x

Pembelajaran Alam Berbasis Teknologi yang Memerdekakan Anak

Iklan

Tabah Subekti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Selasa, 30 November 2021 22:29 WIB

Pembelajaran Alam Berbasis Teknologi yang Memerdekakan Anak

Pembelajaran yang menarik merupakan kunci keberhasilan murid sekaligus guru dalam melaksanakan praktik pembelajaran. Alam semesta sebagai tempat tinggal manusia sangat menarik untuk dikaji dan dipahami agar manusia mampu memerankan diri dan memperlakukan semesta dengan baik. Konsep pembelajaran hand on yang sifatnya kontekstual sangat digemari anak-anak karena dalam pelaksanaannya anak dapat memegang secara langsung objek benda yang diamati atau dipelajari. Sejalan dengan hal itu, Program Merdeka Belajar Kemdikbud Ristek RI (yang berdasarkan pada falsafah KH Dewantara tentang kodrat alam dan kodrat zaman) menjadi kunci kesuksesan penanaman karakter SDM di Indonesia yang unggul, kompetitif serta selaras dengan keberlanjutan alam semesta.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pembelajaran yang menarik merupakan kunci keberhasilan murid sekaligus guru dalam melaksanakan praktik pembelajaran. Kodrat anak sebagai individu yang unik tak lepas dari peranannya sebagai anak manusia calon generasi masa depan yang perlu dipersiapkan dengan baik. Saat ini pembelajaran tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid di dalam kelas. Namun lebih dari itu, proses pembelajaran merupakan aktivitas murid untuk memahami dan menyerap informasi dari lingkungan dan semua benda yang dijumpainya sehingga ia mampu menempatkan diri dengan baik sebagai makhluk Tuhan YME.

Alam semesta sebagai tempat tinggal manusia sangat menarik untuk dikaji dan dipahami agar manusia mampu memerankan diri dan memperlakukan semesta dengan baik. Konsep pembelajaran hand on yang sifatnya kontekstual sangat digemari anak-anak karena dalam pelaksanaannya anak dapat memegang secara langsung objek benda yang ada di lingkungan sekitar sekolah atau tempat tinggalnya. Konsep pemanfaatan alam sebagai media pembelajaran juga merupakan salah satu solusi praktik pembelajaran di masa pandemi. Kondisi area yang terbuka dan panas matahari diharapkan dapat meminimalisir penularan virus yang tengah melanda bangsa ini. Di sisi lain, isu global yang saat ini sedang menjadi trending topic dan menjadi kekhawatiran dunia selain pandemi covid-19 adalah mengenai keberlanjutan alam semesta (sustainability).  Semakin meningkatnya jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan perilaku peduli alam yang tepat maka dikhawatirkan akan menimbulkan bencana di masa mendatang.  Sudah saatnya murid-murid dibekali pengetahuan yang memadai serta dilatih menghargai kelestarian lingkungan alam. Ini sebagai bekal ketika kelak mereka dewasa, sehingga dapat menjamin kelestarian alam bagi generasi selanjutnya.  Pembelajaran berkonteks alam bukanlah pembelajaran yang sifatnya konservatif dan enggan menerima kemajuan teknologi. Justru teknologi itulah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus sebagai sarana pemertahanan kelestarian alam sehingga memudahkan manusia dalam pengelolaan lingkungan yang asri. Teknologi yang berkembang sangat pesat jika dimanfaatkan secara baik maka akan sangat membantu manusia dari segi efisiensi dan efektivitas penggunaannya. Seperti contohnya penggunaan gawai untuk menganalisis jenis-jenis dan nama-nama tumbuhan menggunakan aplikasi google lens.

Sejalan dengan hal itu, Program Merdeka Belajar Kemdikbud Ristek RI (yang berdasarkan pada falsafah KH Dewantara tentang kodrat alam dan kodrat zaman) menjadi kunci kesuksesan penanaman karakter SDM di Indonesia yang unggul, kompetitif serta selaras dengan keberlanjutan alam semesta. Melalui program ini diharapkan tercipta insan yang menghargai alam dan mampu melestarikannya hingga generasi yang akan datang. Terjadi pengubahan pola pembelajaran yang sebelumnya berorientasi pada pencapaian prestasi berupa nilai atau skor, kini mulai beralih menjadi pembelajaran yang mengembangkan potensi murid secara merdeka. Keberhasilan pemerintah dalam menyiapkan generasi berkualitas sangat ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya:

  1. Kesamaan pandangan seluruh stake holder mengenai target yang ingin diraih. Dalam hal ini meliputi, Guru, Kepala Sekolah, Komite, Dinas Pendidikan serta pihak-pihak lain yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pendidikan;
  2. Keharmonisan dan sinergitas antarpihak dalam praktik pendidikan (termasuk harmonisasi organisasi-organisasi di bidang pendidikan);
  3. Kreativitas sekaligus kualitas pengabdian para guru di seluruh tanah air; dan
  4. Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untuk mewujudkan semua itu tidaklah sulit. Selama terdapat kemauan dari semua pihak untuk bergerak bersama maka apapun bentuk tantangan yang dihadapi dapat dilewati dengan mudah. Akhirnya dengan memohon ridlo Tuhan YME lah kita dapat saling bergandeng tangan dan mulai bergerak menciptakan perubahan kearah positif, baik di lingkup pendidikan, maupun social masyarakat, berbangsa dan bernegara.  

Ikuti tulisan menarik Tabah Subekti lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu