Resensi Buku Pembuka Hidayah Jilid 2 : Novel Biografi Uwa Ajengan - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 25 November 2021 16:22 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Resensi Buku Pembuka Hidayah Jilid 2 : Novel Biografi Uwa Ajengan

    Bergetar hati dan bulir-bulir bening pun tak terasa menetes di pipi ketika saya membaca novel ini, apalagi novel ini diawali dengan membahas masa fitnah yang begitu menyesakkan, perjuangan Tentara Islam Indonesia (TII) di gunung, peristiwa rajam dan pembunuhan 2 ulama kharismatik Tasikmalaya yakni Ajengan Masluh dan Ajengan Fakhrudin yang dituduhkan kepada TII, hingga kontak senjata antara Darul Islam dan Darus Salam di Pesantren Cipari.

    Dibaca : 295 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh : Tatang Hidayat

    (Penulis Nilai-Nilai Pemikiran Pendidikan KH. Choer Affandi dalam Jurnal Tadris Vol 14, No. 1 tahun 2019 IAIN Madura)

    Fauz Noor Zaman kembali menyapa kita dengan Novel Sejarah, kali ini datang dengan Novel Pembuka Hidayah : Biografi Uwa Ajengan Jilid 2 dan langsung membuka order online di Momen Hari Santri Nasional 22 Oktober 2021, tidak saya tunda lagi untuk segera pesan.

    Saya merasa bersalah karena telat membaca buku ini, padahal buku ini sudah ada di rumah sejak 26 Oktober 2021. Namun saya baru selesai membacanya ketika baru pulang dari Sukabumi setelah melakukan napak tilas dan ingin mengetahui karya KH Ahmad Sanusi, Pimpinan Pesantren Syamsul Ulum Gunung Puyuh Sukabumi serta ditambah berbagai kesibukan lainnya, baru pada 2 November 2021 novel ini selesai dibaca.

    Bergetar hati dan bulir-bulir bening pun tak terasa menetes di pipi ketika saya membaca novel ini, apalagi novel ini diawali dengan membahas masa fitnah yang begitu menyesakkan, perjuangan Tentara Islam Indonesia (TII) di gunung, peristiwa rajam dan pembunuhan 2 ulama kharismatik Tasikmalaya yakni Ajengan Masluh dan Ajengan Fakhrudin yang dituduhkan kepada TII, hingga kontak senjata antara Darul Islam dan Darus Salam di Pesantren Cipari.

    Buku ini merupakan buku keempat Fauz Noor dalam mengangkat biografi ulama dalam bentuk novel. Sebelumnya ia telah menulis Syahadah Musthafa (novel perjuangan Asy Syahid KH. Zainal Musthafa), Cahaya Muhsin (Biografi KH. A. Wahab Muhsin), dan Pembuka Hidayah (Biografi Uwa Ajengan Jilid 1).

    Dari sisi bahasa, saya kembali sangat terpesona dengan penulis buku ini, Fauz Noor mampu mengolaborasikan kekayaan kosakata dan cara beliau menuliskannya tidak pernah membosankan. Padahal tema buku ini sebenarnya sangat berat dan sensitif, karena mengangkat tema salah mantan tokoh DI/TII, yang selama ini DI/TII mempunyai kesan adalah pemberontak.

    Pada bagian judul, Menyelamatkan Keluarga, Fauz Noor mampu menggambarkan suasana yang begitu haru akan perjuangan Choer Affandi untuk menyelamatkan anak yang ada dikandungan istrinya. Di sisi lain ia mampu mewarnai adegan mencekam saat Oyoh Shofiyah melahirkan anak ke-5 seorang putri (Enung Muthma’innah), dalam kejaran atau tentara Soekarno. Nampak Fauz Noor sangat apik menggambarkan suasana saat itu sehingga para pembaca akan dibuat haru dan terbawa suasana saat itu.

    Sebagai novelis, ia pun piawai menyelipkan dialog-dialog guyon khas orang Sunda, terutama pada tokoh historis bernama Sya’ir yang lebih terkenal dengan si Hideung. Satu tokoh yang kemudian hari wafat di Bungur Sari Kota Tasikmalaya.

    Pembahasan novel ini sebenarnya tidak hanya mengangkat berbagai peristiwa di Priangan, tetapi mengangkat juga berbagai peristiwa nasional. Salah satunya pembahasan cita-cita tentara Islam ternyata memincut para tentara lainnya di luar Jawa Barat untuk mendeklarasikan hal yang yang sama meskipun konflik dan motivasinya bisa disebut berbeda dengan yang terjadi di Jawa Barat.

    Sebut saja ada Amir Fatah yang memproklamirkan Negara Islam di Brebes, Tegal dan Pekalongan. 1952, Kiai Muhammad Makhfudz Abdurrahman atau Kiai Sumolangu, memproklamirkan bergabung dengan Darul Islam di Jawa Barat. Berdiri juga DI/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar. Di Kalimantan Selatan pada tahun 1954 Ibnu Hajar memproklamirkan bergabung dengan DI/TII di Jawa Barat. Di Aceh, pada 20 September 1953, Teuku Daud Beureuh memproklamirkan  bergabung dengan DI/TII yang diproklamirkan Kartosuwiryo. Deretan berbagai peristiwa yang terjadi secara nasional ini membuat novel ini semakin lengkap, tidak parsial  dan tidak terputus narasi sejarahnya.

    Bagian selanjutnya, Fauz Noor menggambarkan juga bagaimana sosok dukungan warga saat itu terhadap DI/TII dengan memberikan berbagai makanan salah satunya adalah makanan pokok beras. Tentu dengan resiko yang sangat berat saat itu, karena jika diketahui oleh tentara Soekarno, taruhannya adalah nyawa. Kejadian itu digambarkan begitu apik oleh Fauz Noor. Saya salut.

    Satu yang membuat haru, Choer Affandi digambarkan sebagai pribadi yang sangat mencintai dan hormat pada ibunya. Itu tergambar bagaimana saat ia membujuk ibunya untuk turun gunung. Choer Affandi juga sosok yang istiqomah dalam ibadah dan munajatnya, sesibuk apapun bahkan dalam keadaan berjuang di gunung, ia selalu shalat wajib awal waktu, tidak lupa untuk shalat tahajud dan shalat duha.

    Fauz Noor menggambarkan pula situasi terkini politik saat itu pada tahun 1955 dilangsungkan pemilihan umum pertama di Republik Indonesia. Keseluruhan peserta pemilu saat itu mencapai 172 gambar, banyak di antara mereka adalah partai yang berasas dan bernafaskan Islam yang terbesar darinya adalah partai Masyumi, Partai NU dan Partai Serikat Islam Indonesia.

    Saat terbit Peraturan Pemerintah tahu 1958, tanggal 14 Oktober 1958 yang isinya tentang penumpasan DI/TII salah satu isi peraturan tersebut rencana Kodim Siliwangi menerapkan taktik Pagar Betis yang melibatkan peran masyarakat luas. Kembali Fauz Noor membawakan narasi ini dengan apik dan penuh hati-hati, wajar karena merupakan sesuatu yang berat dan sensitif, namun mampu dibawakan oleh Fauz Noor dengan santai dan ringan.

    Terdapat banyak hal yang tidak mungkin terjadi pada masa itu, yakni karamah orang shalih. Fauz Noor mengangkat salah satu kejadian saat Choer Affandi bersama Oyoh Shofiah yang menggendong seorang bayi bersama 3 pengawal TII dikejar-kejar oleh Tentara Soekarno dan tidak ada pilihan lain harus bersembunyi ke salah satu gua yang dikenal dengan gua harimau. Fauz Noor mampu membawakan adegan tersebut dengan menegangkan, setelah Choer Affandi berdoa akhirnya harimau-harimau yang ada di dalam gua keluar sehingga ia bersama Istri, bayi dan 3 pengawalnya bisa bersembunyi di dalam gua.

    Di bagian akhir para anggota DI/TII akan turun gunung, Fauz Noor menggambarkan saat itu keadaan DI/TII sudah sangat lemah, keadaan semakin mencekam, perut keroncongan karena pasokan logistik dari warga terhambat saat diberlakukannya pagar betis. Ada perasaan dari para TII yang ingin kembali hidup normal, kumpul dengan keluarga dan bisa menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya. Di sinilah Fauz Noor menggambarkan bagaimana Choer Affandi dalam menentukan segala keputusan selalu hati-hati dan selalu meminta pandangan dari gurunya.

    Saat berkumpulnya Dewan Imam, Fauz Noor mampu membawakan suasana sakral saat itu dengan bijaksana dengan berbeda pandangan yang terjadi antara bertahan ataupun harus turun gunung. Tentu saat itu sikap SM Kartosuwiryo tetap bertahan sampai mati di gunung, tapi ia pun mempersilakan jika ada yang mau turun gunung. Namun dalam pembahasan Dewan Imam, ada diksi yang mesti diluruskan terkait waktu proklamirkannya DI/TII sebagaimana yang dikenal dalam buku-buku sejarah itu 7 Agustus 1949 namun dalam novel ini tertulis 17 Agustus 1949. Mungkin penulis ada pertimbangan lain.

    Setelah ada kabar tertangkapnya pimpinan Darul Islam Indonesia, SM Kartosuwiryo dan beritanya dengan cepat menyebar. Para TII yang berada di hutan-hutan di daerah Bandung, Cianjur, Sumedang dan yang lainnya berbondong-bondong menyerahkan diri. Fauz Noor dengan apik menggambarkan bagaimana saat itu keputusan Choer Affandi untuk turun gunung. Penulis mampu menggambarkan sosok Choer Affandi dalam menentukan segala keputusan layaknya memang seorang ulama yang penuh dengan kehati-hatian.

    Choer Affandi digambarkan melaksanakan shalat istikharah terlebih dahulu dan melakukan tirakat. Fauz Noor kembali menyampaikan peristiwa spiritual yang terjadi sebagaimana yang ia angkat di novel pembuka hidayah jilid 1 berhubungan dengan nama Affandi dan sebelum berbaiat kepada SM Kartosuwiryo.

    Dalam novel pembuka hidayah jilid 2. Fauz Noor menyampaikan bagaimana peristiwa spiritual itu terjadi yang tak jauh berbeda ketika Choer Affandi akan naik gunung dua belas tahun yang lalu. Satu tulisan membentuk nama dalam gelar bangsawan Kekhalifahan Turki Utrsmani yang akhirnya ia pakai sebagai nama pribadinya.

    Berkaitan dengan adanya cahaya yang kemudian membentuk rangkaian kata dalam huruf arab : alif, fa, fa, nun, dal dan ya (tanpa titik di bawah), yang jika dibaca menjadi Affandi. Choer Affandi tak mau menafsirkan sendiri, ia menyuruh anak buahnya untuk menyampaikan surat itu kepada guru suluknya yang dahulu dua belas tahun yang lalu menyuruhnya untuk shalat istikharah ketika hendak naik gunung dan bergabung dengan Darul Islam Indonesia.

    Gurunya tiada lain adalah Habib Ali Kwitang Al-Habsyi. Beberapa hari kemudian, anak buahnya kembali dan menyampaikan bahwa cahaya bulan adalah cahaya para ulama yang berasal dari cahaya matahari. Cahaya bulan adalah cahaya ulama yang akan terus menyinari kehidupan umat manusia.

    Ulama Warastul Anbiya.

    Kurir itu berkata “Choer Affandi adalah seorang UWA, Ulama Warasatul Anbiya.”

    Terungkaplah sudah mengapa Choer Affandi disebut Uwa Ajengan, ternyata UWA adalah singkatan dari Ulama Warasatul Anbiya.

    Ada hal menarik ketika Choer Affandi akan turun gunung, Fauz Noor menggambarkan Choer Affandi dengan beda penampilan. Choer Affandi digambarkan tidak dengan mengenakan pakaian kemeja dan celana panjang seperti sehari-hari pakaian yang dipakai, tetapi saat akan turun gunung ia mengenakan jubah putih yang biasa dipakai shalat dan memakai ighol (ikat kepala) berwarna putih, dan ia pun memaka tongkat. Ini merupakan isyarat bahwa ia akan menjadi pewaris nabi.

    Di bagian akhir sub judul novel ini yakni ke Manonjaya, di sinilah titik nol perubahan perjuangan Choer Affandi dari yang awalnya jihad bil qital dengan mengangkat senjata di gunung, sekarang berubah dengan jihad bil fikroh, yakni berperan menjadi seorang Ulama Warasatul Anbiya.

    Pertama yang ditemui oleh Choer Affandi setelah turun gunung adalah putra putrinya yang dititipkan kepada orang-orang yang bersedia mengurusnya. Ia ingin membangun keluarga kembali.

    Setelah turun gunung, Choer Affandi tetap mesti laporan sepekan sekali ke Bandung. Momen ini digambarkan Fauz Noor begitu lengkap bagaimana saat itu Choer Affandi memulai dakwahnya dari nol, menjadi tabib, laporan setiap pekan ke Bandung, menempuh perjalanan jauh harus ke stasiun yang menyebabkan beliau akhirnya pindah ke Manonjaya untuk mendekati rel kereta api.

    Bagaimana Choer Affandi merintis usaha dan tidak malu malu berdagang bahwa sebenarnya ia berdagang dengan Allah, bakti sosial bahasanya, karena tak jarang ia mendapatkan rugi daripada untung.

    Penulis menggambarkan, saat Choer Affandi di Bandung menemukan anak-anak yang bajunya compang camping. Choer Affandi memberikan baju kepada mereka, ia pun sering menengok anak-anak yatim fakir gelandangan. Kejadian seperti itu tak hanya sekali beliau lakukan, tetapi hampir tiap hari dan sepanjang hari.

    Saat Choer Affandi mulai merintis dakwah, Fauz Noor kembali membawakan suasana haru. Bagaimana saat itu Choer Affandi dibelikan rumah panggung oleh jamaah pengajian di Ciherang dan dibantu Ajengan Udin dan Ajengan Busthami yang mana rumah tersebut diangkut oleh jamaah pengajian Ciherang dari Ciherang ke Manonjaya.

    Sungguh suasana yang sukar dipercaya ternyata rumah itu benar-benar diangkat, bagaimana kecintaan dan ketulusan para warga wabil khusus ajengan Busthami dan Ajengan Udin terhadap Choer Affandi dengan tulus memberikan rumah untuk dirinya dan keluarganya. Dapat dibayangkan suasana saat itu mengangkut rumah tentu menjadi tontotan setiap orang yang melihatnya, tak sedikit yang berdecak kagum melihat kecintaan jamaah terhadap gurunya.

    Fauz Noor mampu menjelaskan bagaimana nama Choer Affandi mulai dikenal dalam mimbar-mimbar ketika saat itu ada kejadian beliau yang awalnya mau thulab mendengarkan ceramah gurunya Rd. KH. Didi Abdul Majid, namun berhubung saat itu gurunya tidak hadir, panitia mempercayakan Choer Affandi untuk berbicara dihadapan ribuan orang. Disinilah awal nama Choer Affandi mulai di kenal luas.

    Terakhir novel ini berhasil ditutup dengan alur yang membuat setiap pembaca semakin penasaran untuk melanjutkan membaca novel jilid 3. Ketika peristiwa G30S/PKI dan pasca itu simpatisan PKI menjadi buruan warga tak terkecuali di Tasikmalaya. Ajengan Choer Affandi saat itu teringat peristiwa yang menimpa gurunya, Ajengan Masluh dan ulama sepuh Tasikmalaya yang dihormati KH. Fakhrudin yang terbunuh diisukan oleh Darul Islam, hasil investigasinya pelaku pembunuhan bukan anak buahnya anggota DI/TII.

    Setelah ngawuruk santri pada malam yang pekat  di sekitar daerah Cineam, Choer Affandi sudah ditunggu oleh empat orang yang sedang ngudud daun kawung. Ternyata empat orang tersebut bekas anak didiknya di Darul Islam dahulu. Dari hasil percakapan tersebut, ternyata anak buahnya masih semangat dan setia terhadapnya, dan yang membuat kaget ternyata ia memberikan kertas kepada 4 anak buahnya, di kertas tersebut ada dua nama lengkap dengan alamatnya adalah pembunuh Ajengan Masluh dan KH. Fakhrudin.

    Disinilah novel pembuka hidayah jilid 2 sukses ditutup dengan narasi menggantung, yang akan membuat para pembaca bertanya-tanya siapa dua nama yang membunuh 2 ulama Tasikmalaya waktu itu, apa yang akan dilakukan oleh 4 orang mantan DI/TII tersebut, dan bagaimana akhir cerita dari novel pembukan hidayah ini ?

    Membaca buku ini, saya semakin kagum ketika mendengar nama Choer Affandi. Bagaimana seorang ulama yang mau mengorbankan segalanya demi wujudnya Syariah Islam di tanah Jawa Barat, bahkan harus berjuang bersama istrinya di gunung selama 12 tahun, dan setelah turun dari gunung harus membangun kehidupan baru dari nol dengan kesan yang masih melekat sebagai mantan tokoh DI/TII tentu bukan hal yang sangat mudah.

    Hal terpenting, Novel ini tidak memakai kaca mata hitam-putih dalam membaca realitas. Satu yang utama, dalam novel ini diselipkan narasi-narasi dari Fauz Noor untuk terjadinya rekonsiliasi, terutama dalam ukhuwah Islamiyah. Di sisi lain, masih banyak pesan yang tersirat dan tersurat dari novel pembuka hidayah jilid 2 ini yang bisa dijadikan pelajaran untuk kita yang hidup saat ini dan generasi selanjutnya. Terharu, itu kesan saya setelah membaca buku ini.  Sekali lagi apresiasi untuk Fauz Noor dan kita pun menunggu novel pembuka hidayah jilid ke-3 nya. [ ]

    IDENTITAS BUKU

    Judul: Pembuka Hidayah Novel Biografi Uwa Ajengan Buku Kedua
    Pengarang: Fauz Noor Zaman
    Penerbit : Tapak Sabda (Sabda Book’s)
    Cetakan 1: Oktober 2021
    ISBN: 978-62391126-9-1
    Tebal: xii + 239 halaman

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.