Tidak Sempurna - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto anak laki-laki kesepian. FeeLoona dari Pixabay.com

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Sabtu, 27 November 2021 06:44 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tidak Sempurna

    Aku yang tidak memercayai keluargaku lagi, bertemu dengan seorang anak laki-laki. Aku yang mengulurkan tanganku merasakan suatu kesamaan dari kami. Apakah karena aku merasa kami diperlakukan dengan sama di keluarga kami masing-masing? Atau ada sesuatu yang lain dari itu?

    Dibaca : 575 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Aku sangat benci kepada mereka. Mereka langsung percaya terhadap rumor tanpa pembuktian apa pun. Aku juga merupakan korban fenomena ini. Kedua orang tuaku bahkan lebih memercayai gunjingan itu daripada pendapat anak mereka sendiri. “Mengapa kau melakukan itu? Ibu tidak percaya!” Mereka menatapku seolah melakukan kejahatan paling buruk sepanjang sejarah. Aku bahkan tidak sempat memberikan pendapatku. Kau sangat membanggakan kami saat kami berhasil dan sangat menjatuhkan kami saat gagal. Aku tidak tahu apakah kami ini sebagai anak kalian atau pegawai kantor kalian. Aku yang sejak kecil menerima ketidakadilan, menutup diriku rapat-rapat.

                “Aku berangkat.”, ujarku. Aku tidak tahu mengapa aku masih mengucapkan hal itu ke rumah ini. “Tunggu bang!” Teriakan adikku terdengar sampai ke pasar. “Cepatlah!” Aku juga masih memiliki hati nurani. Aku tidak akan tidur nyenyak jika sesuatu terjadi kepada Indah. “Jaga adikmu baik-baik!” Aku melihat dua saudara yang jauh berbeda dari kami berdua, tetapi aku dapat menebak, perlakuan keluarganya kepada aku dan anak itu adalah sama. “Cepatlah! Aku tidak punya waktu untukmu! Pacarku sebentar lagi menjemputku. Kau berangkat sekolah sendiri saja.”, ujar kakaknya. Aku tidak tahu mengapa aku mengulurkan tanganku. Aku hanya menadahkan tanganku, “Apa kau ingin ke sekolah bersama?” Tentu saja adikku dan kakaknya kebingungan melihat kejadian itu. “Abang siapa?” Aku pernah melihat anak-anak sepertinya. Dia terlihat linglung dan susah untuk diajak berbicara. Aku tidak tahu apakah ini sebuah kelainan atau penyakit. “Apa yang kau inginkan dari adikku? Aku tidak akan mengizinkan dia pergi ke sekolah dengan orang asing.”, ujarnya. “Kalimat yang kaya yang datang dari mulutmu. Kau baru saja ingin meninggalkannya.”, ujarku. Pacarnya akhirnya datang dan mengajaknya pergi ke sekolah. “Awas kau! Dan Denis, jangan kasih tahu ibu! Paham?!” Aku sudah menduga, perlakuan yang kami dapatkan sama di keluarga kami. “Ayo bocah, kita berangkat!” Bocah itu hanya mengangguk dan mengikutiku. “Abang kenapa mengajak dia? Dia berada di samping kelasku. Orang bilang dia itu anak yang aneh.”, ujar adikku. Aku tentu saja menghiraukannya dan melanjutkan perjalanan.

                “Bocah! Aku melihat itu!” Aku mencengkeram kedua pundaknya dan dia pun merasa ketakutan. “Kau ini sebenarnya?” Dia menutup matanya. “Kau pendukung Chelsea?” Semua orang yang sedang berjalan di sekitar kami mendengar teriakan yang cukup kencang itu. “Sial, aku tidak sadar berteriak kencang tadi.”, ujarku. Bocah ini malah tertawa. Syukurlah, aku kira dia tidak bisa tertawa lagi. “Iya bang. Abang juga?” Kami akhirnya membahas performa klub sepak bola kesayangan kami. Bagaimana pemainnya, pelatihnya, dan performanya di liga. Adikku tentu saja sudah bersama temannya. Dia pasti tidak ingin bersama dua orang aneh seperti kami. “Bang, aku lewat dari sini. Terima kasih sudah berangkat bersamaku.”, ujarnya. Dia bocah yang baik, aku tidak mengerti mengapa kakaknya bersikap seperti itu. Aku harap temannya tidak seperti itu.

                Harapanku langsung pupus saat melihat dia yang disiram di belakang gedung sekolah kami. Sialan, aku sudah menduganya. “Bocah-bocah sialan!” Aku datang dengan sebuah ember besar. Mereka pun basah kuyup. “Siapa kau?!” Aku pun mengeluarkan tatapan preman. Cara inilah yang membuatku dapat melupakan rumah sialan itu. “Kau?! Bang Nico?! Sialan jangan macam-macam sama orang brutal itu!” Mereka berlima pun kabur. “Dia juga pernah menghancurkan taman bunga milik bu Sri. Orang yang kasar sekali!” Aku masih bisa mendengarnya bocah-bocah sialan. “Kau tidak apa-apa bocah?” Dia justru menatapku dengan penuh kebencian. “Kau? Apakah betul bang, kau yang merusak taman bunga bu Sri?” Apakah dia mengenal bu Sri? Sebuah pot bunga tiba-tiba jatuh ke pundakku. “Aku tidak akan memaafkanmu!” Dia akhirnya berhenti melihat ke bawah dan melihatku yang sudah terbaring ditimpa pot bunga. Dia pun pergi meninggalkanku. “Jadi, kau juga mengenal bu Sri? Sialan, bagaimana ini?” Aku tentu saja ingat kejadian satu tahun yang lalu. Aku tidak bisa berkata apa pun, sama seperti waktu itu. “Aku tidak berubah sama sekali.”, ujarku.

                Keesokan harinya aku tidak melihat bocah itu pergi ke sekolah bersama kakaknya. Kakaknya justru ingin mengajakku ke suatu tempat. “Adikku ingin meminta maaf, tetapi dia malu mengatakannya secara langsung. Maukah kau ikut bersamaku?” Bocah itu ingin memaafkanku? Semua orang yang mengenal bu Sri sampai sekarang  membenciku sampai ke kuburan mereka. Aku ragu kalau Denis akan memaafkanku. “Baiklah.”, ujarku. Kami pun akhirnya sampai di tempat pembangunan yang sudah terlantar. Aku disambut oleh rombongan pria. “Benjamin, ini dia prianya.”, ujar kakak Denis. Bukannya dia pacarnya? Aku langsung disambut dengan pukulan ke perut. “Bagaimana rasanya mempermalukan pacarku?” Siapa yang mempermalukan pacarmu? Jangan-jangan di pagi itu? “Mengapa kau diam saja?” Aku langsung disambut dengan dua pukulan lagi. Kedua temannya datang bersama papan kayu dan memukulku. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Aku mencoba melawan balik, tetapi pukulan kayu itu membuat lenganku sangat sakit. Pacar kakaknya pun mengeluarkan pipa besi. “Bro, sepertinya itu terlalu berlebihan.”, ujar temannya. “Berisik! Dia mempermalukan pacarku di depan adiknya! Aku tidak akan membiarkan siapa pun mempermalukan pacarku!” Ayunan pipanya pun dimulai. Apakah aku akan berakhir hanya karena ego besar seseorang? Aku memang sudah menyadarinya sejak lama. Aku memang membenci mereka yang disebut sebagai manusia. Aku bahkan tidak pernah bertemu mereka yang baik, tetapi syukurlah, dengan ini biaya keluargaku akan semakin ringan. Mengapa aku masih mementingkan keluarga sialan itu? Pipa tersebut tiba-tiba berhenti. “Apa?!” Semua orang terdiam dan kebingungan, kecuali kakaknya Denis. “Denis, mengapa kau melakukan itu?!” Denis? Aku melihat Denis tepat di belakangku. “Aku akan memberi tahu ayah dan ibu!” Telunjuk Denis bergerak ke kanan yang diikuti oleh ayunan pipa pacar kakaknya yang mengenai temannya sendiri. “Bro, apa yang kau lakukan?” Mereka akhirnya berkelahi sendiri. “Cepat bang, kabur.”, ujar Denis. “Denis, lihat nanti di rumah!”

                “Mengapa? Mengapa kau menyelamatkanku?” Aku masih penasaran terkait apa yang baru saja Denis lakukan, tetapi itu tidak penting untuk sekarang. “Bang, ayo kita ke taman sekarang.”, ujarnya. Apakah aku akan diperlakukan seperti mereka? Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan bocah ini. Dia kelihatan sangat keren tadi! Dia seperti pahlawan-pahlawan di film. Apakah aku bisa mempelajari jurus itu? “Hahahahaha!” Ketawa Denis pecah sebelum kami sampai ke taman. “Abang ini orang yang aneh.”, ujarnya. Apa yang dikatakan bocah ini? “Maafkan aku bang, aku mengajakmu ke sini ingin mengatakan sesuatu.”, ujarnya. Ekspresi dia kembali serius. Dia terlihat seperti karakter di komik-komik. “Cukup bang, perutku sudah sakit tertawa terus.”, ujarnya. Huh? Serius? “Benar bang, selain kejadian yang abang lihat tadi, aku juga bisa membaca pikiran orang lain.”, ujarnya. Huh? Aku harus mencubit tanganku. Sakit. “Kau serius?!” Dia terlihat ingin tertawa lagi. “Aku sebenarnya tahu kejadian satu tahun yang lalu bang. Aku juga tahu kalau abang bukanlah pelaku sebenarnya. Aku terbutakan oleh kemarahanku waktu itu. Maafkan aku bang. Bang?” Aku harus memberinya penghormatan dulu. “Tidak perlu! Abang tidak perlu bersujud!” Apakah kurang ya? “Bukan!” Bocah ini orang yang asyik. Mengapa orang-orang mengganggu dia? Apakah? “Betul kak, aku sering tidak sengaja mengeluarkan kekuatanku. Apakah ini bisa dibilang kekuatan? Kekuatan ini hanya membawaku mala petaka! Ini adalah kutukan!” Aku kembali memegang kedua pundaknya. “Apakah kau bodoh?! Maaf. Jika tidak ada kau, aku sudah menjadi samsak tadi!” Dia terkejut. “Jika aku memiliki kekuatan sepertimu, aku akan menyelamatkan banyak orang dan membuat mereka yang di rumah menyesal telah memperlakukanku seperti ini! Hahahaha!” Dia senyum. “Abang memang orang yang bodoh. Tidak semudah itu bang. Sesuatu yang spesial pasti membutuhkan bayaran yang spesial juga. Aku bisa mati jika melakukannya terus menerus.”, ujarnya. Aku menyadari perkataanku baru saja terdengar sangat kasar. “Tidak apa-apa bang. Aku pernah mendengar perkataan yang lebih kasar.”, ujarnya. Hal ini sedikit menyebalkan. “Bisakah kau tidak membalas pemikiranku? Aku seperti menjadi orang ketiga saat kalian dua berbicara padahal hanya kita berdua yang ada di sini.”, ujarku.

                Dia juga menceritakan kejadia yang menimpa keluarganya. Dia juga bisa mengeluarkan api dari tubuhnya. Hal itulah yang menyebabkan rumahnya mengalami kebakaran. Aku juga ingat kejadian itu. Itulah mengapa dia sangat dibenci oleh keluarganya dan teman-temannya. “Apakah kau akan baik-baik saja? Pulang ke rumahmu.”, ujarku. Aku tahu jawabannya jika mendengar ceritanya. “Tidak apa-apa bang. Aku tetap akan pulang. Mereka masih keluargaku.”, ujarnya. Aku memalukan sekali ya. Perlakuan apa pun yang diberikan keluarganya kepada Denis, dia tetap menganggapnya sebagai keluarga, berbeda denganku. “Tidak apa-apa bang. Aku juga seperti abang, tetapi aku menyadari kesalahanku waktu itu. Mereka juga masih memperbolehkanku tinggal di rumah itu.”, ujarnya. “Aku juga tahu bang. Kejadian taman bu Sri itulah yang membuat hidup abang seperti ini. Aku sebenarnya ingin mengadukan itu, tetapi masalah di keluargaku juga berat waktu itu.”, ujarnya. “Tidak perlu Denis, ini adalah masalahku. Perkataan yang sebenarnya juga tidak akan membuat mereka percaya lagi. Aku sudah memutuskan hal itu dengan mereka. Pulanglah, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku melalui pikiranku.”, ujarku. “Maaf bang, aku tidak bisa melakukan itu.”, ujarnya. “Maaf, ini kontakku.”, ujarku.

                Sore itu aku mendapatkan pesan dari Denis. “Selamat tinggal bang, senang bertemu dengan abang.”, ujarnya. Apa yang dikatakan anak ini? Apakah kakaknya mengadukannya? Apakah dia diusir dari rumahnya? Sialan! Aku mencari Denis, namun aku tidak menemukannya. Sekolah? Taman waktu itu? Sialan! “Tidak apa-apa bang. Tidak usah mencariku.”, ujarnya di dalam pikiranku. Sial! Bocah itu ternyata bisa melakukannya. “Aku berada di sekolah bang.”, ujarnya. Sialan! Aku tidak akan memercayai perkataanmu. “Jangan remehkan rasa tidak percayaku ke orang-orang!” Dia tertawa lagi. Aku tahu!

                “Kau memang hebat ya bang.”, ujarnya. Aku menemukan dia di taman bukit. “Tentu saja. Aku selalu menganggapmu sebagai menara listrik. Tentu saja kau harus berada dekat dengannya atau harus berada di tempat yang tinggi.”, ujarku. Aku baru saja terlihat sebagai detektif kan. Dia pun tertawa lagi. “Aku yang melihat abang seperti ini membuat niatku goyah untuk pergi.”, ujarnya. Jangan-jangan? “Jangan bunuh diri!” Teriakanku membuat burung di sekitar beterbangan. “Tidak mungkin bang, aku tidak ingin seperti manusia itu.”, ujarnya. Syukurlah. “Mereka akan datang menjemputku.”, ujarnya sambil melihat ke langit. “Apakah kau memiliki topi yang bisa membuatmu terbang?! Seperti?!” Sebuah ranting melayang ke arah mukaku. “Jangan lanjutkan bang.”, ujarnya. “Terima kasih bang telah membuat hari-hari terakhirku senang. Sudah waktunya.”, ujarnya. Aku tidak melihat apa pun yang akan menjemputnya. Apakah dia akan melompat? “Tidak bang. Aku akan mengatakannya, tetapi sebelum itu aku ingin abang mundur tiga langkah ke belakang.”, ujarnya. Aku pun menuruti perintahnya. “Hahaha, abang adalah orang yang memiliki rasa tidak percaya yang mudah percaya dengan orang lain. Paradoks baru kutemukan.”, ujarnya dengan senyuman. “Terima kasih bang untuk selama ini. Selamat tinggal.”, ujarnya. “Tunggu! Denis!” Cahaya yang terang tiba-tiba bersinar dan hantaman yang keras terjadi tepat di hadapanku. Aku terpental ke belakang. Aku sekilas melihat meteor yang besar yang hampir mengenaiku. Aku hampir saja mati untuk kedua kalinya. Bocah itu sudah dua kali menyelamatkan diriku. “Aku tetap akan pulang. Mereka masih keluargaku bang.”, perkataan Denis waktu itu masih berbayang di kepalaku. “Sepertinya niatku untuk kabur dari rumah akan kukurung lagi. Sialan kau Denis, mencuci otakku seperti ini. Apakah kau juga mempunyai kemampuan itu? Huh?” Aku seperti orang gila yang berbicara kepada langit. Kesadaranku pun hilang diiringi petugas kesehatan yang datang ke tempat kejadian perkara.

                “Bang, jangan lupa sarapanmu!” Aku sudah berusaha untuk meyakinkan mereka, tetapi aku tetap tidak bisa membuat mereka percaya terkait kejadian waktu itu. Bu Sri sendirilah yang mungkin bisa, tetapi aku sudah lama tidak melihat beliau. Aku juga tidak masalah jika seperti ini. Mereka yang tiba-tiba peduli kepadaku juga terasa aneh. “Aku berangkat.”, ujarku. “Nico, belikanlah ibu minyak goreng nanti.”, ujar ibuku. “Iya!” Aku pun melanjutkan perjalananku ke sekolah. “Tunggu bang. Bang apakah abang ingin pergi bersamaku mencari hadiah untuk ulang tahun ibu?” Betul. Hal ini terasa aneh sekali dan menggelikan. “Iya, jika aku ada waktu luang.”, ujarku. Hari-hari seperti ini mungkin tidak terdengar buruk.

                “Bagaimana menurutmu kapten? Atau aku harus memanggilmu sebagai bu Sri?” Dua orang sedang melayang di atmosfer bumi. “Berisik, aku tidak tahu nama yang lebih bagus lagi, mungkin bu Melati akan terdengar lebih cantik. Bukan itu!” Pria yang disampingnya tertawa. “Aku rasa di adalah sampel yang cocok. Si nomor 56 juga berpendapat seperti itu.”, ujarnya. “Maksudmu, si Denis? Atau aku harus bilang anakmu?” Wanita itu pun mengamuk. “Apakah kau sengaja melakukannya?” Mereka berdua asyik bercanda. “Suara siapa yang aku dengar ini?!” Ujarku. “Hasilnya sudah keluar kapten. Huh? Sampelnya cocok!” Mereka berdua terlihat panik namun dengan raut wajah yang bergembira.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.