Penagih Hutang

Sabtu, 20 November 2021 08:52 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Debt collector, itulah pekerjaanku. Karena ijazahku hanya SMP, jelas sulit mencari pekerjaan yang mentereng, seperti karyawan toko atau buruh pabrik seperti kebanyakan orang di desaku. Karena bosan lontang lantung tidak jelas dan hidup di desa, maka aku pun memutuskan pindah ke kota, dengan kata lain aku merantau, tetapi merantau tanpa pengalaman dan ketampilan apapun, kecuali badan yang kekar dan tato di lenganku yang selalu kusembuyikan di bawah jaket atau baju lengan panjang.

Pada awalnya di kota aku ditampung oleh Pak Dhe, tetanggaku di kampung yang merantau di kota. Namanya bukan Pak Dhe sebenarnya, tapi Warsito, tetapi semenjak masih di desa semua orang memanggilnya Pak Dhe. Ya sudah, akupun turut memanggilnya Pak Dhe. Di sebuah rumah kecil berwarna biru di gang Mawar. Pak Dhe bekerja jualan pakaian di pasar bersama istrinya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Heri, pokoknya kamu ditinggal di sini saja sampai mendapat pekerjaan dan tempat tinggal yang layak” begitu dulu kata Pak Dhe ketika aku datang.

Setelah sekian mingggu aku di rumah Pak Dhe, pekerjaan yang kuharapkan belum juga dapat. Aku malu karena aku menjadi parasit di rumah Pak Dhe. Kalau malam tanpa sepengetahuan Pak Dhe akupun sering keluar keluyuran tanpa arah yang jelas.

Dan ituah awal perkenalanku dengan preman pertama kali. Orang-orang menghabiskan malam sambil ngobrol di keremangan warung hingga larut malam, dengan alunan musik jedag-jedug, dan tentu saja di temani minuman penghangat badan dan perusak pikiran.

Dilihat sepintas tubuh mereka jauh lebih kecil dariku, tetapi kuat sekali mereka minum, dan tatonyapun jauh lebih banyak dariku. Dan dari merekalah aku akhirnya mendapatkan pekerjaan yang hanya mengandalkan otot, tanpa sepengatahuan Pak Dhe tentunya.

Ternyata pekerjaan ini sangat mudah sekali, hanya modal tampang seram dan pintar bentak-bentak orang sampai takut, maka pekerjaan beres, dan bayarannya juga gedhe. Semenjak aku kerja, aku tidak tinggal lagi bersama Pak Dhe. Aku mengatakan kepada Pak Dhe bahwa tempat kerjaku jauh sehingga lebih baik kos saja dekat tempat kerja.

Sambil minum bir, terkadang aku menangis memikirkan nasib orang yang kutagih. Tak jarang bogem mentah pun melayang, agar pekerjaanku cepat selesai dan berhasil membawa sejumlah uang. Meski sebenarnya aku juga tidak tega, tapi bagaimana lagi, tugas gagal, maka tidak dibayar, dan tidak bisa makan.

 

Pagi itu, aku sebenarnya malas berangkat “narik” uang ke para penghutang. Bos kami, seorang pemilik perusahaan pinjol fintech yang berdarah dingin memaksa Franky, temanku berangkat karena anak-anak yang lain lagi pada libur, dan Franky pun mengajakku untuk menemaninya “narik”. Franky pun berangkat bersamaku dengan modal secarik kertas berisi alamat. Jika sampai centeng seperti kami datang ke lokasi nasabah, biasanya karena teror via SMS atau WA belum berhasil, mungkin karena nomornya diblok, seperti kebanyakan nasabah kami yang sudah stress karena belum bisa melunasi bunga utang di pinjol kami.

 

Aku khawatir, apa yang harus kulakukan. Ternyata Franky membawaku ke sebuah rumah kecil berwarna biru di gang mawar, persis dimana aku dulu pernah menumpang. badanku bergetar, aku bingung. Begitu pintu dibuka oleh pemilik rumah, aku langsung lari, lari sekencang mungkin. Terdengar suara-suara orang yang kukenal yang memanggilku di belakang. Entah tidak tahu kemana aku berlari, tapi aku harus berlari sampai tidak terdengar suara-suara itu lagi.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Munir

Misbakhul

0 Pengikut

img-content

Penagih Hutang

Sabtu, 20 November 2021 08:52 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua