Inspirasi Ai Nurhidayat Tak Lelah Sampaikan Pentingnya Toleransi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Minggu, 14 November 2021 16:36 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Inspirasi Ai Nurhidayat Tak Lelah Sampaikan Pentingnya Toleransi

    Tanggal 16 November selalu diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional. Hari tersebut dideklarasikan oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dalam konferensi UN General Assembly di Paris, Prancis pada 1996 lalu. Pembentukan Hari Toleransi Internasional didasari atas permasalahan yang terjadi pada manusia, mulai dari ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan marjinalisasi.

    Dibaca : 168 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari Toleransi Internasional juga diciptakan untuk membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya toleransi. Hari spesial itu diharapkan dapat membuat masyarakat menghargai budaya, kepercayaan, dan tradisi lain dan memahami risiko dari intoleransi. Hari Toleransi Internasional juga menandai ulang tahun Mahatma Gandhi yang dihadiahi penghargaan oleh UNESCO dalam mempromosikan toleransi dan tindakan non-kekerasan.

    PBB dalam laman resminya menambahkan bahwa pentingnya deklarasi Hari Toleransi Internasional agar toleransi tidak hanya sebagai tindakan moral saja, melainkan juga kebutuhan politik dan legal bagi suatu individu, grup, ataupun negara. Mereka juga menekankan bahwa suatu negara harus memiliki legislasi baru yang memastikan perlakuan dan kesempatan yang setara untuk semua kelompok dan individu di masyarakat.

    PBB menambahkan bahwa pendidikan untuk toleransi pun dibutuhkan. Pendidikan tersebut ditujukan untuk mengatasi berbagai ketakutan dan pengecualian pada individu atau kelompok. Sehingga anak-anak muda bisa mempunyai kemampuan dalam penilaian yang mandiri, berpikir kritis, dan alasan yang etis dalam menghadapi suatu masalah. Apalagi mengingat di seluruh dunia ada berbagai macam agama, bahasa, budaya, dan etnis yang sebenarnya bisa memperkaya dunia.

    Indonesia menjadi salah satu negara dengan keberagaman agama, bahasa, budaya, dan etnis, bahkan tingkat keanekaragamannya sangatlah kompleks hingga masyarakat Indonesia disebut sebagai masyarakat multikulturalisme. Dilansir dari laman Binus, multikultural sendiri memiliki makna yang sangat luas dan membutuhkan pemahaman yang mendalam untuk mengerti apa itu masyarakat multikultural.

    Masyarakat multikultural secara sederhana adalah sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan dengan satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.

    Multikulturalisme di Indonesia tercipta akibat kondisi sosio-kultural ataupun geografis yang begitu beragam dan luas. Mengingat dalam urusan hal geografis, Indonesia memiliki banyak pulau di mana setiap pulau dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat itulah kemudian terbentuk sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri sehingga tidak heran kalau Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan.

    Faktor lainnya dipengaruhi oleh sejarah, di mana Indonesia sebagai negeri yang kaya dan subur menjadi incaran bangsa lain. Sejak tahun 1600-an, Indonesia dikunjungi oleh bangsa-bangsa lain seperti Portugis, Belanda, Inggris, China, India, dan Arab. Mereka tinggal dan menetap dalam jangka waktu lama, menjalin hubungan kerjasama, melakukan perdagangan, politik, hingga pernikahan. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki struktur ras dan budaya yang semakin beragam.

    Intoleransi di masyarakat


    Sayangnya, dengan kondisi bangsa yang memiliki ribuan adat-istiadat yang menyebar dari ujung Barat hingga ke ujung Timur, banyak konflik yang mengancam kesatuan Indonesia. Konflik yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh sosial dan ekonomi, melainkan budaya. Sehingga tidak jarang, multikulturalisme dijadikan alasan untuk saling membenci satu sama lain.

    Diperkirakan ini terjadi karena masih adanya dominasi suatu kelompok atas kelompok lainnya, di mana Indonesia terdapat suku dan agama mayoritas dan minoritas. Dengan jumlah kelompok mayoritas yang banyak, mereka memiliki kuasa untuk mengontrol struktur sosial yang ada sehingga lebih menguntungkan pihak yang mendominasi. Akibatnya, tidak jarang kelompok minoritas tersingkirkan, menjadi korban yang bahkan tidak jarang berujung mendapatkan tindak kekerasan.

    Dengan situasi seperti ini, mau tidak mau perlu diterapkan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural merupakan suatu keharusan dan bukan lagi menjadi pilihan. Hal ini bertujuan untuk mengelola keanekaragaman dan segala potensi positif dan negatif yang dilakukan sehingga perbedaan bukanlah suatu ancaman atau masalah. Perbedaan menjadi sumber positif untuk perkembangan dan kebaikan bersama.

    Salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Pendidikan bisa dilakukan untuk menumbuhkan semangat persatuan di balik keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. Pendidikan multikultural sendiri bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat dengan sejumlah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam lingkungan budaya etnik, budaya nasional, ataupun antar budaya etnik lainnya. Sebab, Indonesia sendiri merupakan negara multikultural yang dihuni oleh lebih dari ratusan suku bangsa.

     

    Sosok di balik kelas multikultural

    Kemudian hadirlah Ai Nurhidayat, sosok pemuda asal Pangandaran Jawa Barat. Awalnya, ia mendirikan komunitas literasi di kampung halamannya itu yakni Komunitas Belajar Sabalad. Di komunitas itu, mereka berkumpul dan mengobrol santai sambil berdiskusi. Dilansir dari Yoursay, diskusi tersebut menghasilkan sebuah motto 'Mencari ilmu selama-lamanya, mencari kawan sebanyak-banyaknya'.

    Ai rutin mengadakan program literasi di komunitasnya. Tidak hanya itu saja, lulusan Universitas Paramadina ini juga kerap mengajak anggota komunitasnya untuk melakukan sejumlah kegiatan produktif lain. Seperti berkebun, beternak, memproduksi pupuk kandang, pakan domba, sampai madu murni. Di 2012, Ai mendirikan sebuah sekolah bernama SMK Bakti Karya Parigi. Saat pertama kali baru dibuka, sekolah ini memiliki sedikit murid sampai hampir bangkrut. Ai pun memutar otak dan berdiskusi dengan anggota komunitasnya. Mereka kemudian mendapatkan ide bagaimana bisa memperoleh murid baru.

    Ia memutuskan Komunitas Sabalad menjadi bagian dari SMK-nya, dengan begitu muridnya pun bertambah jumlahnya. Tinggal di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Pangandaran, Ai perlahan mulai merasakan dan melihat langsung budaya etnosentrisme yang terjadi di masyarakat sekitar. Ia menyadari bahwa masih banyak orang yang saling berselisih pendapat, mencaci maki, hingga bertengkar akibat perbedaan.

    Dari sana muncullah sebuah gagasan untuk mendatangkan murid dari luar daerah agar bisa memberikan pemahaman pada masyarakat tentang perbedaan. Awalnya, masyarakat tidak setuju adanya murid dari luar daerah, apalagi mereka yang memeluk agama yang berbeda dengan mayoritas. Ai merasa hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan masyarakat soal multikultural dan toleransi.

    Tantangan pun mulai bermunculan ketika kelas multikultural didirikan. Ada berbagai tuduhan ditujukan pada Ai di SMK Bakti Karya Parigi, mulai dari isu adanya pembangunan gereja sampai pindah agama. Ai bahkan sempat disidang oleh jajaran pemerintah, Kementerian Agama, MUI dan tokoh masyarakat di Kantor Bupati Pangandaran. Ia disidang dengan isu intoleran.

    Ai menjelaskan hal yang terjadi sebenarnya, namun ia diminta untuk tidak menambah murid dari luar daerah, khususnya mereka yang non-muslim. Tidak berjuang sendirian, Ai mendapatkan belaan dari kepala desa yang mengatakan bahwa semua tuduhan tersebut tidak benar. Merasa ada yang mendukungnya, ia tidak pantang mundur. Ia terus mendatangkan siswa baru dari luar daerah sampai isu tersebut kembali muncul.

    Berkali-kali ia menjelaskan tujuan pendirian kelas multikultural ini sampai akhirnya pihak pemerintah kemudian memberikan dukungan. Atas perjuangannya, SMK Bakti Karya Parigi pun memiliki kelas multikultural. Ai dengan bangga bisa membawa murid-muridnya dari pelosok daerah untuk bersekolah di tempatnya sambil mengajarkan mengenai pentingnya toleransi.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.