Kejahatan Cinta - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 November 2021 06:41 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kejahatan Cinta


    Dibaca : 514 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebelum orang-orang itu datang, dia, duduk di bangku bambu teras rumah. Matanya  menatap jalanan yang sunyi di malam hari. Jari tangannya menjepit sebatang rokok, sembari membayangkan kejadian sepuluh hari lalu, saat istrinya, tiba-tiba mengatakan keinginannya untuk berpisah. Ketika kepak codot terdengar dan berkelebat di depannya bersama desau angin, dia sadar hatinya tak akan bisa menerima. Dia menikmati semua yang dimiliki istrinya. Dia rela melakukan apa saja agar istrinya tetap bersamanya. 

    Setiap kali istrinya menyebut nama seorang pria, seluruh darahnya selalu bergolak. Matanya berkunang-kunang dan kepalanya seolah dipenuhi oleh kebencian yang jahat. Ia tak bisa mendengar pria lain disebut. Apa pun alasannya. 

    “Kamu menyimpang!” Teriaknya.

    “Kau yang gila!” balas istrinya lebih keras.

    Tak tahan istrinya melawan, hatinya mulai panas dibakar cemburu. Perempuan itu dia tampar keras, hingga bibirnya pecah. Tapi sedetik kemudian, dia sadar. Melihat istrinya terluka, dia panik dan menangis. Memeluk tubuhnya istrinya, dan mengatakan maaf berulang kali. Rasa sesalnya terus tumbuh ketika istrinya minggat dengan raut seperti hari kiamat. Ketika istrinya pergi, seluruh jiwanya ikut pergi. Selama seminggu ia memutuskan mangkir menjadi sopir. Ia mencoba menyusul untuk memohonnya kembali. Tapi, ia hanya bertemu mertuanya yang juga terluka.

    “Pulanglah, dan sadarkan dirimu dahulu,” kata mertuanya tegas.

    Tetapi, ketika isrinya pulang, hatinya malah menjadi seperti dirajam. Waktu itu, istrinya dengan gamblang mengatakan mereka tak ada lagi ikatan. 

    “Aku akan mengajukan gugatan,” tegas istrinya melanjutkan.

    Dia terdiam. Matanya menerawang, lalu menatap mata istrinya yang menantang. Saat itu, hatinya tiba-tiba menjadi lemah. Rasa sakitnya bertambah. Dia menangis. Lalu merengek, memohon agar gugatan itu jangan dilakukan. Istrinya tertawa sengit. Suaranya parau berkata tegas.

     “Aku sudah tak tahan.”

    Dia tak menghiraukan ucapan istrinya itu, dan mencoba terus memohon. Bersimpuh seperti laki-laki tak berdaya. Memeluk kaki istrinya yang duduk tegak membisu di atas kursi. Namun, dia mencoba terus memohon. Suaranya serak ketika melafalkan kata maaf berulang-ulang. Lama sekali ia melakukan itu. Hingga kemudian, istrinya menghela nafasnya, dan memintanya duduk di kursi. Saat itu, dia merasakan dadanya seperti dipenuhi udara yang segar, dan hatinya yang gelap seperti diterangi oleh cahaya kuning yang hangat. Pria itu bergegas memeluk istrinya, sambil terus berucap kata maaf. 

    “Ini maaf  terakhir,” kata istrinya, “Tak ada lagi maaf di lain waktu.”

    “Baik, terima kasih,” katanya.

    Dengan suara yang girang, dipenuhi rasa sayang, dia berjanji akan selalu ingat itu. Tak ada maaf di lain waktu.

    Malam itu mereka tidur di atas ranjang. Saling merangkul dalam kasih sayang. Tetapi, ketika istrinya mengigau, dia terbangun di tengah malam. Rasanya, telinganya seperti mendengar nama pria disebutkan. Lamat-lamat itu terdengar. Merasuk dan melukai jiwanya. Hatinya bimbang, tapi cepat sekali meradang. Pikirannya satu jengkal cepat menyimpulkan. 
    “Dia menyimpang..”

    Lalu, dengan gerakan lamban, dia duduk di atas ranjang, menatap tubuh istrinya yang setengah telanjang.  Dalam semenit dia berkata pada dirinya sendiri. Katanya, betapa bodohnya dia dipermainkan wanita. Mulutnya berhenti ketika suara cicak terdengar seperti decakan bergema di telinganya.  Setelah matanya melihat pinggir dinding yang suram, mulutnya kembali terbuka, suaranya berguman. 

    “Bodohnya aku.”

    Rasanya ingin sekali dia menampar. Tapi, sayangnya dia berhasil menahan. Katanya, dia tak ingin lagi menyakiti istrinya. Dia tak ingin istrinya bangun, dan pergi kembali. Dia tak mau ditinggalkan. Dia ingat rasanya, sakitnya menyusahkan. Betapa tersiksanya dirinya setiap kali istrinya pergi menghilang. Dia tak ingin perempuan itu pergi. Untuk itu, dia tak akan membiarkannya pergi. Mulutnya tersenyum. 
    **
    Setelah membuang putung rokoknya, dia berdiri, dan bermaksud masuk ke dalam. Dia ingin menemui istrinya. Perasaannya merasa tenang karena istrinya tak lagi meninggalkan. Saat itu, dia ingin memeluk istrinya dengan rasa kasih sayang. Tetapi, tiba-tiba, orang-orang itu datang dan menghadang. Suara mereka kasar menjengkelkan. Rumahnya tiba-tiba gaduh seperti pasar malam. Wajahnya menjadi merah karena marah. Mulutnya berteriak mengecam. Tapi, salah seorang mengatakan,” kami polisi, jangan melawan!” Lalu memintanya duduk dengan kasar. Tapi ia melawan.

    “Kamu diam!” Bentak polisi itu.

    Lalu, beberapa polisi ditemani orang kampung masuk tanpa melepas sendal. Semenit kemudian, dia mendengar suara orang berteriak dari kamar. Mereka menemukan istrinya mati telanjang di atas ranjang.

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.