x

Iklan

Fea Putra

Fea Putra Writer
Bergabung Sejak: 29 November 2021

Selasa, 30 November 2021 14:47 WIB

Pertukaran Jiwa

Remaja yang terjebak di jurang keputusasaan dan berpikir ingin keluar dengan cara yang tak biasa. Namun, pada akhirnya, ia ditipu oleh kenyataan pahit yang ada. Pikirnya saat itu, ia telah mnenerima penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tidak semua orang dapat hidup sepertiku. Hidup serba kekurangan, tak memiliki teman, selalu dirundung setiap harinya dan sempat ingin mengakhiri hidup karena kacaunya keadaan. Disaat hidupku di ujung tanduk, aku sangat bahagia bukan kepalang. Namun, ada saja yang menghalangi. Seseorang berdasi menyelamatkanku dari situasi maut yang hampir membunuhku. Aku tak bisa menerimanya! Coba ikut campur urusan orang lain. Aku sungguh tak menyukainya.

Pria berdasi itu guruku di sekolah menengah ini. Orang yang aneh dan selalu sok peduli dengan murid-muridnya. Padahal, ia seperti itu karena dibebankan oleh sebuah tugas untuk menjadi seorang “guru”.

Sungguh aku ingin lari dari kenyataan pahit ini. Entah itu mati, dibunuh, diberi uang atau apapun itu. Sungguh aku ingin lepas dari rantai kemalangan ini. Seketika, takdir baik menuntunku. Aku menemukan uang 10.000 di trotoar. Cepat-cepat aku menuju swalayan terdekat untuk membeli makan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Terakhir kali aku memakan produk swalayan saat mendiang ayahku membelikanku sebuah jajanan roti. Kehidupan kami cukup berasa hancur setelah ditinggal olehnya. Ibuku depresi dan terlilit banyak hutang. Singkatnya seperti itu.

Seorang gadis kira-kira berusia 20 tahun dengan rambut panjang menghalangi jalan keluarku dari swalayan. Dia cukup menyeramkan karena hari sudah mulai gelap. Jadi kuputuskan untuk berpikir sejenak dan bertanya padanya.

“Siapa kau?”

“Namaku, Alice.”

Dia manusia? Kulitnya putih pucat. Apakah dia orang sekitar? Yah aku tak peduli, lagipula dia sudah menyebutkan namanya untuk mengetahui bahwa dia memang seorang manusia biasa.

“Yah, terserahlah. Aku ingin pulang.”

“Hidupmu sulit ya. Sungguh bocah malang….”

Aku terkejut dengan balasannya. Lalu, aku menoleh dengan sebuah pertanyaan.

“Apa kau seorang penguntit? Atau seorang pembunuh?”

“Hm? Cukup kasar untuk bocah seusiamu.”

“Terserahlah! Apa maumu?”

Dia merogoh saku jaket hitamnya dan mengeluarkan sejumlah uang. Uang yang sangat banyak. Mungkin, sekitar ratusan lembar senilai 100.000? Tidak! Itu lebih banyak.

“Sepuluh juta, apa kau mau?”

Apa dia berusaha mengecohku? Aku sengaja tak menanggapinya.

“Kenapa kau diam saja? Aku hanya ingin membantumu.”

Untuk memastikan, tidak ada salahnya aku menerima bantuan Alice. Lagipula, aku juga butuh uang untuk hidup.

“Baiklah, aku menerima bantuanmu.”

“Kalau begitu, ikuti aku dan tetap di belakangku. Akan kutuntun dirimu ke tempatku.”

Perjalanan membosankan di malam hari ini membuatku teringat masa lalu. Kala itu, aku masih kelas satu SMA, hidupku masih lebih baik dibanding sekarang. Ayahku belum meninggal dan ibuku belum depresi dan tak sama sekali terlilit hutang. Aku bukan manusia yang pandai, aku juga bukan manusia sempurna yang ahli dalam segala bidang.

Aku tak tahu apa-apa dan tak diberitahu apapun soal keluargaku. Aku hanya anak tunggal yang bodoh dan kikuk di keluarga. Hanya ada Ayah, Ibu, dan diriku saja. Ayah meninggal karena penyakit kronisnya. Lalu, keuangan di keluarga kami lepas kendali tak sesuai harapan. Setidaknya itu yang aku ingat. Dan menurutku, itu semua adalah salah ibu.

“Salah ibumu?” Ucap Alice di depanku sembari membuka pintu.

“Iya. Dia tak dapat mengatur keuangan keluarga.”

“Sekarang, dirimu kelas berapa?”

“Kelas 3 SMA.”

“Baiklah. Silahkan masuk.”

Sebuah rumah tanpa halaman tepat di ujung gang. Rumah yang tak cukup besar, mirip toko? Atau mungkin apotek? Banyak obat-obatan di etalase, namun juga ada makanan? Lebih tepat disebut toserba ketimbang apotek. Minuman, makanan ringan dan juga ada penukaran uang asing? Toserba macam apa ini?

Lampu putih menyala terang menerangi ruangan yang tak cukup besar. Bentuk bangunan memanjang ke belakang. Dengan dekorasi yang agak eksentrik. Muncul keraguan apabila disebut toserba.

Ada gadis lain dengan wajah pucat, mengenakan jaket hitam dan rambutnya juga panjang.

“Siapa namamu?”

“Naoki.”

“Namaku, Anna.”

Anna? Aku pernah mendengar nama itu, akan tetapi ingatanku samar.

“Pernahkah kau mendengar tentang mitos Pertukaran Jiwa?”

“Dulu sekali aku pernah mendengarnya.”

“Kalau begitu, langsung saja. Duduklah.”

Duduk di sofa lembut dan bersih sungguh sangatlah nyaman. Di sajikan secangkir teh oleh gadis pucat yang mengantarku tadi. Kalau tidak salah, namanya Alice. Apa tehnya gratis? Seharusnya gratis, karena aku tamu dan dialah yang mengundangku. Jika tiba-tiba disuruh bayar, aku pun tak mau.

“Hei, apa tehnya gratis?”

“Tentu saja.”

Gadis pucat yang satu ini agak berbeda dengan Alice, matanya sayu, dan lebih tinggi daripada Alice. Aku jadi ragu kalau dua ini adalah manusia. Apakah manusia menjalankan bisnis semacam ini? Ditambah, rumah ini terlalu besar untuk dua orang. Mungkin, ada beberapa karyawan lain yang menginap untuk menjalankan bisnisnya. Dan aku diminta untuk menjadi pekerja disini? Siapa yang tahu.

“Apa ini semacam wawancara pekerjaan?”

“Bukan.”

“Kata Alice, aku akan mendapat uang sebesar sepuluh juta.”

“Benar. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau.”

Benarkah? Sepertinya aku mulai tertarik.

“Akan kujelaskan.”

Aku mengangguk dalam diam karena mulai penasaran dengan bisnis yang mereka jalankan.

“Kami bisa memberikanmu sejumlah uang dengan cara menjual nilai kehidupanmu dan kehidupan orang lain.”

“Menjual kehidupan?”

Eh? Yang benar saja. Aku akan menjadi seorang milyarder! Aku akan kaya raya!

“Baiklah! Aku mau!”

“Siapa yang ingin kau jual, Naoki?”

Satu bulan berlalu, sekarang hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya. Hampir segalanya telah kumiliki. Teman, uang, kebebasan, semuanya telah kumiliki. Tak ada para penindas, para perusak telah lenyap, kini giliran para penghancur yang hancur. Hidupku kembali seperti dulu lagi.

Kalau tak salah ingat, hasil pertukaran itu senilai 16 juta untuk tiga orang. Setiap orang memiliki nilai kehidupan yang berbeda. Satu tahun kehidupan bisa sekitar 15 ribu sampai 100 ribu. Jadi, kujual saja sisa hidupnya sampai tak tersisa. Aku bisa mengobati ibuku yang sedang sakit dan aku bisa mendapatkan seorang gadis impianku.

Di dekatku saat ini ada seorang gadis, dia bertugas sebagai pengawasku. Mungkin, kalau terjadi apa-apa, dia akan menolongku.

“Hei, Alice. Apa kau tak lelah selalu berdiri?”

“Tidak.”

“Padahal kau selalu berdiri, tapi juga tak merasa lelah. Sungguh aneh ya?”

“Bagaimana menurutmu? Aku tak bisa memberikan tanggapan.”

Alice menggelengkan kepalanya.

“Yah…. Ini seperti kebalikan saja. Tubuhku tak seperti dulu lagi, mudah lelah tidak seperti biasanya.”

Akhir-akhir ini aku merasa cukup aneh, entah apa itu. Kejanggalan ini muncul sesaat aku berhasil mendapatkan uang dari bisnis Pertukaran Jiwa yang disarankan Alice padaku.

Sudah 2 minggu berlalu, kian lama, kian memburuk. Bagaimana ini? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Alice yang selalu mengawasiku setiap waktu, setiap hari juga tak mengatakan apa-apa soal ini. Diagnosis Dokter tak membuahkan hasil apapun, dengan kata lain—tidak seperti yang kurasakan.

Tunggu! Jangan-jangan?

“Hei, kau pasti tahu apa yang sedang terjadi padaku kan, Alice?”

“Iya.”

Ah…. Sepertinya, yang tak diharapkan justru muncul di saat seperti ini. Aku sungguh manusia bodoh, keegoisan membawaku ke jalan yang seharusnya tak pernah kulewati. Dan sekarang, aku sudah telanjur melewatinya.

Aku ingin meminta maaf kepada mereka tentang apa yang telah kulakukan. Namun, percuma saja. Semua sudah terlambat, tak ada yang bisa dilakukan lagi. Untuk terakhir kalinya, aku ingin memastikan bahwa asumsiku benar atau salah.

“Alice, Apa kau kenal dengan Naho?“

Sekilas, mata Alice terbelalak lalu sayu lagi. Sepertinya dia terkejut mengapa aku bisa kenal dengan orang itu. Lalu, dia mengangguk.

“Iya, aku mengenalnya.”

“Jadi begitu.”

Sesuai dugaanku, aku berharap ini meleset, namun kenyataannya memang seperti ini. Selanjutnya apa? Semua rentetan peristiwa yang terjadi telah melintasi otakku dan aku tahu dengan jelas apa yang terjadi sekarang.

Kalau saja aku tak seegois itu….

“Alice! Jawab pertanyaanku dengan jujur.”

“Baik.”

“Berapa lama lagi aku dapat hidup?”

“2 minggu.”

Naho adalah ayahku. Dia meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakitnya. Mungkin, bukan penyakit. Lebih tepatnya, kutukan. Mengapa demikian? Karena ayahku orang yang biasa saja, namun bisa kaya raya itu bukan hal yang masuk akal. Lalu yang kedua, setelah ayahku meninggal, mengapa ibuku depresi? Padahal ia cukup membenci ayah.

Karena ia juga bagian dari perjanjian yang ayah lakukan dengan kelompok ini. Ayahku meninggal dan ibuku depresi. Dan sekarang diriku?

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kan Alice?"

Jujur saja, aku sangat menyesalinya. Apa aku akan menyusul mereka di neraka? Setidaknya kami dapat hidup bersama lagi walaupun di neraka sekalipun.

Hanya 2 minggu, sebagai penebusan dosaku. Merenung, belajar, dan mencoba memahami bagaimana kehidupan ini berjalan. Alice selalu di sisiku sampai aku meninggal. Setidaknya itu yang ia katakan padaku.

“Kematianku bukan sesuatu yang kuharapkan secara penuh. Ini hanya kelalaian dan kesalahanku saja. Aku bodoh, mudah ditipu dan dibohongi olehmu. Permainanmu sungguh licik, kau ingat pertemuan pertama kita? Kau menjebakku dengan uang sebesar sepuluh juta. Itu uang yang cukup banyak, hahahaha. Sangat disayangkan, aku mati konyol seperti ini.”

Alice tak mendengarkanku dan hanya melamun. Pandangannya kosong dan lebih pucat dibanding biasanya.

Aku mengetahuinya, sangat tahu tentangmu kalau kau juga menyesal. Berapa banyak orang yang telah kau tipu? Bersama kelompokmu, tujuannya sudah pasti kan? Kalian hanya menginginkan keabadian.

Namun, tidak ada yang lebih indah daripada kematian dan tidak ada yang lebih buruk daripada kehidupan itu sendiri.

S E L E S A I

Ikuti tulisan menarik Fea Putra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB

Terkini

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB