Merdeka Belajar: Ide, Implementasi dan Refleksi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Sumber: https://nasional.tempo.co/

Mahir Martin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:17 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar: Ide, Implementasi dan Refleksi

    Artikel ini menjelaskan tentang Merdeka Belajar

    Dibaca : 162 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Konsep Merdeka Belajar yang diusung Kemdikbud Ristek dibawah komando Menteri Nadiem Anwar Makarim memang digadang sebagai sebuah konsep pendidikan yang sangat sesuai dengan tantangan pendidikan di abad ini. Kemampuan abad 21 yang dikedepankan dalam penerapan kurikulum memang sangat membutuhkan kemerdekaan siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar.

    Kriteria kompetensi 4C dalam pembelajaran yang meliputi Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Collaboration Ability (kemampuan untuk bekerja sama) hanya bisa dicapai ketika ada kemerdekaan pada guru dan siswa di dalam kelas.

    Merdeka Belajar

    Dengan adanya konsep Merdeka Belajar, yang pada intinya terdiri dari 4 kebijakan pokok baru, yaitu meliputi kebijakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN) yang nantinya diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi, diharapkan nantinya akan lebih mempermudah penerapan kompetensi 4C dalam kegiatan pembelajaran.

    Bagi siswa, penilaian USBN yang lebih komprehensif meliputi penilaian bentuk portofolio dan penugasan (tugas kelompok, karya tulis, dan sebagainya) akan sangat melatih pengembangan kompetensi 4C dalam diri mereka. Hal ini diperkuat dengan diadakannya AKM yang akan membantu menopang kemampuan literasi dan numerik siswa. Survei Karakter juga sangat penting dalam rangka membangun kesadaran siswa untuk menjadi pelajar yang berkarakter seperti yang diamanahkan pada profil pelajar pancasila.

    Bagi guru, konsep Merdeka Belajar akan sangat membantu dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru tidak lagi harus direpotkan dan dibebani dengan administrasi pengajaran yang ruwet yang pada realitanya jarang sekali digunakan secara efektif dalam pembelajaran di kelas. Prinsip kemerdekaan dalam konsep Merdeka Belajar yang juga bisa diartikan kebebasan akan lebih mempermudah guru untuk meramu pembelajaran menjadi lebih kreatif dan efektif, dan tidak lagi harus terpaku pada standar format yang baku.

    Selain itu, konsep Merdeka Belajar juga akan mampu menjadi salah satu legasi yang akan memperkuat visi dan misi Presiden untuk meningkatkan SDM, terutama pada daerah yang tertinggal, terdepan, dan terluar. Dengan adanya kebijakan PPDB zonasi yang lebih fleksibel maka problematika ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di daerah sedikit demi sedikit akan teratasi.

    Dengan begitu banyaknya manfaat dari konsep Merdeka Belajar ini, rasanya guru, siswa, orangtua, dan semua pemangku kepentingan pendidikan perlu memberikan dukungan penuh dan maksimal. Selain mendukung, masukan dan kritik membangun juga perlu dilakukan sehingga konsep Merdeka Belajar akan semakin baik dan sempurna di dalam implementasinya di masa depan.

    Proses Implementasi Merdeka Belajar

    Lantas, konsep yang sudah diusung sejak tahun 2019 ini apakah sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan jalurnya?

    Sulit rasanya untuk menjawab pertanyaan ini, apalagi ketika kita berada di era pandemi seperti sekarang ini. Pandemi Covid-19 yang mulai melanda dunia sejak awal tahun 2020, mau tak mau mengubah berbagai macam arah kebijakan, tak terkecuali arah kebijakan di bidang pendidikan. Penutupan sekolah tatap muka menjadi kendala besar dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar. Perubahan yang tiba-tiba terjadi ini membuat kita semua seolah panik dalam menghadapinya.

    Setelah terjadinya pandemi ini, Kemdikbud Ristek disibukkan dengan penanganan pandemi di dunia pendidikan. Pembelajaran dalam jaringan (daring) yang menjadi moda baru dalam pendidikan menjadi fokus prioritas perhatian semua pemangku kepentingan pendidikan. Semua kebijakan pun disesuaikan dengan keadaan pandemi yang sedang melanda ini.

    Akibatnya, kebijakan terkait Merdeka Belajar juga harus tertunda. Perubahan pada dunia pendidikan yang sudah digadang-gadang dan direncanakan harus tertunda implementasinya, atau paling tidak berjalan di tempat tanpa kemajuan yang signifikan. Masyarakat pun harus lebih bersabar dan menunggu lebih lama lagi untuk menyaksikan perubahan pada dunia pendidikan yang diusung melalui konsep Merdeka Belajar ini.

    Jika kita mau berpikir lebih jernih, sejatinya pandemi memang tidak bisa dijadikan alasan lambatnya proses perubahan yang terjadi. Ada atau tidak ada pandemi, mengusung perubahan memang selalu membutuhkan waktu yang relatif lama. Perlu waktu panjang untuk sampai pada perubahan yang bisa benar-benar dirasakan secara signifikan. 

    Jika kita mau berandai-andai seumpama tidak terjadi pandemi yang melanda dunia, perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik dengan konsep Merdeka Belajar belum tentu juga akan sudah bisa kita rasakan dalam kurun waktu sesingkat 2 tahun ini. Kemungkinan kita masih belum bisa merasakan efek besar perubahan yang diinginkan, dan kemungkinan juga kita masih berkutat dalam proses menuju perubahan itu.

    Ya, Merdeka Belajar bukanlah konsep instan yang bisa terealisasi dengan cepat dan mudah. Implementasi konsep Merdeka Belajar memang memerlukan proses panjang dan waktu yang lama. Oleh karenanya, kita berharap konsep ini menjadi konsep yang akan terus berkelanjutan, dan tidak akan digantikan atau ditinggalkan dengan berubahnya tampuk kepemimpinan.

    Belajar Merdeka

    Jika kita uraikan konsep Merdeka Belajar secara mendalam, maka tahapan proses yang pertama dan utama yang perlu dilewati dalam implementasinya adalah adanya proses untuk "Belajar Merdeka". Artinya, sebelum "Merdeka Belajar" kita harus "Belajar Merdeka" dahulu. Ada dua kata yang perlu kita pahami dari frasa "Belajar Merdeka", yaitu kata belajar dan merdeka. 

    Pertama, perlu adanya proses "belajar" dan mendalami secara matang konsep Merdeka Belajar tersebut. Belajar adalah sebuah proses yang memerlukan kesadaran bagi seseorang yang melakukannya. Tanpa adanya kesadaran, proses belajar tidak akan memiliki arti dan makna yang sebenarnya. 

    Jika seseorang belajar sesuatu tanpa menyadari untuk apa dia mempelajarinya, maka sejatinya dia tidak sedang melakukan proses belajar yang sebenarnya. Mungkin dia akan mengetahui tentang hal tersebut, tetapi belum tentu dia memahaminya. 

    Dari kata belajar ini, sebenarnya kita diajarkan bahwa dalam belajar perlu ada proses dan kesadaran. Proses dan kesadaran inilah yang menjadi inti dari kegiatan belajar, dan kedua hal tersebut juga yang semestinya diperhatikan, baik oleh orang yang belajar maupun orang yang mengajar.

    Sisi menarik lain dari konsep Merdeka Belajar adalah tidak disebutkannya konsep "Merdeka Mengajar". Padahal konsep Merdeka Belajar tidak hanya terkait siswa, tetapi guru juga termasuk di dalamnya. Hal ini bisa diartikan bahwa bukan hanya siswa yang perlu belajar, tetapi guru, bahkan orangtua dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya juga dituntut untuk belajar. Belajar dalam artian mereka semua mau berproses dan memiliki kesadaran. Jika semua mau belajar, maka akan muncul sinergi, dan pada akhirnya lingkungan belajar yang baik dan kondusif pun akan terbentuk.

    Kedua, kita semua juga seyogyanya belajar untuk memahami arti dan makna kata "merdeka" dalam konsep Merdeka Belajar. Makna kata merdeka seharusnya memang akan memiliki makna ketika didahului dengan pemahaman kata belajar sebagai bagian dari sebuah kesadaran. Kata merdeka memang identik dengan kebebasan, tetapi pemahaman kata merdeka yang didahului dengan pemahaman kata belajar (baca kesadaran) tidak akan mengartikan merdeka sebagai bebas yang sebebas-bebasnya. 

    Merdeka seharusnya diartikan sebagai kebebasan yang harus memperhatikan batasan-batasan norma yang berlaku. Siswa yang merdeka dalam belajar bukan berarti siswa yang bisa semaunya sendiri untuk menerapkan sistem belajarnya. Begitupun guru yang merdeka, bukan berarti guru bebas untuk melakukan pengajaran dengan cara dan metodenya sendiri tanpa menghiraukan norma dan aturan yang berlaku.

    Merdeka belajar seharusnya dipahami sebagai sebuah konsep dimana siswa dan guru memiliki kesadaran dalam pikirannya bahwa siswa dan guru seharusnya bebas dan merdeka dalam menentukan pola pembelajaran dengan tetap memperhatikan norma dan aturan yang berlaku. Ketika siswa dan guru, keduanya memiliki kesadaran akan hal ini, barulah merdeka belajar bisa terimplementasikan dengan baik.

    Sebuah Refleksi

    Pada akhirnya, konsep "Merdeka Belajar" yang didahului oleh proses pemahaman "Belajar Merdeka" akan membentuk insan-insan muda di dalam dunia pendidikan yang akan memiliki nilai yang unggul dan akan menjadi SDM yang berkualitas di dalam kehidupan.

    Siswa akan menjadi siswa yang terus belajar untuk mencintai ilmu pengetahuan sehingga mereka tidak akan pernah kehilangan motivasi dan semangat untuk belajar. Bagi mereka, belajar adalah sebuah long life learning yang terus bergulir tanpa pernah berhenti. Seperti halnya kalimat bijak yang berkata bahwa belajar itu dimulai dari buaian Ibu sampai dengan liang lahat.

    Selain siswa, guru pun menjadi guru pembelajar yang terus belajar menjadi jiwa-jiwa berdedikasi tinggi untuk memajukan pendidikan. Mereka adalah guru-guru yang mampu untuk terus menjaga keseimbangan dalam mengajarkan ilmu dan akhlak, pengetahuan dan etika, teknologi dan moral kepada seluruh siswanya.

    Bagi orangtua, Merdeka Belajar mengajarkan mereka untuk terus mendampingi anak-anaknya dalam melaksanakan semua proses belajar. Pendampingan orangtua harus memiliki makna pendampingan yang sebenarnya, yaitu orangtua yang memperhatikan, memikirkan, memiliki keprihatinan mendalam terhadap pendidikan yang ditempuh anak-anaknya. Orangtua seperti ini akan terhindar dari menjadi orangtua yang hanya mendampingi anak-anaknya secara fisik ataupun dengan memberikan sokongan material.

    Bagi pemangku kepentingan pendidikan yang lain, konsep Merdeka Belajar ini seyogyanya dijadikan alat untuk terus belajar mendukung, menyokong, berkontribusi, dan berperan aktif dalam dunia pendidikan. Jika mau dipikirkan, siapapun yang melakukan hal baik atau melakukan investasi kebaikan di dalam dunia pendidikan, maka mereka juga yang akan menikmati buah hasilnya pada waktunya kelak.

    Alhasil, konsep Merdeka Belajar akan memiliki banyak manfaat dan keunggulan jika kita bisa memahaminya dengan benar. Merdeka Belajar bukan hanya menjadi sebuah slogan atau program pemerintah yang digulirkan, tetapi memiliki makna filosofis yang dalam bagi kita untuk memahami arti kata belajar dan merdeka yang ada di dalamnya. Kini, setelah konsep Merdeka Belajar dicanangkan, tugas kita berikutnya adalah mengimplementasikannya dengan baik. Ini adalah tugas kita bersama sebagai insan yang ingin memajukan dunia pendidikan di negara kita tercinta.





    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.