Sastra Tanpa Kelamin Virginia Woolf - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 November 2021 10:26 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sastra Tanpa Kelamin Virginia Woolf

    Virginia Woolf atau Adeline Virginia Stephen adalah sastrawan moderen Inggris yang punya pengaruh besar. Cerpennya Kew Gardens,misalnya menjadi salah satu tonggak aliran kesadaran dalam sastra moderen, seperti novelnya Miss Dalloway. Viginia Woolf juga seorang feminis, sebelum misalnya Simon de Beauvior melahirkan The Second Sex (1947 atau 1949?). Risalahnya berjudul “A Room of One’s Own” berisi gagasan bagaimana seharusnya perempuan diposisikan agar bisa bisa berkarya maksimal, termasuk gagasannya tentang sastra tanpa kelamin. Tentu konteksnya agak berbeda dengan feminisme yang saat ini sudah mencapai gelombang ke empat. Termasuk perbedaan pandangan feminisme Eropa (Prancis) dan Amerika.

    Dibaca : 117 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Virginia Woolf, sastrawan perempuan moderen Inggris, suatu ketika di tahun 1929 diundang untuk ceramah tentang fiksi dan perempuan di Girton College Cambridge. Woolf kemudian menyampaikan pikirannya dalam risalahnya dengan judul “A Room of One’s Own”. 

    Dalam ceramah itu, Woolf menyampaikan tesis utamanya bahwa perempuan harus memiliki ‘ruang dan uang’ bila ingin menjadi penulis fiksi. Tesis itu merujuk pada sejarah perempuan yang tak pernah bisa memiliki keleluasaan seperti halnya kaum pria. Virginia Woolf ingin mengatakan bahwa dua hal dasar itu merupakan syarat utama agar seorang penulis fiksi mampu mengembangkan intelektualitas dan imajinasinya sebagai seorang pengarang.

    Ketika kemandirian itu terganggu, maka semua jalan untuk mencapai identitas karya perempuan juga akan terhalang. Dalam pembukaan esainya, Woolf membuat metafora pikiran perempuan sebagai air sungai yang mengalir yang terhalangi oleh aturan diskrimanatif Oxbridge College (nama fiktif) sebagai lembaga intelektual dengan membatasi potensi pikiran seorang perempuan. 

    Keadaan menjadi sangat berbeda apabila seorang perempuan memiliki hak dan kesempatan persis dengan seorang pria. Dus, ‘ruang dan uang’ adalah simbol sekaligus keyakinan Woolf sebagai alat pembebasan untuk mendapatkan kesetaraan sebagai seorang penulis perempuan. Bagi Woolf, dua prinsip materialisme itu juga merupakan fungsi untuk menghapus jejak perempuan dari kekerasan sejarah, epsitemik dan ekologis yang dilakukan pria.

    Keterbatasan itu, membuat kecerdasan perempuan tak mampu berpijar seperti para penulis fiksi perempuan sejak abad 16, meskipun mereka memiliki kejeniusan seperti Shakespeare. Seorang penulis fiksi harus memiliki ketenangan dan keleluasaan untuk berimajinasi. Tulisan yang bagus selalu baik bagi masyarakat, kata Virgiana Woolf. Ruang yang dibatasi dan ketergantungan perempuan terhadap pria secara finansial mematikan pijar yang ada dalam seorang perempuan. 

    Meskipun kemudian seorang penulis perempuan Inggris di abad 17, Aphra Behn, membuka jalan bagi keberanian penulis generasi selanjutnya di abad 18, seperti Jane Austen dan Goerge Eliot (Mary Ann Evans) dan Emily Bronte di abad 19, namun sesungguhnya masih sangat banyak perempuan yang belum mampu melepaskan diri dari belenggu itu dan kehilangan pijarnya’. Bahkan hal itu masih terjadi hingga abad 21 ini.

    Androgini

    Selain pembebasan perempuan melalui dua hal itu, apa yang diharapkan adalah lahirnya para penulis perempuan yang mampu bersuara, berpijar kuat, dan terang. Virginia Woolf kemudian menawarkan formula pada setiap penulis perempuan untuk menjadi bagian dari sejarah sastra itu sendiri, melalui konsep androgini. Sebuah bentuk sastra tanpa kelamin. 

    Hal ini persis seperti apa yang dinyatakan oleh sastrawan abad 18, Samuel Taylor Coleridge yang mengatakan bahwa pikiran seorang seniman sejati adalah androgini. Perempuan tak harus sama dengan seorang pria, tapi perempuan punya keunikan sendiri yang bisa menjadi bagian dari penciptaan kanon sastra yang khas perempuan. Virginia mengakui bahwa seorang pria dan perempuan memliki kelebihan dan kekurangannya. Namun, dengan konsep androgini tersebut dirasa akan mampu menghilangkan perbedaan.

    Pikiran Woolf ini mengingatkan bagaimana dirinya mengembangkan bentuk estetika yang dikenal sebagai ‘aliran kesadaran’ ( stream of consciouness) yang awalnya diperkenalkan oleh May Sinclair (1918). Cerpennya berjudul “Kew Gardens”, misalnya menunjukkan metode itu. Sebuah cerpen tanpa plot dan mengalir dari momen ke momen melalui monolog interior. 

    Bentuk estetika dan artisitk yang sesungguhnya pernah digunakan Edgar Allan Poe dalam cerpen The Tell-Tale Heart di akhir abad 19. Motede itu kemudian juga digunakan oleh James Joyce dan Willian Faulkner di abad 20. Pada konteks produk sastra perempuan yang bersifat androgini seperti itu, Virginia Woolf menujuk Jane Austen dan Emily Breton sebagai contoh yang berhasil. 

    Dua penulis itu, bagi Virgiana memberikan contoh penulis sastra yang mampu bersuara khas, indah, dan tak terlihat jenis kelaminnya. Paling penting, menurutnya, setiap penulis berhak melanggar apapun dalam penulisan, tetapi bukan demi untuk menghancurkan, tetapi untuk menciptakan. 

    Meskipun demikian, konsep androgini Virgiana Woolf ini dikritik oleh Elaine Showalter dalam esainya Gynocriticism Toward Feminis Poetics (1979). Elaine menawarkan model ginokrtik yang berupaya menghacurkan setiap jejak streotip perempuan yang digambarkan dalam sastra laki-laki. Perlawanan yang jelas dan tidak berkompromi.

    Di luar gagasan ginokritik itu, sastra androgini, tentu saja merupakan sesuatu yang mungkin bisa menetralkan problem gender. Menempatkan kesetaraan gender dan menghilangkan disparitas identitas kelamin. 

    Meskipun pada faktanya, masih banyak penulis di masa kini seperti JK Rowling menggunakan nama pena pria. Rowling menggunakan nama Robert Galbraith untuk novelnya The Cuckoo's Calling (2013) untuk menghasilkan fiksi bernuansa pria. Meskipun problemnya mungkin sedikit berbeda dengan para penulis perempuan di abad-abad lampau. Tapi jejak inferiotasnya masih terasa. 

    Di luar itu, harus diakui bahwa secara umum, problem finasial dan ruang bagi perempuan (pria juga sih, terutamadi Indonesia) masih menjadi masalah. Tanpa dua hal itu, seorang penulis fiksi, kata Virgiana Woolf, mereka akan kehilangan momen untuk menjadi penulis fiksi yang kontemplatif, dan hanya melahirkan penulis fiksi yang alami.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.