x

Ketika pemenang mendekati titik tertinggi mendapatkan cahaya baru.

Iklan

Englandiva Akyla Maulita Hartono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Sabtu, 20 November 2021 08:54 WIB

Ambisi Sebelum Aku

Zidan adalah seorang pekerja keras dan sangat aktif dalam mengikuti lomba bersama dukungan dari kedua sahabatnya, yaitu Rifky dan Alena. Namun, apa yang terjadi jika kamu berakhir lupa dengan seisi dunia, bahkan dirimu sendiri?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

“Baik, teman-teman. Saya akan mengumumkan siapa pemenang lomba kompetisi PKM-AI kali ini. Juara ketiga adalah Tim Ari! Selamat kepada Tim Ari, kalian sudah berhasil menempatkan posisi ketiga!”

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Oke, tidak ketinggalan untuk juara kedua, kita langsung saja sebut namanya, yaitu Tim Laila! Selamat kepada Tim Laila yang sudah berhasil menempati juara kedua. Mari langsung pindah pengumuman juara!”

 

“Oke. Sebelumnya, buat teman-teman yang belum berkesempatan untuk menang, ini bukan perjalanan akhir dari segalanya. Mari kita sambut juara pertama, yaitu Tim Alan! Selamat kepada Tim Alan yang berhasil menempati juara pertama! Demikian pengumuman pemenang yang telah kami sampaikan, sekian dan terima kasih!”

 

Karena mimpi buruk yang mengintainya, Zidan terjatuh dari kasur diikuti dengan iringan lagu alarm dan suara kencangnya yang khas menandakan bahwa hari ini Zidan kuliah dan persiapan menuju hari lomba. Zidan adalah seseorang yang tekun, bekerja keras, adaptif, dan mampu bekerja di bawah tekanan. Zidan selalu dikenal oleh kalangan kuliah dengan sebutan “Si Ambisius” karena keaktifannya dalam akademik dan organisasi yang membuat dia jadi primadona angkatan serta perkumpulan dosen. Akan tetapi, Zidan memiliki sisi gelapnya yang pernah tidak diketahui oleh sekian orang, yaitu mental breakdown dan pesimis yang tinggi. Namun, Zidan tidak pernah menunjukkannya kepada orang-orang terdekatnya karena ia tahu bahwa akan menimbulkan kekhawatiran. Karena selalu ia pendam, tidak dipungkiri bahwa ia selalu jatuh sakit. Beginilah kisah Zidan dengan dinamika hidupnya yang selalu bergelombang. 

 

“Heh, Zidan. Hari ini lo ada kesibukan enggak? Gue mau ngajak lo pergi nongkrong, nih! Udah lama banget.” kata teman dekat sekaligus kosannya, yaitu Rifky.

 

“Hmmm.. Enggak tau sih, emang lo mau ngajak gue kemana?” dengan santainya

 

“Gue mau ngajak lo ke restoran barbeque Korea sih. Nanti kita kesana bareng sama Alena. Emang lo enggak kangen nongkrong sama kita, apa?” Rifky memukul pundak Zidan dengan pelan.

 

Mendengar ajakan dari Rifky, ia sadar bahwa tugas akademik dan organisasinya menumpuk, tetapi Zidan tidak bisa pula menolak tawaran Rifky. Lalu, Zidan mengatakan, “Boleh saja, tapi jangan malem-malem, ya? Soalnya gue ngejar lomba PKM-AI lagi sama tim gue, nih” kemudian Rifky tersentak dan langsung mendekati Zidan, “Lo apalagi sih yang dikejar? Lo udah banyak ngerjain sesuatu dan lo masih mau ngejar lomba? Zidan, pikirin dulu atuh kesehatan mental dan fisik lo.” Namun, Zidan hanya berjalan menuju ke dapur dan tidak menanggapi omongan Rifky, kemudian Rifky memasang muka cemberut karena sudah mengetahui sifat Zidan bahwa ia tidak akan diam dan terpengaruh omongan orang begitu saja. 

 

Tak lama kemudian, Zidan dan Rifky selesai berkemas-kemas dan pergi menuju universitas dengan motor Rifky. Ketika Zidan dan Rifky sudah sampai, Zidan langsung berburu-buru melepas helm dan bergegas berkumpul bersama teman-teman tim PKM-AInya. “Daridulu ini anak enggak pernah berubah-berubah, ya.” dalam hati Rifky. Selesai menempati motornya, Rifky bertemu dengan Alena di setengah jalan menuju universitas. Alena merupakan teman dekat Zidan dan Rifky sejak awal kuliah. Alena bingung dan mencoba melihat arah kanan kiri dan ia bertanya kepada Rifky, 

 

“Lho? Zidan dimana, Ky? Hadeh. Pasti dia ninggalin lo lagi ya karena ngumpul sama temen-temen PKM-AInya. Yang sabar ya,” Alena tertawa kecil mencemooh Rifky.

 

“Iya, Ale. Masalahnya dia lusa lomba, sih. Kayaknya, dia juga enggak ikut makan bareng kita, deh.” Kata Rifky dengan suara letih. Alena kemudian menarik tangan Rifky dan menyemangatinya, “Tidak apa-apa, sebagai teman dekatnya kita harus selalu dukung apapun yang dia jalankan!”, Rifky mengangguk dan sadar bahwa Zidan melakukan hal tersebut karena ada ingin meneruskan alm. Bapaknya. Setelah berjam-jam kemudian, kuliah telah selesai lalu Rifky dan Alena pergi menuju koridor parkir. Namun, tertiba-tiba mereka bertemu dengan Zidan.

 

“Hey, Zidan! Lo kok tiba-tiba disini, mau kemana?” kata Alena

 

“Lho, kan kalian ngajak gue nongkrong. Gimana, sih?” Zidan menggaruk kepalanya karena bingung, Rifky dan Alena tercengang saling menengok dan berhadapan kembali ke Zidan

 

“AKHIRNYA! Yaudah yuk, langsung saja kita kesana, gimana? Biar lo juga enggak kemaleman ngejar lombanya.” Rifky dengan intonasi suara riangnya. Rifky dan Alena langsung menyalakan mesin motornya dan bergegas menuju ke restoran yang sudah lama mereka incar. Ketika mereka sudah sampai, ternyata masih banyak tempat duduk kosong sehingga mereka bisa duduk bertiga di meja yang sama. Alhasil, mereka sudah memesan dan makanannya sudah sampai lalu Rifky bertanya kepada Zidan

 

“Zidan, lusa kan lo lomba ya. Gimana? Lo udah siapin semuanya belom?”

 

“Udah kok, Ky. Gue tinggal beberapa aja yang harus diselesaikan walaupun agak hectic juga, sih.” Rifky dan Alena berbarengan kaget mendengar Zidan mengatakan “hectic” dan itu menjadi omongan yang langka darinya.

 

“Hmm. Kayaknya, lo perlu istirahat enggak sih? Gue lihat-lihat bagus potensi lo selama ini untuk time management antara kuliah dan non-kuliah. Tapi, apa lo enggak capek juga kegiatan lo repetitif?” kata Alena dengan santai.

 

“Bener, tuh, Zidan. Jujur, gue selama ini sama Alena hampir setiap hari selalu mikirin kondisi lo soalnya gue mikir segila itu sih kegiatan lo. Setelah ini, lo coba istirahat dari kegiatan ini ya, Zidan.” kata Rifky sembari menyantap makanan.

 

“Enggak kok! Gue sama sekali enggak capek buat jalanin kegiatan gue yang repetitif. Emang gue aja kali yang candu, ya. Hehehe” Zidan menyeringai. Ia terlihat menolak halus pernyataan mereka karena Zidan tahu bahwa ia salah menggunakan diksi di omongan sebelumnya.

 

“Hah? Lo bilang lo enggak capek sama kegiatan lo yang repetitif? Terus, tadi kenapa lo hectic? Jangan bohongin perasaan lo terus, deh, Zidan. Gue enggak suka.” kata Rifky yang mulai kesal dengan pernyataan Zidan

“Enggak kok. Ngapain capek, emang konsekuensinya begitu kan? Masa gue harus menolak sih kesempatan emas yang mereka berikan ke gue. Enggak mungkin, dong!” Tertiba-tiba ada pemberitahuan yang muncul di handphone-nya, sebuah isi pesan dari salah satu rekannya untuk menemuinya segera karena lombanya dimajukan menjadi besok. Zidan berdiri terkejut dan langsung mengemas barang-barangnya dan berkata, “Guys, kayaknya gue enggak bisa sampai selesai kita makan, deh. Tiba-tiba ada pemberitahuan mendadak lomba gue dimajuin jadi besok. Sorry, ya, Rifky dan Alena.” Zidan langsung memberikan duitnya kepada Alena dan pergi begitu saja. Rifky dan Alena merasakan betapa sedihnya mereka kepada Zidan yang selalu mementingkan pekerjaan tanpa mendengar curahan hati dari kedua teman dekatnya. Rifky dan Alena hanya bisa diam sembari makan dan pulang dengan rasa kesal. Malam itulah menjadi momen yang tak sesuai ekspektasi. 

 

Esok paginya, Rifky mendengar suara semacam orang sedang terburu-buru serta menimbulkan suara yang mengganggu istirahatnya. Rifky terbangun dan kantuknya seketika hilang karena melihat betapa awut-awutan kamarnya Zidan. Kemudian, Rifky mendekati Zidan, lalu Rifky mengatakan

 

“Lo kenapa, sih?” memandang Zidan dengan heran karena kamarnya menjadi berantakan.

 

“Eh, sorry ya gue ganggu waktu tidur lo. Gua lagi cari berkas dokumen gua satu lagi tapi enggak tahu kemana.” sembari Zidan memberes-beres dokumen.

 

“Yaudah, gua bantu cari, ya. Jangan panik, dibawa santai saja. Pasti ketemu kok.” mendengar pernyataan tersebut, Zidan seketika menoleh Rifky dan berkata, “Hah? Santai gimana? Lo tau kemarin lomba gua dimajuin, sekarang lo minta gua santai? Dunia mana yang harus mengatakan gua santai di saat lomba sebentar lagi mau memulai!” Zidan tiba-tiba memarahi Rifky. Rifky kebingungan karena Rifky menganggap Zidan memarahinya yang mana dia membantunya. Karena Rifky tidak menerima amarah darinya, kemudian Rifky memberontaknya, “Eh, Zidan. Asal lo tau ya, dari awal gue selalu senang sama lo karena lo terus aktif untuk partisipasi lomba. Gue tau lo panik tapi apakah pantas lo memarahi gua di saat gua sekarang enggak tahu selain lomba lo dimajuin, waktu ini juga lo lomba? Kenapa sih, setiap kali gue mencoba membantu tiba-tiba lo seakan-akan menolak dan mengabaikan gua apapun perkataan dan kekhawatiran gue? Sekarang, ketika keadaannya lagi panik lo seenaknya melampiaskan gua? Parah banget lo, ya.” Rifky berdiri dan langsung bergegas menuju kamarnya. Seketika Rifky melihat dokumen yang dimaksud Zidan kemudian ia balik lagi ke Zidan dan mengatakannya lagi, “Gue cuman bilang enggak usah panik karena enggak mungkin lo tinggalin. Nih, udah gua temuin. Enggak usah marah-marah lagi.” 

 

Zidan sadar bahwa dampak dari banyaknya kegiatan yang merasuki emosinya menjadi salah satu sebab mengapa ia terus mengabaikan dan memarahi orang-orang sekitar, tidak tahu apa yang harus dilakukan Zidan saat itu karena ia juga belum berterima kasih kepada Rifky dan Alena yang selalu sabar dan menyemangatinya. Tetapi, ia tidak bisa berlama-lama merenungkannya karena sebentar lagi waktu lomba dimulai. Tidak lama, Zidan mencoba untuk melupakannya sementara agar tidak terjadi distraksi antara perlombaan dan permasalahan. Ketika Zidan sudah berada di tempat lombanya, ia bertemu dengan 2 rekan timnya, yaitu Sandra dan Kholis. Sandra dan Kholis adalah teman setianya Zidan karena mereka kerap kali mengajak dan mengikuti Zidan untuk lomba PKM-AI.

 

Ketika dihadapkan dengan rasa optimis dan pesimis di waktu yang sama, Zidan mencoba untuk fokus ke target utama, yaitu lomba. Namun, satu sisi Zidan selalu memikirkan omongan Rifky dan Alena. Terserempak, Sandra dan Kholis melihat Zidan melamun, karena mereka khawatir akan kondisi Zidan, akhirnya mereka berdua mencoba untuk mendatangi Zidan dan Sandra berkata, “Zidan, maaf, kau tahu kita sedang lomba kan?” menyentuh pundak Zidan dengan pelan, Zidan kaget dan memasang muka seolah-olah semuanya baik-baik saja, “Maaf. Tidak apa-apa, tahu kok.” Melihat keadaan Zidan, Sandra dan Kholis sebetulnya khawatir tetapi mereka berusaha untuk tidak ingin tahu alasannya. Tempat kursi begitu ramai diduduki dan mulut-mulut yang bising ketika presentasi mengontrol pemikiran Zidan untuk tidak bisa 100% fokus karena memikirkan Rifky dan Alena. Akhirnya, tim Zidan disambut untuk berbicara di depan mengenai presentasi mengenai tema besar PKM-AI yang telah mereka kerjakan. Detik, menit, dan jam di depan membuat sekujur keringat dan jantung berdebar secara cepat. Ketika Tim Zidan sudah selesai presentasi dan keseluruhan presentasi acara telah selesai akhirnya sesi acara yang ditunggu-tunggu telah masuk, yaitu pengumuman pemenang. Sebelum pengumuman pemenang tiba, Zidan mencoba untuk menghubungi Rifky dan Alena agar datang ke acara lomba, tetapi tidak biasanya Rifky dan Alena sesulit ini untuk dihubungi. Agar Zidan tidak resah menghadapi kedua ketakutan, ia mencoba untuk menghirup dan mengeluarkan udara. Setidaknya, dengan ia melakukan hal tersebut, ia tidak terlalu cemas untuk memikirkan ketika ia kalah dan kehilangan kedua teman baiknya walaupun hanya sementara. Tanpa disangka-sangka, pengumuman telah tiba. Tim per tim berkumpul ke depan untuk mendengarkannya. Dan, inilah hasil pengumuman pemenangnya

 

“Baik, terima kasih teman-teman yang sudah mengumpulkan keberanian untuk mengikut lomba PKM-AI. Kita langsung saja ke pengumumannya, juara ketiga diraih oleh…. Tim Sisi! Selamat kepada Tim Sisi!”

 

“Selanjutnya, kita langsung saja menyambut juara kedua lomba PKM-AI, selamat kepada Tim Laila yang sudah meraih juara kedua!”

 

“Terakhir… Tim ini merupakan sebuah kebanggaan yang mewakili universitasnya karena selalu memenangkan juara. Mari kita sambut juara pertama, yaitu Tim Randy! Selamat kepada Tim Randy atas meraih juara pertama! Sekian pengumuman yang telah kami beritahukan, jangan patah semangat dan sampai berjumpa di lomba PKM-AI berikutnya!”

 

Raut datar Zidan yang tidak bisa berbicara apa-apa, seakan-akan dunia Zidan telah selesai sampai disini saja, membuat Zidan harus menahan rasa amarah dan tangisan. Sandra dan Kholis tahu bahwa Zidan tak bisa diganggu gugat. Melihat Zidan bergegas ke koridor belakang membuat Sandra dan Kholis menjadi iba karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Selama di koridor, Zidan hanya menangis dan tidak bisa menahan tangisan yang begitu deras karena baru saja selain tidak memenangkan lomba, ia juga tidak dapat dukungan dari Rifky dan Alena. Saat itu, Rifky dan Alena kemudian menyamperi Zidan yang sedang duduk dengan tatapan kosong. Rifky dan Alena memegang pundak Zidan hingga merangkulnya.

 

“Enggak usah nangis, sejauh ini lo udah usaha kok. Lo tetap keren walaupun menurut lo hasilnya enggak memuaskan.” kata Rifky menengok ke Zidan.

 

“Sepertinya, gue tidak boleh lagi mengabaikan semangat dari teman-teman gue yang sudah bertahun-tahun selalu dukung gue apapun hasilnya. Mungkin kekalahan ini juga sebagai petunjuk karena gue tidak mengingat siapa diri gue sesungguhnya.” sembari mendengarkan Zidan tersengguk-sengguk.

 

“Udah ah, enggak usah sedih. Enggak ada yang salah kok disini. Gue sama Rifky minta maaf ya, Zidan. Apapun hasilnya, menang atau kalah, tetap bagian dari proses kok. Jangan disesali ya. ” mendapati Alena bersandar di pundak Zidan.

 

“Terima kasih, teman-teman. Nasihat kalian akan selalu jadi bahan evaluasi gue untuk tidak selalu mengutamakan ambisi sebelum gue. Gue percaya, Tuhan telah mengubah persepsi bahwa gue harus istirahat dan menikmati kekosongan gue untuk sementara” Zidan sembari berdiri dan mengatakan lagi, “Kalau begitu, gimana kita makan barbeque Korea? Gue traktir, deh!”  

 

Alhasil, mereka bersama-sama menuju ke barbeque Korea sembari tertawa bersama.

 

SELESAI 

Ikuti tulisan menarik Englandiva Akyla Maulita Hartono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu