Manusia Tanpa Cita-cita - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Stevy umar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 24 November 2021 19:55 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Manusia Tanpa Cita-cita

    Aku adalah seorang guru yang tidak pernah bercita-cita untuk menjadi guru karena pernah putus sekolah selama 5 tahun. impian semua orang unrtuk bisa meraih cita-citanya adalah bukan mimpi yang tidak bisa diwujudkan karena penentuan jalan hidup seseorang ada dua kita yang menentukan atau Tuhan yang memberi kita waktu untuk menentukannya.

    Dibaca : 89 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Orang yang percaya bahwa masalah itu bukan cobaan tapi anugerah, itu adalah aku. sejak kecil aku terbiasa hidup dalam kekurangan. tapi untungnya walaupun kedua orang tuaku buta huruf tapi mereka tidak buta hati untuk memikirkan masa depanku. aku bersekolah seperti anak-anak seusiaku walaupun terkadang harus membantu ibu berjualan disekolah. dulu disekolah berjualan belum dilarang, kami masih diberi kesempatan berjualan saat jam istirahat. aku terkadang iri menyaksikan teman-teman sekelasku bermain di jam istirahat dan aku harus membantu ibu berjualan dan cuci piring diwarung sekolah yang dikelolah ibuku. itu kisahku diwaktu duduk disekolah dasar. walaupun aku terlahir dari orang tua yang keduanya tidak duduk dibangku sekolah, tapi otakku masih diatas rata-rata dan mampu bersaing dengan teman sekelasku yang lainnya.

    Selepas Sekolah menengah Atas, aku harus menerima kenyataan pahit itu untuk tidak melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi karena faktor ekonomi keluarganya. dengan lapang dada aku hanya dapat ikhlas menerima kenyataan ini, aku bahkan tak berani bercita-cita karena pemikiranku saat itu cita-cita hanya bisa diraih kalau kita punya pendidikan tinggi. pupus sudah harapan untuk menjadi dokter, perawat dan guru seperti cita-cita kebanyakan orang dinegara kita. untuk tidak menjadi manusia udik, aku mengaktifkan diri pada organisasi desa seperti LSM pemerhati perempuan. dilembaga inilah perempuan yang putus sekolah, ibu rumah tangga dikumpulkan dan mengikuti program-program mengenai pemberdayaan perempuan.

    Disinilah aku belajar yang namanya publik speaking, hehehe...... untuk sejenak kerinduanku akan bangku sekolah terlupakan. aku teringat kata seseorang yang kutemui diprogram tersebut yaitu "kamu punya kemampuan, suatu hari jika kamu punya kesempatan maka lanjutkan sekolahmu" aku termenung sejenak memikirkan kata-kata orang itu. sambil bertanya dalam hati " apakah aku bisa sekolah lagi? sudah 5 tahun aku menjalani hidup tanpa bersentuhan dengan dunia pendidikan, rasanya tidak masuk akal, bukan? kata-kata itu kuanggap sebagai penyemangat saja dikala aku rindu untuk bersekolah lagi.

    Waktu terasa sangat cepat berlalu, 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dilalui. aku iri dan sedih dikala teman-temanku yang beruntung telah menyelesaikan pendidikan mereka dibangku kuliah tapi aku masih bergelut dengan rutinitas yang hanya itu-itu saja. bosan, penat bahkan putus atas datang silih berganti. tapi untungnya aku tidak pernah menyalahkan keadaan yang tak berpihak padaku karena aku percaya Tuhan selalu memberikan nikmat dan anugerahnya pada saat yang tepat ketika kita sabar menantinya. kesabaranku selama ini membawa nikmat yang tidak pernah aku duga, perkenalanku dengan seseorang yang datang kedesaku bagaikan malaikat yang dikirimkan tuhan untuk membawaku pada cahaya yang akan menerangi dan mengubah jalan hidupku.

    Manusia setengah pengganguran itu julukan yang kusematkan pada diriku sendiri. walaupun tidak sekolah tapi aku tetap aktif untuk menuntut ilmu ditempat lain. orang itu kuanggap sebagai super hero yang dantang dalam kehidupanku. dialah yang membuka pintu bagiku untuk bisa kembali kebangku sekolah. Awalnya aku menolak ajakan orang tersebut untuk kembali bersekolah tapi dia terus memotivasi aku untuk kembali kesekolah. akhirnya akupn mengikuti sarannya dengan bermodalkan niat yang bulat aku mendiskusikan hal ini dengan saudaraku dan akhirnya mereka setuju untuk ikutserta membantu keperluanku. dan Akhirnya.....akupun mendaftarkan diri pada sebuah universitas swasta didaerahku dan diterima difakultas Pendidikan dan Ilmu Pendidikan untuk menjadi seorang guru. apakah aku harus bahagia ataukah bersedih ? tangisku pecah...aku tak pernah membayangkan mukjizat ini akan datang menghampiriku Ya Allah... sembah syukur aku panjatkan kehadiratMu tidak semua orang bisa mendapatkan karuniaMU ini. disaat itu juga aku harus kehilangan bapak yang menjadi tulang punggung keluarga selama ini.

    Kulalui hari-hari diperkuliahan duduk bersama mahasiswa yang 5 tahun lebih mudah dariku, semua pelajaran yang pernah kudapatkan tak ada lagi tersimpan dimemoriku bagaimana aku harus menghadapinya. tapi proses untuk bisa mendapatkan ini semua adalah gift bagiku dari sang Maha Kuasa makanya kutegarkan diri untuk menghadapi apapun  itu. Untuk membiayai kuliahku aku bekerja dimusim libur kuliah disaat teman-teman kuliahku liburnya pulang kampung, aku malah harus bekerja untuk membantu ibuku membiayai kuliahku. 4 tahun kulewati masa-masa itu dan akhirnya gelar sarjana pendidikanpun kuraih dengan sukacita. Kesabaranku selama ini terbayarkan dihari aku diwisuda dan sekali lagi aku diberi hadiah oleh Allah, tahun pertama setelah selesai dari bangku kuliah, aku mengikuti tes CPNS dan aku bisa lolos ditahun pertama aku mendaftarkan diri, Nikamt apalagi yang aku dustakan, semaua keajaiban yang mimpipun aku tak berani akhirnya semuanya terwujud berkat doa dan kesabaran.

    Aku adalah seorang guru Bahasa Inggris disebuah Sekolah Menengah Pertama sampai hari ini, kisah yang kubagikan ini adalah wujud rasa syukurku dan kubagikan kepada semua teman-teman yang saat ini merasa tak punya cita-cita ataupun teman yang merasa dirinya paling tidak beruntung. Satu kunci kesuksesan yang harus kita miliki adalah KESABARAN...

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.