Perjalanan ke Barat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

Muhammad Abdul Rohman Al Chudaifi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2021

Sabtu, 20 November 2021 11:38 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perjalanan ke Barat

    Namaku Woro, Wahyu Woro Ningtyas. Sekata namaku mirip Woro Widowati, penyanyi Youtube bersuara khas yang sudah banyak meng-cover lagu-lagu bergenre pop-dangdut khususnya lagu-lagu ‘ambyar’. Atau mirip salah satu tokoh utama di novel Wigati-nya Khilma Anis, Lintang Manik Woro. Yang di akhir cerita, dia harus mengikhlaskan sendalnya entah diambil siapa, seperti halnya dia merelakan tunas cintanya yang baru bertumbuh, rela bersama sahabat karibnya sendiri, Wigati.

    Dibaca : 19.546 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Namaku Woro, Wahyu Woro Ningtyas. Sekata namaku mirip Woro Widowati, penyanyi Youtube bersuara khas yang sudah banyak meng-cover lagu-lagu bergenre pop-dangdut khususnya lagu-lagu ‘ambyar’ yang kata teman sekelasku, cover-an miliknya cocok diputar saat kita di teras rumah, dengan suasana pagi gerimis, terus ditemani sepiring pisang rebus dan teh hangat, seolah ambyarnya itu kian klop dirasa. Atau mirip salah satu tokoh utama di novel Wigati-nya Khilma Anis, Lintang Manik Woro. Yang di akhir cerita, dia harus mengikhlaskan sendalnya entah diambil siapa, seperti halnya dia merelakan tunas cintanya yang baru bertumbuh, rela bersama sahabat karibnya sendiri, Wigati.

    ‘Waktunya Ekspedisi Dimulai’ Begitulah status WhatsAppku hari ini. Dari Surabaya, mobil meluncur ke Jombang. Jalanan Darmo ramai seperti biasanya, mobil dan motor seolah berjibun tak ingin memberi kesempatan aspal untuk tersinari mentari. Mobil mulai masuk jalan tol dan tak perlu waktu lama mataku lelap dilahap jalan lengang.

    Mula-mula ide pencarian ini sudah lebih dari dua tahun setengah kemarin, saat itu aku masih di kelas enam Madrasah Ibtidaiyah dan harus gugur gegara nenek masih belum rela ditinggal cucu kesayangan yang manis dan unyu-unyu ini, awalnya Bapak berat hati,  tapi akhirnya dengan janji nenek, setelah lulus Madrasah Tsanawiyah nenek rela melepasku ngangsu kaweruh di pesantren, Bapak pun setuju.

    Bagaimana dengan antusiasku? Jujur saja, aku tak sebegitu takut dengan hidup di pesantren yang pelajarannya full dengan materi agama, jauh dengan orangtua, uang saku yang terbatas atau teman-teman baru yang entah bisa menjadi karib maupun hambatan ketika belajar. Mungkin karena orangtuaku sendiri yang statusnya alumni pesantren, jadi mereka mendidikku sejak dari rumah sudah ala-ala pesantren. Selain itu, mencoba hal baru memiliki tantangannya tersendiri. So, untuk masuk pesantren, bukanlah ide yang buruk.

    ***

    Sekilas tentang Bapak. Dia alumni salah satu pesantren di Jombang. Ada dua hal yang sangat digemari Bapak; pertama, mendaki gunung. Entah sudah berapa puluh gunung yang dibawah naungannya, terbentuklah wadah-wadah organisasi pencinta alam di mana santri-santri dapat bertadabbur alam. Mungkin jiwa-jiwa petualangku diwariskan dari Bapak. Kalau cerewetku mungkin dari Ibu, walaupun memang sudah seharusnya perempuan itu cerewet.

    Kedua, menulis. Menulis apapun, asal dia anggap itu berharga, mutiara itu disimpannya dalam bentuk untaian kata di buku notesnya. Daripada novel, aku lebih suka mambaca buku-buku catatan Bapak yang hampir memenuhi seluruh rak di ruang tamu. Salah satunya berisi seperti ini; rejeki wes ono seng ngatur cung, nek pengeran wes njatah gawe aku, sak ngoyohe wong liyo ngerebut gak bakal iso. Sakmunu ugo nek kui jatah e wong liyo, ora bakal biso tak rebut. (10 Oktober 2014 jawaban tukang becak di perempatan pasar A atas pertanyaan ‘mbah, nopo sampean mboten kalah saingan kaleh ojek online? kok ten mriki mangkale dados setunggal?’). Mungkin kalau Bapak punya kemampuan berbicara dengan binatang seperti Nabi Sualaiman, pastinya notes Bapak akan full satu rumah.

    Tentang Ibu, dia seorang penghafal qur’an atau hafidzoh. Dia juga alumni pesantren salaf di Malang. Dan sangat disayangkan, ingatan yang kuat dalam menghafal itu tidak menurun ke aku tapi ke adik laki-lakiku. Dapat dibayangkan, belum lulus MI saja, dia sudah hafal juz 30. Ibu memang pendidik yang disiplin dan tegas. Maka apa-apa yang berhubungan dengan pendidikan kami, Ibulah yang menentukan baik tidaknya.

    Sedangkan tentang adikku, mungkin permintaan maafku cukup lewat sini saja. Bukan karena apa-apa sih, ini ceritaku, tentang perjananku. Aku tak mau cerita ini lebih banyak bumbunya daripada isi ceritanya. Kepada adikku yang ganteng, mbak minta maaf ya. Kalau cerpennya menang, nanti mbak janji bakal kasih hadiah.

    ***

    Cerita berlanjut. Ibu membangunkanku, padahal mobil baru keluar dari jalan tol. Memang sudah kebiasaanku untuk antusias pada hal-hal baru, termasuk suasana jalanan jombang ini. Sedari tadi Ibu memang sengaja tidak membangunkanku ketika masih di ajalan tol karena tahu tidak ada hal menarik di sana.

    Warung kopi, tambal ban, balai desa, rumah, rumah, rumah, sawah, sekolah, rumah lagi, terowongan jalan tol, rumah, rumah, masjid, sawah, sawah lagi, lapangan bola, depo air, toko kelontong, warung kopi, jasa laundry, warung makan, rumah lagi. Sudah kebiasaanku mengabsen deretan bangunan yang aku lihat, kalau akunya yang berdiam di suatu tempat, berarti giliran apa yang lewat di depanku terabsen satu-persatu. Adikku yang ikut dalam ekspedisi ini melirikku sinis, sambil tangannya masih memainkan smartphon.

    Ndeso

    Di tengah perjalanan, adzan dzuhur dari mushola di sepanjang jalan bersahut-sahutan, sekaligus satu-dua terlihat lansia mulai berangkat menyusuri bantaran sungai yang kering airnya. Mobil kami terus melaju.

    “Sebentar lagi sampai, nanti ziarah dulu ke makam mbah Wahab terus solatnya kita jamak ta’khir di masjid agung Jombang”

    Mobil berbelok, sekarang ke kiri lagi. Pesantren lagi, warung tutup, rumah warga, pesantren lagi, ada lima santri putra yang berdiri di samping jalan sambil mambaca Qur’an keras-keras, ada warung kopi lagi, gapura abu-abu itu bertuliskan ‘makam KH. Abdul Wahab Khasbulloh’. Mobil terparkir di antara mobil yang lain. Tempat parkir itu lumayan luas mungkin seluas lapangan futsal. Di samping ruang tamu, ada sumur dan kendi yang bisa diisi ulang dengan menimba air sumur langsung. Di sebelah selatan ada toilet khusus untuk putra dan putri, tempat pertama yang kami kunjungi pun sudah diputuskan, toilet.

    Dek seng tenan to nek nimbo” Tawa penuh ledekku membuat merah wajah Fajar.

    “Berat tauk

    “Sini Bapak bantu”

    “Dasar cowok lemah” Gojlokku sambil membuka keran kendi yang sudah terisi penuh. Fajar yang dongkol akhirnya lebih memilih pindah ke keran wudhu di samping toilet.

    Kami memasuki area makam. Tenyata selain peziarah dari luar daerah banyak juga santri yang berada di situ. Ada beberapa santri putra yang sepertinya menghafalkan Al Qur’an dan yang lainnya berziarah seperti biasa. Denah makam yang tertempel di dinding sebelah selatan itu mengambil perhatianku, ternyata yang dimakamkan di sini bukan hanya penggerak Nahdhotul Ulama atau mbah Wahab, tapi juga yang membabat pesantren Tambakberas Jombang yakni mbah Abdus Salam atau yang lebih dikenal dengan mbah Shoihah alias mbahbentak’an. Dijuluki demikian karena dulu pada waktu masih dalam penjajahan belanda, rombongan kompeni datang ke kediaman mbah Abdus Salam, tapi kedatangan mereka dengan sikap yang tidak ramah. Akhirnya dalam sekali bentakan, seluruh kompeni dan kuda tunggangan mereka tewas seketika.

    Kalau mbah Wahab, Bapak pernah bercerita bagaimana beliau awal berguru ke mbah yai Kholil Bangkalan Madura. Malam itu mbah Kholil bermimpi bahwa besok bakal ada harimau yang masuk pondok. Akhirnya setelah jama’ah subuh berakhir, beliau menyampaikan mimpinya ke seluruh santri agar mereka berjaga-jaga di seluruh sudut pondok. Hari itu bertepatan dengan mbah Wahab kecil yang ingin mondok di sana. Ketika masuk ke dalam pesantren, mbah Wahab melihat keganjilan itu akhirnya bertanya.

    Enten nopo kang?”

    Macan

    Saget sowan ten mbah yai?”

    Saget kang, rodok sore kang nggeh

    Suwun kang, kulo tilem riyen ten musholla”

    Engkih

    Menjelang ashar, mbah Kholil bersiap ke musholla. Sontak berteriak.

    “Kang, macane wes melbu pondok” Seketika seluruh santri semburat mencari harimau itu ke seluruh plosok pondok. Berkali-kali sudah dicek, ternyata keberadaan hewan buas itu tidak ditemukan. laporlah mereka ke mbah Kholil yang menunggu di musholla.

    Ngapunten yai, macan e dereng kepanggeh

    Lha kui, macane turu nang ngisor bedug” Sambil menunjuk mbah Wahab kecil yang pulas di bawah bedug.

    Ziarah telah usai, waktunya melanjutkan ke tempat selanjutnya. Mobil keluar dari area parkir kembali meluncur di jalan utama, tapi baru seratus meter mobil kembali berbelok ke kiri, masuk ke sebuah gang tapi tidak seperti jalan kecil pada umumnya. Pedagang kaki lima berjejer rapi. ‘kok banyak santri putranya ya?’ batinku.

    Adzan ashar berkumandang. Seperti sekelompok itik, gerombolan santri putra dengan berpakaian rapi berangkat ke masjid. Sebagian berbaris rapi, berjalan di atas ‘bancik’ atau sebuah batu persegi yang dijajar ke tempat tujuan, karena tidak permanen jadi batu-batu itu bisa dipindah tiap waktu. Dan yang terpenting semua bancik itu adalah kesuciannya. Sedangkan yang lainnya berjalan di bawah bancik. Eh, ada yang tidak pakain alas kaki juga ternyata.

    Hampir setengah jam jama’ah itu berlangsung, jika dihitung-hitung wiridan di masjid itu hampir duapuluh menit-an. Gerombolan santri putra yang keluar dari masjid secara bersamaan itu seperti koloni semut yang tersiram air, ambyar. Sudah waktunya untuk sowan ke ndalem kyai.

    Ruangan itu bernuansa coklat muda, furniturnya sederhana, dengan ruang keluarga dipisah dengan rak besar yang berisi kitab-kitab tebal yang ketika dijajar jilid kitab itu membentuk lafad arab yang tersambung indah. Tak begitu lama, abdi ndalem berkulit putih dan wajahnya dihiasi kacamata yang membuat kaum Adam enggan berpaling darinya keluar dari ruang dalam, sambil menenteng nampan berisi lima gelas tea hangat, menyuguhkan di depan kami kemudian dengan terampil membuka toples-toples yang sedari tadi terpajang di meja.

    Monggo disambi” Si mbaknya kembali ke dalam.

    Sang Kyai keluar dari balik kelambu. Semerbak parfum Pak Kyai memenuhi penciuman kami. Sebelum Bapak menghaturkan maksud kedatangan kami sekeluarga, dengan tiba-tiba Beliau langsung berkata.

    Ngaji seng tenan, ora usah mikir bakal dadi opo. Angger ngalim biso dadi opo-opo. Ora ono kemanfaatan zaman saiki kejobo wong iku biso ngaji

    Sejenak ruangan itu hening. Bapak seolah mengerti isyarat beliau, memutuskan undur diri. Tujuan selanjutnya rumah nenek di Pasuruan. Selama perjalanan, Ibu heran melihatku yang termenung menatap jalanan, tapi seolah pandanganku tidak ada di sana, jauh menembus batas jarak pandang.

    “Mikir apa Ro?”

    Eh, engga Bu”

    “Paling mikirin dawuhnya Pak Kyai tadi” Sahut Bapak

    “Kadang ada banyak hal yang tidak bisa kita nalar Ro. Pokoknya dari dawuh beliau tinggal keputusanmu untuk memilih di mana pesantren yang sesuai denganmu. Toh, beliau tadi juga tidak menyarankan untuk mondok di pesantren beliau. Seolah memberikan kamu kesempatan untuk memilih” Lanjutnya.

    Tepat setelah kata-kata Ibu berakhir, Bapak membanting setir ke kiri, menghindari premotor yang zigzag diantara mobil dijalur lawan arah. Klakson truk bermuatan di belakang kami berteriak lantang. Aku dan Ibu menjerit histeris, Bapak reflek membanting setir ke kanan, tidak sempat, truk bermuatan tadi menabrak bagian belakang. Pecahan kaca berhamburan memenuhi kabin mobil, Fajar dan bapak sudah tidak sadarkan diri, Ibu memanggil-manggil bapak untuk kembali sadar, mesin mobil sudah berhenti, tapi posisi kami yang seperti ini seperti sasaran empuk untuk kendaraan lain baik dari kedua jalur. Di ambang batas sadarku, yang kulihat hanya sebuah mobil merah tua yang dengan keras menabrak tepat di badan mobil, bunyi rem yang beradu dengan aspal terdengar jelas dan terakhir bunyi debam akibat tabrakan itu. Setelah itu semuanya menjadi gelap.

    ***

    “Ro, bangun nduk. Sudah hampir sampai Jombang. Ini baru keluar dari tol” Suara Ibu menyadarkanku.

    “Pak, gimana kalau kita cari masjid dulu. Kasian liat wajah mbak woro. Masa mau sowan kucel kayak gitu” Fajar cengengesan.

    “Sebentar lagi sampai, nanti ziarah dulu ke makam mbah wahab terus solatnya kita jamak ta’khir di masjid agung Jombang” Lanjut Bapak menjelaskan. semuanya seperti de javu.

    Keringatku masih bercucuran. Degub jantungku juga masih belum stabil, dan aku masih bertanya-tanya isyarat apa itu tadi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.