Lebih dari Sekadar Duta Baca, Gol A Gong Ingin Mengabdi pada Dunia Literasi - Urban - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Sabtu, 30 Oktober 2021 12:23 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Lebih dari Sekadar Duta Baca, Gol A Gong Ingin Mengabdi pada Dunia Literasi

    Kita tahu, minat baca negara kita sangat rendah. Dilansir dari laman Tribunnews, mengenai literasi, Indonesia berada di tingkat ke 62 dari 70 negara. Atau bisa dibilang, 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Itu bersumber dari survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.

    Dibaca : 730 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Tingkat literasi Indonesia pada penelitian di 70 negara itu berada di nomor 62,” ujar Staf ahli Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Suhajar Diantoro, ketika Rapat kordinasi nasional bidang perpustakaan terselenggara pada 2021.

    Terkait hal ini, sebetulnya Indonesia butuh lebih banyak orang seperti Gol A Gung. Dia adalah lelaki asal Purwakarta. Orang tuanya memilih Heri Hendrayana Harris sebagai nama lelaki ini. Lalu dia disebut-sebut sebagai Gol A Gong, sesuai dengan nama pena yang dia sematkan pada karyanya.

    Gol A Gong tidak terlahir cacat, pada 15 Agustus 1963. Tapi ketika umur 11 tahun, dia menantang kawan-kawannya untuk melompat dari pohon di tepi alun-alun kota Serang; siapa yang tertinggi, berhak mejadi pemimpin di antara mereka. Ketika itulah dia celaka; tangan kirinya harus diamputasi.

    Setelah peristiwa naas itu, bapaknya berpesan, “Kamu harus banyak membaca, dan kamu akan menjadi seseorang, dan lupa bahwa dirimu cacat.”

    Meskipun tak punya tangan kiri, tapi jejak prestasinya di dunia literasi sungguh mengesankan. Bahkan Perpustakaan Indonesia menobatkannya sebagai Duta Baca Indonesia dengan masa bakti hingga 2025.

    Sebelumnya pada 2020, KPK memberi penghargaan "Literasi Anti Korupsi" kepada Gol A Gong atas karyanya yang bertajuk "Surat Dari Bapak." Tak tanggung-tanggung, berderet penghargaan lain juga disabet olehnya. Sebut saja, Nugra Jasadarma Pustaloka, Literacy Award, Anugerah Peduli Pendidikan, Tokoh Sastra Indonesia, Anugerah Kebudayaan Indonesia, dan Tokoh Penggerak Literasi. Selain itu, dia juga sempat mengetuai Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Indonesia.

    Bila tinggal di Serang, barangkali Anda tak asing dengan Rumah Dunia, sebuah komunitas yang didirikan oleh Gol A Gong pada 1998. Komunitas ini berada di atas tanah 1000 m2 di belakang rumahnya di Komplek Hegar Alam, Ciloang Serang, Banten. Semula berkonsep taman baca. Lalu berkembang menjadi tempat pelatihan kepenulisan dan pusat belajar literasi.

    Saat di wawancarai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gol A Gong mengatakan, "Saya sebenarnya terinspirasi dari Ali Sadikin yang juga pernah membangun semacam gelanggang remaja di Senen dan Bulungan. Dari situ, saya membayangkan bagaimana kalau ada tempat yang bisa menjadi tempat belajar jurnalistik, sastra dan film, khususnya untuk anak-anak dan remaja. Selama mendirikan Rumah Dunia, saya begitu ingin mewujudkan obsesi saya itu. Itulah yang menjadi tantangan dari diri saya sendiri dan akhirnya bisa tercapai. Saya ingin menjadi prajurit Tuhan yang berjihad di jalan literasi."

    Dilansir dari blog pribadinya (golagong.wordpress.com), Gol A Gong pada 2010 juga membuat gerakan yang dia sebut Gempa Literasi. Dia memaknainya sebagai gempa yang menghancurkan kebodohan dengan kegiatan antara lain:

    1. Orasi literasi,
      2. Pertunjukkan seni
      3. Bedah dan peluncuran buku
      4. Bazaar buku
      5. Hibah buku
      6. Pelatihan
      7. Aneka lomba literasi
      8. Diskusi.

    Gempa literasi tidak hanya berlaku di Bumi Nusantara, tetapi juga Asia. Sebut saja, Gorontalo (2012), Singapura, Malaysia, Mekkah (2012), Jeddah (2012), Qatar, Abu Dhabi (2012), Dubai (2012), Frankfurt (2015), Taiwan (2015), Hongkong (2017) Anyer-Panarukan (2014), Se Jawa (Juli-Agustus 2017), Bangka (April 2018), dan se Sumatra (Juli-Agustus 2018), dan Se-Jawa Timur (Desember 2018), dan terus hingga hayat di kandung badan…

    Hingga hayat di kandung badan, katanya. Artinya, dia berniat sepanjang hidup mengabdi kepada bidang literasi. Semangat dan integritas yang patut diteladani darinya.

    Ikuti tulisan menarik sangpemikir lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: web seo

    Kamis, 11 Agustus 2022 17:33 WIB

    Tip Memanaskan Motor Matic; Jangan Terlalu Lama

    Dibaca : 295 kali





    Oleh: web seo

    Minggu, 7 Agustus 2022 06:24 WIB

    Tip Merawat Sliding Door Mobil agar Tetap Awet

    Dibaca : 410 kali