Beri Insentif Masyarakat Bawah untuk Virtual Tour - Travel - www.indonesiana.id
x

Pariwisata Daerah Butuh Fasilitas untuk Virtual Tour

Eka sugeng ariadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Rabu, 24 November 2021 19:52 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Beri Insentif Masyarakat Bawah untuk Virtual Tour


    Dibaca : 254 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Takmampu berbuat lebih banyak untuk bisa beraktivitas di luar rumah apalagi ke tempat-tempat wisata, memaksa banyak orang untuk berpikir keras dan lebih keras lagi agar mampu menikmati suasana di luar rumah dan betah di dalam rumah. Terlebih lagi, bagi para pekerja harian yang mengandalkan penghasilan sehari-hari dari aktivitas di luar rumah. Mau takmau, mereka harus tetap bekerja dan mendapatkan penghasilan dengan berbagai macam keterbatasan yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Jika tidak, maka kelangsungan hidup mereka dan keluarganya jelas mengkhawatirkan. Di sisi lain, bantuan untuk sekadar makan tiap harinya baik dari pemerintah pusat maupun daerah sangat terbatas. Ditambah lagi, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) telah terjadi di beberapa kota besar yang tentunya menimbulkan masalah sosial yang lebih rumit lagi.

    Dalam dunia pariwisata, di laman https://blog.agendakota.id, Fadjar Hutomo, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, membabarkan ada dua dampak ekonomi yang terjadi di masa pendemi seperti sekarang ini; supply side shock dan demand side shock. “Supply shock membuat (banyak) industri menderita, sedangkan demand shock membuat banyak orang takut atau malas berpergian. Ini yang harus kita cegah supaya dampak ekonominya tidak terlalu berlebihan,” ujar Fadjar. Oleh karenanya, menurut penulis, salah satu cara terbaik agar pelaku industri wisata tetap bisa bekerja meski di dalam rumah dan wisatawan tetap bisa menikmati keindahan alam yang diinginkan dari rumah mereka adalah dengan menawarkan virtual tour (wisata maya/online/dalam jaringan) ke seluruh wisatawan di seluruh dunia.

                Wisata maya artinya penyedia jasa wisata menawarkan kunjungan ke beberapa tempat menarik di daerahnya kepada para wisatawan dengan cukup dengan menyaksikan foto-foto, video, dan berkomunikasi dari laman internet. Semua kunjungan dinikmati melalui internet, semua komunikasi, dan transaksi dilakukan juga secara online/dalam jaringan (daring). Pelaku jasa virtual tour dengan leluasa bisa menampilkan tempat wisatanya dari berbagai sudut yang menarik, menyajikan souvenir khas daerah, produk-produk kerajinan lokal, makanan dan minuman asli buatan warga sekitar, atau apa saja bisa dijual melalui daring. Pekerja jasa virtual tour ini juga bisa memanfaatkan toko-toko daring yang telah ada dan populer di negeri ini, misalnya: Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan lain sebagainya. Tentu, tujuannya agar wisatawan yang berminat berkunjung secara daring bisa datang dari dalam negeri maupun luar negeri.

    Di luar negeri, virtual tour ini secara serius telah dikampanyekan oleh beberapa negara yang juga terdampak pendemi. Korea Tourism Organization Jakarta (KTO Jakarta), misalnya, di laman https://blog.agendakota.id, Andrew Jonghoon Kim, Direktur KTO Jakarta, menyatakan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Indonesia ke Korea perlu mempromosikan pariwisata Korea secara daring. Alhasil, program ini berhasil meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Indonesia secara daring. Ternyata, takhanya negara Korea yang menjadikan konsep wisata maya ini sebagai salah satu solusi terbaik, beberapa negara Barat pun mengikutinya, khususnya pada wahana wisata museum. J Paul Getty Museum di Los Angeles Amerika Serikat, Vatican Museums di Roma Italia, Guggenheim di Spanyol, Natural History Museum di London Inggris, dan Rijksmuseum di Amsterdam Belanda, telah memanfaatkan fasilitas internet untuk menawarkan kunjungan wisata secara daring. Beberapa koleksi museum pun bisa dinikmati di mana pun dan kapan pun pengunjung berada, tentu dengan mengikuti mekanisme yang telah ditentukan, misalnya: membayar tiket masuk, memilih paket wisata yang diinginkan, dan seterusnya. Dengan cara ini, maka bekerja dari rumah dan berwisata dari rumah bisa dilaksanakan tanpa khawatir dan takut situasi terkena virus korona.

    Akan tetapi, tentu tidak semudah membalik telapak tangan, membayangkan solusi ini bisa diterapkan hingga masyarakat paling bawah di desa-desa wisata, seperti masyarakat lokal penjual jajan tradisional, pedagang kaki lima penjual souvenir, penyewaan perlengkapan wisata, dan masih banyak lagi profesi yang perlu diperhatikan ‘hidup dan matinya’. Apalagi di laman https://www.bbc.com, Gloria Guevara, Direktur World Travel and Tourism Council (WTTC) memperkirakan 50 juta orang akan kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata akibat pandemi ini dan sektor pariwisata akan mengalami penyusutan hingga 25% pada tahun 2020. Oleh karena itu, solusi virtual tour bisa diandalkan mengurangi jumlah pengangguran yang semakin mengancam.

    Dengan jumlah orang sebanyak ini, pemerintah pusat dan daerah dituntut lebih serius lagi dan benar-benar harus turun ke bawah melihat kondisi riil masyarakatnya. Perlu bimbingan khusus agar kelas masyarakat bawah ini mampu memanfaatkan internet beserta aplikasi-aplikasinya sebagai media untuk bekerja di rumah. Sekali lagi, sasaran yang harus dibidik adalah masyarakat bawah hingga terbawah. Artinya masyarakat yang pekerjaannya hanya sekadar jualan gorengan, souvenir, kerajinan tradisional, mainan anak-anak, dan sebagainya harus terbantu sebaik-baiknya. Merekalah yang benar-benar merasakan dampak sepinya kunjungan wisatawan yang terjadi saat ini. Tabungan tidak punya, barang-barang yang dibuat tidak ada yang membeli, dan akhirnya merugi.

    Jika beberapa waktu lalu, dalam rangka menghadapi situasi pandemi, pemerintah mampu menyiapkan insentif untuk maskapai dan biro perjalanan sebesar Rp98,5 miliar, anggaran promosi wisata Rp103 miliar, kegiatan pariwisata Rp25 miliar, dan dana untuk influencer Rp72 miliar, maka selayaknya pemerintah juga mau memberikan insentif untuk masyarakat bawah agar mampu menciptakan virtual tour secara mandiri di rumah. Miris rasanya jika pemerintah hanya memberikan insentif miliaran rupiah untuk pelaku wisata di masyarakat menengah ke atas, namun alpa pada masyarakat bawah. Pemerintah wajib memberikan bimbingan, pendampingan, pelatihan, atau apa pun namanya bagaimana masyarakat buta internet jadi tahu cara memanfaatkan internet untuk menjual produk atau daerah wisatanya, cara membuat virtual tour, cara mengunggah foto/video, cara bertransaksi/jual beli secara daring, cara mempromosikan, dan sebagainya.

    Insentif untuk pembimbingan, pendampingan, dan atau pelatihan masyarakat bawah hingga benar-benar mampu menciptakan virtual tour dan mendapatkan ‘rupiah/dolar’ dari media ini, sejalan dengan langkah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk bisa bertahan dan lebih cepat beradaptasi di tengah wabah pandemi.

    Sebetulnya, pemerintah telah menambah alokasi anggaran untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp405 triliun sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan. Kemudian ditambah lagi tambahan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pasca pandemi virus corona (Covid-19) menjadi Rp 641,17 triliun. Penulis sangat berharap, dengan anggaran sebesar ini, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah mampu menyelamatkan nasib masyarakat bawah dan terbawah sanggup bertahan dan beradaptasi secepat mungkin dengan menciptakan peluang kerja kreatif dan inovatif melalui virtual tour. Semoga besarnya anggaran ini benar-benar dikelola dengan baik, amanah, dan tidak dikorupsi sebagaimana yang biasa terjadi di negeri ini. 

    Ikuti tulisan menarik Eka sugeng ariadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    Rabu, 29 Juni 2022 09:45 WIB

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 676 kali