Menjadi Pacar Seorang Model - Fiksi - www.indonesiana.id
x

@perlukuan

calon petani
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Minggu, 14 November 2021 16:32 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Menjadi Pacar Seorang Model

    Karya @perlukuan untuk seorang yang selalu marah ketika aku cemburu. sejujurnya, aku tidak rela, orang yang aku sayang menjadi obyek fantasi laki-laki kebanyakan. aku takut hal itu terjadi padamu, sayang.

    Dibaca : 366 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menjadi Pacar Seorang Model

    Karya : @perlukuan[1]

    Melihat dirinya yang berpenampilan unik, aku merasa terpukau dalam sebuah keindahan yang mendalam, penuh tanda tanya. Pada setiap tanya dan tampilnya, aku turut menemukan ngilu menjejak dengan berbagai luka yang mungkin hanya dirinya yang tahu.

    Aku menikmati rokok dan rintik hujan di luar angkringan. Dia menatap ceret, aku sebenarnya tidak mau tahu apa yang ada dalam permenungannya. Matanya sembab dan tangannya berusaha meraih 2 tusuk sate di depanku. Aku menghormatinya sebagai sesama pengunjung angkringan. Dia menangis di angkringan juga boleh, itu haknya. Tempat ini boleh digunakan untuk menangis siapapun.

    Air matanya mulai menetes dan membasahi pipinya yang mungil. Mengalir perlahan-lahan sebagai lampias atas emosi yang entah apa namanya. Aku ingin sekali menyekanya, tapi siapakah aku. Lelaki kotor yang kesehariannya di sawah, bahkan tak pernah menjumpai perempuan secantik dirinya. Rasanya aku turut sedih, naluri seorang laki-laki ketika ada perempuan menangis tentu ingin membantu. Setidaknya menjadi tempat keluh kesah yang nyaman. Tapi, niat baikku selalu saja aku pupus karena aku minder.

    Perempuan itu tiba-tiba menatapku sambil mengucap lirih, “Kenapa kamu menatap dan melihatku dengan tatapan seperti itu, kamu baru pertama melihat diriku ?”

    Tentu saja aku mengiyakan dengan anggukan. Dengan menghembuskan rokokku, aku mengatakan bahwa aku memang baru melihatnya. Aku terpesona akan kecantikannya. Perasaan kagumku membuat aku ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakannya. Diriku ingin mendengar keluh dan tangisnya. Perempuan itu tersenyum. Mata sayu itu melihat diriku, seolah dia lega dan sambil mengambil tissue, dirinya melanjutkan apa yang menjadi kesedihannya.

                Kami berdua sedikit menepi, berada di pinggir jalan samping angkringan. Aku mendengarkan tangisan panjang dan menyedihkan, aku jadi merasakan kesedihannya. Meskipun aku sendiri tidak mengerti kenapa dia menangis. Apa memangnya yang menjadi masalah dari orang kaya ? cantik lagi. Aku merasakan bahwa dirinya sering menangis dan punya pengalaman tangisan yang sedih. Tentu saja itu hanya dugaanku karena tangisnya begitu sedih. Sedih dan menangisnya seorang perempuan yang khas, meski tangis tidak selalu karena dirinya perempuan. Siapa saja boleh menangis tentunya.

                Aku hanya heran saja. Kenapa orang kaya menangis dan bersedih. Memangnya apa yang kurang dari mereka. Atau karena mereka tidak bersyukur. Bagiku orang ini berbeda, dia menangis karena keadaan membuatnya menangis. Bagiku ini rumit, bahkan sebenarnya menangis tidak terlalu perlu alasan yang jelas. Karena itu, meskipun heran, aku tetap hanya diam menikmati setiap perlakuan dan apa yang dilakukan terhadap diriku. Kalau mau bertanya langsung, tentu tidak sopan. Siapa to aku ini, kok beraninya bertanya.

                “Kamu tidak ingin tahu mengapa aku menangis di angkringan ini?’ ujarnya lirih.

                Aku menggeleng. Perempuan itu memberikan tatapan yang mengambang dan sayu penuh misteri. Bagiku, mungkin dia merasa aku ini aneh karena berbeda dengan berbagai laki-laki  kebanyakan. Banyak laki-laki ingin selalu mengerti kenapa perempuan menangis. Setelah itu, laki-laki akan berusaha menjadi tempat nyaman untuk bercerita hingga nantinya mendapatkan hati perempuan dengan gagah karena janji-janjinya. Aku selalu menghindari simpati seperti itu, hanya bualan manis di awal saja. Ketika bosan yang ditinggalkan.

                “Mas, kamu tidak ingin tahu kenapa aku menangis saat ini ?”

    Aku berusaha menenangkan diri, menghisap rokok dan minum kopi. Mata perempuan itu tidak berani aku tatap. Aku memilih melihat jalan dan berbagai orang yang mulai memadati angkringan. Diamku membuat dia kembali bertanya.

                “Apakah cerita penderitaan perempuan selalu membosankan?”

                Kembali dia mengejutkanku. Dagunya jatuh di pundakku. Baru pertama kali aku merasakan ada dagu yang mendarat di pundakku. Aku merasa sulit sekali menjawab. Hatiku kacau. Aku selalu gagal ketika hendak menyusun kata untuk menjawab pertanyaan perempuan ini. Ku hisap rokok, aku berusaha menjawab dengan tidak menatapnya.

                “Aku selalu memiliki minat pada kisah perempuan, entah sedih atau senang. Namun, aku hanya pemuda desa yang tidak bisa memaksa perempuan seperti Anda untuk menceritakan kepada saya. Terlebih, kita baru saja berkenalan di tempat ini dan hanya bertemu lewat media sosial.”

                “Apakah aku boleh bercerita ? di angkringan yang sederhana ini tanpa kamu merasa takut atau merasa bersalah karena ceritaku yang mungkin mengejutkan ?”

                “Bagiku, aku lebih nyaman untuk mendengar dan melihat tangismu dengan hisapan rokokku.”

                “Kenapa ? Kamu merasa ada hiburan gratis ketika aku menangis ya ?”

                “Tidak. Aku tidak seperti itu. Tolong dengarkan aku.”

                “Lalu, mengapa kamu merasa nyaman ? Bukankah setiap perempuan juga menangis ?”

                “Tangisanmu terasa teduh dan nyaman. Kamu terlihat jujur ketika menangis.”

    Perempuan itu mengalihkan pandangannya. Aku tidak mengerti kenapa ada perempuan kaya dan cantik yang memilih tempat sederhana seperti angkringan ini untuk menangis. Aku takut, apa yang aku sampaikan tadi menyakiti hatinya.

                “Aku lelah dengan semua kepura-puraan ini. Aku kelelahan dengan apa yang terjadi dalam kehidupanku.”

                Dia bercerita tentang kehidupannya. Pertama, soal kelurganya yang identik dengan kekerasan, bahkan ketika anak-anak sudah sering dipukul oleh bapaknya. Kedua, tangis soal kepergian ibunya ketika mulai bertumbuh dewasa dan dirinya harus hidup dengan banyak penderitaan. Ketiga, ada banyak tangis ketika dirinya masuk dunia model yang ternyata begitu keras. Dunia model yang membuat dirinya menjadi penuh kepura-puraan, bahkan kebencian. Tangis keempat ketika dirinya mengenal laki-laki yang mencintainya, tapi hanya karena dirinya menjadi seorang model. Tangisan kesedihan kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, tangis ke seratus dan berbagai kesedihan yang dia sudah tidak ingat lagi jumlahnya.

                “Aku sangat ini mengakhiri kesedihan dengan hidup bersama denganmu, malam demi malam di angkringan juga tidak masalah.”

                Aku ketakutan. Detak jantungku menjadi lebih cepat disertai keringat dingin di tubuhku. Aku tak bisa berkata-kata. Hisapan rokok terakhir aku lakukan. Aku berusaha menjawab dengan terbata-bata.

                “Kenapa harus bersama denganku ? Aku hanya pemuda desa, dirimu adalah model yang cantik dan terkenal. Kamu memiliki banyak opsi.”

                “Kamu berbeda dengan kebanyakan lelaki. Mereka ingin denganku dengan berbagai alasan yang mungkin suatu saat akan hilang dariku. Karena aku cantik, aku model. Mereka tidak pernah menaruh cemburu terhadapku.”

                Aku merasa tersanjung oleh perkataannya. Aku tidak tahu kebenaran yang disampaikannya, tapi aku hanya pemuda desa. Sudah itu saja, tidak layak berharap banyak pada model secantik dirinya.

                “Jujur, tatapanmu tulus padaku. Bahkan melebihi ketulusan pacarku sendiri. Bagiku, pacarku malah seperti menjual diriku. Menjajakannya pada kawan-kawannya. Untuk keuntungannya sendiri, tanpa aku melihat apa yang menjadi kerja kerasku.”

                Aku hanya diam. Meneguk kopi pahit yang kupesan berjam-jam yang lalu. Aku terdiam dalam rasa bingung dan heran. Ada apa dengan perempuan ini.

    ***

                Menuju rumah yang entah dimana alamatnya, aku mengantar perempuan ini pulang. Pulang ke tempat yang dia sendiri ragu kalau disebut rumah. Samba dijalan, dirinya berkata padaku.

                “Menjadi pacar seorang model itu harus sabar dan professional. Model itu dunia yang keras dan hanya mementingkan untung rugi saja. Aku menjalaninya karena tidak ada pilihan, bahkan karena kecewa dengan hidupku yang habis karena kekerasan.”

                “Aku tidak mampu menjadi pacar seorang model.”

                “Kenapa begitu, bukankah itu membanggakan dirimu sebagai laki-laki. Memiliki pacar yang cantik dan disukai oleh banyak orang.”

                “Aku seorang laki-laki. Aku tahu bagaimana laki-laki ketika berfantasi. Perempuan cantik bisa menjadi obyek bayangannya ketika onani. Perempuan cantik bisa saja menjadi bahan bahasan berbagai bagian tubuhnya yang molek bagi lelaki. Aku tidak mau saja, orang yang aku sayang menjadi apa yang diobyekkan mereka. Aku tidak rela.”

                “Menjadi pacar seorang model.”

    Aneh, kenapa bisa sejauh ini aku mencintainya. Kenapa aku bisa menjadi pacar seorang model. Aku selalu takut ketia dirinya berpamitan untuk berfoto. Aku takut ada banyak hal buruk yang akan terjadi padanya. Setidaknya, aku melihat sedikit ketenangan padanya ketika aku berkata kalau aku tidak setuju ketika dirinya menjadi model. Ia telah menyeka kesedihan dan kepura-puraan dalam dirinya, dengan dan tanpa aku.

     

    Untuk Jossephine Daniella Iki

     

    Suara Perlukuan, 12 November 2021

     

    [1] Yudha Adi Putra

    Ikuti tulisan menarik @perlukuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.