Hal yang Perlu Kamu Tahu saat Membuat Ruangan - Urban - www.indonesiana.id
x

Geraldo Indaharto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 September 2021

Jumat, 22 Oktober 2021 17:54 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Hal yang Perlu Kamu Tahu saat Membuat Ruangan


    Dibaca : 672 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saat akan membuat sebuah ruang kita harus menetukan beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang akan muncul yaitu siapa pengguna ruang.

    Siapa berdasarkan pekerjaan

    Saat kita berbicara tentang ruang kerja minimalis, ruang kerja seorang penulis dan seorang pengerajin kayu pasti berbeda. Kebutuhan ruang seorang pengerajin kayu akan lebih luas untuk menampung peralatan untuk mengolah kayunya. Sedangkan, pada seorang penulis yang mungkin hanya butuh meja dan kursi yang nyaman untuk bekerja di depan komputernya.

    Selain ruang kerja, ruang makan seorang yang berkeluarga dan ruang makan seorang yang tinggal seorang diri pasti berbeda. Dapat kita lihat standar ruang harus berdasarkan kebutuhan pengguna itu sendiri. Bahkan ruang sesama penulis pun dapat berbeda hal ini berdasarkan kebiasaan si penulis.

    Dalam membuat ruang kita wajib tahu betul siapa yang akan menggunakan ruang tersebut. Pastikan kita membuat ruangan tersebut sesuai dengan kebutuhan orang yang akan menggunakan ruang tersebut. misalnya seorang eksekutif muda yang memerlukan banyak colokan untuk ia dapat mengecas  gawai-gawainya. Kita harus membuat sumber daya listrik yang dekat dengan meja kerja di ruangannya.

    Siapa berdasar usia

    Selain tentang pekerjaan, usia juga mempengaruhi bagaimana kita mambuat ruangan. Contohnya dalam membuat ruang untuk anak-anak. Banyak hal yang perlu kita perhatikan seperti pemilihan furniture harus tidak memiliki sudut-sudut yang tajam yang berpotensi membuat cidera atau luka pada anak. Selain itu kita harus memperhatikan colokan, jika memungkinkankita dapat memberi safety plug agar menghindari resiko anak kesetrum. Keamanan dalam membuat ruanng untuk anak menjadi salah satu aspek yang harus diutamakan selain kenyamanan.

    Siapa berdasar jenis kelamin

    Bahkan jenis kelamin juga dapat menjadi pertimbangan dalam emmbuat ruangan. Ruang untuk Wanita biasanya memiliki meja rias serta furniture-furnitur maupun dekorasi yang feminim. Sedangkan pria tidak memerlukan meja rias, standing mirror saja mungkin cukup. Masih banyak hal tentang siapa yang akan menggunakan ruang untuk kita ketahui.

    Namun, hal terpenting pastikan ruangan tersebut benar-benar terfokus pada kebutuhan sang pengguna ruangan. Agar penggunaan ruangan efektif dan efisien saat digunakan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.