika itu.

Kak Adhyaksa Dault yang merupakan “petarung politik” tidak kalah gertak. Darah politiknya bergejolak.  Dia melawan dan konflik ini jadi pemberitaan di media massa.  Dalam sejarah Gerakan Pramuka, baru kali ini terjadi perseteruan antara ketua Kwarnas dengan anggota Mabinas. Kemudian muncul petisi untuk mencopot Kak Adhyaksa dari jabatannya sebagai ketua Kwarnas. Organ-organ kekuasaan makin gencar membentuk opini terkait radikalisasi di organisasi kepramukaan. Langkah itu terus berlanjut menjelang dan pada saat Munas Pramuka tahun 2018 di Kendari.

Di internal organisasi, Kak Adhyaksa melakukan pergantian tiga pimpinan Kwarnas, padahal mereka adalah tim sukses yang memperjuangkannya dalam Munas Pramuka di Kupang, tahun 2013. Ketiganya kemudian terang-terangan mendukung Kak Jana Anggadiredja dalam Munas Pramuka di Kendari. Mereka jadi bagian dari Gerakan Asal Bukan Adhyaksa Dault.

Memang, selama kepemimpinan Kak Adhyaksa Dault, banyak kwarda yang curhat kepada Kak Jana. Mereka mendorongnya untuk maju kembali sebagai calon ketua Kwarnas periode 2018-2023. Tim sukses sewaktu Munas di Kupang, akhirnya bergerak kembali. Kak Paulus Tjakrawan, Kak Rachmad Junizar dan Kak Jana mengumpulkan kembali uang pribadi untuk operasional tim.

Untuk merekatkan kembali hubungan Kwarnas dengan Mabinas, Kak Jana dan tim pendukung bersilaturahmi dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki. Mereka juga bertemu dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko.  Kak Jana Anggadiredja dan tim sukses menghitung lebih dari 21 Kwarda bakal mendukungnya.

Calon ketua Kwarnas pada Munas Pramuka di Kendari tahun 2018

Kak Adhyaksa menyatakan diri maju kembali untuk masa jabatan kedua. Kwarnas dan tim suksesnya gencar mendekati Kwarda.  Dua bulan menjelang Munas di Kendari, muncul dua calon ketua Kwarnas lainnya yang hanya diusulkan oleh Kwarda Jawa Timur. Malam sebelum sidang pleno pemilihan ketua Kwarnas di Kendari, Kak Jana kembali meminta saya tidur di kamar hotelnya. Di hotel ini, menginap pula Kak Paulus Tjakrawan, Kak Rachmad Junizar dan anggota tim lainnya. Kami galau karena suasananya berbeda dengan Munas di Kupang.

Di Kendari, Sulawesi Tenggara ada kekuatan ekstra yang bermain. Dua wakil ketua Kwarnas yang menjadi panitia Munas Pramuka Kendari, membuat pernyataan terbuka. Mereka menyatakan ada intimidasi ke pimpinan delegasi Kwarda untuk menandatangani surat dukungan terhadap satu calon. Mereka dikuntit di tempat makan, di hotel dan luar hotel. Mereka mendesak cara-cara musyawarah harus dikedepankan karena merupakan ciri khas Gerakan Pramuka. Juru bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto, membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa lembaganya tidak ikut campur dalam pemilihan ketua Kwarnas.

Ketua Kwarda Kalimantan Timur Kak Hatta Zainal mengaku sejak di Samarinda hingga di Kendari terus didekati satu pihak.  Hal yang sama juga dialami Kak Jana Anggadiredja. Ada pensiunan pejabat yang memintanya mundur dalam pencalonan. Namun jiwa Pandu-nya yang dibentuk sejak siaga hingga penegak/pandega dan pembina/pelatih mendorongnya tetap bertahan.  Akan tetapi, kwarda-kwarda yang menjadi pendukungnya makin tertekan selama di Kendari. 

Dalam sidang pleno Munas di Kendari, pada 29 September 2018, Kak Budi Waseso terpilih menjadi ketua Kwarnas periode 2018-2023. Kak Budi memperoleh 19 suara, Kak Adhyaksa Dault mendapat 14 suara. Sedangkan Kak Jana hanya meraih 2 suara. “Pada detik-detik terakhir, Kak Jana meminta kami mengalihkan suara ke Kak Budi Waseso, beliau meminta kami untuk mengaturnya,” kata Kak Hatta Zainal, yang tetap memilih Kak Jana bersama satu Kwarda di Sulawesi.

 

Kado Terakhir dari Kak Jana Anggadiredja

Dalam kepengurusan Kwarnas masa bakti 2018-2023, Kak Jana diminta menjadi Wakil Ketua/Ketua Komisi Perencanaan dan Pengembangan (Komisi Renbang). Kak Jana memanfaatkan relasinya sebagai mantan pejabat eselon satu dan dosen di Lemhanas untuk bertemu dengan sejumlah menteri serta pejabat guna meningkatkan dana hibah APBN untuk Kwarnas.  Kak Jana berupaya agar penganggaran Kwarnas tidak lagi di bawah Kemenpora, namun di bawah Presiden atau Kementrian/lembaga lainnya.

Kak Jana mendampingi Ketua Komisi Satuan Karya (Saka) dan Satuan Komunitas (Sako) Kwarnas bertemu dengan sejumlah pejabat. Sejak tahun 2019, mereka membuat kelompok kerja (Pokja) yang merumuskan revitalisasi Saka, refungsionalisasi Sako dan Gugusdarma. Pejabat di Kemenko PMK dan Kementrian yang mengampu Saka mendukung hasil Pokja yang mengarahkan Saka ke kompetensi untuk memasuki dunia kerja (jobs creation).  Sayang hingga saat ini, Kwarnas belum mengesahkan hasil Pokja tersebut ke dalam petunjuk penyelenggaraan yang baru.

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Nasional merupakan mitra Komisi Renbang. Kak Jana mengusulkan kepada ketua Kwarnas agar Kak Paulus Tjakrawan menjadi kepala Puslitbangnas.  Beliau juga mengusulkan sejumlah PADK dan tokoh yang memiliki pandangan luas dan strategis membantu Kak Paulus.

Pada awal menjabat, Kak Jana membuat Kerangka Kerja Renbang Gerakan Pramuka 2018-2023. Ini merupakan turunan dari Rencana Strategis Kwarnas 2018-2023. Di dalamnya tergambar siklus perencanaan program dan anggaran; kisi-kisi dan kerangka acuan kerja; arah dan target revitalisasi Gerakan Pramuka; arah pengembangan kapasitas kelembagaan Kwartir, arah pengembangan satuan pendidikan dan satuan organisasi, arah pengembangan kemandirian finansial, arah pengembangan materi pendidikan kepramukaan; dan pengembangan program berbasis isu strategis di semua komisi di Kwarnas. “Hidupi dan hidupkan Gudep, perkuat Pusdiklat,” kata Kak Jana. 

Tabur Bunga di TPU Jeruk Purut

Tahun lalu, Komisi Renbang mengeluarkan buku ‘Kerangka Penyusunan Peta Jalan Pramuka Emas Indonesia-100 Tahun Indonesia Merdeka Tahun 1945-2045.’ Di dalamnya ada Roadmap Postur Gerakan Pramuka Tahun 2045 Menyongsong Indonesia Emas. Kak Jana menulis bahwa dokumen ini akan berisi agenda-agenda strategis pembinaan dan pengembangan Gerakan Pramuka yang disinergikan dengan agenda negara dan bangsa menuju 100 tahun Kemerdekaan.

Satu hal penting lainnya yang digodok Kak Jana Anggadiredja adalah perubahan di dalam pemilihan ketua Kwartir, yaitu lewat tim formatur. Tim Formatur  beranggotakan unsur majelis pembimbing, utusan pengurus kwartir yang lama dan utusan kwartir peserta musyawarah. Model ini diterapkan sejak Gerakan Pramuka dibentuk tahun 1961 hingga tahun 1998. Pada masa itu, ketua-ketua Kwarnas adalah tokoh yang mendapat restu dari Presiden Soeharto. Ibu Tien Soeharto, istri presiden, pernah menjadi wakil ketua Kwarnas. Saat itu, bantuan dari pemerintah dan Presiden sangat besar untuk perkembangan Gerakan Pramuka.

Seiring dengan era Reformasi, model pemilihan langsung mulai dilakukan pada Munas Pramuka di Pontianak tahun 2003. Tim sukses masing-masing kandidat bergerak sebelum Munas berlangsung dan terjadi politisasi. Dalam pemungutan suara, terpilih Kak Azrul Azwar, mengalahkan Kak Rivai Harahap (ketua Kwarnas inkumben) dan Kak Haryono Suyono (mantan Menko Kesra). Politisasi dari dalam, luar dan penggunaan kekuasaan politik terus mewarnai Munas sesudahnya. Hal yang sama juga terjadi di Musyawarah Kwarda (Musda) dan Musyawarah Kwarcab (Mucab). Perseteruan diantara tim sukses masih berlangsung pasca musyawarah pramuka. Sejumlah kepala daerah atau istri dan kerabatnya, dipaksakan menjadi ketua kwartir. Seharusnya mereka duduk di Majelis Pembimbing Pramuka (Mabi).

“Model pemilihan ketua Kwartir secara langsung banyak mudaratnya dibandingkan manfaatnya. Pramuka itu organisasi pendidikan, bukan organisasi politik,” kata Kak Hatta Zainal yang pernah mendengar gagasan Kak Jana. Kak Hatta Zainal adalah politisi Partai Golkar dan pernah menjadi anggota DPRD Kalimantan Timur. Menurut Kak Hatta Zainal, model pemilihan langsung membutuhkan biaya dan rawan terjadinya politik uang. Tim sukses kemudian menjadi pimpinan kwartir. “Tak hanya itu, ada kasus mereka meminta insentif bulanan selama menjadi pengurus Kwartir,” ujarnya.

Menurut Kak Hatta, jika model pemilihan ketua Kwartir dilakukan oleh tim formatur maka Presiden, Gubernur dan Bupati/WaliKota memiliki hak memilih dan bertanggungjawab membantu Kwartir melalui dana APBN atau APBD yang signifikan. Selama ini dana APBN dan APBD untuk Kwartir sangat kecil. Tiga tahun terakhir ini, dana APBN untuk Kwarnas sekitar Rp 6 miliar/tahun. Dana APBD untuk Kwarda dan Kwarcab juga sangat kecil. “Warisan Kak Jana itu perlu kita teruskan. Saat kita memperingati HUT Pramuka ke-60 pada 14 Agustus 2021, almarhum adalah salah satu tokohnya,” kata Kak Hatta. Selamat jalan Kak Jana Anggadiredja. Kami selalu mengenang pengabdianmu dan akan meneruskan warisan Kakak.   

 

 

Ikuti tulisan menarik Untung Widyanto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu