x

Gambar oleh Defence-Imagery dari Pixabay

Iklan

Adhi Bhaskara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 November 2021

Kamis, 11 November 2021 15:10 WIB

Pemuda yang Dibesarkan Peluru

Seorang pemuda yang diharuskan bertahan hidup di lingkungan peperangan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ia hanyalah seorang anak laki-laki biasa. Anak yang ceria ketika bermain dengan teman-temannya. Menghabiskan waktu di luar usai pulang sekolah, menjelajah desa, atau sekedar bermain pasir di halaman rumah. Tak ada yang menyangka bahwa anak lelaki itu lahir di tempat dan waktu yang salah. Ketika negara kelahirannya berada di ambang perang saudara. Selang beberapa waktu, perang berkecamuk memporak-porandakan segala. Agresi militer untuk menangkap dan menghukum mereka yang dituduh subversif dan makar terhadap negara.

Pukul 03.00 dini hari, saat keheningan melahirkan sebuah trauma. Anak lelaki itu melihat ayahnya lenyap ditangkap serdadu dan ibunya tewas diberondong peluru. Anak lelaki yang tak tahu menahu. Dilihatnya darah ibu masih tercecer segar di sudut pintu. Anak lelaki itu menangis sejadi-jadinya. Dunia kecilnya seketika runtuh tak tersisa. Saat itu, yang ia tahu, mungkin inilah perwujudan neraka. Tatkala manusia saling membinasa sesama.

Tahun-tahun berlalu. Anak lelaki itu kini telah menjadi pemuda. Dihabiskan masa remajanya dengan berbagai senjata. Ia tak punya pilihan lain. Dendam terlanjur sudah mengakar dalam hatinya, mengalir dalam darahnya. Pemuda yang telah kehilangan segalanya itu, dulu luntang-lantung di jalanan kota. Tak dilihatnya ada bom meledak di belakangnya. Ia tersungkur, terjebak dalam parit dan reruntuhan bangunan. Hampir dua hari ia tak melihat cahaya. Kerongkongannya kering dipenuhi debu dan wajahnya berjelaga. Yang ia bayangkan saat itu adalah paras ibunya dan keinginan untuk pergi menyusulnya. Apa lacur, ia malah ditemukan milisi sipil. Mimpi bertemu ibunya pun sirna. Diramutnya anak lelaki itu dan dijadikan seorang pemuda. Seorang pemuda yang dibesarkan peluru.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pemuda itu telah dilatih untuk selalu waspada. Pada siang hari matanya harus awas melihat sekitar. Tiap langkah bisa berujung maut. Langit yang cerah dihiasi pesawat tempur militer dan sekutu. Suara bom menggema dari segala penjuru. Bangunan di kota itu tak semegah dulu. Kini luluh lantah tak berbentuk, dengan beberapa cipratan darah yang tersisa di tembok-tembok, dan serpihan tubuh manusia yang entah milik siapa seakan jadi ornamen pelengkap wajah kota itu. Di satu sudut, ada jeritan seorang ibu paruh baya yang menderu-deru. Sekelompok orang mengantar kepulangan anak lelakinya yang sudah tak bernyawa. Si ibu menangis tersedu-sedu. Dalam hatinya si pemuda berkata, “Mungkin aku juga akan seperti itu. Kembali pulang ke rumah, tapi jadi jenazah. Namun siapa yang akan menyambutku? Aku sudah tak punya ibu”. Saat itu, kehilangan merupakan hal yang biasa. Ribuan nisan tanpa nama berserakan di pinggiran kota. Entah apa keluarga mereka tahu. Inilah wajah peperangan yang sesungguhnya. Senja berganti malam dan si pemuda masih harus waspada. Memasang baik-baik telinga karena serangan rudal bisa menghujani kapan saja. Malam yang gelap dihiasi cahaya-cahaya yang membawa malapetaka. Si pemuda harus tetap terjaga. Entah kapan terakhir kalinya ia bisa tertidur pulas tanpa diliputi perasaan gelisah dan dihantui bayangan kematian.

Warga sipil yang selamat kala itu saling berjibaku. Mereka memilih untuk mengungsi ke negara tetangga. Sebelum mencapai perbatasan, mereka harus mempertaruhkan nyawanya, mengendap-ngendap dari pantauan militer. Apabila tertangkap, mereka akan dikarantina di kamp-kamp militer untuk diinterogasi. Mereka yang memiliki indikasi keterlibatan sekecil apapun dengan milisi sipil akan langsung dihukum. Kebanyakan dari mereka yang tertangkap tak pernah kembali. Perbatasan darat saat itu dijaga dengan sangat ketat. Warga yang akan mengungsi lebih memilih untuk menyeberangi lautan.  Sialnya, kondisi perairan di sana kurang bersahabat. Dengan perahu karet seadanya dan jumlah muatan yang berlebihan, tak jarang mereka yang menyeberangi lautan tak pernah sampai di tujuan. Kebanyakan dari mereka mati tenggelam, jasadnya hanyut terdampar atau hilang. Bahkan untuk keluar menyelamatkan diri dari neraka peperangan ini pun terasa mustahil. Pilihannya mati tenggelam atau gugur dalam medan perang. Mereka yang selamat menyeberangi lautan pun masih harus dihadapkan dengan berbagai problema. Kebanyakan negara tetangga tak serta merta menerima mereka begitu saja. Alih-alih menerima sambutan hangat, mereka malah dikarantina di tenda-tenda pengungsian seadanya dan sangat dilarang untuk keluar dari area yang tersedia. Pengungsi dianggap hanya akan menjadi benalu belaka dan berpotensi merusak ketertiban negara tetangga. Akhirnya pengungsi menjadi warga tanpa negara, kehilangan rumah dan keluarga, hidupnya nelangsa tak dimanusia.

Si pemuda masih berkeliaran di jalanan kota. Sambil berjalan, hati dan pikirannya entah kemana. Dilihatnya rombongan manusia menggiring jenazah-jenazah ke pusara. Pria paruh baya yang berlari sambil menggendong putra putrinya. Rumah-rumah warga hancur berantakan, sisa-sisa debu berterbangan. Gas air mata dilempar ke tengah-tengah kerumunan. Anak kecil berlumuran darah dengan balutan perban di kepala. Anak itu tak menangis, matanya kosong, seperti lampu yang padam. Si pemuda seakan melihat cerminan dirinya. Oh mungkinkah manusia yang mencipta neraka? Neraka yang seakan tak berujung. Mata si pemuda yang dulu tajam dilalap api dendam pun kini telah padam. Ia lelah dan hanya ingin pulang ke rumah. Tangannya tak kuasa lagi menghunus senjata. Mau pulang kemana pun ia tak tahu, rumahnya sudah hilang direnggut orang. Pada akhirnya, mereka yang bertahan lama adalah yang paling menderita, yang paling kehilangan. Entah sudah berapa peradaban manusia yang hancur dan kembali tercipta. Wajah peperangan selalu sama, tak menyisakan apapun selain tragedi dan luka.

Ikuti tulisan menarik Adhi Bhaskara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu